Indonesia
NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Janda / Menikahi tentara
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Nala Demam

Kabar tentang pengangkatanku sampai ke Ratna lebih cepat daripada surat aslinya sampai ke tanganku.

Ia berdiri di kantor logistik ketika Hendra menyerahkan berkas kesediaan.

"Bukankah dia baru beberapa minggu di sini?" tanyanya. "Langsung dapat posisi tetap?"

Sukandar yang kebetulan masuk menjawab sebelum Hendra. "Danyon mengajukan, Kolonel Wardhana memberi disposisi, verifikasi sudah selesai. Kalau ada keberatan prosedural, tulis dasarnya."

Ratna tak menyangka akan dipatahkan oleh orang yang kemarin mendukungnya. Ia menutup mulut.

Sukandar tidak sedang membelaku. Tatapannya pada Hendra mengatakan ia hanya tidak mau menentang tanda tangan Wardhana di ruang terbuka.

"Posisi ini masa uji enam bulan," jelas Hendra. "Evaluasi tiap bulan. Kalau kinerja tidak memenuhi indikator, kontrak tidak dilanjutkan."

"Siapa yang menilai?" Ratna masih mencoba.

"Darman untuk teknis, saya untuk administrasi, klinik untuk batas kesehatan, dan laporan disampaikan ke Danyon. Bukan berdasarkan pendapat penghuni."

Aku menahan senyum. Untuk pertama kalinya pekerjaanku memiliki pagar yang tidak bisa digeser oleh gosip.

Ratna pergi bersama Sukandar. Dari balik kaca, kulihat ia berbicara cepat. Sukandar hanya mengangkat tangan, seolah menyuruhnya menunggu kesempatan lain.

Aku membaca surat itu, memastikan jabatan, masa uji, gaji, dan batas tugas. Baru saja hendak menandatangani, seorang lelaki dari Sumberejo datang membawa kertas terlipat.

"Mbak Laras? Pesan dari Mbah Wagiyem. Nala panas tiga hari. Tadi malam sempat nggak mau minum."

Dunia di sekelilingku seperti kehilangan suara.

"Tiga hari? Kenapa baru sekarang?"

"Orang yang disuruh berangkat motornya rusak. Mbah nggak punya nomor telepon."

Tanganku gemetar sampai surat pengangkatan jatuh.

Kertas pesan itu hanya memuat enam kata: `Nala panas, ora gelem ngombe. Mulih.` Nala demam, tidak mau minum, pulanglah.

Tulisan tetangga miring dan terburu-buru. Ada noda air di sudutnya. Aku membayangkan Mbah menunggu tiga hari di rumah tanpa telepon, mengompres Nala dengan satu tangan yang masih kuat sambil berharap seseorang lewat menuju kesatrian.

"Saya harus pergi sekarang," kataku.

Hendra memungut surat pengangkatan. "Tanda tangan nanti. Keluarga dulu."

Kalimat itu membuat air mataku hampir jatuh, tetapi aku tidak punya waktu untuk menangis.

Hendra mengambil pesan dan membacanya. "Pergi ke klinik. Minta petugas menilai kebutuhan perjalanan. Saya siapkan izin meninggalkan tugas."

Aku berlari sambil menggendong Sena. Dokter jaga membaca riwayat diare Nala dan langsung memanggil petugas medis untuk ikut.

Petugas klinik menyiapkan termometer, larutan rehidrasi, sarung tangan, stetoskop, dan lembar rujukan. Ia menegaskan bahwa obat penurun panas hanya diberikan sesuai berat badan setelah pemeriksaan, bukan berdasarkan perkiraan usia.

"Kalau kesadarannya turun, kejang, napas cepat, atau tidak buang air, kita langsung ke RSUD," katanya. "Jangan paksa minum banyak sekaligus. Sedikit tapi sering."

Aku mengulang semua tanda bahaya agar tidak lupa. Sena mulai merengek karena tubuhku tegang. Aku memeluknya, dilanda perasaan seolah sedang meninggalkan satu anak demi anak lain sekali lagi.

"Bayi demam tiga hari dan menolak minum berisiko dehidrasi. Harus dinilai segera. Kalau kondisinya berat, bawa ke puskesmas atau RSUD terdekat, jangan pulang dulu ke kompleks."

"Saya perlu bawa Sena?"

"Lebih baik dititip, tapi kalau tidak ada pengasuh dan dia masih menyusu, atur perjalanan aman."

Sari datang setelah menerima pesan Hendra. Ia mengambil Sena dan tas pakaiannya.

"Catatan minumnya di saku depan," kataku cepat. "Labu lumat ada di lemari pendingin. Kalau dia demam..."

"Aku bawa ke klinik. Aku tahu."

"Kalau dia cari saya?"

"Dia akan menangis, lalu aku gendong. Kamu bukan meninggalkannya. Kamu sedang menjemput hati yang satunya."

Aku menatap Sari. Ia tidak mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Ia hanya menjanjikan Sena tidak sendirian.

"Pergi. Aku jaga sampai kamu pulang."

Aku mencium kepala Sena, lalu menuju kantor Bram.

Ia sedang rapat. Aku menunggu di luar sampai Adi melihat wajahku dan langsung membuka pintu.

"Maaf, Komandan. Mendesak."

Bram keluar. "Ada apa?"

"Nala demam tiga hari. Saya minta izin pulang. Klinik menyarankan petugas medis ikut."

Wajahnya mengeras. "Kendaraan?"

"Saya bisa naik angkutan."

"Satu jam dengan beberapa kali pindah bukan pilihan untuk bayi sakit."

Ia menelepon Hendra. Dalam beberapa menit, kendaraan kesehatan lapangan dijadwalkan untuk kunjungan darurat keluarga prajurit gugur, dengan dua persetujuan: petugas klinik dan logistik. Tujuan dicatat, bahan bakar dicatat, pengemudi serta petugas medis mendapat surat tugas.

"Ini bukan perjalanan pribadi," kata Bram. "Petugas melakukan penilaian medis. Kamu keluarga pasien dan pegawai satuan."

"Orang akan bicara."

"Biarkan dokumen menjawab."

Ia menyerahkan botol air dan sekantong roti. "Makan di jalan."

"Bram..."

"Pergi. Kabari setelah diperiksa."

Kendaraan keluar gerbang kurang dari setengah jam kemudian. Aku duduk di belakang bersama petugas medis, memegang tas kecil dan sepatu merah Nala.

Dari jendela, kulihat Ratna berdiri dekat pos. Ia mengangkat telepon sebelum mobil kami berbelok.

Jalan menuju Sumberejo terasa dua kali lebih panjang. Setiap lubang membuat botol air bergetar di tangan. Petugas medis menanyakan riwayat Nala, jumlah minum, buang air, dan obat terakhir. Banyak yang tak bisa kujawab.

Kami melewati pasar tempat dulu aku menjual nasi bungkus. Warung di sudut masih memakai terpal biru. Dahulu satu jam perjalanan terasa dekat ketika Wahyu memboncengku sambil membawa keranjang kosong. Hari ini setiap kilometer adalah tuduhan.

Mengapa aku tidak memasang telepon tetangga sejak awal? Mengapa mengandalkan orang lewat? Mengapa puas pada satu foto dan laporan singkat?

Petugas medis menyodorkan roti dari Bram. "Makan. Kalau Ibu ikut pingsan, pasien kami jadi dua."

Aku memaksa menelan tiga gigitan. Roti itu terasa seperti kertas, tetapi tanganku berhenti gemetar sedikit.

Di gerbang kampung, kendaraan melambat. Anak-anak berlari di sampingnya. Beberapa warga menatap lambang satuan dan mulai berbisik. Aku tidak peduli. Yang kulihat hanya atap rumah Mbah di ujung jalan.

Rasa bersalah menekan dada.

"Jangan menebak," katanya. "Nanti kita tanya Mbah. Yang penting sekarang lihat kondisi anak."

Di rumah, pintu bambu terbuka. Mbah Wagiyem duduk bersandar, wajahnya pucat. Nala berbaring di atas tikar dengan kain basah di dahi.

Aku menjatuhkan tas dan berlutut.

"Nala. Mama pulang."

Putriku tidak langsung membuka mata.

Aku menempelkan telapak tangan ke dahinya.

Panasnya seperti menyentuh panci yang baru turun dari api.

Seluruh tubuhku justru menjadi dingin.

Bibir Nala tampak kering. Napasnya cepat dan popok di bawah tubuhnya nyaris tak basah. Petugas medis langsung berlutut, membuka tas, dan memintaku menyebut namanya terus-menerus.

"Nala, lihat Mama. Nduk, buka mata."

Dadaku serasa runtuh di lantai bambu yang dingin.

Kelopak itu bergerak sedikit, tetapi tatapannya melewatiku seolah aku benar-benar orang asing yang belum pernah menjadi seluruh dunianya sejak lahir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!