Indonesia
NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Aku Resign

"Tiga," jawab Karina.

Kevin mencengkeram kusen pintu. "Tiga bayi sekaligus?"

Nathan mengangguk. "Karena itu aku minta kamu tidak membuat Cici-mu stres."

"Kalian menikah cuma karena bayi?"

Karina tidak ingin memberi jawaban palsu. "Kehamilan membuat kami mengambil keputusan lebih cepat. Tapi Cici tidak akan tinggal bersama orang yang tidak Cici pilih."

Kevin memandang mereka lama, lalu mengembuskan napas. "Aku masih bingung. Besok aku telepon lagi."

Dia pulang membawa satu janji dari Nathan: kabar pemeriksaan akan disampaikan kepadanya. Itu belum menjadi restu, tetapi Karina merasa beban di dadanya berkurang.

Beberapa hari kemudian, beban lain menunggu di kantor.

Begitu keluar dari lift, Karina mendengar dua rekan berhenti bergosip. Video keributan Mama Kusnadi masih beredar di grup internal. Iklan Nathan yang viral membuat potongan gambar Karina di parkiran ikut dicari orang.

"Katanya dia memaksa suaminya cerai, lalu mengambil semua tabungan," bisik seseorang di pantry.

"Sekarang dia memelihara mahasiswa. Pantas mendadak kaya."

Karina berdiri di ambang pintu. Kedua perempuan itu pucat.

"Kalau kalian punya bukti, kirim ke polisi," katanya tenang. "Kalau tidak, satu kalimat lagi akan saya laporkan sebagai pencemaran nama baik. Saya punya rekaman kamera dan dua saksi di lorong."

Suasana kantor langsung senyap. Selama delapan tahun, Karina selalu memilih bekerja daripada berdebat. Hari itu, dia tidak mau lagi membayar ketenangan dengan harga dirinya.

Di meja, sebuah surat pengumuman menunggu. Posisi kepala tim yang selama enam bulan dijanjikan Bu Wanda diberikan kepada Shania Salim, manajer baru dari kantor pusat.

Shania datang dengan blazer putih dan senyum tipis. "Selamat pagi. Saya harap semua orang bisa menerima struktur baru secara profesional."

Tatapannya berhenti sesaat pada perut Karina yang mulai terlihat. "Terutama rekan yang mungkin akan sering cuti."

Vera menunduk, marah tetapi takut bicara. Karina hanya membuka laptop dan menyelesaikan konsep kampanye terakhirnya.

Bu Wanda memanggilnya sebelum makan siang. Pintu ruangan ditutup rapat.

"Saya sudah memperjuangkan promosi itu," kata Bu Wanda. "Direksi mengubah keputusan dua hari sebelum pengumuman."

"Karena saya hamil?"

"Itu alasan yang mereka pakai. Saya curiga ada yang lain." Bu Wanda mendorong segelas air hangat. "Kamu bisa bertahan dan melawan. Saya akan mendukung. Tapi kamu juga berhak keluar sebelum kantor ini menghabiskan kesehatanmu."

Karina memandang gedung-gedung di balik jendela. Dulu, jabatan itu terasa seperti bukti bahwa delapan tahun pengorbanannya tidak sia-sia. Sekarang dia memiliki tiga detak kecil yang tidak bisa dijadikan taruhan.

Tabungannya cukup. Uang dari Nathan tidak pernah dia anggap miliknya, tetapi dia tidak lagi terjebak karena cicilan atau biaya rumah sakit. Untuk pertama kali, dia bisa memilih tanpa dihantui ketakutan tidak makan bulan depan.

"Kalau saya pergi, mereka akan bilang saya kalah."

"Orang kantor akan bicara tiga hari, lalu mencari korban baru." Bu Wanda tersenyum lelah. "Pertanyaannya bukan apa kata mereka. Pertanyaannya, hidup apa yang kamu mau setelah keluar dari ruangan ini?"

Karina membuka dokumen kosong. Jemarinya sempat gemetar saat mengetik surat pengunduran diri, bukan karena ragu pada keputusan, melainkan karena melepaskan identitas yang dia bangun sejak usia dua puluh dua.

Setelah memeriksa setiap kalimat, dia menekan kirim.

Shania memanggilnya kurang dari sepuluh menit kemudian.

"Saya menerima suratmu." Senyum manajer baru itu terlalu cepat. "Tidak perlu menunggu satu bulan. Selesaikan serah terima dengan Vera hari ini. Besok kamu tidak usah datang."

"Kontrak saya mengatur masa pemberitahuan."

"Perusahaan membebaskannya dan tetap membayar hakmu. Anggap saja fasilitas."

Karina menatapnya. Orang yang baru sehari menduduki kursi itu tampak sangat ingin melihatnya pergi.

"Baik. Tolong kirim keputusan tertulis dari HR. Saya tidak menyerahkan akses sebelum ada dokumennya."

Senyum Shania menegang. "Kamu selalu sangat prosedural."

"Itu sebabnya kampanye terbesar divisi ini tidak pernah kehilangan data."

Karina keluar tanpa membanting pintu. Di belakangnya, Shania tidak lagi tersenyum.

Serah terima berlangsung sampai sore. Karina membuat daftar proyek, pemilik akun, jadwal pembayaran vendor, dan risiko setiap kampanye. Dia menolak permintaan Shania untuk memberikan kata sandi pribadi, lalu meminta IT memindahkan akses melalui prosedur resmi.

Vera menangis ketika kardus terakhir ditutup. "Mbak Karin, aku belajar semuanya dari Mbak. Mereka seharusnya mempromosikan Mbak."

"Promosi bukan satu-satunya cara maju." Karina memeluknya. "Jangan ikut gosip. Simpan salinan pekerjaanmu dan jangan pernah tanda tangan dokumen yang belum dibaca."

Nathan menawarkan menjemput, tetapi Karina meminta satu jam untuk berjalan sendiri di mal seberang kantor. Dia ingin mengucapkan selamat tinggal pada rutinitas lama tanpa disaksikan siapa pun.

Di depan toko perhiasan, langkahnya berhenti.

Shania berdiri bersama Tania. Keduanya tertawa sambil memeriksa gelang. Saat pramuniaga memanggil mereka dengan nama keluarga Salim, potongan yang janggal langsung menyatu.

Tania melihat Karina lebih dulu. Tangannya menyentuh lengan Shania. Wajah mereka menampilkan keterkejutan singkat sebelum berubah menjadi kemenangan yang dibuat-buat.

"Oh, mantan istri Andri," kata Shania. "Kebetulan sekali."

"Ternyata kalian keluarga," jawab Karina.

Tania mengangkat dagu. "Sepupuku bilang kamu resign. Bagus. Ibu hamil sebaiknya di rumah, bukan merebut posisi orang lain."

Jadi inilah alasan Shania ingin mengusirnya secepat mungkin. Tania tidak puas mengambil Andri. Dia juga ingin memastikan Karina kehilangan pekerjaan.

Anehnya, Karina tidak merasa hancur. Ia justru merasa seperti baru keluar dari ruangan sempit.

"Posisi itu bisa kalian simpan," katanya. "Tapi semua proyek yang saya buat sudah tercatat atas nama tim. Jangan coba menghapus jejak atau mengubah tanggal, karena salinannya ada pada HR dan klien."

Shania kehilangan warna wajah. Tania hendak membalas, namun Karina sudah berjalan pergi.

Nathan menunggunya di lobi dengan dua gelas susu kedelai. Begitu melihat kardus, alisnya terangkat.

"Kamu dipecat?"

"Aku resign."

"Kalau begitu kita rayakan."

"Aku baru kehilangan pekerjaan delapan tahun."

Nathan mengambil kardus dari tangannya dan mencium keningnya. "Kamu tidak kehilangan delapan tahun. Kamu membawa semua kemampuan dari sana, lalu meninggalkan orang-orang yang tidak pantas mendapatkannya."

Di rumah, mereka menyusun penghargaan dan buku kerja di ruang kosong yang bisa dijadikan studio. Karina baru menyadari betapa lelahnya dirinya setelah duduk.

Ponselnya berbunyi. Bu Wanda meminta bertemu sebentar di kafe lantai bawah. Dia datang membawa sebuah kartu nama berwarna hitam sederhana.

"Saya tidak bisa menahanmu," katanya, "tapi saya bisa mengenalkanmu pada jalan baru."

Di kartu itu tertulis nama seorang perempuan yang baru pulang dari luar negeri.

Di bawah namanya tercantum bidang konsultasi merek, riset pasar, dan sebuah alamat kantor sementara yang belum pernah Karina dengar.

Bu Wanda mendorongnya ke arah Karina. "Cik ini mungkin membutuhkan orang sepertimu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!