Indonesia
NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga / Obsesi
Popularitas:27.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Ainun terpaksa menggantikan kakaknya, Liona, untuk menikah dengan Sagara Jeno Dirgantara. Namun, pernikahan itu justru membuatnya hidup dalam siksaan fisik dan batin.

Saat mengetahui dirinya hamil, Ainun memilih menyembunyikannya. Ia hanya punya satu tujuan: pergi dari Sagara dan membawa anaknya bersamanya.

Ketika Liona kembali, Ainun mengira inilah kesempatan untuk bebas. Namun, ia baru menyadari bahwa sejak awal, Sagara bukan sekadar menginginkannya. Pria itu terobsesi kepadanya.

Akankah Ainun berhasil lepas dari Sagara, atau justru kembali terperangkap dalam obsesinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ainun: Harapan Kecil di Tengah Ketakutan

Semilir angin siang berembus lembut, menggoyangkan dedaunan yang menaungi sekitaran taman yang terasa tenang. Hanya terdengar suara burung yang sesekali berkicau dan deru kendaraan dari jalan raya yang samar-samar sampai ke telinga.

Ainun duduk di bangku panjang yang berada di bawah pohon rindang. Sementara tatapannya lurus menatap tamat itu.

Di sampingnya, Pak Faizan duduk dengan jarak yang cukup sopan.

Tak satu pun dari mereka membuka percakapan. Keheningan itu justru terasa nyaman.

“Bu Ainun.”

Suara lembut Pak Faizan membuat Ainun menoleh.

“Iya, Pak?” sahutnya pelan.

Pak Faizan tampak sedikit gugup. Ia merogoh kantong plastik kecil yang sedari tadi berada di sampingnya, lalu mengeluarkan sebungkus cokelat.

“Ini...” ujarnya sambil menyodorkan cokelat itu. “Tadi saya beli minuman di minimarket. Kebetulan lagi ada promo, jadi sekalian saya ambil ini.”

Ainun berkedip pelan. Pandangannya beralih dari wajah Pak Faizan menuju cokelat yang disodorkan kepadanya.

“Untuk saya?” tanyanya pelan.

Pak Faizan mengangguk sambil tersenyum.

“Iya, Bu.”

Ainun menerimanya dengan hati-hati. Jemarinya mengusap pelan bungkus cokelat itu sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil.

“Pak tahu saya suka cokelat?” tanyanya penasaran.

Mendengar pertanyaan itu, Pak Faizan tampak salah tingkah. Pria itu menggaruk tengkuknya sambil terkekeh pelan.

“B-benarkah?” ujarnya sedikit gugup. “Saya malah baru tahu Ibu memang suka cokelat.”

Ia tersenyum canggung.

“Kalau begitu nanti saya belikan lagi. Biar Ibu puas makannya.”

Ainun spontan terkekeh pelan.

“Jangan, Pak,” ucapnya sambil menatap Pak Faizan. “Saya malah nggak enak. Cokelat ini saja sudah mahal.”

Ia mengangkat cokelat itu sedikit.

“Nanti Pak Faizan malah rugi gara-gara sering beliin saya.”

Pak Faizan menggeleng cepat.

“Rugi bagaimana?” katanya sambil tersenyum hangat. “Saya justru senang kalau Ibu menerimanya.”

Kalimat itu membuat Ainun kembali terdiam.

Tatapannya turun pada cokelat yang berada di genggamannya.

‘Sudah lama... nggak ada orang yang memberiku sesuatu hanya untuk membuatku tersenyum.’

Namun, bayangan wajah Sagara kembali muncul di benaknya. Senyum di bibir Ainun perlahan memudar.

‘Astaghfirullah... aku nggak boleh larut seperti ini.’

Ia menarik napas pelan, lalu menggenggam cokelat itu lebih erat.

“Terima kasih, Pak,” ucapnya tulus. “Saya akan menyimpannya.”

Pak Faizan mengangguk pelan. “Sama-sama, Bu Ainun.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka.

Ainun memandang lurus ke depan, sementara jemarinya masih mengusap pelan bungkus cokelat itu.

Di balik senyum tipis yang menghiasi wajahnya, hatinya kembali dipenuhi kegelisahan.

‘Seandainya hidupku nggak serumit ini... mungkin aku bisa menerima perhatian sederhana seperti ini tanpa merasa bersalah.’

Ainun menundukkan pandangan, menatap cokelat yang masih berada di genggamannya.

Jemarinya mengusap pelan bungkus mengilap itu.

“Cokelat ini saja harganya sudah dua belas ribu,” gumamnya lirih. “Sayang sekali... padahal uang sebanyak itu bisa dipakai beli makanan yang lebih mengenyangkan.”

“Apa, Bu Ainun?”

Suara Pak Faizan membuat Ainun tersentak kecil.

Pria itu menoleh kepadanya dengan raut bingung.

“Maaf, saya kurang dengar.”

Ainun segera menggeleng cepat. “B-bukan apa-apa, Pak,” jawabnya sambil tersenyum tipis.

Ia lalu mengangkat pergelangan tangan untuk melihat jam.

Matanya seketika membulat. ‘Jam sudah lewat pukul empat...’

“Ya Allah...” bisiknya pelan. “Kok nggak terasa sudah sore begini?”

Pak Faizan ikut melirik jam tangan yang dikenakannya.

“Ada apa, Bu Ainun?” tanyanya heran.

Ainun buru-buru memasukkan cokelat itu ke dalam tas selempangnya. Setelah itu, ia meraih tas tersebut dan berdiri.

“Maaf, Pak,” ucapnya pelan. “Saya harus pulang sekarang.”

Pak Faizan ikut bangkit dari bangku.

“Kalau begitu saya antar saja, Bu.”

Ainun langsung menggeleng.

“Eh... nggak usah, Pak.” Ia mengulas senyum sopan. “Saya sudah pesan ojek.”

Pak Faizan mengangguk pelan. “Baiklah.”

Ainun membungkukkan badan sedikit sebagai tanda pamit.

“Kalau begitu saya permisi dulu, Pak.” Ia tersenyum tipis. “Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab Pak Faizan sambil membalas senyumnya. “Hati-hati di jalan, Bu Ainun.”

“Iya, Pak. Terima kasih.”

Tanpa menunggu lebih lama, Ainun segera berbalik dan melangkah meninggalkan taman.

Semula langkahnya masih pelan.

Namun, semakin jauh dari pandangan Pak Faizan, langkahnya berubah semakin cepat.

Tas selempang yang menggantung di bahunya ikut bergoyang mengikuti langkah tergesa-gesa.

‘Ya Allah... semoga Mas Sagara belum pulang.’

Napas Ainun mulai memburu.

‘Aku harus sampai di rumah sebelum beliau.’

Rasa panik perlahan menguasai dirinya.

‘Kalau aku terlambat...’

Tubuhnya seketika menegang. Bayangan hukuman yang pernah diterimanya kembali berkelebat di benak.

‘Beliau pasti mengurungku di kamar selama dua hari... tanpa makan... tanpa minum.’

Jemarinya tanpa sadar mengepal erat.

‘Enggak... aku nggak boleh terlambat.’

Begitu tiba di tepi jalan, Ainun langsung melihat pengemudi ojek yang telah menunggunya.

Pria itu melambaikan tangan.

“Neng Ainun?”

“Iya, Pak.”

Tanpa membuang waktu, Ainun segera mengenakan helm lalu naik ke atas motor.

“Ayo, Pak,” ucapnya dengan napas masih memburu. “Tolong agak dipercepat. Saya benar-benar sedang terburu-buru.”

“Siap, Neng.”

Motor itu segera melaju meninggalkan taman.

Sepanjang perjalanan, Ainun terus menggenggam tasnya erat.

. . .

Lima belas menit kemudian, motor yang ditumpangi Ainun akhirnya berhenti di depan gerbang rumah.

Belum sempat pengemudi mematikan mesin, Ainun sudah lebih dulu turun. Ia melepas helm, lalu menyerahkannya kepada pengemudi ojek.

“Ini, Pak,” ucapnya sambil menyerahkan beberapa lembar uang. “Kembaliannya ambil saja.”

Pria itu menerima uang tersebut dengan wajah berbinar.

“Terima kasih banyak, Neng.”

Ainun hanya mengangguk tipis. “Iya, Pak.”

Setelah motor itu pergi, Ainun segera melangkah melewati gerbang.

Jantungnya masih berdegup cepat. Semakin dekat dengan pintu rumah, rasa cemas di dadanya justru semakin menjadi.

Baru saja tangannya hendak meraih gagang pintu.

Kling...

Suara notifikasi ponsel membuat langkahnya terhenti. Ainun menundukkan pandangan ke layar ponsel yang masih berada di tangannya.

Nama pengirim yang muncul membuat napasnya tertahan.

Mas Sagara.

Dengan jemari sedikit gemetar, ia membuka pesan itu.

{Saya akan lembur. Tidak pulang.}

Tatapan Ainun terpaku pada layar.

Beberapa detik kemudian, ia memejamkan mata sambil mengembuskan napas panjang.

“Kalau begitu...” gumamnya lirih. “Kenapa aku buru-buru begini?”

Sudut bibirnya tersenyum tipis, meski lebih menyerupai senyum lega.

“Bikin takut saja.”

Beban yang sejak tadi menekan dadanya perlahan terasa berkurang.

Setidaknya malam ini ia tidak perlu berhadapan dengan tatapan dingin Sagara.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Kling...

Notifikasi lain kembali berbunyi. Ainun kembali membuka layar ponselnya.

Kali ini, nama Ibu terpampang di bagian atas.

Ia membuka pesan tersebut.

{Jangan lupa nanti malam. Awas saja kalau kamu nggak datang.}

Ainun menggigit bibir bawahnya pelan.

‘Ibu masih menunggu kami...’

Jemarinya sempat menggantung di atas papan ketik.

Ia ingin membalas. Ingin menjelaskan bahwa Sagara tidak akan pulang.

Namun, pada akhirnya ia mengurungkan niat itu.

‘Lebih baik aku datang sendiri.’

Perlahan, Ainun mematikan layar ponselnya, lalu memasukkannya ke dalam tas.

Setelah menarik napas panjang, ia meraih gagang pintu dan membukanya.

Rumah itu kembali menyambutnya dengan keheningan yang terasa begitu asing.

Tanpa berkata apa-apa, Ainun melangkah masuk, lalu menutup pintu perlahan di belakangnya.

1
Rahmawati Amma
wah klu benar jadi nikah sama si faizan kayanya aku mundur bacanya maksud hati ingin kasih koin tapi klu gini ceritanya aku mundur aja deh bacanya caow aku masih berharap chong ma balikan( SAGAR) 😭😤
Silvi Febiola: maaf ya kak, sudah ngecewain.
total 1 replies
Rahmawati Amma
weh thor chong ma mana harusnya kan udah bebas balikan sama chong ma aja kayanya ngak suka aku dengan faiz 😡😤 tapi chong ma nya udah berubah lebih baik benar2 baik dari sebelumnya hidup chong ma (sagara)si liam ibaratnya lee jaha kan kaki tangan chong ma ngak kala sadis wa ha..ha...ha. 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
fiks sagara kaya leluhurnya chong ma sadis tapi melindungi org terkasih sama chong ma sama2 sadis tdk pandang jenis kelamin mau perempuan mau laki klu ada yg gangu atau deketin babat abis tapi saya suka thor itu si sagaranya jangan terlalu sadis thor kaya chong ma aja ama mohyong sadis banget 😭😭😭😭
Linda: kalau saran saya jgn buat pisah sagara dgn ainun buat lah sagara sadar
total 1 replies
Linda
kalau saran saya ainun dn sagara jgn buat pisah bagi sagara sadar dan biar nanti dia hidup bahagia dgn keluarganya, dan laras dgn pak faisan
falea sezi
😒 bapak sama anak sama bejatnya g rela q si bangke ini ama ainun
falea sezi
😒laki bangke
Rahmawati Amma
kaya leluhurnya cheon ma sadis babget😭
falea sezi
moga bisa pergi. laki menjijikkan
Rahmawati Amma
aku meng hargai karyamu thor tapi terlalu kelam kapan bahagianya klu begini ceritanya 😭😭😭
Rahmawati Amma
kenapa terlalu drak thor😭😭😭
Rahmawati Amma
oh... ternyata mas saganya🤭🤭🤭
falea sezi
bkin ainun cerai Thor 🤣🤣 laki menjijikkan hukum itu ya di hukum cambuk bukan hukum ngeweee😒
falea sezi
🤣🤣 kn emank bejat g akan bisa berubah
Datu Zahra
apaansih Sagara, jijik banget.
Datu Zahra
kebanyakan pelakor, Liona belom beres, nongol Alif. terlalu ruet
Ais
sebenarnya saraga sm bapaknya ini sm"hyper kayaknya jijik tp kok ditiduri jg perempuan yg udah nyakitin istrinya aku pikir alif pelacur ini bakalan disiksa dlm artian disiksa bnr bkn disiksa dlm tanda kutip trus laras lihat kejadiannya apakah laras jg bakalan jd mangsa sagara berikutnya kasihan ainun kata aku seh smoga ainun cepat tau jd bs kabur sm anaknya jng smp rantai setan ini jg mengikat prilaku aksara anak ainun mau sebaik apa ibunya klo bapaknya hyper dan iblis anak jg pst akan kebawa namanya buah ngak akan jatuh jauh dr pohonnya
merry
jgn bgtt ainum sm bu Lina sm dm disiksa,, trss di selingkuh in lgg,, cb mrk bersatu hancurin ank Bpk iblis itu,, bastian tdrin mantan mantu ya eee anky selingkuh dgn alif ud gk bs dijadiin suami itu,, curi kek yang bu Lina trs pergi keluar negeri gt
dika edsel: klo bisa ainun dibuat mati aja...sad ending lbh baik..,ini novel bner2 di luar logika org waras
total 2 replies
Ila Latifah
jangan sampai ainin menderita lagi hara2 si alif bkin ulah. kasian bu lina. mamamnya sagara
Ila Latifah
masih 1 tipe. banyak tokoh jahatnya
Ila Latifah
menjijikan. dimakan bapaknya untuk dimikahi anaknya. anak tiri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!