Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Flashback: Awal Dari Sebuah Pengorbanan

“Ugh, Liona... Liona. Kamu sangat nikmat sekali.”

Ainun memejamkan mata rapat. Jemarinya mencengkeram seprai hingga kusut. Setetes air mata lolos dari sudut matanya, lalu mengalir pelan membasahi pelipis.

Bahkan di saat berhubungan, Sagara—suaminya, masih menyebut nama Liona, kakaknya.

Napasnya tertahan, sementara tenggorokannya tercekat oleh sesuatu yang tak sanggup ia telan.

Ainun menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan isak yang hampir lolos.

'Mau sampai kapan aku menjalani semua ini?'

Pertanyaan itu berulang kali berputar di dalam kepalanya.

Sudah hampir tiga bulan ia menjadi istri Sagara. Namun, tak sekalipun pria itu memandangnya sebagai seorang istri.

Bagi Sagara, Ainun hanyalah pengganti sekaligus istri sementara sampai wanita yang pria itu cintai kembali.

Kelopak matanya kembali terpejam. Tanpa mampu ia cegah, ingatannya perlahan menyeretnya pada peristiwa dua bulan yang lalu, saat semua penderitaan ini bermula.

Flashback.

Malam itu, Ainun baru saja menyelesaikan salat Isya. Setelah mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, ia bangkit sambil membenarkan mukena yang masih melekat di tubuhnya.

Saat berbalik, langkahnya terhenti.

Liona berdiri di ambang pintu.

“Mbak...”

Liona tidak menjawab. Wanita itu melangkah masuk, lalu duduk di tepi tempat tidur seolah sedang memikirkan sesuatu.

Ainun memandanginya dalam diam. Jemarinya masih merapikan lipatan mukena, sementara tatapannya tak lepas dari sosok kakaknya yang malam itu tampak lebih serius dari biasanya.

“Mbak mau bicara sama kamu, Ainun,” ucap Liona akhirnya.

Ainun mengangguk pelan. “Bicara apa, Mbak?”

“Dua hari lagi pernikahanku sama Mas Sagara.”

“Iya.”

“Tapi... aku sudah memutuskan. Besok aku berangkat ke luar negeri untuk mengejar impianku sebagai seorang model go internasional.”

Mata Ainun membelalak. “A-apa? Besok?”

Liona mengangguk mantap. “Ya.”

“Tapi... bukannya dua hari lagi Mbak menikah?”

“Justru itu.” Liona menatapnya lekat. “Kamu gantiin aku, ya?”

Napas Ainun tercekat. “Tapi...”

“Nggak ada tapi-tapian,” potong Liona sambil melambaikan tangan. “Kamu cukup menikah dengan Mas Sagara untuk sementara. Tolong jaga dia buat aku. Jangan sampai ada perempuan lain yang mengambilnya.”

Ainun terdiam.

Tatapannya jatuh ke lantai. Ujung jarinya tanpa sadar meremas kain mukena yang masih dikenakannya.

'Pernikahan adalah ikatan yang sakral. Seharusnya hanya dijalani oleh dua orang yang saling mencintai. Sementara Mas Sagara sangat mencintai Mbak Liona. Kalau aku menggantikan Mbak di pelaminan... bukankah Mas Sagara akan membenciku?'

Ainun ingin menolak. Namun, sebuah tangan hangat tiba-tiba menyentuh kedua bahunya.

Seketika ia mengangkat wajah. Tatapannya bertemu dengan Liona yang kini berdiri tepat di hadapannya.

“Mau, ya?” pinta Liona dengan nada lembut. “Cuma beberapa bulan saja.”

Ainun menelan ludah. Bibirnya bergerak pelan.

“Aku...”

“Bukankah kamu selalu mendukung semua keputusanku?” sela Liona sambil tersenyum. “Hanya beberapa bulan, kok. Setelah aku kembali, kalian tinggal bercerai.”

Ainun terdiam. 'Bercerai... bagi Mbak, semudah itu mengatakannya?'

Ia menundukkan kepala. “Bagaimana dengan Ibu dan Ayah, Mbak?” tanyanya lirih. “Apa mereka akan setuju…”

“Nggak usah dipikirkan. Aku yang akan bicara sama mereka.” Liona mengusap pelan bahu Ainun. “Jadi, gimana?”

Ainun menggigit bibir bawahnya. Ia ingin menolak. Ingin mengatakan bahwa pernikahan bukan permainan yang bisa dipinjamkan begitu saja.

Namun, setiap kali keberanian itu hendak muncul, bayangan senyum Liona dan impian kakaknya selalu membuatnya mengurungkan niat.

Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“B-baiklah.”

Seketika wajah Liona berbinar. Tanpa aba-aba, wanita itu menarik Ainun ke dalam pelukannya.

“Terima kasih, Ainun!” serunya penuh kegembiraan. “Akhirnya mimpiku menjadi model benar-benar akan terwujud.”

Ainun membalas pelukan itu perlahan. Senyum tipis terukir di bibirnya, meski dadanya terasa semakin berat.

'Semoga keputusan ini bukan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupku.'

“Oh ya, Ainun.”

Langkah Liona yang hampir mencapai pintu kembali terhenti. Wanita itu menoleh, lalu menatap Ainun dengan senyum tipis.

“Kalau nanti kamu menikah sama Mas Sagara, jangan sampai kamu jatuh cinta... apalagi hamil.”

Senyum di bibir Ainun perlahan menghilang.

Ucapan yang baru saja terlontar terasa mengganjal di hati.

'Jatuh cinta?'

Bagaimana mungkin ia berani mencintai pria yang bahkan bukan ditakdirkan untuknya?

Ainun menganggukkan kepala pelan.

“Insyaallah, Mbak.”

“Ya sudah. Besok aku harus bersiap-siap. Selamat malam, Ainun.”

“Malam, Mbak.”

Liona melangkah keluar.

Klik.

Pintu kamar menutup perlahan, meninggalkan kesunyian yang seketika menyelimuti ruangan.

Ainun masih berdiri mematung.

Tatapannya lurus ke arah pintu yang telah tertutup rapat. Tak ada lagi suara selain detak jarum jam yang terus berdenting dan desir angin malam yang sesekali menerpa jendela.

'Kalau ini bisa membantu Mbak Liona meraih mimpinya, aku akan melakukannya.'

.

.

Cahaya matahari pagi perlahan menembus celah gorden, menyapu wajah Ainun yang masih terlelap.

Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka.

Ia berkedip beberapa kali, lalu menoleh ke sekeliling kamar yang terasa begitu terang. Perasaan tidak enak tiba-tiba menyelinap di dadanya.

Dengan tergesa, Ainun meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal.

Begitu layar menyala, napasnya seketika tertahan.

“Jam... lewat pukul tujuh?!”

Ia langsung terduduk.

“Astagfirullah... aku kelewatan salat Subuh.”

Rasa bersalah memenuhi dadanya. Selama ini, ia selalu berusaha menjaga salat tepat waktu. Baru kali ini ia benar-benar terlambat hingga matahari terbit.

'Kenapa aku bisa tidur sepulas ini?'

Belum sempat ia larut dalam penyesalan, suara ibunya terdengar dari balik pintu.

“Ainun! Cepat bangun dan sarapan!”

Ainun menoleh ke arah pintu.

“I-iya, Bu,” sahutnya sedikit terburu-buru.

Ia mengembuskan napas pelan, lalu segera turun dari tempat tidur. Tanpa membuang waktu, langkahnya bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

.

.

Dengan pakaian yang sudah rapi, Ainun melangkah menuju ruang makan.

Di sana, Ayah, Ibu, dan Liona telah duduk mengelilingi meja. Aroma nasi goreng yang masih hangat memenuhi ruangan.

“Pagi, semuanya,” sapa Ainun sambil menarik kursi.

“Pagi,” sahut mereka hampir bersamaan.

Baru saja Ainun hendak mengambil piring, suara Liona memecah keheningan.

“Ibu, Ayah. Aku sudah memutuskan berangkat ke luar negeri hari ini.”

Tangan Ainun yang hendak meraih sendok terhenti.

Ruangan mendadak sunyi.

Tatapan Ayah dan Ibunya langsung beralih kepada Liona. Sementara Ainun hanya menundukkan kepala. Ia sudah mengetahui keputusan itu sejak semalam.

“Kamu mau ke luar negeri?” tanya Ayah dengan nada tak percaya.

Liona mengangguk mantap.

“Iya. Ini kesempatan terakhir buat aku jadi model.”

“Tapi satu hari lagi kamu akan menikah,” ucap Ayah.

“Kan ada Ainun.” Liona menoleh ke arah adiknya. “Dia yang akan menggantikanku untuk sementara.”

Seketika Ainun merasakan dua pasang mata tertuju kepadanya.

Jemarinya tanpa sadar saling menggenggam di bawah meja.

“Kamu setuju, Ainun?” tanya Ayah.

Ainun mengangkat wajah. Bibirnya sedikit terbuka.

“Sebenarnya aku—”

“Setuju, Yah,” sela Liona cepat. “Semalam kami sudah membicarakannya.”

Ucapan yang sudah berada di ujung lidah Ainun kembali tertelan.

“Lalu bagaimana dengan Sagara?” tanya Bu Siti.

“Biar Ainun yang mengurusnya.” Liona tersenyum ringan, lalu menatap Ainun. “Iya, kan, Ainun?”

Ainun membalas tatapan kakaknya.

“Mbak...”

“Dua jam lagi jadwal penerbanganku.”

Liona berdiri sambil merapikan tas yang disampirkannya di bahu.

“Aku berangkat dulu ya, Ayah, Ibu... Ainun.” Tatapannya berhenti pada sang adik. “Ingat, jangan jatuh cinta sama Mas Sagara. Aku menitipkan dia untuk dijaga, bukan untuk kamu miliki.”

Sebelum Ainun sempat mengatakan apa pun, Liona sudah berbalik dan melangkah menuju pintu.

“Liona,” panggil Ayah, “kita belum selesai membicarakan ini.”

Namun, langkah kaki Liona tidak berhenti sedikit pun.

Ainun hanya mampu menatap punggung kakaknya yang terus melangkah menjauh. Liona sama sekali tidak menoleh, apalagi memberi kesempatan kepadanya untuk berbicara.

'Mbak benar-benar menyerahkan semua tanggung jawab ini kepadaku... bahkan tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan.'

“Liona, kenapa dia mengambil keputusan seperti ini?” gumam Pak Susanto dengan wajah penuh kebingungan.

Belum sempat Ainun mengangkat kepala, suara Bu Siti terdengar lebih dulu.

“Ainun, kenapa kamu langsung menyetujuinya?” tegur wanita itu dengan nada meninggi.

Ainun menoleh pelan. “Mbak Liona tadi—”

“Jangan salahkan Liona,” potong Bu Siti tajam. “Salahkan dirimu sendiri yang mau mengiyakan permintaannya.”

Ucapan itu membuat Ainun kembali terdiam.

Jemarinya meremas ujung bajunya erat-erat.

'Padahal aku belum sempat menjelaskan apa pun...'

 Sejak kecil, setiap kali terjadi sesuatu, ia selalu menjadi pihak yang disalahkan. Meski bukan sepenuhnya kesalahannya, pada akhirnya ia juga yang harus menerima semua amarah.

Pak Susanto mengembuskan napas panjang.

“Sudahlah. Ini sudah menjadi keputusan Liona. Mau nggak mau kita harus mendukungnya.”

Ainun mengangkat wajah perlahan.

Tatapan ayahnya terasa dingin.

“Kalau begitu, lakukan saja. Tapi ingat satu hal, Ainun.” Suara Pak Susanto terdengar tegas. “Sagara itu milik mbakmu. Jangan pernah berpikir untuk mengambil tempatnya.”

Kalimat itu menghantam hati Ainun tanpa ampun. Ia menunduk, lalu mengangguk pelan.

“I-iya, Ayah.”

“Sayang, Mas berangkat kerja dulu,” pamit Pak Susanto sambil berdiri.

“Hati-hati, Mas,” sahut Bu Siti.

Ainun ikut bangkit dari kursinya. “Hati-hati, Ayah....”

Namun, Pak Susanto telah lebih dulu melangkah keluar tanpa menunggu ucapannya selesai.

Ainun mengembuskan napas lirih. Pandangan matanya beralih kepada sang ibu.

“Bu, Ainun berang—”

“Iya,” jawab Bu Siti singkat.

Tanpa menoleh sedikit pun, wanita itu langsung meninggalkan ruang makan.

Kini, hanya Ainun yang tersisa.

Ruangan yang tadi dipenuhi suara percakapan mendadak terasa lengang. Ia menatap meja makan yang belum sempat disentuhnya, lalu tersenyum tipis dengan getir.

‘Sepertinya memang aku seperti orang lain yang nggak di harapkan kehadirannya.’

Tak lama kemudian, Ainun membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruang makan.

Terpopuler

Comments

Skyline Scribe

Skyline Scribe

halo kak aku mampir,
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪

2026-08-08

1

Arra Bella

Arra Bella

salam kenal kakak

2026-08-08

1

lihat semua
Episodes
1 Flashback: Awal Dari Sebuah Pengorbanan
2 Flashback end
3 Ainun: Harus Tahu Diri
4 Ainun: Terjatuh Dalam Pelukan Pak Faizan
5 Hamil?
6 Ternyata Positif Hamil
7 Tolong Jangan Beri Tahu Sagara
8 Keputusan Liam
9 Ainun: Harapan Kecil di Tengah Ketakutan
10 Datang Hanya Untuk di Rendahkan
11 Ainun: Dua Wajah
12 Ainun: Tolong Aku…
13 Ainun: Aku Wanita Murahan?
14 Pesan dari Liona
15 Ainun: Aku Hanya Istri Sementara
16 Ngidam Sate Madura
17 Kafe Cendana
18 SELALU ADA NAMA LIONA
19 Mempersiapkan Diri Untuk Pergi. (1)
20 Sikap Sagara Yang Aneh
21 Satu Langkah Lagi untuk Pergi
22 Ainun: Menceritakan Rahasiaku
23 Ainun: Mengkhitbahku di Depan Suamiku
24 Dalam Cengkeraman Sagara
25 Dikurung Suamiku
26 Ainun: Selama Ini Aku Diawasi
27 Harus Pergi Sebelum Sagara Pulang
28 Berhasil Pergi
29 Sagara: Dia Membawa Anakku
30 Benarkah Dia Terobsesi?
31 Sagara: Akan Kucari Kamu Sampai ke ujung Dunia Sekalipun.
32 Lina: Neraka yang Sama
33 Dua Hari Menjelang Pernikahan
34 Hari Kehancuran Liona prt. 1
35 Hari Kehancuran Liona (prt. 2)
36 Hari Kehancuran Liona (Prt. Last)
37 Diculik dan Disiksa Tanpa Bukti
38 Ainun, Bertahanlah
39 Ainun: Di Saat Semua Memusuhiku
40 Fitnah Yang Menjatuhkan
41 Ternyata Bukan Ainun Pelakunya
42 Menemukan Keberadaan Ainun
43 Ainun: Membawaku Pulang?
44 KEMBALI KE RUMAH NERAKA
45 Ainun: Mengapa Harus Aku?
46 Sagara: Aku Memilih Wanita yang Kucintai
47 Sagara: Aku Akan Membuatmu Mencintaiku
48 Lily dalam Sangkar Emas
49 Sagara: Jangan Sentuh Wanitaku
50 Memberikan Kesempatan Kedua Untuk Sagara
51 Liona: ‘Untung Nggak Keceplosan’
52 Awal Lembaran Baru
53 Gadis yang Waktu Itu
54 Wanita yang Salah Dipeluk
55 My Bakery
56 Menanti Buah Hati
57 Aksara Jeno
58 Tak Nyaman Di Rumah Baru
59 Menyembunyikan Alif Untuk Balas Dendam
60 Ketahuan
61 Pesan yang Dihapus
62 Kembalinya Pak Faizan
63 Cemburu yang Membara
64 Rencana Menjatuhkan Keluarga Dirgantara
65 Ainun: Kamu mengingkari janjimu, Mas
66 Iblis yang Melindungi Istrinya
67 Ainun: Wajah Iblis di Balik Suamiku
68 Dua Hari Menuju Kebebasan
69 <PRIVATE_PERSON>
70 SERANGAN PERTAMA DIMULAI
71 Kembali ke keluarga Dirgantara
72 Pengkhianatan di Depan Mata.
73 Ainun: Peluk Mamah, Aksara…
74 Ketika Penyesalan Datang Terlambat
75 Sebuah Janji
76 Hari Kejatuhan Dirgantara
77 Telah Berakhir
78 Memulai Hidup yang Baru
79 Ainun: Akhir dari Pernikahan Kami
80 Ketika Kehilangan Datang Bersamaan
81 Lima Tahun kemudian: Terlambat Menyadari Cinta
82 Ainun: Baru Saja Menerima Lamaran Faizan, Mantan Suamiku Kembali
83 Ainun: Kita Hanya Orang Tua Aksara
84 Lima Puluh Juta untuk Sebuah Restu
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Flashback: Awal Dari Sebuah Pengorbanan
2
Flashback end
3
Ainun: Harus Tahu Diri
4
Ainun: Terjatuh Dalam Pelukan Pak Faizan
5
Hamil?
6
Ternyata Positif Hamil
7
Tolong Jangan Beri Tahu Sagara
8
Keputusan Liam
9
Ainun: Harapan Kecil di Tengah Ketakutan
10
Datang Hanya Untuk di Rendahkan
11
Ainun: Dua Wajah
12
Ainun: Tolong Aku…
13
Ainun: Aku Wanita Murahan?
14
Pesan dari Liona
15
Ainun: Aku Hanya Istri Sementara
16
Ngidam Sate Madura
17
Kafe Cendana
18
SELALU ADA NAMA LIONA
19
Mempersiapkan Diri Untuk Pergi. (1)
20
Sikap Sagara Yang Aneh
21
Satu Langkah Lagi untuk Pergi
22
Ainun: Menceritakan Rahasiaku
23
Ainun: Mengkhitbahku di Depan Suamiku
24
Dalam Cengkeraman Sagara
25
Dikurung Suamiku
26
Ainun: Selama Ini Aku Diawasi
27
Harus Pergi Sebelum Sagara Pulang
28
Berhasil Pergi
29
Sagara: Dia Membawa Anakku
30
Benarkah Dia Terobsesi?
31
Sagara: Akan Kucari Kamu Sampai ke ujung Dunia Sekalipun.
32
Lina: Neraka yang Sama
33
Dua Hari Menjelang Pernikahan
34
Hari Kehancuran Liona prt. 1
35
Hari Kehancuran Liona (prt. 2)
36
Hari Kehancuran Liona (Prt. Last)
37
Diculik dan Disiksa Tanpa Bukti
38
Ainun, Bertahanlah
39
Ainun: Di Saat Semua Memusuhiku
40
Fitnah Yang Menjatuhkan
41
Ternyata Bukan Ainun Pelakunya
42
Menemukan Keberadaan Ainun
43
Ainun: Membawaku Pulang?
44
KEMBALI KE RUMAH NERAKA
45
Ainun: Mengapa Harus Aku?
46
Sagara: Aku Memilih Wanita yang Kucintai
47
Sagara: Aku Akan Membuatmu Mencintaiku
48
Lily dalam Sangkar Emas
49
Sagara: Jangan Sentuh Wanitaku
50
Memberikan Kesempatan Kedua Untuk Sagara
51
Liona: ‘Untung Nggak Keceplosan’
52
Awal Lembaran Baru
53
Gadis yang Waktu Itu
54
Wanita yang Salah Dipeluk
55
My Bakery
56
Menanti Buah Hati
57
Aksara Jeno
58
Tak Nyaman Di Rumah Baru
59
Menyembunyikan Alif Untuk Balas Dendam
60
Ketahuan
61
Pesan yang Dihapus
62
Kembalinya Pak Faizan
63
Cemburu yang Membara
64
Rencana Menjatuhkan Keluarga Dirgantara
65
Ainun: Kamu mengingkari janjimu, Mas
66
Iblis yang Melindungi Istrinya
67
Ainun: Wajah Iblis di Balik Suamiku
68
Dua Hari Menuju Kebebasan
69
<PRIVATE_PERSON>
70
SERANGAN PERTAMA DIMULAI
71
Kembali ke keluarga Dirgantara
72
Pengkhianatan di Depan Mata.
73
Ainun: Peluk Mamah, Aksara…
74
Ketika Penyesalan Datang Terlambat
75
Sebuah Janji
76
Hari Kejatuhan Dirgantara
77
Telah Berakhir
78
Memulai Hidup yang Baru
79
Ainun: Akhir dari Pernikahan Kami
80
Ketika Kehilangan Datang Bersamaan
81
Lima Tahun kemudian: Terlambat Menyadari Cinta
82
Ainun: Baru Saja Menerima Lamaran Faizan, Mantan Suamiku Kembali
83
Ainun: Kita Hanya Orang Tua Aksara
84
Lima Puluh Juta untuk Sebuah Restu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!