Ainun: Harus Tahu Diri

Kelopak mata Ainun perlahan terbuka.

Sentuhan panas yang menyisakan batinnya telah lama menghilang, berganti dengan rasa pegal yang menjalar di sekujur tubuhnya.

Ia menarik napas pelan.

Perlahan, Ainun menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu turun dari ranjang, tanpa menoleh sedikitpun. Kakinya melangkah pelan menuju kamarnya yang sempit dan pengap, yang kini menjadi tempatnya menenangkan diri.

Setibanya di dalam kamar.

Ainun menyandarkan tubuh di dinding dingin sebelum akhirnya terduduk di lantai. Kedua lututnya ia peluk erat. Tatapannya kosong menatap lantai.

“Mbak...” Suaranya bergetar. “Mbak Liona kapan pulang?”

Bibirnya bergetar semakin hebat.

“Ainun... nggak sanggup lagi.”

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh tanpa ampun. Bahunya berguncang pelan, sementara isak tangis memenuhi kamar yang sunyi.

Tak ada seorang pun yang datang menghapus air matanya.

Tak ada pelukan.

Tak ada kata-kata yang menenangkan.

Hanya kesunyian yang menemaninya hingga malam semakin larut.

Sedikit demi sedikit, isaknya mereda.

.

Sementara itu, di sebuah ruangan, Sagara duduk bersandar di kursi.

Tatapannya terpaku pada layar monitor yang menampilkan rekaman dari sebuah ruangan sempit.

Di sana, seorang wanita tampak meringkuk di sudut ruangan dengan kedua lutut yang dipeluk erat. Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertunduk, tetapi pemandangan itu tak membuat sorot mata Sagara berubah sedikit pun.

Ia mengisap rokok yang terselip di antara jemarinya.

Sesaat kemudian, kepulan asap keluar perlahan dari bibirnya, memenuhi ruangan.

Tanpa mengalihkan pandangan dari monitor, Sagara mematikan puntung rokok ke dalam asbak hingga bara merahnya padam.

Ia bangkit dari kursinya.

Langkahnya membawanya ke meja kerja yang dipenuhi berkas dan beberapa map yang berserakan.

Sagara menarik kursi, lalu kembali duduk.

Kling.

Suara notifikasi membuat pandangannya beralih ke ponsel yang tergeletak di atas meja.

Ia meraih benda itu, kemudian membuka pesan yang baru saja masuk.

Nama asistennya muncul di layar.

{Pak Sagara, saya baru saja mendapatkan informasi. Nona Liona, calon istri Anda, saat ini berada di Austria.}

Rahang Sagara mengeras.

Tanpa banyak berpikir, jemarinya segera mengetik balasan.

{Terus pantau keberadaannya.}

Setelah pesan terkirim, ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja.

Tubuhnya bersandar pada kursi.

Tatapannya kembali tertuju pada layar monitor yang masih menampilkan rekaman dari ruangan sempit itu.

.

.

Fajar perlahan merekah di ufuk timur. Cahaya matahari menyusup melalui celah-celah jendela rumah, mengusir dingin yang sejak semalam menyelimuti setiap sudut ruangan. Suasana masih lengang. Hanya terdengar sesekali kicau burung dan desir angin pagi yang berembus pelan.

Di dalam kamar kecil yang kini ditempatinya, Ainun berdiri di depan cermin.

Jilbab krem telah terpasang rapi membingkai wajahnya. Ia merapikan sedikit bagian depan jilbabnya, lalu mengembuskan napas pelan.

Pandangannya beralih ke ponsel yang tergeletak di atas meja. Jemarinya meraih benda itu, kemudian menyalakan layarnya.

“Sudah lewat jam enam.” Bibirnya bergerak lirih. “Aku harus berangkat sebelum bertemu Mas Sagara.”

‘Lebih baik seperti biasa. Berangkat lebih pagi dan pulang lebih sore.’

Perlahan, ia memasukkan ponselnya ke dalam tas. Setelah memastikan semua barangnya lengkap, Ainun membuka pintu kamar dan melangkah keluar.

Baru beberapa langkah meninggalkan kamar, sebuah suara menyapanya.

“Mbak Ainun, mau berangkat sekarang?” tanya Bibi Ani sambil membawa mangkuk dari arah dapur.

Langkah Ainun terhenti. Ia menoleh dan mendapati wanita paruh baya itu tersenyum ramah kepadanya.

‘Bibi Ani... beliau asisten rumah tangga di rumah ini. Beliau satu-satunya orang yang selalu menyapaku setiap hari. Selalu bertanya apakah aku sudah makan atau belum saat pulang mengajar.’

Ainun membalas senyum itu tipis.

“Iya, Bi.”

“Nggak sarapan dulu?” Bibi Ani menunjuk ke arah dapur. “Sebentar lagi masakannya matang.”

Ucapan itu membuat pandangan Ainun tanpa sadar bergeser ke arah dapur.

Aroma masakan hangat memenuhi udara, menggelitik perutnya yang sejak semalam belum terisi.

Tanpa sadar ia menelan ludah.

‘Aku harus tahu diri. Aku hanya orang asing di rumah ini. Apa pantas aku memakan sebutir nasi?’

Sudah hampir tiga bulan ia tinggal di rumah itu.

Namun, tak sekali pun ia ikut duduk di meja makan bersama sang tuan rumah.

Sarapan dan makan siang selalu dibelinya di luar. Sedangkan saat malam tiba, ia sengaja mencari alasan untuk makan sebelum pulang.

Bukan karena tidak lapar. Melainkan karena ia tahu tempatnya.

Ainun kembali menatap Bibi Ani, lalu menggeleng pelan.

“Nggak usah, Bi. Saya beli di warung saja.”

Bibi Ani tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkan niatnya.

Ainun menundukkan kepala dengan sopan.

“Ainun berangkat dulu. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan, Mbak Ainun,” balas Bibi Ani sambil tersenyum hangat.

“Iya, Bi. Terima kasih.”

Ainun membalas senyum itu sekilas, lalu berbalik melangkah meninggalkan dapur.

Tak lama kemudian, suara pintu rumah yang terbuka lalu tertutup perlahan.

. . .

Begitu keluar dari rumah, embusan angin pagi langsung menyapa wajah Ainun.

Ia melangkah pelan menyusuri halaman. Pintu pagar dibukanya perlahan agar tidak menimbulkan suara.

‘Seharusnya aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri, meski aku hanya istri sementara.’

Langkahnya perlahan melambat. ‘Tapi...’

Kelopak matanya terpejam sesaat.

‘Ya sudahlah. Itu bukan urusanku. Mas Sagara sendiri yang melarangku menyentuh semua barang miliknya. Katanya, gak ada seorang pun yang boleh menyentuh apa pun yang menjadi miliknya, kecuali Mbak Liona.’

Tanpa sadar, jemari Ainun mengusap pelan lengan kirinya.

‘Kalau aku melanggarnya... yang kudapat hanya pukulan. Bahkan sampai sekarang lenganku masih sering terasa sakit.’

Ia menghentikan langkahnya sejenak.

Tatapannya terangkat ke langit.

Matahari berwarna jingga mulai muncul di ufuk timur, memancarkan cahaya hangat yang perlahan menerangi jalanan. Udara masih terasa sejuk, sementara lalu lalang kendaraan belum begitu ramai.

Ainun menarik napas dalam-dalam.

“Lihat saja,” gumamnya lirih. “Setelah Mbak Liona kembali, aku akan pergi jauh.”

Senyumnya terukir tipis, tetapi tak pernah sampai ke matanya.

Perlahan, Ainun kembali mengayunkan langkahnya meninggalkan rumah yang selama tiga bulan terakhir hanya menjadi tempat tinggal, bukan tempat untuk pulang.

.

 Di saat yang sama, suasana di dalam rumah masih diselimuti keheningan pagi.

Sagara menuruni anak tangga satu per satu dengan langkah tenang. Kemeja putih dan celana bahan hitam yang dikenakannya tampak rapi, seolah tak menyisakan sedikit pun kesan berantakan.

Tak lama, ia tiba di ruang makan.

Di atas meja telah tersaji berbagai hidangan yang masih mengepulkan uap hangat. Namun, tak ada siapa pun yang duduk di sana selain Bibi Ani yang sedang merapikan piring.

Tatapan Sagara menyapu seluruh ruangan.

Tak menemukan sosok yang dicarinya. Ia melangkah mendekati meja makan.

“Di mana wanita itu?” tanyanya datar.

Bibi Ani segera menoleh.

“Mbak Ainun baru berangkat beberapa menit yang lalu, Pak Sagara,” jawabnya hati-hati.

Sagara terdiam. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya mengepal pelan di sisi tubuhnya.

“Berani sekali dia pergi lebih dulu,” ucapnya dingin. “Apa dia nggak punya sopan santun?”

Bibi Ani tampak ragu sebelum akhirnya memberanikan diri menjawab.

“Tapi... bukannya memang setiap hari Mbak Ainun selalu berangkat sepagi ini, Pak?”

Tatapan Sagara perlahan beralih kepadanya.

Sorot matanya membuat Bibi Ani seketika menundukkan kepala.

“Apa saya mengizinkan kamu berbicara?” suara Sagara terdengar rendah, tetapi penuh tekanan.

Wajah Bibi Ani langsung pucat.

“M-maaf, Pak.”

“Lanjutkan pekerjaanmu.”

“B-baik, Pak. Permisi.”

Bibi Ani segera membungkukkan badan tipis, lalu bergegas meninggalkan ruang makan.

Sagara tetap berdiri di tempatnya. Tatapannya beralih pada deretan makanan yang tersusun rapi di atas meja.

Beberapa saat kemudian, ia menarik kursi, lalu duduk dengan tenang.

Tanpa banyak ekspresi, ia mengambil nasi dan beberapa lauk secukupnya ke dalam piringnya.

'Setidaknya wanita itu masih tahu diri. Dia tidak pernah menyentuh makanan yang ada di rumah ini.'

Tanpa memikirkan hal lain, Sagara mulai menyantap sarapannya dalam keheningan yang kembali menyelimuti ruang makan.

Terpopuler

Comments

partini

partini

pengantin pengganti nyesek Ampe ulu hati, happy nanti kalau suami udah sreg di hati

2026-08-01

1

Arra Bella

Arra Bella

aku yakin liona bakal nyesel

2026-08-09

1

lihat semua
Episodes
1 Flashback: Awal Dari Sebuah Pengorbanan
2 Flashback end
3 Ainun: Harus Tahu Diri
4 Ainun: Terjatuh Dalam Pelukan Pak Faizan
5 Hamil?
6 Ternyata Positif Hamil
7 Tolong Jangan Beri Tahu Sagara
8 Keputusan Liam
9 Ainun: Harapan Kecil di Tengah Ketakutan
10 Datang Hanya Untuk di Rendahkan
11 Ainun: Dua Wajah
12 Ainun: Tolong Aku…
13 Ainun: Aku Wanita Murahan?
14 Pesan dari Liona
15 Ainun: Aku Hanya Istri Sementara
16 Ngidam Sate Madura
17 Kafe Cendana
18 SELALU ADA NAMA LIONA
19 Mempersiapkan Diri Untuk Pergi. (1)
20 Sikap Sagara Yang Aneh
21 Satu Langkah Lagi untuk Pergi
22 Ainun: Menceritakan Rahasiaku
23 Ainun: Mengkhitbahku di Depan Suamiku
24 Dalam Cengkeraman Sagara
25 Dikurung Suamiku
26 Ainun: Selama Ini Aku Diawasi
27 Harus Pergi Sebelum Sagara Pulang
28 Berhasil Pergi
29 Sagara: Dia Membawa Anakku
30 Benarkah Dia Terobsesi?
31 Sagara: Akan Kucari Kamu Sampai ke ujung Dunia Sekalipun.
32 Lina: Neraka yang Sama
33 Dua Hari Menjelang Pernikahan
34 Hari Kehancuran Liona prt. 1
35 Hari Kehancuran Liona (prt. 2)
36 Hari Kehancuran Liona (Prt. Last)
37 Diculik dan Disiksa Tanpa Bukti
38 Ainun, Bertahanlah
39 Ainun: Di Saat Semua Memusuhiku
40 Fitnah Yang Menjatuhkan
41 Ternyata Bukan Ainun Pelakunya
42 Menemukan Keberadaan Ainun
43 Ainun: Membawaku Pulang?
44 KEMBALI KE RUMAH NERAKA
45 Ainun: Mengapa Harus Aku?
46 Sagara: Aku Memilih Wanita yang Kucintai
47 Sagara: Aku Akan Membuatmu Mencintaiku
48 Lily dalam Sangkar Emas
49 Sagara: Jangan Sentuh Wanitaku
50 Memberikan Kesempatan Kedua Untuk Sagara
51 Liona: ‘Untung Nggak Keceplosan’
52 Awal Lembaran Baru
53 Gadis yang Waktu Itu
54 Wanita yang Salah Dipeluk
55 My Bakery
56 Menanti Buah Hati
57 Aksara Jeno
58 Tak Nyaman Di Rumah Baru
59 Menyembunyikan Alif Untuk Balas Dendam
60 Ketahuan
61 Pesan yang Dihapus
62 Kembalinya Pak Faizan
63 Cemburu yang Membara
64 Rencana Menjatuhkan Keluarga Dirgantara
65 Ainun: Kamu mengingkari janjimu, Mas
66 Iblis yang Melindungi Istrinya
67 Ainun: Wajah Iblis di Balik Suamiku
68 Dua Hari Menuju Kebebasan
69 <PRIVATE_PERSON>
70 SERANGAN PERTAMA DIMULAI
71 Kembali ke keluarga Dirgantara
72 Pengkhianatan di Depan Mata.
73 Ainun: Peluk Mamah, Aksara…
74 Ketika Penyesalan Datang Terlambat
75 Sebuah Janji
76 Hari Kejatuhan Dirgantara
77 Telah Berakhir
78 Memulai Hidup yang Baru
79 Ainun: Akhir dari Pernikahan Kami
80 Ketika Kehilangan Datang Bersamaan
81 Lima Tahun kemudian: Terlambat Menyadari Cinta
82 Ainun: Baru Saja Menerima Lamaran Faizan, Mantan Suamiku Kembali
83 Ainun: Kita Hanya Orang Tua Aksara
84 Lima Puluh Juta untuk Sebuah Restu
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Flashback: Awal Dari Sebuah Pengorbanan
2
Flashback end
3
Ainun: Harus Tahu Diri
4
Ainun: Terjatuh Dalam Pelukan Pak Faizan
5
Hamil?
6
Ternyata Positif Hamil
7
Tolong Jangan Beri Tahu Sagara
8
Keputusan Liam
9
Ainun: Harapan Kecil di Tengah Ketakutan
10
Datang Hanya Untuk di Rendahkan
11
Ainun: Dua Wajah
12
Ainun: Tolong Aku…
13
Ainun: Aku Wanita Murahan?
14
Pesan dari Liona
15
Ainun: Aku Hanya Istri Sementara
16
Ngidam Sate Madura
17
Kafe Cendana
18
SELALU ADA NAMA LIONA
19
Mempersiapkan Diri Untuk Pergi. (1)
20
Sikap Sagara Yang Aneh
21
Satu Langkah Lagi untuk Pergi
22
Ainun: Menceritakan Rahasiaku
23
Ainun: Mengkhitbahku di Depan Suamiku
24
Dalam Cengkeraman Sagara
25
Dikurung Suamiku
26
Ainun: Selama Ini Aku Diawasi
27
Harus Pergi Sebelum Sagara Pulang
28
Berhasil Pergi
29
Sagara: Dia Membawa Anakku
30
Benarkah Dia Terobsesi?
31
Sagara: Akan Kucari Kamu Sampai ke ujung Dunia Sekalipun.
32
Lina: Neraka yang Sama
33
Dua Hari Menjelang Pernikahan
34
Hari Kehancuran Liona prt. 1
35
Hari Kehancuran Liona (prt. 2)
36
Hari Kehancuran Liona (Prt. Last)
37
Diculik dan Disiksa Tanpa Bukti
38
Ainun, Bertahanlah
39
Ainun: Di Saat Semua Memusuhiku
40
Fitnah Yang Menjatuhkan
41
Ternyata Bukan Ainun Pelakunya
42
Menemukan Keberadaan Ainun
43
Ainun: Membawaku Pulang?
44
KEMBALI KE RUMAH NERAKA
45
Ainun: Mengapa Harus Aku?
46
Sagara: Aku Memilih Wanita yang Kucintai
47
Sagara: Aku Akan Membuatmu Mencintaiku
48
Lily dalam Sangkar Emas
49
Sagara: Jangan Sentuh Wanitaku
50
Memberikan Kesempatan Kedua Untuk Sagara
51
Liona: ‘Untung Nggak Keceplosan’
52
Awal Lembaran Baru
53
Gadis yang Waktu Itu
54
Wanita yang Salah Dipeluk
55
My Bakery
56
Menanti Buah Hati
57
Aksara Jeno
58
Tak Nyaman Di Rumah Baru
59
Menyembunyikan Alif Untuk Balas Dendam
60
Ketahuan
61
Pesan yang Dihapus
62
Kembalinya Pak Faizan
63
Cemburu yang Membara
64
Rencana Menjatuhkan Keluarga Dirgantara
65
Ainun: Kamu mengingkari janjimu, Mas
66
Iblis yang Melindungi Istrinya
67
Ainun: Wajah Iblis di Balik Suamiku
68
Dua Hari Menuju Kebebasan
69
<PRIVATE_PERSON>
70
SERANGAN PERTAMA DIMULAI
71
Kembali ke keluarga Dirgantara
72
Pengkhianatan di Depan Mata.
73
Ainun: Peluk Mamah, Aksara…
74
Ketika Penyesalan Datang Terlambat
75
Sebuah Janji
76
Hari Kejatuhan Dirgantara
77
Telah Berakhir
78
Memulai Hidup yang Baru
79
Ainun: Akhir dari Pernikahan Kami
80
Ketika Kehilangan Datang Bersamaan
81
Lima Tahun kemudian: Terlambat Menyadari Cinta
82
Ainun: Baru Saja Menerima Lamaran Faizan, Mantan Suamiku Kembali
83
Ainun: Kita Hanya Orang Tua Aksara
84
Lima Puluh Juta untuk Sebuah Restu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!