Hamil?

Bel kembali berdentang memenuhi seluruh area taman kanak-kanak, pertanda istirahat telah tiba.

Kleng... kleng...

Suara riuh anak-anak langsung memenuhi koridor sekolah.

“Jangan lupa tugasnya, besok dikumpulkan, ya,” ujar Ainun sambil tersenyum hangat kepada murid-muridnya.

“Baik, Bu Ainun!” jawab mereka hampir bersamaan.

“Kalian boleh istirahat.”

Satu per satu anak-anak keluar dari kelas.

Setelah ruang kelas benar-benar kosong, ia merapikan beberapa buku gambar yang masih tertinggal di atas meja, lalu mengembuskankan napas pelan.

Ia meraih tas selempangnya, kemudian melangkah keluar kelas menuju ruang guru.

Baru beberapa langkah... Mendadak langkahnya terhenti. Pandangannya mengabur. Lantai di bawah kakinya seolah bergoyang pelan.

Ainun refleks mundur hingga punggungnya bersandar pada dinding koridor. Jemarinya mencengkeram tali tas erat-erat, berusaha mempertahankan keseimbangan.

'Ya Allah... kenapa kepalaku pusing sekali?'

Ia memejamkan mata sesaat, lalu menarik napas perlahan. Namun, rasa pening itu tak juga mereda. Bahkan pandangannya semakin berkunang-kunang.

“Bu Ainun?”

Suara seseorang membuat Ainun membuka mata. Di hadapannya, Bu Melda menatapnya dengan wajah penuh khawatir.

“Bu Ainun, Ibu kenapa?” tanyanya sambil mendekat.

Ainun mencoba tersenyum, tetapi wajahnya sudah terlihat pucat.

“Kepala saya... pusing sekali, Bu,” jawabnya lirih.

Bu Melda langsung memegang lengan Ainun, khawatir wanita itu kehilangan keseimbangan.

“Waduh, wajah sampean pucat begini.” Ia mengernyit cemas. “Sampean belum sarapan, ya?”

Ainun hanya mengulas senyum tipis. “Iya... tadi cuma sempat beli roti.”

“Lho, terus rotinya dimakan, kan?”

Ainun terdiam beberapa detik sebelum menggeleng pelan.

“Belum sempat.”

Bu Melda mengembuskan napas panjang.

“Ya ampun, Bu Ainun. Ayo, saya antar ke ruang UKS dulu. Sampean harus istirahat.”

Ainun tak lagi memiliki tenaga untuk menolak.

“Iya, Bu,” jawabnya pelan.

Bu Melda segera merangkul pundaknya dengan hati-hati, lalu menuntunnya menyusuri koridor menuju ruang UKS.

Ainun mengikuti langkah wanita itu perlahan.

Setiap langkah terasa semakin berat, sementara kepalanya masih berdenyut hebat.

. . .

 Setibanya di ruang UKS, Bu Melda membantu Ainun duduk di atas brankar.

Namun, belum sempat mengatur napas, perutnya tiba-tiba bergolak hebat.

Ainun refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan.

“Bu Ainun?” panggil Bu Melda cemas.

Tanpa sempat menjawab, Ainun segera bangkit dari brankar dan berlari kecil menuju wastafel yang berada di sudut ruangan.

Ia mencengkeram bibir wastafel erat-erat.

“Uwek...”

Tubuhnya sedikit membungkuk saat berusaha memuntahkan isi perutnya.

Namun, karena sejak pagi belum ada makanan yang benar-benar masuk ke lambungnya, yang keluar hanya cairan bening.

Rasa mual itu membuat kepalanya semakin berputar.

Napasnya memburu ketika tubuhnya perlahan bersandar pada dinding di samping wastafel.

‘Kenapa begini...?’

Bu Melda segera menghampirinya dan mengusap pelan punggung Ainun.

“Bu, sepertinya sampean masuk angin.” Nada suaranya penuh kekhawatiran. “Ayo duduk dulu. Saya panggilkan dokter UKS.”

Ainun mengangguk lemah. “Iya, Bu.”

Dengan langkah pelan, ia kembali ke brankar dan duduk di tepinya.

Pandangan Ainun menyapu ruangan itu sekilas.

‘Taman kanak-kanak ini memang berbeda. Karena sekolah swasta, fasilitasnya juga lengkap. Bahkan UKS di sini memiliki dokter yang berjaga setiap hari.’

‘Bahkan makanan pun selalu di atur sesuai standar dan gizi.’

Tak berselang lama, pintu UKS terbuka. Seorang dokter wanita mengenakan jas putih masuk sambil membawa map rekam medis.

Wanita itu menghampiri Ainun, lalu tersenyum ramah.

“Selamat siang, Bu Ainun,” sapanya lembut. “Saya dengar Ibu kurang enak badan.”

Ainun membalas senyum itu tipis. “Iya, Dok.”

Dokter itu menarik kursi, lalu duduk di hadapan Ainun.

“Coba Ibu ceritakan, apa yang sedang Anda rasakan?”

Ainun menarik napas pelan sebelum menjawab.

“Kepala saya pusing sejak tadi pagi, Dok.” Ia menelan ludah. “Terus... baru saja perut saya juga mual.”

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Ruangan itu diliputi keheningan.

Ainun menunggu jawaban dari dokter dengan jemari yang saling bertaut di atas pangkuannya.

Dokter itu menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis.

“Bu Ainun, tolong buka sedikit kancing bajunya. Saya ingin memeriksa dulu.”

“Iya, Dok.”

Ainun mengangguk pelan. Jemarinya segera membuka satu kancing paling atas seragam yang dikenakannya.

‘Untung saja dokternya perempuan.’

Dokter mengambil stetoskop yang menggantung di lehernya, lalu memasang kedua earpiece ke telinga.

“Tarik napas yang dalam, Bu.”

Ainun menurut.

Udara dingin dari kepala stetoskop menyentuh dadanya hingga membuat bahunya sedikit menegang.

“Sekali lagi,” pinta dokter lembut.

Ainun kembali menarik napas panjang, lalu menghembuskan perlahan.

Beberapa saat kemudian, dokter memindahkan stetoskop ke beberapa titik sebelum akhirnya melepaskannya.

“Sudah, Bu.”

Stetoskop itu kembali menggantung di leher sang dokter.

Ainun segera merapikan kembali kancing bajunya. Tatapannya tak lepas dari wajah dokter yang tampak sedang memikirkan sesuatu.

“Bagaimana, Dok?” tanyanya pelan. “Saya cuma masuk angin, kan? Soalnya dari pagi memang belum sempat sarapan.”

Dokter tidak langsung menjawab.

Ia menatap Ainun beberapa saat, seolah sedang mempertimbangkan kata-kata yang akan diucapkannya.

“Maaf, Bu Ainun,” ucapnya hati-hati. “Saya khawatir kalau saya langsung menyimpulkan penyebab keluhan Ibu.”

Kening Ainun langsung berkerut. “Maksud Dokter?”

Dokter meletakkan pulpennya di atas meja, lalu menatap Ainun dengan tenang.

“Sebaiknya Ibu melakukan pemeriksaan lanjutan di klinik obstetri dan ginekologi atau dokter kandungan.”

Ainun membeku. “Dokter kandungan...?” gumamnya lirih.

Dadanya mendadak berdebar lebih cepat.

‘Kenapa harus ke dokter kandungan...?’

Ia menatap dokter itu tanpa berkedip.

Dokter itu menatap lembar data di tangannya, lalu kembali mengalihkan pandangan kepada Ainun.

“Bu Ainun, saya boleh bertanya sesuatu?”

Ainun mengangguk pelan. “Silakan, Dok.”

“Ibu sudah menikah?”

Pertanyaan itu membuat Ainun terdiam sesaat.

“B-belum, Dok,” jawabnya lirih. “Ada apa memangnya, Dokter?”

Dokter mengernyit tipis. Jemarinya mengetuk pelan map rekam medis. “Tidak ada apa-apa, Bu Ainun.”

Ainun hanya mengangguk pelan.

Pernikahannya memang berlangsung mendadak. Bahkan, tak ada rekan guru yang ia undang ke acara pernikahan itu.

Dokter itu lalu menarik napas.

“Hanya saja… dari keluhan yang Ibu sampaikan, ditambah mual dan pusing yang Ibu rasakan, saya justru lebih mengarah pada kemungkinan kehamilan.”

Kalimat berikutnya terdengar begitu jelas di telinga Ainun.

“Menurut dugaan saya... Ibu sedang hamil.”

Deg.

Dunia seolah berhenti berputar.

‘Hamil...?’

Kelopak mata Ainun berkedip pelan. Ia menggeleng kecil, seakan tidak mampu menerima apa yang baru saja didengarnya.

Perlahan, telapak tangannya bergerak menyentuh perutnya yang masih tampak rata.

‘Aku... hamil?’ Napasnya mulai memburu. ‘Bagaimana mungkin?’

Pikirannya langsung melayang pada malam-malam yang selalu ingin dilupakannya.

‘Mas Sagara selalu memberiku pil setiap selesai...’

Jemarinya tanpa sadar mengepal.

‘Aku nggak pernah tahu pil apa itu. Yang kutahu, itu obat agar nggak terjadi kehamilan. Kalau begitu... kenapa aku bisa hamil? Aku nggak pernah telat meminumnya.’

Rasa takut perlahan merambat memenuhi hatinya.

Bayangan wajah Sagara yang dingin muncul begitu saja di benaknya.

‘Kalau Mas Sagara tahu... apakah beliau akan menerima anak ini?’

Bibir Ainun bergetar pelan.

‘Atau... beliau justru akan memaksaku menggugurkannya?’

Tanpa terasa, matanya mulai memanas.

Dengan susah payah, ia menelan rasa takut yang mengimpit dadanya, lalu mengangkat wajah menatap dokter.

“Dok...” suaranya terdengar lirih. “Setelah ini saya akan periksa ke dokter kandungan.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Tapi... saya mohon.” Jemarinya saling menggenggam erat. “Tolong rahasiakan hal ini dari siapa pun dulu.”

Dokter menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk pelan.

“Baik, Bu Ainun.”

Nada suaranya terdengar menenangkan.

“Saya akan menjaga kerahasiaan kondisi Ibu. Namun, sebaiknya Ibu segera melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan agar mendapatkan kepastian dan penanganan yang tepat.”

Ainun mengembuskan napas perlahan.

“Iya, Dok.”

Meski bibirnya menjawab, pikirannya masih dipenuhi satu pertanyaan yang terus berulang.

‘Kalau dugaan dokter itu benar... bagaimana aku harus mempertahankan anak ini di tengah pernikahan yang hanya sementara?’

Episodes
1 Flashback: Awal Dari Sebuah Pengorbanan
2 Flashback end
3 Ainun: Harus Tahu Diri
4 Ainun: Terjatuh Dalam Pelukan Pak Faizan
5 Hamil?
6 Ternyata Positif Hamil
7 Tolong Jangan Beri Tahu Sagara
8 Keputusan Liam
9 Ainun: Harapan Kecil di Tengah Ketakutan
10 Datang Hanya Untuk di Rendahkan
11 Ainun: Dua Wajah
12 Ainun: Tolong Aku…
13 Ainun: Aku Wanita Murahan?
14 Pesan dari Liona
15 Ainun: Aku Hanya Istri Sementara
16 Ngidam Sate Madura
17 Kafe Cendana
18 SELALU ADA NAMA LIONA
19 Mempersiapkan Diri Untuk Pergi. (1)
20 Sikap Sagara Yang Aneh
21 Satu Langkah Lagi untuk Pergi
22 Ainun: Menceritakan Rahasiaku
23 Ainun: Mengkhitbahku di Depan Suamiku
24 Dalam Cengkeraman Sagara
25 Dikurung Suamiku
26 Ainun: Selama Ini Aku Diawasi
27 Harus Pergi Sebelum Sagara Pulang
28 Berhasil Pergi
29 Sagara: Dia Membawa Anakku
30 Benarkah Dia Terobsesi?
31 Sagara: Akan Kucari Kamu Sampai ke ujung Dunia Sekalipun.
32 Lina: Neraka yang Sama
33 Dua Hari Menjelang Pernikahan
34 Hari Kehancuran Liona prt. 1
35 Hari Kehancuran Liona (prt. 2)
36 Hari Kehancuran Liona (Prt. Last)
37 Diculik dan Disiksa Tanpa Bukti
38 Ainun, Bertahanlah
39 Ainun: Di Saat Semua Memusuhiku
40 Fitnah Yang Menjatuhkan
41 Ternyata Bukan Ainun Pelakunya
42 Menemukan Keberadaan Ainun
43 Ainun: Membawaku Pulang?
44 KEMBALI KE RUMAH NERAKA
45 Ainun: Mengapa Harus Aku?
46 Sagara: Aku Memilih Wanita yang Kucintai
47 Sagara: Aku Akan Membuatmu Mencintaiku
48 Lily dalam Sangkar Emas
49 Sagara: Jangan Sentuh Wanitaku
50 Memberikan Kesempatan Kedua Untuk Sagara
51 Liona: ‘Untung Nggak Keceplosan’
52 Awal Lembaran Baru
53 Gadis yang Waktu Itu
54 Wanita yang Salah Dipeluk
55 My Bakery
56 Menanti Buah Hati
57 Aksara Jeno
58 Tak Nyaman Di Rumah Baru
59 Menyembunyikan Alif Untuk Balas Dendam
60 Ketahuan
61 Pesan yang Dihapus
62 Kembalinya Pak Faizan
63 Cemburu yang Membara
64 Rencana Menjatuhkan Keluarga Dirgantara
65 Ainun: Kamu mengingkari janjimu, Mas
66 Iblis yang Melindungi Istrinya
67 Ainun: Wajah Iblis di Balik Suamiku
68 Dua Hari Menuju Kebebasan
69 <PRIVATE_PERSON>
70 SERANGAN PERTAMA DIMULAI
71 Kembali ke keluarga Dirgantara
72 Pengkhianatan di Depan Mata.
73 Ainun: Peluk Mamah, Aksara…
74 Ketika Penyesalan Datang Terlambat
75 Sebuah Janji
76 Hari Kejatuhan Dirgantara
77 Telah Berakhir
78 Memulai Hidup yang Baru
79 Ainun: Akhir dari Pernikahan Kami
80 Ketika Kehilangan Datang Bersamaan
81 Lima Tahun kemudian: Terlambat Menyadari Cinta
82 Ainun: Baru Saja Menerima Lamaran Faizan, Mantan Suamiku Kembali
83 Ainun: Kita Hanya Orang Tua Aksara
84 Lima Puluh Juta untuk Sebuah Restu
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Flashback: Awal Dari Sebuah Pengorbanan
2
Flashback end
3
Ainun: Harus Tahu Diri
4
Ainun: Terjatuh Dalam Pelukan Pak Faizan
5
Hamil?
6
Ternyata Positif Hamil
7
Tolong Jangan Beri Tahu Sagara
8
Keputusan Liam
9
Ainun: Harapan Kecil di Tengah Ketakutan
10
Datang Hanya Untuk di Rendahkan
11
Ainun: Dua Wajah
12
Ainun: Tolong Aku…
13
Ainun: Aku Wanita Murahan?
14
Pesan dari Liona
15
Ainun: Aku Hanya Istri Sementara
16
Ngidam Sate Madura
17
Kafe Cendana
18
SELALU ADA NAMA LIONA
19
Mempersiapkan Diri Untuk Pergi. (1)
20
Sikap Sagara Yang Aneh
21
Satu Langkah Lagi untuk Pergi
22
Ainun: Menceritakan Rahasiaku
23
Ainun: Mengkhitbahku di Depan Suamiku
24
Dalam Cengkeraman Sagara
25
Dikurung Suamiku
26
Ainun: Selama Ini Aku Diawasi
27
Harus Pergi Sebelum Sagara Pulang
28
Berhasil Pergi
29
Sagara: Dia Membawa Anakku
30
Benarkah Dia Terobsesi?
31
Sagara: Akan Kucari Kamu Sampai ke ujung Dunia Sekalipun.
32
Lina: Neraka yang Sama
33
Dua Hari Menjelang Pernikahan
34
Hari Kehancuran Liona prt. 1
35
Hari Kehancuran Liona (prt. 2)
36
Hari Kehancuran Liona (Prt. Last)
37
Diculik dan Disiksa Tanpa Bukti
38
Ainun, Bertahanlah
39
Ainun: Di Saat Semua Memusuhiku
40
Fitnah Yang Menjatuhkan
41
Ternyata Bukan Ainun Pelakunya
42
Menemukan Keberadaan Ainun
43
Ainun: Membawaku Pulang?
44
KEMBALI KE RUMAH NERAKA
45
Ainun: Mengapa Harus Aku?
46
Sagara: Aku Memilih Wanita yang Kucintai
47
Sagara: Aku Akan Membuatmu Mencintaiku
48
Lily dalam Sangkar Emas
49
Sagara: Jangan Sentuh Wanitaku
50
Memberikan Kesempatan Kedua Untuk Sagara
51
Liona: ‘Untung Nggak Keceplosan’
52
Awal Lembaran Baru
53
Gadis yang Waktu Itu
54
Wanita yang Salah Dipeluk
55
My Bakery
56
Menanti Buah Hati
57
Aksara Jeno
58
Tak Nyaman Di Rumah Baru
59
Menyembunyikan Alif Untuk Balas Dendam
60
Ketahuan
61
Pesan yang Dihapus
62
Kembalinya Pak Faizan
63
Cemburu yang Membara
64
Rencana Menjatuhkan Keluarga Dirgantara
65
Ainun: Kamu mengingkari janjimu, Mas
66
Iblis yang Melindungi Istrinya
67
Ainun: Wajah Iblis di Balik Suamiku
68
Dua Hari Menuju Kebebasan
69
<PRIVATE_PERSON>
70
SERANGAN PERTAMA DIMULAI
71
Kembali ke keluarga Dirgantara
72
Pengkhianatan di Depan Mata.
73
Ainun: Peluk Mamah, Aksara…
74
Ketika Penyesalan Datang Terlambat
75
Sebuah Janji
76
Hari Kejatuhan Dirgantara
77
Telah Berakhir
78
Memulai Hidup yang Baru
79
Ainun: Akhir dari Pernikahan Kami
80
Ketika Kehilangan Datang Bersamaan
81
Lima Tahun kemudian: Terlambat Menyadari Cinta
82
Ainun: Baru Saja Menerima Lamaran Faizan, Mantan Suamiku Kembali
83
Ainun: Kita Hanya Orang Tua Aksara
84
Lima Puluh Juta untuk Sebuah Restu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!