Ainun: Terjatuh Dalam Pelukan Pak Faizan

Ainun mempercepat langkahnya begitu memasuki gerbang taman kanak-kanak. Suasana sekolah masih lengang. Hanya beberapa guru yang tampak berjalan menuju ruang masing-masing, sementara suara tawa anak-anak belum terdengar.

Begitu tiba di ruang guru, ia meletakkan tas di atas meja, lalu menarik kursi dan duduk perlahan.

Perutnya kembali terasa perih.

Tanpa membuang waktu, Ainun membuka ritsleting tasnya. Jemarinya meraih sebungkus roti dan sekotak susu yang dibelinya di warung sebelum berangkat.

“Alhamdulillah,” gumamnya lirih.

Baru saja ia hendak membuka bungkus roti, sebuah suara menyapanya dari arah pintu.

“Pagi, Bu Ainun.”

Ainun mendongak. Senyum tipis langsung menghiasi wajahnya saat melihat Laras melangkah masuk sambil membawa beberapa buku.

“Pagi juga, Bu Laras,” balas Ainun ramah.

Laras menghampiri mejanya, lalu melirik roti dan susu yang berada di atas meja.

“Beli di luar lagi, Bu Ainun?” tanyanya heran. “Biasanya Ibu selalu bawa bekal dari rumah.”

Gerakan tangan Ainun sejenak terhenti.

Ia menatap roti di tangannya beberapa saat sebelum kembali mengangkat wajah. Senyum tipis dipaksakan nya agar tidak menimbulkan kecurigaan.

“Iya,” jawabnya pelan. “Lagi pengin beli di luar saja.”

Laras mengangguk kecil. “Oh, begitu. Saya kira Ibu lagi buru-buru sampai nggak sempat masak.”

Ainun hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.

‘Mana mungkin aku menceritakan keadaan yang sebenarnya kepada Laras.’

‘Aku bahkan belum sanggup mengakui bahwa sekarang aku sudah menikah... dengan pria yang seharusnya menjadi suami Mbak Liona.’

“Assalamualaikum, Bu Ainun, Bu Laras.”

Suara salam itu membuat Ainun mengangkat kepalanya.

Di ambang pintu, Pak Faizan berdiri dengan senyum ramah. Kemeja biru muda yang dikenakannya tampak rapi, sementara sebuah map berada di tangan kirinya.

“Waalaikumsalam,” jawab Ainun dan Laras hampir bersamaan.

Tatapan Ainun sempat berhenti beberapa detik pada sosok pria itu.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

‘Pak Faizan... beliau salah satu guru di taman kanak-kanak ini. Usianya juga tidak jauh berbeda dengan Mas Sagara.’

Tanpa sadar, bibir Ainun mengatup rapat.

‘Seandainya saja...’

Kalimat itu menggantung begitu saja.

Perlahan ia mengalihkan pandangannya. Jemarinya meremas bungkus roti yang masih berada di tangannya.

‘Seandainya aku nggak terikat dengan pernikahan ini... mungkin aku masih punya kesempatan memilih pasangan hidupku sendiri.’

Namun, ia segera menggeleng pelan, guna menepis pikiran yang tak seharusnya muncul.

‘Enggak, Ainun. Bersabarlah. Tinggal menunggu Mbak Liona pulang. Setelah itu semuanya selesai, dan aku akan kembali bebas menjalani hidupku.’

Tin... tin...

Suara bel sekolah menggema di seluruh ruangan.

Ainun menoleh ke sekeliling ruang guru. Beberapa meja tampak masih kosong.

“Bu Laras,” panggilnya pelan, “kok masih ada beberapa guru yang belum datang?”

Laras mengikuti arah pandangan Ainun, lalu tersenyum tipis.

“Oh, Bu Melda sudah masuk ke kelas lebih dulu menemani anak-anak,” jelasnya. “Kalau Bu Een izin karena anaknya sedang sakit.”

Ainun mengangguk pelan.

“Kalau Pak Gama juga nggak masuk hari ini,” lanjut Laras. “Beliau sedang cuti. Istrinya baru saja melahirkan.”

“Oh, begitu.”

“Baik, Bapak dan Ibu Guru. Bel sudah berbunyi,” ujarnya sambil tersenyum. “Ayo kita bersiap menyambut anak-anak.”

“Iya, Pak,” sahut Ainun.

Sebelum meninggalkan ruang guru, Ainun meraih roti dan susu yang sudah disentuhnya. Ia memasukkan keduanya ke dalam tas agar bisa dimakan lagi saat ada waktu luang.

Baru saja ia hendak melangkah, suara Pak Faizan kembali terdengar.

“Bu Ainun, ayo bareng. Kelas kita searah, kan?”

Langkah Ainun terhenti. Ia menoleh sekilas ke arah pria itu, lalu menganggukkan kepala pelan.

“Iya, Pak.”

“Kalau begitu saya duluan, Pak Faizan, Bu Ainun,” pamit Laras sambil meraih beberapa buku di mejanya.

“Iya, Bu Laras,” sahut Ainun.

Tak lama kemudian, Laras berjalan keluar lebih dahulu hingga meninggalkan mereka berdua di dalam ruang guru.

Suasana mendadak terasa canggung bagi Ainun.

“Silakan duluan, Bu Ainun,” ujar Pak Faizan sambil mempersilakan dengan tangan kanannya.

Ainun refleks menggenggam tali tasnya lebih erat.

“Eh... i-iya, Pak.”

Ia segera melangkah keluar.

Sementara itu, Pak Faizan berjalan beberapa langkah di belakangnya.

Koridor sekolah yang tadi terasa biasa saja kini mendadak membuat Ainun salah tingkah.

‘Kenapa aku jadi gugup begini?’

Ainun menundukkan kepala sedikit.

Namun, semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin ia menyadari sesuatu yang selama ini berusaha diabaikannya.

Pak Faizan adalah sosok pria yang ramah.

Tidak dingin.

Tidak kasar.

Tidak pernah memandang rendah orang lain.

Berbeda dengan seseorang yang kini berstatus sebagai suaminya.

Pikiran itu membuat langkah Ainun perlahan melambat.

‘Andai saja hidupku nggak serumit ini...’

Ia segera menggigit bibir bawahnya pelan.

‘Astaghfirullah. Aku gak boleh berpikir seperti itu.’

Lorong sekolah mulai ramai dipenuhi anak-anak yang berlarian ke sana kemari. Tawa mereka berpadu dengan langkah-langkah kecil yang memenuhi koridor.

Ainun berjalan pelan di tengah keramaian itu.

Kedua tangannya meremas tali tas selempang yang menggantung di bahunya. Kepalanya sedikit tertunduk, berusaha agar tidak menghalangi anak-anak yang berlarian.

“Bu Ainun.”

Suara Pak Faizan membuat Ainun spontan mengangkat kepala.

“Eh... i-iya, Pak Faizan?” sahutnya sedikit terkejut. “Ada apa, Pak?”

Pak Faizan tersenyum tipis.

“Di pertigaan depan ada warung bakso baru,” ujarnya. “Nanti siang, setelah pulang sekolah, kita mampir, ya?”

Ainun berkedip pelan.

Ajakan itu membuatnya sesaat kehilangan kata-kata.

Melihatnya hanya diam, Pak Faizan kembali membuka suara.

“Tenang saja, Bu. Nanti Bu Laras juga ikut, kok. Jadi tidak akan canggung.”

Ainun menundukkan kepala sejenak. Namun, bayangan Sagara dan statusnya sebagai istri pria itu kembali memenuhi pikirannya.

Perlahan ia mengangkat wajah. “Nanti saya pikirkan dulu, ya, Pak.”

Pak Faizan mengangguk sambil tersenyum.

“Iya, Bu. Tidak apa-apa.”

Belum sempat mereka melangkah lebih jauh...

“Awas, Bu Ainun!”

Suara itu terdengar begitu dekat.

Ainun refleks menoleh.

Sebuah bola meluncur cepat ke arahnya.

Sebelum sempat menghindar, seseorang tiba-tiba menarik lengannya.

“Ah!”

Tubuh Ainun kehilangan keseimbangan. Dalam sekejap, tubuhnya menabrak dada Pak Faizan.

Mata Ainun membelalak.

Jantungnya berdetak semakin kencang ketika aroma parfum pria itu samar-samar tercium.

Beberapa anak yang bermain bola langsung berhenti.

“Maaf, Bu Guru!” seru salah satu anak dengan wajah panik.

Pak Faizan melepaskan pegangan di lengan Ainun, lalu menoleh kepada anak-anak itu.

 “Lain kali main bolanya di lapangan, ya. Sekarang ayo masuk kelas.”

“Iya, Pak Guru,” jawab anak-anak itu serempak sebelum berlarian menuju kelas masing-masing.

Suasana kembali tenang.

“Bu Ainun tidak kenapa-kenapa?”

Ainun masih terpaku beberapa saat sebelum akhirnya tersadar.

Ia buru-buru mundur selangkah, menjaga jarak.

“E-enggak apa-apa, Pak Faizan,” ucapnya gugup. “Terima kasih... sudah menolong saya.”

Pak Faizan mengangguk pelan.

“Sama-sama, Bu Ainun. Yang penting Ibu tidak terluka.”

Ainun membalas dengan senyum tipis.

“Kalau begitu... saya masuk kelas dulu, Pak.”

“Iya. Semangat mengajarnya, Bu.”

“Terima kasih, Pak.”

Ainun memberanikan diri untuk kembali menatap wajah Pak Faizan sedikit lebih lama.

Ia membalas senyum pria itu, lalu segera berbalik melangkah memasuki ruang kelas.

Begitu berdiri di depan kelas, napas Ainun masih terasa belum teratur. Tanpa sadar, pandangannya beralih ke arah pintu.

Pak Faizan ternyata masih berdiri di depan kelas. Seketika Ainun kembali menundukkan kepala.

Pipi hangatnya mulai memerah. Jantungnya masih berdegup tidak beraturan.

Bayangan ketika tubuhnya tanpa sengaja menabrak dada Pak Faizan terus berputar di dalam benaknya.

‘Astaghfirullah... kenapa aku terus mengingatnya?’

Ainun mengembuskan napas pelan.

Ia menggeleng kecil, berusaha mengusir pikiran yang semakin membuat hatinya gelisah.

Kling.

Suara notifikasi memecah lamunannya.

Pandangan Ainun beralih ke ponsel yang tergeletak di atas meja guru. Layar yang semula redup kembali menyala.

Ia meraih ponsel itu, lalu membuka pesan yang baru masuk.

Nama pengirimnya membuat jemarinya seketika berhenti.

Ibu.

{Nanti malam ajak Sagara ke rumah. Ibu sama Ayah mau makan malam bareng kalian.}

Tatapan Ainun terpaku pada layar.

‘Mas Sagara... apa beliau mau datang?’

Ia menggigit bibir bawahnya pelan.

Perlahan, jemarinya membuka ruang obrolan dengan Sagara.

Kursor berkedip di layar.

Dengan ragu, ia mulai mengetik.

{Mas, malam ini Ibu mengajak kita makan malam di rumah.}

Jemarinya berhenti tepat di atas tombol kirim.

Beberapa saat ia hanya menatap pesan itu dalam diam.

Kemudian...

Ainun menghapus satu per satu kalimat yang baru saja ditulisnya.

Tak lama, layar obrolan kembali kosong.

‘Mas Sagara pasti menolak.’

Ia mengembuskan napas panjang.

‘Lebih baik aku datang sendiri. Paling-paling aku hanya dimarahi atau kembali direndahkan seperti biasanya.’

Perlahan Ainun mengunci layar ponselnya, lalu meletakkannya kembali di atas meja.

“Bu Guru...”

Suara mungil seorang murid membuat Ainun tersadar dari lamunannya.

Ia segera mengangkat kepala dan kembali memasang senyum hangat.

“Iya, Sayang?” tanyanya lembut.

“Aku sudah selesai mewarnainya.”

Ainun segera mengembuskan napas pelan, lalu berjalan berkeliling kelas, memperhatikan satu per satu muridnya yang sibuk mewarnai.

Terpopuler

Comments

Arra Bella

Arra Bella

saat liona datang sagara tidak akan melepaskanmu ainun

2026-08-09

1

lihat semua
Episodes
1 Flashback: Awal Dari Sebuah Pengorbanan
2 Flashback end
3 Ainun: Harus Tahu Diri
4 Ainun: Terjatuh Dalam Pelukan Pak Faizan
5 Hamil?
6 Ternyata Positif Hamil
7 Tolong Jangan Beri Tahu Sagara
8 Keputusan Liam
9 Ainun: Harapan Kecil di Tengah Ketakutan
10 Datang Hanya Untuk di Rendahkan
11 Ainun: Dua Wajah
12 Ainun: Tolong Aku…
13 Ainun: Aku Wanita Murahan?
14 Pesan dari Liona
15 Ainun: Aku Hanya Istri Sementara
16 Ngidam Sate Madura
17 Kafe Cendana
18 SELALU ADA NAMA LIONA
19 Mempersiapkan Diri Untuk Pergi. (1)
20 Sikap Sagara Yang Aneh
21 Satu Langkah Lagi untuk Pergi
22 Ainun: Menceritakan Rahasiaku
23 Ainun: Mengkhitbahku di Depan Suamiku
24 Dalam Cengkeraman Sagara
25 Dikurung Suamiku
26 Ainun: Selama Ini Aku Diawasi
27 Harus Pergi Sebelum Sagara Pulang
28 Berhasil Pergi
29 Sagara: Dia Membawa Anakku
30 Benarkah Dia Terobsesi?
31 Sagara: Akan Kucari Kamu Sampai ke ujung Dunia Sekalipun.
32 Lina: Neraka yang Sama
33 Dua Hari Menjelang Pernikahan
34 Hari Kehancuran Liona prt. 1
35 Hari Kehancuran Liona (prt. 2)
36 Hari Kehancuran Liona (Prt. Last)
37 Diculik dan Disiksa Tanpa Bukti
38 Ainun, Bertahanlah
39 Ainun: Di Saat Semua Memusuhiku
40 Fitnah Yang Menjatuhkan
41 Ternyata Bukan Ainun Pelakunya
42 Menemukan Keberadaan Ainun
43 Ainun: Membawaku Pulang?
44 KEMBALI KE RUMAH NERAKA
45 Ainun: Mengapa Harus Aku?
46 Sagara: Aku Memilih Wanita yang Kucintai
47 Sagara: Aku Akan Membuatmu Mencintaiku
48 Lily dalam Sangkar Emas
49 Sagara: Jangan Sentuh Wanitaku
50 Memberikan Kesempatan Kedua Untuk Sagara
51 Liona: ‘Untung Nggak Keceplosan’
52 Awal Lembaran Baru
53 Gadis yang Waktu Itu
54 Wanita yang Salah Dipeluk
55 My Bakery
56 Menanti Buah Hati
57 Aksara Jeno
58 Tak Nyaman Di Rumah Baru
59 Menyembunyikan Alif Untuk Balas Dendam
60 Ketahuan
61 Pesan yang Dihapus
62 Kembalinya Pak Faizan
63 Cemburu yang Membara
64 Rencana Menjatuhkan Keluarga Dirgantara
65 Ainun: Kamu mengingkari janjimu, Mas
66 Iblis yang Melindungi Istrinya
67 Ainun: Wajah Iblis di Balik Suamiku
68 Dua Hari Menuju Kebebasan
69 <PRIVATE_PERSON>
70 SERANGAN PERTAMA DIMULAI
71 Kembali ke keluarga Dirgantara
72 Pengkhianatan di Depan Mata.
73 Ainun: Peluk Mamah, Aksara…
74 Ketika Penyesalan Datang Terlambat
75 Sebuah Janji
76 Hari Kejatuhan Dirgantara
77 Telah Berakhir
78 Memulai Hidup yang Baru
79 Ainun: Akhir dari Pernikahan Kami
80 Ketika Kehilangan Datang Bersamaan
81 Lima Tahun kemudian: Terlambat Menyadari Cinta
82 Ainun: Baru Saja Menerima Lamaran Faizan, Mantan Suamiku Kembali
83 Ainun: Kita Hanya Orang Tua Aksara
84 Lima Puluh Juta untuk Sebuah Restu
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Flashback: Awal Dari Sebuah Pengorbanan
2
Flashback end
3
Ainun: Harus Tahu Diri
4
Ainun: Terjatuh Dalam Pelukan Pak Faizan
5
Hamil?
6
Ternyata Positif Hamil
7
Tolong Jangan Beri Tahu Sagara
8
Keputusan Liam
9
Ainun: Harapan Kecil di Tengah Ketakutan
10
Datang Hanya Untuk di Rendahkan
11
Ainun: Dua Wajah
12
Ainun: Tolong Aku…
13
Ainun: Aku Wanita Murahan?
14
Pesan dari Liona
15
Ainun: Aku Hanya Istri Sementara
16
Ngidam Sate Madura
17
Kafe Cendana
18
SELALU ADA NAMA LIONA
19
Mempersiapkan Diri Untuk Pergi. (1)
20
Sikap Sagara Yang Aneh
21
Satu Langkah Lagi untuk Pergi
22
Ainun: Menceritakan Rahasiaku
23
Ainun: Mengkhitbahku di Depan Suamiku
24
Dalam Cengkeraman Sagara
25
Dikurung Suamiku
26
Ainun: Selama Ini Aku Diawasi
27
Harus Pergi Sebelum Sagara Pulang
28
Berhasil Pergi
29
Sagara: Dia Membawa Anakku
30
Benarkah Dia Terobsesi?
31
Sagara: Akan Kucari Kamu Sampai ke ujung Dunia Sekalipun.
32
Lina: Neraka yang Sama
33
Dua Hari Menjelang Pernikahan
34
Hari Kehancuran Liona prt. 1
35
Hari Kehancuran Liona (prt. 2)
36
Hari Kehancuran Liona (Prt. Last)
37
Diculik dan Disiksa Tanpa Bukti
38
Ainun, Bertahanlah
39
Ainun: Di Saat Semua Memusuhiku
40
Fitnah Yang Menjatuhkan
41
Ternyata Bukan Ainun Pelakunya
42
Menemukan Keberadaan Ainun
43
Ainun: Membawaku Pulang?
44
KEMBALI KE RUMAH NERAKA
45
Ainun: Mengapa Harus Aku?
46
Sagara: Aku Memilih Wanita yang Kucintai
47
Sagara: Aku Akan Membuatmu Mencintaiku
48
Lily dalam Sangkar Emas
49
Sagara: Jangan Sentuh Wanitaku
50
Memberikan Kesempatan Kedua Untuk Sagara
51
Liona: ‘Untung Nggak Keceplosan’
52
Awal Lembaran Baru
53
Gadis yang Waktu Itu
54
Wanita yang Salah Dipeluk
55
My Bakery
56
Menanti Buah Hati
57
Aksara Jeno
58
Tak Nyaman Di Rumah Baru
59
Menyembunyikan Alif Untuk Balas Dendam
60
Ketahuan
61
Pesan yang Dihapus
62
Kembalinya Pak Faizan
63
Cemburu yang Membara
64
Rencana Menjatuhkan Keluarga Dirgantara
65
Ainun: Kamu mengingkari janjimu, Mas
66
Iblis yang Melindungi Istrinya
67
Ainun: Wajah Iblis di Balik Suamiku
68
Dua Hari Menuju Kebebasan
69
<PRIVATE_PERSON>
70
SERANGAN PERTAMA DIMULAI
71
Kembali ke keluarga Dirgantara
72
Pengkhianatan di Depan Mata.
73
Ainun: Peluk Mamah, Aksara…
74
Ketika Penyesalan Datang Terlambat
75
Sebuah Janji
76
Hari Kejatuhan Dirgantara
77
Telah Berakhir
78
Memulai Hidup yang Baru
79
Ainun: Akhir dari Pernikahan Kami
80
Ketika Kehilangan Datang Bersamaan
81
Lima Tahun kemudian: Terlambat Menyadari Cinta
82
Ainun: Baru Saja Menerima Lamaran Faizan, Mantan Suamiku Kembali
83
Ainun: Kita Hanya Orang Tua Aksara
84
Lima Puluh Juta untuk Sebuah Restu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!