Indonesia
NovelToon NovelToon
I Love You Mas Mayor Galak

I Love You Mas Mayor Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.

Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Kepulangan Mendadak dan Ujian Pertama di Asrama

BAB 30: Kepulangan Mendadak dan Ujian Pertama di Asrama

Mentari pagi di hari terakhir cuti militer menyelinap di antara celah tirai resor tempat Mayor Aris dan Mayang menginap. Suasana pesisir selatan masih sehening biasanya, namun ketenangan itu mendadak terpecah ketika ponsel dinas Aris yang terletak di atas nakas bergetar hebat.

Aris yang baru saja selesai merapikan pakaian langsung meraih ponsel tersebut. Begitu melihat nama yang tertera di layar Kapten Galih, Pasi Ops Batalyon dahi Aris seketika berkerut.

Sebagai seorang perwira berpengalaman, Aris tahu betul bahwa panggilan di luar jam dinas, terlebih saat ia sedang mengambil cuti resmi, menandakan ada situasi darurat yang membutuhkan penanganan segera.

"Selamat pagi, Kapten Galih. Ada perkembangan apa di Mako?" suara Aris berubah menjadi tegas dan lugas, seketika menanggalkan intonasi hangat yang biasa ia gunakan saat berbicara dengan istrinya.

Mayang yang sedang merapikan kacamata di depan cermin berbalik pelan. Ia memperhatikan perubahan raut wajah suaminya. Tatapan Aris yang tadinya santai kini memancarkan kewaspadaan khas seorang Komandan Batalyon.

"Lapor, Danyon! Izin menyampaikan," suara Galih terdengar di ujung telepon, diselingi derak samar suara naskah dan aktivitas sibuk di latar belakang.

"Baru saja masuk instruksi dari Komando Atas. Jadwal inspeksi kesiapan tempur oleh Tim Penilai Mabes yang semula dijadwalkan bulan depan ditajukan menjadi lusa pagi. Selain itu, ada pengaduan dari pengurus RT setempat terkait sengketa lahan batas asrama luar yang memanas pagi ini."

Aris diam sejenak, mencerna informasi tersebut dengan cepat. Dua masalah besar menanti di markas: persiapan prajurit untuk penilaian tingkat markas besar dan potensi konflik sosial di area pemukiman asrama.

"Baik, Galih. Persiapkan seluruh perwira seksi untuk paparan awal pukul empat sore ini. Saya dan istri kembali ke Mako sekarang juga. Siapkan tim siaga di markas," perintah Aris dingin namun terukur.

"Siap, Danyon!"

Panggilan terputus. Aris mengembuskan napas panjang, lalu menoleh menatap Mayang yang berdiri membisu di tepi ranjang.

Mayang melangkah mendekati suaminya, lalu memegang lengan Aris dengan lembut. "Ada tugas mendadak ya, Mas? Kita harus pulang sekarang?"

Aris menatap istrinya dengan raut serba salah. Ada rasa bersalah yang mengganjal di dadanya karena harus memotong masa liburan manis mereka lebih awal.

"Maafkan saya, Mayang. Tugas memanggil lebih cepat dari perkiraan. Masa cuti kita harus berakhir pagi ini."

Bukannya kecewa atau bersungut-sungut, Mayang justru mengumbar senyum hangat. Ia mengambil koper kecil mereka dan mulai memasukkan barang-barang dengan sigap.

"Nggak apa-apa, Mas. Mayang ini istri prajurit, bukan cewek manja. Kalau Komandan harus kembali ke markas, Ibu Komandan siap mendampingi. Ayo kita kemasi sisanya."

Melihat ketegaran dan kepahaman istrinya, dada Aris berdesir hangat. Rasa hormat dan cintanya pada Mayang kian melambung tinggi. Tanpa membuang waktu, mereka menyelesaikan proses check-out dan segera melaju membelah jalanan pesisir menuju Mako Batalyon menggunakan mobil dinas.

Perjalanan yang memakan waktu tiga jam terasa berlalu cepat. Begitu kendaraan dinas Mayor Aris memasuki gerbang utama Mako Batalyon, penjaga piket markas seketika berdiri tegap dan memberikan penghormatan senjata.

Suasana di dalam kompleks markas terasa berbeda dari biasanya; tampak para prajurit berseragam loreng lalu lalang dengan tempo cepat, menyiapkan peralatan militer dan merapikan lapangan apel.

Mobil berhenti tepat di depan kediaman dinas Danyon. Sebelum Aris sempat melangkah keluar, Kapten Galih bersama Letnan Dua Dian (Pasi Intel) sudah berdiri siaga di dekat garasi.

"Selamat siang, Danyon! Selamat siang, Ibu," sapa Galih dan Dian serempak seraya memberi hormat.

"Siang," jawab Aris tegas. "Galih, Dian, ikut saya ke ruang kerja kediaman sebentar. Mayang, kamu istirahat dulu di dalam ya."

"Iya, Mas. Biar aku siapkan minum buat Kapten Galih dan Letnan Dian," sahut Mayang cekatan.

Di dalam ruang kerja, Galih membentangkan peta kawasan markas dan lembaran berkas administrasi.

"Lapor Danyon, untuk inspeksi Mabes, seluruh perlengkapan senjata dan kendaraan taktis sudah 80 persen siap. Namun masalah sengketa lahan di sektor barat asrama cukup pelik. Beberapa warga lokal menutup akses jalan samping karena mengklaim patok tanah Batalyon bergeser saat renovasi pagar bulan lalu."

Aris menatap peta dengan cermat. "Ini bukan sekadar masalah patok tanah, ini masalah hubungan TNI dan rakyat. Kita tidak boleh pakai kekerasan atau pamer kekuatan. Dian, kumpulkan data ukur dari BPN dan berkas pertanahan Batalyon lima tahun terakhir."

"Siap, Danyon!"

Saat diskusi internal perwira sedang berlangsung sengit, ketukan pintu terdengar. Mayang masuk membawa baki berisi tiga cangkir teh hangat dan camilan. Namun, raut wajah Mayang tampak sedikit ragu.

"Ada apa, Mayang?" tanya Aris peka.

Mayang meletakkan cangkir perlahan. "Mas... maaf menyela. Di luar ada Ibu Dwi dan beberapa ibu pengurus Persit. Mereka dengar kita baru sampai dan ingin menyampaikan masalah terkait bazar kesejahteraan anggota yang terancam batal karena akses jalan samping ditutup warga."

Aris mengernyit. Masalah lahan ini rupanya sudah mulai berdampak pada kegiatan sosial ibu-ibu kompleks. Ini adalah ujian nyata pertama bagi Mayang sebagai Ketua Persit KCK Ranting di tengah situasi krisis markas.

"Biar Mayang yang temui ibu-ibu di ruang tamu depan, Mas," ujar Mayang mantap sebelum Aris sempat memotong.

"Mas Aris fokus saja ke persiapan inspeksi Mabes dan urusan hukum lahan bersama para perwira. Masalah pendekatan ke warga sekitar dan koordinasi ibu-ibu kompleks, kasih kesempatan Mayang untuk tangani."

Aris menatap manik mata istrinya. Ada ketegasan, kecerdasan, dan keberanian di balik lensa kacamata Mayang. Sang Mayor tersenyum tipis, bangga akan kedewasaan kepemimpinan istrinya.

"Baik. Dengarkan aspirasi mereka, tapi jangan ambil keputusan strategis sebelum bicara dengan saya," pesan Aris.

"Siap, Komandan!" jawab Mayang dengan kedipan mata jenaka yang membuat ketegangan di ruangan itu sedikit mencair.

Mayang melangkah ke ruang tamu utama. Di sana, tiga orang pengurus senior Persit tampak gelisah. Ibu Dwi, istri Kasi Logistik yang terkenal vokal, langsung berdiri begitu melihat Mayang.

"Selamat siang, Ibu Aris. Maaf kami mengganggu waktu kepulangan Ibu," ujar Bu Dwi agak cemas.

"Ini masalah akses jalan barat, Bu. Warga menutup jalan pakai batang kayu. Padahal truk pasokan barang untuk bazar murah Persit lusa harus lewat sana. Kalau jalurnya ditutup, bazar bisa gagal total, padahal anggota sangat butuh."

Mayang duduk dengan tenang, mengisyaratkan para seniornya untuk ikut duduk. Sifatnya yang kalem namun berwibawa langsung membawa aura sejuk di ruangan tersebut.

"Terima kasih atas laporannya, Bu Dwi, Bu Ratna," jawab Mayang lembut namun mantap. "Saya sudah koordinasi singkat dengan Pak Danyon. Masalah patok tanah sedang diselesaikan secara hukum dan kekeluargaan oleh pihak markas. Untuk akses jalan bazar, kita tidak boleh terpancing emosi atau merusak hubungan baik dengan warga."

"Lalu bagaimana solusinya, Bu?" tanya Bu Ratna menimpali.

"Sore ini, saya pribadi didampingi pengurus akan berkunjung ke rumah Ketua RT dan tokoh masyarakat setempat. Kita bawa buah tangan dan bicara baik-baik sebagai sesama tetangga.

Kita jelaskan bahwa bazar ini bukan cuma buat anggota Mako, tapi warga sekitar juga boleh membeli sembako murah di sana. Kalau warga paham keuntungannya untuk bersama, saya yakin mereka dengan senang hati membuka barikade itu."

Mendengar ide cerdas dan pendekatan humanis dari Mayang, para pengurus Persit saling pandang lalu mengangguk kagum. Mereka tidak menyangka istri muda sang Danyon memiliki pemikiran yang begitu taktis dan bijaksana.

Jelang matahari terbenam, strategi ganda suami-istri itu mulai membuahkan hasil. Aris berhasil mengamankan dokumen legalitas lahan bersama tim hukum, sementara Mayang yang turun langsung mendatangi rumah tokoh warga berhasil melunakkan suasana.

Pendekatan persuasif Mayang membuat warga tersentuh; mereka tidak hanya membuka kembali barikade jalan, tetapi juga berjanji ikut menjaga kelancaran acara bazar Persit.

Malam harinya, suasana rumah dinas kembali tenang. Di dalam ruang tengah yang hangat, Aris duduk di sofa sambil memperhatikan Mayang yang sedang mencatat laporan kegiatan Persit di meja kerja.

Aris bangkit berdiri, melangkah pelan lalu merangkul bahu Mayang dari belakang. Pria itu mendaratkan kecupan hangat di pipi istrinya.

"Terima kasih ya, Ibu Komandan," bisik Aris tulus. "Hari ini kamu membuktikan kalau kamu bukan cuma pendamping di rumah, tapi partner terbaik saya dalam menghadapi ujian di markas ini."

Mayang mengusap jemari Aris yang melingkar di dadanya, menyandarkan kepala pada dada bidang sang suami.

"Kita kan satu tim, Mas. Di luar maupun di dalam markas, Mayang akan selalu ada di samping Mas Aris."

Di bawah pendar lampu ruang tengah yang syahdu, ketegangan hari itu menguap sepenuhnya, berganti menjadi rasa saling percaya yang kian kokoh di antara sang Komandan Batalyon dan istri tercintanya.

1
pena putih
seru banget ditunggu updatenya ya
pena putih
Yuk mampir👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!