Di Kerajaan Shanyue, tepat dipinggiran Kota Shiyue seorang gadis tinggal di sebuah desa terpencil bernama Desa Caiyun.
Dia Xia Qinglan, anak seorang Jenderal ternama di Kerajaan Shanyue yaitu Putri Jenderal Xia Agung, Xia Longyuan.
Xia Qinglan memiliki takdir pernikahan dengan Lima Pangeran yang memiliki sikap angkuh, manja, dingin, bahkan ada juga yang menjadi budak cinta. Namun, alih-alih Qinglan menolak mereka justru ia menaklukan kelima Pangeran itu dengan caranya sendiri.
Dibalik kisah Cinta mereka di liputi perjuangan yang penuh tantangan yaitu mereka berenam harus berhadapan dengan Pangeran Ketiga, Xi Zhouyun yang licik.
Xi Zhouyun adik dari tunangan Qinglan yaitu Xi Yunzhi sang Putra Mahkota. Qinglan tidak memihak siapapun ia hanya berdiri pada keputusannya sendiri. Bahkan, kelima Pangeran itu Feng Huang, Xiao Mingye, Gu Yichen, Ling Chen dan Xi Yunzhi di didik secara langsung oleh Qinglan untuk menjadi Pilar Kerajaan Shanyue.
Ikuti kisah petualangan mereka!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reruntuhan Klan Xiao dan Air Mata Sang Pangeran
Melihat tatapan membunuh di mata Xia Qinglan, para warga yang tadinya berkerumun langsung mundur ketakutan, menciptakan jarak aman yang cukup lebar dari amarah sang gadis pendekar.
“Ampun, Nona! Hamba sungguh tidak tahu jika pemuda malang ini adalah tunangan Anda!” ratap pedagang manusia tersebut dengan suara bergetar hebat, bersimpuh sambil bersujud berulang kali demi memohon belas kasihan atas nyawanya.
Qinglan melempar sekantong koin perak berat tepat ke hadapan pria gempal itu. “Ambil uang ini sebagai ganti rugi atas rasa sakitnya.”
Namun, di luar dugaan, pedagang manusia itu menggeleng cepat dan menolak mentah-mentah koin tersebut. “Nona, hamba tidak berani menerima uang ini. Sungguh, hamba benar-benar buta karena telah keliru menyiksa tunangan Anda,” suaranya terdengar semakin lirih sementara keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.
“Ambillah! Bukalah usaha yang jujur setelah ini, dan jangan pernah sekali pun mencoba menculik atau memperjualbelikan manusia lagi. Jika kau berani melanggar, aku sendiri yang akan datang mencabut nyawamu tanpa ampun!” seru Qinglan dengan nada penuh wibawa dan ancaman dingin yang menusuk tulang.
Mendengar peringatan mengerikan itu, pedagang manusia tersebut segera memungut kantong uang itu dengan tangan gemetar lalu bersujud berkali-kali hingga dahinya mencium tanah. “Terima kasih, Nona Muda yang baik hati. Hamba bersumpah akan menjadi orang jujur!” teriaknya terbirit-birit lalu kabur meninggalkan lorong pasar yang mulai lengang.
Perbuatan tegas dan adil Qinglan langsung diganjar dengan tepukan tangan meriah serta bisikan kagum dari para warga yang sejak tadi menyaksikan kejadian menegangkan itu dari kejauhan.
“Bagus sekali, Nona! Anda benar-benar pendekar yang hebat dan luar biasa!” puji salah seorang warga mewakili kerumunan.
Qinglan hanya tersenyum tipis menanggapi pujian itu, lalu mengabaikan mereka dan bergegas mendekati pemuda yang masih terduduk lemas di atas tanah yang kotor.
Pemuda itu mendongak perlahan, menatap manik mata Qinglan dengan binar penuh rasa terima kasih yang mendalam. “Terima kasih... kau telah menyelamatkanku untuk kesekian kalinya.”
Qinglan melipat tangan di depan dada, mendengus geli bercampur heran. “Hah... bagaimana bisa kau berakhir menjadi budak yang dijual oleh pedagang rendahan seperti itu? Bukankah kau seharusnya adalah pewaris sah dari Klan Xiao?” sindirnya tajam namun menyiratkan kepedulian.
Pertanyaan itu seketika meruntuhkan pertahanan mental pemuda bernama Xiao Mingye tersebut. Air mata yang selama ini ia tahan dengan susah payah akhirnya tumpah juga di hadapan sang gadis.
“Klan Xiao... klan kami telah dibantai habis hingga tak tersisa satu pun,” isak Mingye lirih di tengah tangisannya yang pecah.
Mendengar pengakuan mengejutkan itu, kedua mata Qinglan membelalak lebar, diliputi rasa tidak percaya yang teramat sangat. Seketika suasana di lorong pasar itu terasa membeku di sekeliling mereka.
Sialan, aku sama sekali tidak tahu jika Klan Xiao dibantai habis-habisan. Bahkan desas-desus atau informasinya tidak pernah sampai ke desa, batin Qinglan sambil mengepalkan tinjunya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Tenanglah, aku mengerti. Tapi katakan, siapa dalang di balik semua ini? Jangan bilang ini ulah Pangeran Ketiga?” selidik Qinglan lembut, membuat Mingye mendongak menatapnya nanar.
“Benar... Pangeran Ketiga memfitnah ayahku melakukan penggelapan dana dan korupsi besar-besaran. Dalam satu malam saja, dua ratus nyawa keluarga kami hilang begitu saja, dan saat itu aku kebetulan sedang berada di luar kota...” tangis Mingye semakin menjadi-jadi, meluapkan beban penderitaan yang menghimpit dadanya.
“Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku ada di sini sekarang. Selama aku berada di sisi mu, tidak akan ada seorang pun yang berani meremehkan ataupun menyakitimu lagi. Ayo bangun, lukamu akan semakin parah jika terus terduduk di sini,” bujuk Qinglan penuh kelembutan, lalu memapah Mingye bangkit dari tanah dengan hati-hati.
Kondisi Mingye yang mengalami trauma berat serta luka fisik parah membuat Qinglan harus ekstra sabar. Pemuda itu berjalan dengan tertatih-tatih, sepenuhnya bertumpu pada pundak Qinglan.
“Lanlan, terima kasih banyak karena kau masih sudi menerimaku sebagai tunanganmu di saat aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Aku merasa sangat tidak berguna...” lirih Mingye penuh penyesalan.
“Kau ingin kupukul lagi agar lukamu bertambah parah, hah? Dengar, sejak dulu kau sudah resmi menjadi tunanganku, dan sudah menjadi kewajibanku untuk merawatmu, bukan malah meninggalkanmu di saat terpuruk,” tegur Qinglan tegas, yang justru membuat hati Mingye merasa jauh lebih tenang dan terlindungi.
“Terima kasih, Lanlan...” balas Mingye tulus. Wajah Mingye yang dipenuhi lebam serta sekujur tubuhnya yang terluka akibat pukulan keras pedagang manusia membuat Qinglan menghela napas panjang.
“Tunggu sebentar di sini. Aku akan pergi mencari gerobak sewaan,” instruksi Qinglan, lalu bergegas melangkah cepat menemui penyedia gerobak di ujung pasar.
Tidak butuh waktu lama, Qinglan kembali dengan mendorong sebuah gerobak kayu sederhana, lalu meletakkan barang-barang belanjaannya di bagian sudut.
“Mingye, duduklah di atas gerobak ini. Kau tidak mungkin sanggup berjalan jauh dengan kondisi luka separah itu,” perintah Qinglan tanpa bantahan.
“Tapi... aku tidak enak merepotkanmu terus,” tolak Mingye ragu, merasa tidak enak hati pada tunangannya.
“Cepat naik,” desak Qinglan dengan tatapan memaksa.
“Aku sungguh tidak bisa membiarkanmu mendorong gerobak ini sendirian. Biar aku berjalan saja,” gerutu Mingye yang masih berusaha keras membantah. Qinglan menghela napas lelah menghadapi kekeraskepalaan pemuda itu.
“Kau mau duduk manis di gerobak, atau kubuat pingsan sekarang juga?” ancam Qinglan telak, membuat Mingye akhirnya menyerah dan memilih duduk diam tanpa protes lagi.
“Baiklah, aku akan diam dan menurut,” pasrah Mingye sambil tersenyum kecut.
Qinglan kembali mendorong gerobaknya menyusuri jalan setapak untuk segera pulang ke desa. Di atas gerobak, Mingye menatap punggung Qinglan yang tampak begitu tegar dan luar biasa. Rasa kagum dan cinta tumbuh bersemi di dalam hatinya.
Tunanganku ini benar-benar luar biasa... Begitu cantik, cerdas, meski terkadang sikapnya agak keras kepala dan kejam pada musuh, dia tidak pernah meninggalkanku di saat tertidur dalam jurang kehancuran. Kelak, saat aku sudah pulih sepenuhnya, aku bersumpah akan menjadi perisai pelindungnya, batin Mingye tersenyum tipis di balik bibirnya yang bengkak.
Tidak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di halaman rumah kecil di tepi hutan. Namun, begitu Qinglan mendorong pintu depan dan melangkah masuk, ia langsung dikejutkan oleh pemandangan yang membuat jantungnya hampir copot. Feng Huang terbaring tidak sadarkan diri di lantai kayu, dengan genangan darah segar yang kembali merembes keluar dari balutan kain di perutnya akibat pertarungan sebelumnya.
“Feng Huang? Kau kenapa? Hei, bangunlah!” seru Qinglan panik, segera menjatuhkan diri untuk memeriksa kondisi tubuh Feng Huang yang terkulai lemas.
“Sakit... luar biasa sakit...” rintih Feng Huang dengan suara tertahan dan napas tersengal.
“Kenapa lukamu bisa terbuka dan berdarah sebanyak ini? Dan sialnya, kenapa seluruh isi rumah berantakan begini?” gerutu Qinglan cemas, sambil memapah tubuh Feng Huang yang berat menuju ke atas ranjang kayu.
Melihat kepanikan Qinglan, Mingye yang juga masih terluka parah berusaha menyeret langkahnya mendekati ranjang untuk ikut membantu semampunya.
“Feng Huang? Sebenarnya apa yang terjadi padanya?” tanya Mingye terkejut melihat pemuda berambut merah yang asing di hadapannya.
“Dia diserang oleh para pembunuh bayaran sewaktu aku menemukannya dan aku pergi ke ibukota untuk membeli serbuk obat luka. Aku benar-benar tidak menyangka situasinya akan jadi separah ini,” jawab Qinglan cepat, jemarinya sibuk merobek sisa kain bersih untuk menghentikan pendarahan.
“Semua ini terjadi karena dua orang asing datang dan mendobrak masuk untuk mencarimu serta memaksamu menikah dengan pemuda dari desa sebelah,” potong Feng Huang dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, memaksakan diri untuk berbicara meski napasnya sudah hampir habis.
Mendengar penjelasan itu, ingatan Qinglan melompat kembali ke kejadian beberapa waktu lalu sebelum ia pergi ke ibukota—di mana saat ia sedang bersiap, rumahnya sempat diganggu oleh dua orang utusan dari desa tetangga yang datang dengan niat buruk dan berhasil diusir oleh Feng Huang yang menjaga rumah sesuai janji.
Meskipun saat itu luka di perutnya belum sepenuhnya menutup dan tetesan darah segar terus merembes membasahi jubahnya, Feng Huang sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun ketika menghadapi dua pengacau tersebut. Pandangan matanya menajam, menusuk langsung ke dalam jiwa dua penyusup tak tahu diri yang berani mengusik ketenangan rumah Qinglan.
“Kalian berdua berniat mengganggu tunanganku? Jangan harap bisa melangkah keluar dari halaman rumah ini dalam keadaan hidup-hidup!” desis Feng Huang penuh ancaman dingin yang mematikan.
Bugh!
Dengan sisa-sisa tenaga dalam yang ia kerahkan secara paksa, sebuah tendangan kilat dilepaskan tanpa ampun. Hantaman telak itu menghantam dada pemuda asing di hadapannya, membuat tubuh orang itu terpental keras menembus ambang pintu kayu dan jatuh tersungkur mengenaskan di halaman luar.
Namun, gerakan ekstrem yang ia lakukan harus dibayar mahal oleh Feng Huang. Luka tusuk di perutnya kembali merobek jahitan daging yang belum sembuh sempurna, memuntahkan darah segar yang seketika mencoreng lantai kayu rumah. Napasnya memburu hebat, sementara keringat dingin bercucuran deras di sekujur pelipisnya.
Melihat temannya terkapar tak berdaya dengan luka parah akibat satu serangan telak, penyusup yang tersisa diliputi rasa ngeri yang luar biasa. Ia menyadari bahwa pemuda berambut merah di hadapannya bukanlah lawan sembarangan yang bisa diremehkan, bahkan dalam kondisi sekarat sekalipun. Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan menyeret tubuh temannya untuk melarikan diri terbirit-birit.
“Kau... awas saja, sialan! Kelompok kami tidak akan pernah tinggal diam, aku pasti akan kembali membawa pasukan!” ancam kedua pemuda itu dengan suara bergemetar ketakutan sebelum akhirnya berlari kencang meninggalkan halaman rumah Qinglan.
Seiring hilangnya bayangan kedua pengacau sialan itu, pertahanan terakhir Feng Huang runtuh sepenuhnya. Ia melangkah terseok-seok untuk menutup daun pintu, lalu mencengkeram perutnya yang terkoyak hebat. Tubuhnya perlahan melorot jatuh, bersandar lemas di atas lantai kayu yang dingin.
Pandangan matanya mulai mengabur, menyisakan kelegaan pahit di ujung kesadarannya yang mulai menipis. “Kau benar-benar datang tepat waktu, Lanlan... Jika kau terlambat sedetik saja pulang tadi, aku pasti sudah menjemput ajal di lantai ini...” lirih Feng Huang sangat lemah sebelum akhirnya kegelapan total merenggut kesadarannya sepenuhnya.