Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 031 - Berdamai

Pada hari peringatan kematian Ibu, aku bertemu Pak Suryo di pemakaman.

Hujan baru berhenti. Lelaki tua itu berdiri di depan makam dengan payung terlipat dan bunga melati di tangan. Kami sudah bertahun-tahun datang pada jam berbeda agar tidak perlu saling bicara. Hari itu ia menungguku.

"Saya akan pindah ke Australia bulan depan," katanya.

Aku meletakkan bunga. "Bayu sudah bilang."

"Tentu. Kalian selalu tahu urusan saya sebelum saya mengatakannya."

"Kebiasaan buruk keluarga kita."

Suryo tersenyum tipis. "Setidaknya kau masih menyebutnya keluarga."

Kami membersihkan daun basah dari nisan Ibu. Untuk beberapa menit, hanya suara sapu penjaga makam yang terdengar.

"Saya menjual rumah," katanya. "Di Melbourne ada tempat kecil dekat taman. Udara lebih tenang."

"Bagus."

"Kau bisa datang kapan saja."

"Aku tidak cocok dengan hidup tenang."

"Kau tidak pernah mencobanya."

Aku menatap nama Ibu. "Larasati cocok."

"Dia di London."

"Aku tahu negaranya, bukan alamatnya."

Suryo mengangguk, memahami batas yang kupilih. "Kalau suatu hari kau perlu meninggalkan semuanya, hubungi saya. Saya akan menyiapkan tempat dan membantu apa pun yang sah untuk memulai hidup baru."

Kalimat itu terdengar terlalu jauh dari hidupku saat ini, tetapi kusimpan.

"Mengapa sekarang?"

"Karena saya sudah kehilangan terlalu banyak tahun untuk gengsi." Ia menatapku. "Pistol itu milik saya. Kau masuk ke dunia mereka untuk mengembalikannya. Saya mendapatkan pekerjaan kembali, sedangkan kau kehilangan cita-cita."

"Aku memilih tetap di sana."

"Seorang anak yang merasa tidak punya rumah akan memilih orang pertama yang membuka pintu. Saya seharusnya menjadi orang itu."

"Guntur menyelamatkanku."

"Dan saya membiarkan rasa cemburu kepada penjahat membuat saya gagal melihat bahwa dia melakukan tugas seorang ayah lebih baik daripada saya."

Aku mengembuskan napas. "Sudah terlambat untuk memperbaiki hidupku."

"Mungkin. Tapi belum terlambat untuk berhenti saling menghukum."

Hujan menetes dari ujung pohon. Aku teringat Larasati mengatakan kebenaran tidak menghidupkan orang mati. Pengampunan juga tidak mengubah masa lalu. Ia hanya menghentikan masa lalu meminta korban baru.

"Pa," kataku.

Suryo menutup mata.

Satu suku kata itu mengandung puluhan tahun yang kami sia-siakan.

"Ya," jawabnya serak.

Aku memeluknya. Tubuhnya lebih kecil daripada yang kuingat, dan untuk pertama kalinya aku sadar lelaki yang selalu tampak seperti hukum itu sudah tua.

Sebelum berpisah, Suryo mengajakku singgah ke rumah Mbah Wignyo di kawasan lama tempat aku dibesarkan. Dinding rumah itu semakin pudar, tetapi bau minyak gosok dan kayu lembap tidak berubah.

Mbah Wignyo membuka pintu dengan tongkat. "Dua anak keras kepala akhirnya datang bersama."

"Saya bukan anak lagi," kataku.

"Kalau masih berdebat dengan ayah, berarti masih anak."

Suryo tertawa lebih keras daripada seharusnya. Kami duduk di ruang depan sementara Mbah Ti tertidur di kursi dekat jendela.

"Saya akan pindah ke Australia," kata Suryo.

Mbah Wignyo mengangguk. "Bagus. Jauhkan tulang tua dari masalah anak ini."

"Saya justru menawarinya ikut."

"Dia tidak akan pergi selama hatinya tertinggal."

Aku menuangkan teh agar tidak perlu menjawab.

Mbah Wignyo memukul pelan punggung tanganku dengan tongkat. "Dulu kau datang kemari setelah berkelahi, membawa luka dan menolak pulang. Suryo berdiri di ujung gang sampai pagi karena takut kau mengusirnya jika mendekat. Kalian selalu sama. Satu menunggu dari jauh, satu marah karena merasa ditinggalkan."

Aku menatap Suryo. "Kau datang?"

"Setiap kali saya tahu tempatmu."

"Kenapa tidak masuk?"

"Karena kau meminta saya tidak melihatmu lagi."

Kalimat itu menghantam lebih tepat daripada nasihat. Larasati mengucapkan hal serupa di bandara, entah kepadaku atau dirinya sendiri. Aku kini mengerti bahwa mematuhi permintaan orang terluka bisa tetap meninggalkan luka baru.

"Kalau dia kembali," kata Suryo, "jangan hanya menunggu di balik jendela. Minta maaf. Lalu biarkan dia tetap memilih."

"Dan kalau dia tidak kembali?"

Mbah Wignyo menyerahkan cangkir teh. "Tetaplah menjadi orang yang pantas ditemukan."

Setelah meninggalkan makam Ibu, aku pergi sendiri ke makam Larasati Puspita. Spider lily merah kutaruh di atas batu yang mulai berlumut.

"Aku pernah mengira mencintaimu," kataku. "Padahal aku hanya ingin kau tetap menunggu sementara aku memilih dunia lain setiap hari."

Angin bergerak melalui rumput.

"Aku memberi namamu kepada seorang anak karena takut melupakanmu. Itu tidak adil kepadamu, dan lebih tidak adil kepadanya. Aku sekarang mengerti betapa kejamnya membuat seseorang hidup sebagai janji yang tidak pernah dia buat."

Tidak ada jawaban. Kematian selalu menjadi pendengar paling jujur karena tidak menawarkan pengampunan palsu.

Aku membersihkan tanah di sisi nisan. "Dia mengambil nama itu dan membuatnya milik sendiri. Musiknya berbeda darimu. Senyumnya juga berbeda. Aku membutuhkan waktu terlalu lama untuk melihatnya."

Sebelum pergi, aku membungkuk sekali.

"Maaf. Beristirahatlah. Aku tidak akan meminta bayanganmu tinggal lagi."

Di luar pemakaman, Suryo masih menunggu di mobil. Ia menawarkan tumpangan, dan kali ini aku menerima.

"Ikutlah ke Australia," katanya dalam perjalanan. "Jual perusahaan, tinggalkan geng, belajar memasak tanpa membakar dapur."

"Aku bisa memasak."

"Nasi goreng bukan seluruh ilmu kuliner."

Aku hampir tertawa.

"Belum bisa," kataku.

"Karena dunia mafia?"

Aku memandang hujan yang mulai turun lagi di kaca.

"Karena aku sedang menunggu seseorang."

Suryo tidak meminta nama. Dia hanya menepuk bahuku, seolah akhirnya percaya aku tahu ke mana harus pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!