Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.
Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Darah yang Terpisah
Anindya melotot tak percaya, jantungnya seakan berhenti berdetak. 'Ayah...?
Pria paruh baya bertopi hitam itu melangkah mendekat dengan tergesa-gesa, mengabaikan laras pistol Sarah yang masih menunjuk tepat ke dadanya.
Hujan gerimis perlahan mulai turun membasahi heli
pad, menciptakan suasana yang kian tegang dan dingin.
Turunkan senjatamu, Sarah! teriak Anindya seraya menahan tubuh Adrian yang kian melemas.
Dia... dia benar-benar ayahku!
Nyonya Anindya, hati-hati! tegur Sarah tanpa mengendurkan cengkeramannya pada senjata.
Bukankah ayah Anda dilaporkan meninggal dunia dalam kecelakaan lima tahun lalu?!
Aku tidak mati, Sarah, sahut pria itu seraya berlutut di sebelah Anindya dan membuka kotak pendingin vintage bersimbol naga emas di tangannya.
Aku terpaksa memalsukan kematianku agar keluarga Vane tidak melenyapkan seluruh keturunanku!
Ayah...suara Anindya pecah oleh tangisan yang membuncah, matanya menatap wajah tua pria di hadapannya.
Selama lima tahun ini... Ayah menyembunyikan diri?
Ayah membiarkan aku dan Rian menderita?!
Maafkan Ayah, Anindya, bisik pria itu tulus, matanya berkaca-kaca saat menatap putrinya.
Jika Ayah menampakkan diri, Nyonya Besar dan Alexander akan langsung membunuh kalian berdua.
Ayah harus bersembunyi untuk menjaga kantong darah murni ini!
Dokter Kenzie! Jangan cuma diam! jerit Sarah melihat warna kulit Adrian yang kian pucat bagaikan kertas.
Ambil transfusi itu sekarang!
Dokter Kenzie langsung merayap mendekat, mengambil dua kantong darah berlabel khusus dari dalam kotak pendingin tersebut.
Golongan darah ini... ini benar-benar Bombay Phenotype murni! Dari mana Anda mendapatkannya, Tuan?!
Pria tua itu menatap Adrian yang tak sadarkan diri.
Darah itu berasal dari pembuluh darahku sendiri. Darah murni yang dicari-cari oleh keluarga Vane selama tiga puluh tahun.
Anindya tersentak hebat, kepalanya mendadak pening luar biasa.
Apa maksud Ayah?! Ayah memiliki golongan darah langka itu?!
Bukan hanya Ayah, Anindya, jawab pria itu seraya menatap mata putrinya dalam-dalam.
Kau juga mewarisinya. Seluruh keturunan keluarga kita membawa gen kekebalan murni yang tidak bisa dicemari oleh racun sintetis apa pun.
Tapi... tapi hasil tes laboratorium kemarin menyatakan darahku tidak bisa didonorkan!" seru Anindya bingung.
Bukan tidak bisa karena tidak cocok, Nyonya! sela Dokter Kenzie seraya dengan cepat menusukkan jarum transfusi darurat ke lengan Adrian.
Tapi karena hormon kehamilan Anda! Tubuh Anda menolak pelepasan darah skala besar demi melindungi janin!
Dengarkan Ayah, Anindya, pria bertopi hitam itu menggenggam jemari Anindya yang gemetar.
Keluarga Vane tidak pernah mengincar kekayaan hartamu. Alexander mengincarmu sejak awal karena dia tahu kau adalah putriku!
Beep... Beep...
Alat pemantau detak jantung portabel milik Dokter Kenzie perlahan kembali berbunyi teratur saat aliran darah baru mulai masuk ke dalam pembuluh darah Adrian. Warna merah samar kembali menyelimuti bibir Adrian yang tadinya pucat.
Tekanan darahnya mulai stabil!
seru Dokter Kenzie lega. "Transfusi ini berhasil! Tuan Adrian melewati masa kritisnya!
Anindya menghembuskan napas panjang, menyandarkan dahinya di dada Adrian seraya menangis haru. Terima kasih, Tuhan... Terima kasih...
Kita tidak boleh bertahan di atas atap ini lebih lama lagi," ucap pria bertopi hitam itu seraya berdiri dan mengamati langit malam yang makin pekat.
Anak buah Clarissa dan sisa jaringan Alexander bisa kembali kapan saja.
Ayah... panggil Anindya, ikut berdiri dibantu oleh Sarah. "Siapa sebenarnya nama Ayah yang sesungguhnya?
Mengapa Ayah tahu banyak hal tentang eksistensi eksperimen Vane Group?!
Pria paruh baya itu melepaskan topi hitamnya, memperlihatkan tanda bekas luka bakar yang panjang di sisi kiri wajahnya.
Nama asliku adalah Baskara Vane, jawab pria itu dengan suara berat yang menembus deru angin malam.
Aku adalah putra kandung pertama Alexander Vane dari istri pertamanya... kakak kandung dari ayah Adrian.
Deg.
Anindya merasa dunianya seakan berputar hebat. Sarah melotot tak percaya, sementara Dokter Kenzie menjatuhkan tabung medis dari tangannya.
Apa?! jerit Anindya penuh shock. Jadi... jadi aku dan Adrian...
Kalian berdua adalah sepuluh saudara sepupu secara garis darah, potong Baskara dengan raut wajah yang penuh penyesalan mendalam.
Pernikahan kalian sejak awal adalah rencana terselubung yang dirancang oleh Nyonya Besar dan Alexander untuk menyatukan dua cabang genetik terbaik keluarga Vane!
Tidak... ini tidak mungkin!" Anindya geleng-geleng kepala secara histeris, melangkah mundur menghindar dari ayahnya.
Aku dan Adrian... kita menikah! Dan anak di dalam perutku ini...
Anak di dalam kandunganmu itu bukan cuma pewaris takhta, Anindya, jelas Baskara dengan nada suara yang sangat serius dan menakutkan.
Anak itu adalah rekayasa genetik murni pertama yang tidak memiliki cacat bawaan racun keluarga Vane.
Itu sebabnya Clarissa dan Alexander bersedia membunuh siapa saja untuk mendapatkannya!
Perlahan, jemari Adrian bergerak. Pria itu membuka matanya sedikit demi sedikit, mendengar setiap patah kata yang keluar dari mulut pria paruh baya di hadapannya.
Baskara...bisik Adrian dengan suara serak yang memancar amarah dari tenggorokannya.
Kau... paman yang dilaporkan tewas dalam kebakaran laboratorium dua puluh tahun lalu?
Baskara menoleh menatap keponakannya.
Ya, Adrian. Aku kembali untuk menghentikan kegilaan keluarga ini.
Kau membiarkan aku tumbuh dalam neraka itu! bentak Adrian, mencoba mendudukkan tubuhnya seraya menahan sakit di perutnya.
Kau membiarkan aku berpikir bahwa aku sendirian di dunia ini!
Jika aku muncul lebih awal, Alexander akan memanfaatkanku untuk membunuhmu, Adrian!
balas Baskara tegas.
Aku harus menunggu sampai anak dalam kandungan Anindya tercipta, karena hanya anak itu yang memiliki kode enkripsi genetik untuk membuka brankas utama Vane Foundation!
Anindya memegang perutnya dengan kedua tangan yang bergetar hebat.
Jadi anakku... hanyalah sebuah kunci brankas bagi kalian semua?!
Tidak untukku, Anindya! sela Adrian cepat, meraih tangan Anindya dan menatapnya dengan pandangan penuh perlindungan.
Anak ini adalah anakku! Aku tidak peduli pada silsilah konyol ini atau brankas tua itu! Siapa pun yang mencoba menyentuh kalian berdua harus melangkah melangkahi mayatku!
Baskara menatap Adrian dengan senyuman pahit.
Kau sangat mirip dengan ayahmu, Adrian.
Penuh dengan cinta konyol yang justru akan menghancurkanmu.
Tiba-tiba, suara sirine polisi darurat berkumandang dari bawah gedung, diiringi oleh suara derap puluhan langkah kaki berbobot berat yang menaiki tangga darurat menuju atap secara cepat.
Brak!
Pintu atap kembali terbuka lebar. Kali ini, sekelompok pria berseragam militer serba hitam dengan simbol Global Genetic Council melangkah masuk dan mengelilingi mereka semua dengan senjata otomatis yang terkunci dan terkokang.
Seorang pria asing berambut pirang dengan kacamata hitam melangkah maju dari tengah barisan pasukan tersebut.
Tuan Baskara Vane, Tuan Adrian Vane, dan Nyonya Anindya Vane, ucap pria asing itu dengan bahasa Indonesia yang kaku namun penuh otoritas dingin.
Atas nama Dewan Genetik Internasional, kalian bertiga berada di bawah penahanan isolasi tingkat tinggi.
Anindya merapat ke dada Adrian. Siapa kalian?! Atas dasar apa kalian menahan kami?!
Pria asing itu tersenyum dingin seraya mengeluarkan sebuah dokumen stempel perak berlogo PBB.
Atas dasar pelanggaran Perjanjian Genetik Internasional bab sembilan, jawab pria asing itu dengan penekanan yang mengerikan.
Bayi di dalam kandungan Nyonya Anindya dinyatakan sebagai objek biologis berbahaya tingkat satu yang wajib disita dan dikarantina di laboratorium Jenewa malam ini juga."