Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.
Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.
Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.
Sialan emang.
Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.
Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Drama Anak Sulung
Firasat buruk gue terbukti seratus persen. Bima beneran bertransformasi jadi parasit kehidupan yang siap menghancurkan momen pacaran gue dan Kian sampai ke akar-akarnya.
Anehnya, walaupun gue dan Kian udah merasa keganggu setengah mati, kita berdua enggak pernah bisa tega buat ngusir Bima secara kasar. Anak itu kalau datang mukanya benar-benar kayak orang yang nyawanya tinggal lima persen, lemas, muram, dan mengenaskan. Jadi yang bisa kami lakukan cuma ngelus dada sambil menahan emosi.
Di kampus, pas gue dan Kian lagi duduk berdua di koridor lantai dua, maksud hati mau ngobrol manis berdua, Bima tiba-tiba datang. Dia berjalan gontai bagai zombie, lalu mendadak ambruk telentang di bangku kayu sebelah kami, menatap langit-langit koridor dengan tatapan kosong melompong.
"Kenapa ya, Ki... kesetiaan itu cuma mitos di dunia yang fana ini?" gumam Bima pelan dengan nada nestapa, persis kayak cowok yang baru ditikung sahabat sendiri.
Kian yang baru aja mau memegang tangan gue langsung mengurungkan niat, dia langsung menghela napas panjang nyeruput es jeruknya.
Bahkan pas malam harinya gue dan Kian lagi sleep call, suara Bima mendadak masuk ke dalam panggilan. Ternyata tuh anak udah ada di dalam kamar Kian, tiduran telentang di karpet.
"Ki... Kenapa di dunia ini harus ada yang kedua? Kenapa orang-orang tuh gak cukup sama satu hal aja?" suara Bima terdengar sayup-sayup dan merana lewat telepon.
Gue yang mendengar dari seberang telepon cuma bisa menepok jidat di atas kasur. Tiga hari berturut-turut, di mana pun ada gue dan Kian, di situ pasti ada Bima dengan aura mendungnya.
Puncaknya terjadi pas sore hari di kantin kampus. Gue sama Kian lagi makan mi ayam berdua, dan tebak siapa yang tiba-tiba duduk di tengah-tengah kami tanpa diundang? Yup, Bima Bagus Perkasa. Dia cuma memesan es teh manis, lalu mengaduk-aduknya pakai sedotan dengan pandangan hampa.
Gue yang udah muak langsung menaruh sumpit dengan dentingan keras. Kesabaran gue habis.
"Bim. Cukup ya," semprot gue tajam, menatapnya penuh penekanan. "Lu sebenarnya kenapa sih?! Saban hari ngerusuhin kencan orang mulu!"
Bima sedikit terkejut, dia menatap gue dengan mata sedih. "Ra... jangan mengomeli gue, jiwa gue lagi terguncang."
"Gue enggak peduli jiwa lu terguncang atau melayang!" sergah gue melipat tangan di dada. "Lu harus cerita sekarang. Lu kenapa?! Kalau lu enggak cerita, detik ini juga gue tendang lu dari meja ini!"
"Tapi... tapi kalian jangan ngetawain gue ya?" cicit Bima memelankan suaranya, melirik gue dan Kian bergantian.
"Iya," jawab Kian dan gue kompak dengan raut wajah sangat serius.
"Beneran ya? Jangan ketawa?" Bima memastikan lagi dengan muka memelas.
"Iyaaaa, Bima! Cepatan ngomong!" balas gue gemas.
"Kalian janji dulu enggak bakal—"
TAK!
Enggak tahan sama sikap muter-muternya, tangan gue melayang menjitak kepala Bima lumayan keras. "Ngomong kagak lu?!"
"Sabar, Sayang... kasihan anak orang," potong Kian cepat, mengusap-usap bahu gue buat meredakan emosi.
Bima yang melihat Kian membela dirinya mendadak menatap Kian dengan mata berbinar-binar terharu. "Makasih ya, Ki... Cuma lu emang sahabat gue yang paling pengertian."
Bima menghela napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya sebelum berbisik sangat pelan, "Gue... gue bakal punya adek."
Gue dan Kian langsung saling pandang dengan dahi berkerut bingung.
"Adek?" tanya gue heran. "Adek gimana maksudnya? Lu kan anak tunggal, Bim?"
"Ya makanya!" Bima mengusap wajahnya frustrasi. "Emak gue yang udah tua itu... sekarang lagi hamil! Dua bulan! Harusnya ortu gue tuh dapet cucu dari gue, kenapa malah mereka yang bikin?!"
Kantin yang bising mendadak terasa hening di meja kami. Gue dan Kian mematung total, menatap Bima dengan mata melotot lebar.
"Mau ketawa kan kalian?" tuduh Bima pasrah, menatap kami curiga. "Ketawa aja lah, ketawa! Gue tahu ini kocak, anak udah segede gaban begini mau punya adek bayi!"
Gue sama Kian cepat-cepat menggelengkan kepala bersamaan.
"Nggak, kami nggak ketawa," tegas gue, berusaha memasang raut empati paling maksimal. Gue menyentuh pelan lengan Bima. "Iya, Bima... Lagian emangnya apa yang salah kalau mama lu hamil lagi? Itu kan berkah, rezeki. Lu harusnya seneng, bukan malah galau kayak orang diselingkuhi gini. Lu inget gak, dulu lu sering main ke rumah kita karena lu bilang lu kesepian?"
Bima menatap gue, matanya mulai berkaca-kaca. Kata-kata bijak dari gue perlahan-lahan kelihatan berhasil menenangkan hatinya.
"Gue... Gue ternyata belum siap kehilangan perhatian bokap nyokap gue Ra, dan yang paling gue takutin gimana kalau orang-orang pada ngira kalau adek gue itu anak gue, ntar gue susah dapat jodoh..."
"PFTTTTT! BUAHAHAHAHAHAHAHAHA!"
Suara ledakan tawa yang sangat kencang mendadak memecahkan keheningan meja kami.
Gue dan Bima menoleh serentak. Di sebelah gue, Kian udah terpingkal-pingkal sampai badannya membungkuk ke bawah meja. Tawa ngakak yang kelihatannya udah dia tahan sekuat tenaga sejak kata 'hamil' keluar dari mulut Bima, akhirnya pecah tanpa ampun.
"Asli, muka kumisan lu emang cocok buat jadi bapak-bapak!" Kian tertawa sampai memukul-mukul meja, matanya sampai keluar air mata.
Bima mematung. Wajahnya yang tadinya tersentuh mendadak berubah merah padam, campur aduk antara malu, sakit hati, dan terkhianati.
"SIALAN LU KIAN, SAHABAT MACAM APA LU?!!" jerit Bima, langsung bangkit berdiri dan berlari meninggalkan kantin.
"KIAN! LU GILA YA?!" amuk gue memukul punggung Kian heboh.
"Aduh maaf, Ra... gue kelepasan!" Kian menyesal tapi masih ada ketawa dikit.
Dan semenjak kejadian tragis di kantin hari itu... Bima resmi nggak masuk kampus selama seminggu penuh.