Indonesia
NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Dinding-dinding kamar utama mansion Samudra bisu menyaksikan keheningan yang tak biasa. Jarum jam dinding berlapis emas menunjuk pukul tiga dini hari. Udara dingin perbukitan menembus sela-sela jendela kaca, namun di dalam ruangan yang luas itu, kehangatan yang sunyi melingkupi tempat tidur berukuran king-size.

Alvan masih terduduk kaku di kursi kayu berukir tepat di samping ranjang.

Lampu tidur utama sudah dimatikan, menyisakan pendar temaram berwarna keemasan dari lampu meja sisi tempat tidur. Cahaya itu menerpa sebagian wajah Alvan, menampilkan bayangan kelam di bawah matanya yang lelah, namun memancarkan kilat kelembutan yang teramat asing di dalam manik matanya.

Di hadapannya, Andira terbaring lemah. Efek obat penurun demam dan suntikan dari Dr. Gunawan mulai bekerja. Napas wanita itu yang tadinya memburu parah dan tidak teratur kini perlahan mereda menjadi helaan napas yang halus dan konstan.

Meskipun demikian, sisa-sisa isak tangis dari mimpi buruknya tadi, saat wanita itu meracau membisikkan kepedihannya pada mendiang Roy, masih meninggalkan jejak jejak kebasahan air mata di sudut matanya.

Alvan menatap jemari tangan Andira yang kini sudah melemas di dalam genggamannya. Pria itu mengelus punggung tangan halus itu secara perlahan dengan ibu jarinya, seolah-olah berusaha menyalurkan kehangatan dan rasa aman yang selama ini dirampasnya dari wanita ini.

"Roy..." bisik Alvan lurus menatap wajah pucat Andira. "Pria bodoh itu pasti sangat bersyukur jika tahu kamu menyayanginya..."

Alvan melepaskan genggaman tangannya dengan sangat berhati-hati agar tidak mengusik tidur Andira. Pria itu menyambar mangkuk berisi air es dan handuk kecil di meja sisi. Dengan ketelatenan yang luar biasa, ia memeras handuk basah itu, lalu mengusap sisa-sisa air mata kering di pipi Andira.

Gerakan tangannya teramat halus. Pria yang biasanya memimpin ribuan karyawan dengan cengkeraman besi dan instruksi dingin itu kini bertindak bagaikan seorang perawat yang takut merusak kelopak bunga yang amat rapuh.

Ia merapikan selimut bulu hingga menutup bahu Andira, memastikan tidak ada sekecil apa pun celah udara dingin yang bisa memicu demam wanita itu kembali naik.

Setelah mengganti kompres di dahi Andira, mata Alvan tertuju pada pergelangan tangan kanan wanita itu. Balutan kassa steril yang dipasang Dr. Gunawan tadi malam tampak rapat, namun di balik lapisan kain putih itu, Alvan tahu ada sesuatu yang tersembunyi.

Sebuah rahasia yang sejak itu telah memicu kecurigaannya.

Alvan menarik napas panjang. Kali ini, tindakannya bukan didorong oleh amarah atau prasangka buruk, melainkan oleh kebenaran yang harus diungkap demi membersihkan nama wanita di hadapannya.

Dengan gerakan jemari yang sangat perlahan dan presisi, Alvan mulai membuka simpul kassa steril di pergelangan tangan Andira. Pria itu sangat berhati-hati, menahan napasnya setiap kali Andira mengerutkan dahi kecil saat kain merekat pada kulit lukanya.

Alvan mengambil tube salep herbal khusus luka bakar dari kotak medis. Ia menyapukan salep dingin itu ke atas kulit pergelangan tangan Andira yang memerah dengan ujung jarinya, memijatnya sangat pelan untuk mengurangi rasa nyeri yang tertinggal.

Saat salep itu meresap, ibu jari Alvan menyentuh tepi benda logam keras yang sengaja disisipkan di balik lipatan kassa terdalam.

Alvan menarik benda itu secara perlahan.

Sebuah flashdisk kecil berbahan titanium perak mengkilap kini tergeletak di telapak tangan Alvan. Di sudut kanan bawah permukaan logamnya, terdapat ukiran huruf tunggal bergaya ukir yang sangat familier: 'R'.

Mata Alvan menyempit. Cahaya temaram lampu meja memantul di atas ukiran huruf tersebut.

Roy.

Itu adalah flashdisk pribadi milik adiknya. Benda yang selama ini dicari oleh banyak pihak setelah kematian Roy, benda yang mungkin memuat seluruh data kunci, rekaman suara, atau konspirasi rahasia yang membuat Roy harus kehilangan nyawanya!

Alvan menatap flashdisk itu, lalu mengalihkan pandangannya pada wajah Andira yang tertidur lelap.

"Ini alasanmu bertahan..." bisik Alvan dengan napas tertahan. "Kamu menyimpan bukti ini di dalam lukamu sendiri demi membuktikan bahwa kamu bukan pembunuh."

Alvan mengepalkan tangannya rapat-rapat, menggenggam flashdisk tersebut. Ia tidak akan merusak benda ini atau menuduh Andira lagi. Ia akan membawa benda ini ke ruang kerjanya esok hari, memeriksa seluruh isinya, dan menggunakannya untuk menghancurkan siapa pun dalang sebenarnya di balik tragedi keluarga Samudra.

Alvan meletakkan flashdisk itu ke dalam saku kemejanya, lalu kembali merapikan balutan perban di tangan Andira dengan sangat rapi dan rapat agar wanita itu tidak menyadari bahwa benda berharganya telah berpindah tangan.

Pagi hari menyingsing dengan pendar cahaya keemasan yang menembus celah-celah tirai kamar utama. Kabut tipis di luar jendela perlahan memudar disapu angin hangat.

Andira melenguh pelan. Kelopak matanya yang berat bergetar beberapa kali sebelum akhirnya terbuka perlahan. Pandangannya yang buram lambat laun berfokus pada langit-langit kamar berukir mewah yang teramat asing baginya.

Ia tersentak kecil, menyadari dirinya berada di atas tempat tidur king-size milik Alvan.

Andira mencoba mendudukkan tubuhnya, namun rasa lemas masih tersisa di persendiannya. Ia memandangi tangannya, infus telah dilepas, dan pergelangan tangan kanannya terbalut perban baru yang sangat bersih dan rapi. Dahi dan lehernya merasa dingin dan segar, tak ada lagi sensasi membakar dari demam tinggi semalam.

Saat itulah, suara deham dingin terdengar dari ujung ruangan.

"Sudah bangun?"

Andira menoleh cepat.

Alvan berdiri di dekat lemari pakaian, mengenakan kemeja hitam formal yang sudah terkancing rapi, lengkap dengan jam tangan mewahnya. Pria itu memunggungi cahaya matahari, menampilkan profil wajah yang tampak kaku, kencang, dan tak tersentuh, persis seperti topeng algojo yang selalu dikenakannya.

Andira meneguk ludahnya yang terasa kering. Rasa canggung dan takut seketika merayapi benaknya. "Pak... Pak Alvan..." suara Andira terdengar agak parau. "Kenapa saya... ada di kamar Anda?"

Alvan melangkah mendekati tempat tidur, mendudukkan dirinya di ujung ranjang dengan gaya angkuh dan dingin. Pria itu menyilangkan kakinya, menatap Andira datar tanpa ekspresi.

"Kamu pingsan di kamar mandi kemarin sore," jawab Alvan dengan nada suara acuh tak acuh yang dibuat-buat. "Aku tidak ingin ada berita heboh bahwa pelayan atau 'istri simpanan' di rumah ini tewas karena kelalaian. Jadi aku menyuruh Dr. Gunawan datang."

Andira menundukkan kepalanya. "Maafkan aku... aku sudah merepotkanmu."

Alvan memperhatikan wajah pucat wanita itu sejenak sebelum berpaling ke arah lain. "Bukan aku yang repot. Bi Inah yang mengurusmu semalaman. Dia yang mengompres dahimu, membalut perbanmu, dan tidak tidur menjaga infusmu. Kalau mau berterima kasih, katakan pada Bi Inah."

Andira mengangkat wajahnya, menatap Alvan dengan rasa bersalah sekaligus haru. "Begitu... terima kasih banyak, Pak Alvan, karena sudah mengizinkan Bi Inah merawat saya di sini."

Alvan berdiri dari ranjang, merapikan lengan kemejanya. "Mulai hari ini, kamu bisa kembali ke kamarmu jika sudah sanggup berjalan. Jangan berpura-pura sakit terlalu lama."

Tanpa memandang Andira lagi, Alvan membalikkan badan dan melangkah keluar dari kamar utama dengan langkah tegap, menutup pintu dengan ketukan pelan yang bergema.

Di balik pintu yang tertutup, Alvan menyandarkan punggungnya ke dinding koridor. Pria itu memejamkan matanya rapat-rapat, menghembuskan napas panjang yang sarat akan beban emosi.

Kebohongan yang baru saja dilontarkannya terasa begitu hambar di lidah, namun ia belum siap menunjukkan kerapuhan perasaannya pada Andira sebelum kebenaran utuh terbongkar.

~~

Setengah jam kemudian, setelah merapikan tempat tidur dengan perlahan, Andira berjalan turun menuju dapur utama. Langkah kakinya masih agak gontai, namun tenaganya sudah jauh lebih membaik.

Di dapur, Bi Inah sedang sibuk menyiapkan bubur panas dan teh chamomile di atas nampan.

"Bi Inah..." sapa Andira lembut saat melangkah masuk ke area dapur.

Bi Inah seketika membalikkan badan. Wajah wanita tua itu membelalak kaget sebelum berubah menjadi senyuman lega yang amat tulus. "Ya Tuhan, Mbak Andira! Kenapa sudah turun? Mbak kan baru saja sembuh dari demam tinggi!"

Bi Inah bergegas menghampiri Andira, menuntun wanita muda itu untuk duduk di kursi kayu dapur.

"Saya sudah jauh lebih baik, Bi," kata Andira seraya mengulas senyuman hangat. Ia menggenggam kedua tangan Bi Inah dengan tulus. "Saya... saya mau mengucapkan terima kasih yang sangat besar pada Bi Inah. Pak Alvan bilang, Bi Inah yang tidak tidur semalaman mengompres dahi saya dan merawat luka saya. Terima kasih banyak ya, Bi..."

Bi Inah membeku seketika. Dahi berkerut wanita tua itu mengekspresikan keheranan yang mendalam.

"Mbak Andira bilang apa?" tanya Bi Inah bingung. "Saya yang merawat Mbak semalaman?"

Andira memiringkan kepalanya sedikit. "Iya... Pak Alvan yang bilang tadi pagi di kamar."

Bi Inah menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya pelan dengan senyuman haru yang bercampur rasa tak percaya.

"Ya Allah... Den Alvan, Den Alvan..." bisik Bi Inah seraya memegang dada. Wanita tua itu menatap Andira dengan mata yang berkaca-kaca.

"Mbak Andira," kata Bi Inah dengan nada suara pelan dan bersungguh-sungguh. "Den Alvan itu membohongi Mbak."

Jantung Andira berdesir pelan. "Maksud Bi Inah?"

"Semalam, waktu Mbak pingsan dan dibawakan ke kamar utama, Den Alvan membentak kami semua," terang Bi Inah jujur. "Beliau melarang saya dan para pelayan wanita menyentuh Mbak Andira. Beliau bilang, beliau sendiri yang akan mengurus Mbak!"

Andira membeku. Matanya membelalak lebar.

"Saya cuma boleh mengantarkan air hangat dan mangkuk es ke depan pintu kamar," lanjut Bi Inah, suaranya mengalun hangat membongkar rahasia sang tuan rumah. "Semalaman saya mengintip dari sela pintu yang sedikit terbuka... Den Alvan tidak memejamkan mata sedikit pun, Mbak. Beliau sendiri yang duduk di samping ranjang, mengganti kompres di dahi Mbak setiap sepuluh menit sekali. Beliau sendiri yang mengoleskan salep ke tangan Mbak dengan sangat pelan-pelan supaya Mbak tidak bangun..."

Bi Inah memegang lengan Andira, menatapnya dalam-dalam.

"Waktu Mbak menangis dan mengigau karena mimpi buruk jam dua pagi tadi... Den Alvan memegang tangan Mbak rapat-rapat. Saya melihat mata Den Alvan memerah dan berair, Mbak. Pria yang sifatnya keras seperti batu itu... semalam terlihat sangat takut kehilangan Mbak."

DEGGGG!

Kata-kata Bi Inah mendarat bagaikan petir di tengah keheningan jiwa Andira.

Seluruh dinding dada Andira serasa berguncang hebat. Darahnya berdesir panas merayapi seluruh tubuhnya.

Bayangan Alvan yang berdiri kaku dan dingin tadi pagi... kebohongan pria itu yang melemparkan seluruh kebaikan pada Bi Inah... dan kehangatan kompres serta balutan perban di tangannya... kini semuanya bersatu menjadi kebenaran yang teramat manis sekaligus menyiksa.

Pria yang mengurungnya... pria yang selalu memasang wajah kejam dan memanggilnya pembunuh... ternyata terjaga sepanjang malam hanya untuk menggenggam tangannya di tengah demam dan mengusap air matanya secara rahasia.

Andira memegang dada kirinya sendiri, merasakannya berdetak liar tak terkendali.

"Pak Alvan... merawat saya sendiri?" bisik Andira pada dirinya sendiri, suaranya bergetar menahan gejolak emosi yang membuncah.

Tiba-tiba, Andira teringat sesuatu.

Tangan kanannya refleks bergerak menyentuh pergelangan tangan kanannya yang terbalut perban baru. Ia meraba lipatan kassa steril itu dengan jari-jarinya.

Kosong.

Permukaan keras dan bentuk logam berinisial 'R' yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di dalam perbannya... sudah tidak ada lagi.

Mata Andira membelalak hebat. Kepanikan seketika menyambar seluruh kesadarannya. Flashdisk Roy sudah hilang!

Andira berdiri dari kursi secara spontan, menatap ke arah tangga lantai dua menuju ruang kerja Alvan dengan dada yang bergemuruh hebat. Pria itu telah mengambil flashdisk tersebut saat merawat lukanya semalam!

...----------------...

**To Be Continue** ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!