Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.
Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.
Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan
“Sayang.” Telapak tangan Silvia perlahan mendarat di bahu Nelia, “Kamu nggak apa-apa?”
Tatapan Nelia sedikit kosong. Sudut matanya memerah, sementara suaranya terdengar sedikit terputus-putus, “Sil…”
Minnie tiba-tiba membelalakkan matanya, “Sayang, kamu kenapa?”
Silvia bangkit dengan langkah sedikit sempoyongan. Ia menarik kepala Nelia perlahan ke bahunya, lalu menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.
“Nelia kenapa?” Suara rendah tiba-tiba terdengar di telinga mereka.
“Kak Minnie, kamu sudah kembali ke ibu kota?” Suara perempuan yang manja dan menggoda menyusul dari belakangnya.
Silvia mengalihkan pandangan dinginnya kepada Kelvin, “Bang, dia siapa?”
Melihat ekspresi adiknya yang begitu dingin, tangan Kelvin yang memegang cumi-cumi tiba-tiba bergetar. Ia mengernyit, lalu melangkah maju sedikit dan memperkenalkan perempuan di sampingnya, “Dia Alice, putri kedua dari Keluarga Bronio di Eropa.”
Alice tersenyum dan mengulurkan tangannya, “Nona Pollis, senang bertemu denganmu. Ini pertama kalinya kita bertemu. Mohon bantuannya ke depannya.”
Dengan tangan satunya, ia menyelipkan helaian rambut yang jatuh ke belakang telinga, “Ditambah lagi, mungkin saja nanti aku akan menjadi kakak iparmu.”
Minnie mengangkat alis, “Alice, jangan bawa cara bermainmu di luar negeri ke sini. Ini tidak lucu!”
Kelvin yang berdiri di samping mereka ikut angkat bicara, “Nona Alice, kurasa tadi aku sudah menjelaskannya dengan sangat jelas. Aku sudah memiliki tunangan.”
Tatapan Alice tertuju pada wajah Kelvin. Nada suaranya tetap santai, “Kenapa emangnya kalau ada tunangan? Pasangan bisa putus, orang yang sudah menikah juga bisa bercerai. Lagi pula, Tuan Kelvin baru saja bertunangan, belum sampai menikah. Kenapa aku tidak punya kesempatan?”
“Nona Alice.” Suara Silvia terdengar dingin, “Kamu sudah melewati batas. Abangku sudah menjelaskan dengan jelas bahwa dia memiliki tunangan. Perkataanmu seperti itu tidak pantas.”
Alice tersenyum tipis, lalu melangkah maju beberapa langkah. Wajah cantiknya mendekat ke arah Nelia, “Kamu tunangan Tuan Muda Kelvin, kan?”
Alice memainkan sehelai rambut di depan dadanya dengan jarinya, “Kalau begitu, izinkan aku memperkenalkan diri. Aku adalah saingan cintamu.”
Kelvin langsung menghentikannya dengan suara dingin, “Alice, cukup!”
Ekspresi Alice sempat membeku, sebelum kembali berubah menjadi senyum manja, “Tuan Kelvin, jangan segalak gini dong. Kamu memanggil namaku dengan nada seperti itu sampai namaku terdengar jelek.”
Setelah berkata demikian, Alice hendak bersandar pada tubuh Kelvin.
Namun Kelvin dengan cepat mundur beberapa langkah, “Tolong jaga sikap Anda.”
Kehilangan keseimbangan, Alice terhuyung. Suara hak tingginya berdetak tajam di lantai.
Minnie mengangkat sudut bibirnya dan berdiri di depan Alice, “Alice, kamu benar-benar kelaparan, ya. Apa pun yang kamu lihat selalu ingin kamu rebut. Lihat dirimu sendiri, sampai berantakan begitu.”
“Ck, ck, ck…”
Minnie menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap Alice yang sudah naik pitam dengan tatapan dingin, “Alice, ekspresimu yang seperti ini…”
Ia tersenyum mengejek, “Benar-benar seperti anak kecil yang nggak mendapatkan permen.”
“Oh, bukan.” Minnie sengaja berhenti sejenak, “Kamu bukan anak yang baik. Jadi tentu saja nggak akan ada yang memberimu permen.”
“MINNIE VERA!” Alice menatap Minnie dengan wajah garang. Tidak ada lagi sedikit pun sisa ekspresi manis dan manjanya.
Minnie justru melanjutkan ejekannya, “Wah, wah, wah! Sudah naik pitam?”
Ia menoleh kepada Nelia, “Nelia sayang, lihat dia. Mirip nggak sama pemeran antagonis jahat di novel?”
Kedua tangan Nelia mencengkeram erat lengan Silvia. Wajahnya terlihat sangat buruk, “Sil, kita pulang saja yok. Aku sudah capek.”
Minnie seketika kehilangan minat untuk melanjutkan. Ia berjalan ke hadapan Nelia, “Nelia…”
“Baik.” Silvia menggenggam telapak tangan Nelia.
Alice menatap ke arah kepergian mereka. Tatapannya perlahan berubah dingin.
Detik berikutnya, sosok yang sudah tidak asing lagi berjalan melewatinya. Matanya langsung berbinar. Tanpa ragu, ia mengikuti dari belakang, “Tuan Kelvin.”
Kelvin tiba-tiba menghentikan langkahnya. Suaranya terdengar dingin, “Nona Alice.”
“Pertama, aku sudah menjelaskan dengan sangat jelas bahwa aku memiliki tunangan.”
“Kedua, aku tidak tertarik padamu.”
“Ketiga, jangan muncul lagi di hadapanku, keluargaku, ataupun teman-temanku. Ini peringatan terakhir.”