Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Yang Kehilangan Pijakan
Lantai semen yang dingin di sudut sel tahanan terasa kian menusuk kulit, namun rasa dingin itu tak ada apa-apanya dibandingkan kekosongan yang membekukan dada Reza.
Pria yang dulu selalu tampil klimis dengan setelan jas mahal dan senyum penuh kepalsuan itu, kini terduduk lesu di sudut sel. Seragam tahanan berwarna oranye yang melekat di tubuhnya tampak kusam dan longgar. Kedua tangannya yang kurus menggenggam erat jeruji besi dingin, sementara matanya yang cekung menatap kosong ke arah lorong tahanan yang temaram.
Hari ini, untuk pertama kalinya sejak ia dijebloskan ke dalam penjara, tidak ada satu pun pengacara yang datang menjenguknya.
Surat pemberitahuan resmi dari majelis hakim yang tergeletak di lantai basah di sampingnya menjadi bukti pamungkas: seluruh banding ditolak, rekening rahasianya di Zurich telah disita penuh oleh negara, dan aset pribadinya disita habis untuk menutup kerugian Pratama Group. Reza benar-benar menjadi Pria Yang Kehilangan Pijakan—seorang spekulan yang mengira dirinya master manipulator, kini tersadar bahwa ia hanyalah seorang pecundang yang ditinggalkan dunia.
"Enggak... ini enggak adil..." bisik Reza, suaranya parau dan bergetar parah.
Ia memejamkan mata, mencoba menggali kembali sisa-sisa kesombongan yang dulu memelihara jiwanya. Namun, semakin ia mencoba mengingat masa-masa kejayaannya saat berhasil memperdaya Arga, semakin menyengat rasa hina yang menghantam kesadarannya.
Logika narasi kehancuran Reza kini bekerja tanpa ampun. Dulu, Reza merasa begitu superior. Ia meyakini bahwa persahabatannya dengan Arga hanyalah batu loncatan, dan cinta Nabila adalah piala atas kemenangannya merampas apa yang dimiliki Arga. Namun malam ini, di balik jeruji besi yang bau dan pengap, tabir ilusi itu terkuak sepenuhnya.
Nabila, wanita yang dulu ia puji-puji dan ajak berkonspirasi, kini membusuk di sel tahanan wanita dalam kondisi gangguan jiwa—meracau tentang gaun mahal dan vila mewah yang tak pernah ada. Sementara Arga—pria yang dulu ia anggap naif dan mudah dibodohi—kini berdiri tegak di puncak kejayaan yang bersih, dihormati oleh dunia bisnis, dan didampingi oleh Kirana, seorang wanita anggun yang mencintainya dengan ketulusan murni.
Reza tidak hanya kehilangan uang 75 miliar di rekening rahasianya. Ia kehilangan nama baik, masa depan, status sosial, dan yang paling menyakitkan: ia kehilangan harga dirinya sebagai seorang pria.
"Arga..." gumam Reza, tenggorokannya terasa panas bagai tertelan duri.
Dulu, nama itu diucapkannya dengan nada remeh dan penuh intrik. Namun kini, menyebut nama Arga mengirimkan gelombang rasa malu yang luar biasa ke seluruh sendi tubuhnya. Ia menyadari bahwa sejak awal, Arga tidak pernah kalah. Arga hanya memberinya tali yang cukup panjang hingga ia melilit lehernya sendiri dengan keserakahan yang tak bertepi.
Brak!
Suara langkah sepatu bot sipir yang menggema di lorong memecah keheningan. Petugas sipir berhenti di depan sel Reza, menatapnya dengan pandangan dingin tanpa rasa iba sedikit pun.
"Tahanan nomor 42, ada surat masuk dari luar," ujar sipir itu seraya melemparkan sebuah amplop putih melewati sela jeruji besi, lalu melangkah pergi tanpa membuang kata.
Dengan jemari yang gemetar hebat, Reza merayap di lantai semen, meraih amplop itu. Ia membuka perekatnya dengan napas berkejaran.
Di dalamnya terdapat satu lembar surat resmi dari asosiasi profesi dan konsorsium bisnis yang dulu pernah memujanya: pemecatan permanen, pencabutan seluruh gelar kehormatan, dan pernyataan tegas bahwa namanya resmi diblacklist dari seluruh jaringan bisnis nasional maupun internasional. Bahkan keluarga besarnya sendiri telah mengeluarkan pernyataan resmi untuk memutuskan hubungan dengannya.
Tidak ada tempat kembali. Tidak ada tangan yang terulur. Tidak ada pijakan tersisa, walau hanya seluas telapak kaki.
"Aaghh!"
Jeritan histeris meledak dari tenggorokan Reza. Suara itu melengking parau, memantul kencang di dinding-dinding batu sel yang lembap. Ia meremas surat itu hingga hancur, lalu menghantamkan kepalanya pelan ke dinding semen di belakangnya.
Air mata penyesalan yang terlambat pecah deras membasahi pipinya yang tirus. Namun, air mata itu bukan berasal dari rasa tobat yang tulus, melainkan dari rasa frustrasi yang mendalam karena disadarkan betapa kerdil dan hancurnya dirinya saat ini.
Di sudut sel yang makin gelap, Reza meringkuk memeluk lututnya sendiri. Pria yang dulu merasa sanggup menaklukkan dunia dengan tipu daya dan manipulasi emosi, kini harus menerima kenyataan pahit bahwa ia hanyalah bayangan asing yang membusuk di dalam sejarah, ditinggalkan oleh masa depan yang tak akan pernah lagi menyambutnya.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt