Indonesia
NovelToon NovelToon
His Royal Vow

His Royal Vow

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Penyesalan Keluarga
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.

Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.

Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.

Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#33

Gerimis tipis mengguyur kaca-kaca jendela tinggi Istana Blackwood, meninggalkan jejak air yang merambat pelan bagai air mata yang tak sempat diseka. Di dalam kamar utama yang luas namun terasa dingin, Baxeena berdiri mematung di dekat jendela. Tirai beludru berjarak hanya beberapa senti dari jemarinya yang gemetar.

Dengan napas yang tertahan, Baxeena menggenggam ponsel di tangan kanannya. Layar ponselnya menampilkan nama Alistair yang dipadukan dengan nada panggil monoton—panjang, dingin, dan berakhir pada nada putus yang menyayat hati.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi...

Baxeena mencoba lagi. Sekali, dua kali, hingga puluhan kali.

Air mata yang sejak di ruang makan ditahannya kini luruh begitu saja, membasahi pipinya yang pucat. Rasa cemas menggerogoti dadanya bagai sembilu. Kata "gagal" yang diucapkan utusan militer tadi terus bergema di kepalanya, menari-nari menjadi bayangan yang mengerikan.

Gagal.

Di dunia militer dan politik istana, kata itu memiliki seribu arti yang menyiksa. Apakah suaminya tertembak? Apakah dia terluka parah di dalam tenda darurat? Atau lebih buruk dari itu?

"Semoga kau baik-baik saja, Alistair..." bisik Baxeena parau, suaranya pecah di antara isak tangis yang berusaha ia redam. "Demi Tuhan, ku mohon... datanglah tanpa luka apa pun."

Tangan kirinya bergerak perlahan, turun mengusap perutnya yang sudah membuncit tua. Ada gerakan halus dari dalam sana, seolah sang bayi merasakan kepedihan dan kegelisahan ibunya. Baxeena menunduk, memejamkan mata erat-erat saat rasa hangat dan haru menjalar di dadanya.

"Tunggu Daddy-mu pulang, sayang ya..." bisiknya lembut pada perutnya sendiri. "Dia akan pulang. Dia janji akan pulang untuk kita."

Pintu kamar berdecit pelan, memecah kesunyian yang mencekam. Langkah kaki terdengar mendekati tempat Baxeena berdiri.

"Mommy?"

Violet melangkah maju, memeluk pinggang Baxeena dari samping dan menyandarkan kepalanya di sana.

"Mommy menangis?" tanya Violet dengan nada polos yang sarat kekhawatiran. "Apa adik bayi menyakiti Mommy Baxeena?"

Baxeena tertegun sejenak. lalu merengkuh tubuh Violet ke dalam pelukannya. Ia menghapus sisa air mata di wajahnya dengan punggung tangan, menyunggingkan senyuman paling hangat yang bisa ia bentuk.

"Tidak, sayang..." jawab Baxeena lembut sembari mengusap rambut Violet. "Adik bayi anak yang baik, dia tidak menyakiti Mommy sama sekali. Mommy hanya... sangat merindukan Ayah-mu."

Violet menatap ibunya dengan lekat. "kalau begitu, jangan menangis lagi, Mommy. Ayah kan jagoan. Kata Ayah sebelum pergi, dia pasti pulang untuk peluk kita."

Perkataan dari putrinya itu bagai penawar racun yang menyiram dada Baxeena. Ia mengangguk pelan, memeluk Violet lebih erat di tengah kesunyian kamar yang berangsur menghangat.

****

Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya, di sebuah jet pribadi yang baru saja mendarat di pangkalan udara militer menuju Inggris, suasana tak kalah tegang.

Edmund Alistair Blackwood berdiri di dekat pintu keluar pesawat. Seragam militernya yang legam dipenuhi debu garis depan dan sisa jejak pertempuran. Wajahnya yang tegas tampak lelah, namun matanya memancarkan tajamnya garis kepemimpinan yang tak pernah padam.

Di jemari tangannya, ia memegang ponsel pintar militernya erat-erat—begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Layar ponselnya terus menampilkan pesan Signal Lost akibat gangguan frekuensi medan perang yang baru saja ia tinggalkan.

Alistair tidak bisa menghubungi istrinya sejak semalam. Dan ketidakmampuan untuk mendengar suara Baxeena membuat dadanya sesak oleh kecemasan. Ia sangat paham bagaimana mekanisme istana bekerja. Kabar bahwa pasukannya ditarik mundur pasti sudah sampai di telinga ayahnya—dan yang paling berbahaya, di telinga ibunya, Ratu Lizzeebeeth.

Dia tahu persis kabar apa yang akan diterima Baxeena: kabar kegagalan.

Alistair mengetatkan rahangnya. Sebuah sunggingan dingin terukir tipis di bibirnya. Kabar kegagalan itu... sebenarnya adalah bagian dari catur politik yang sengaja ia balikkan.

Sejak awal, strategi perang sektor barat telah disusupi oleh orang-orang suruhan Ratu Lizzeebeeth. Ibunya sengaja membocorkan jalur logistik dan memanipulasi informasi geografis agar Alistair menemui kegagalan mutlak—dengan harapan kepemimpinannya hancur dan ia terpaksa melepaskan Baxeena demi menyelamatkan posisinya sebagai putra mahkota.

Namun, Ratu meremehkan putranya sendiri.

Alistair telah membongkar konspirasi dan campur tangan siasat politik ibunya beberapa minggu lalu. Alih-alih memaksakan serangan yang sudah dijebak, Alistair memutuskan untuk menarik mundur pasukannya secara taktis. Ia berpura-pura "gagal" untuk menjebak para pengkhianat di dalam jajaran militernya, sekaligus mengakhiri operasi lebih cepat dari tenggat enam bulan yang disepakati.

Dia tidak gagal. Dia menang dalam permainannya sendiri.

Dan alasan terbesarnya mempercepat semua sandiwara ini hanya satu: ia harus segera pulang. Ia tak ingin melewati satu detik pun proses kelahiran buah hatinya tanpa hadir di samping Baxeena.

"Pangeran Alistair, helikopter menuju Istana Utama sudah siap," ujar seorang ajudan militer yang membungkuk hormat di sampingnya.

Alistair tidak membuang waktu. Ia mengantongi ponselnya, melangkah tegas menuruni tangga pesawat di bawah hempasan angin baling-baling helikopter. Matanya menatap lurus ke arah langit Inggris yang tertutup kabut.

Tunggulah sebentar lagi, Amore, batin Alistair dengan tekad yang membara. Aku datang bukan membawa kekalahan... tapi untuk memelukmu dan membawa kalian keluar dari cengkeraman istana.

***

Helikopter militer bernomor lambung kerajaan membelah kabut tebal yang menyelimuti kawasan Istana Blackwood.

Suara gemuruh baling-baling menggema di atas taman barat, memutus kesunyian kelam yang sejak pagi mencekam kediaman kerajaan.

Di dalam helikopter, Alistair mempererat genggaman tangannya pada sarung pistol di pinggangnya. Matanya yang tajam menatap bayangan benteng pualam yang kian membesar di balik kaca jendela. Dadanya bergemuruh—bukan karena sisa adrenalin pertempuran di garis depan, melainkan karena rasa cemas yang tak tertahankan pada wanita yang ditinggalkannya lima bulan lalu.

Begitu roda helikopter menyentuh landasan rumput, pintu terbuka lebar. Alistair melangkah keluar tanpa memedulikan tiupan angin kencang yang mengibaskan jubah militernya.

Beberapa perwira tinggi dan pengawal istana sudah berjejer membungkuk hormat, namun Alistair melewati mereka begitu saja tanpa sepatah kata pun. Langkah kakinya lebar, tegas, dan sarat akan dominasi yang tak terbantahkan.

"Pangeran Alistair! Raja dan Ratu menunggu Anda di aula utama untuk menyampaikan laporan!" seru salah satu komandan pengawal yang berusaha mengejarnya.

Alistair menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh sedikit, memberikan tatapan dingin yang sanggup membekukan keberanian siapa pun di tempat. "Aku akan menemui istriku terlebih dahulu. Siapa pun yang mencoba menghalangi langkahku, anggap itu sebagai pembangkangan militer."

Tanpa menunggu jawaban, ia kembali melangkah menuju paviliun pribadi tempat Baxeena dan Violet tinggal.

Sementara itu, di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Baxeena masih berdiri di dekat jendela. Tangannya tak berhenti mengusap perutnya yang kian tegang. Kehadiran Violet di sisinya sedikit menyiram kedamaian di hatinya, namun getaran gelisah di dadanya tak jua surut.

Suara langkah sepatu lars berat yang berderap cepat di koridor luar membuat Baxeena menegakkan tubuhnya. Pengawal biasa tidak akan pernah berani melangkah secepat dan sekeras itu di lorong kamar kerajaan.

Langkah kaki itu...

Pintu kamar terdorong buka dengan kasar.

Baxeena terpaku. Sosok tinggi tegap dengan seragam tempur yang berdebu berdiri di ambang pintu. Napas pria itu memburu, rambut kelamnya sedikit acak-acakan oleh angin, dan matanya memancarkan kerinduan yang mendalam sekaligus kelelahan batin yang berat.

"Alistair..." suara Baxeena keluar berupa bisikan parau yang nyaris tak terdengar.

"Baxeena," bisik Alistair.

Dalam hitungan detik, jarak di antara mereka terkikis. Alistair melangkah cepat memangkas ruang, menarik Baxeena ke dalam pelukannya dengan sangat hati-hati—menjaga agar tubuhnya yang berarmor ringan tidak menekan perut besar istrinya.

Tangannya yang hangat merengkuh tengkuk Baxeena, membenamkan wajah istrinya di dadanya yang tegap.

Aroma harum Baxeena yang khas bercampur dengan aroma minyak senjata dan debu perang pada tubuh Alistair. Baxeena mencengkeram erat bagian belakang seragam Alistair, meluapkan seluruh ketakutan, rasa sakit, dan air mata yang ia tahan selama lima bulan terakhir.

"Kau tidak apa-apa... Kau tidak terluka..." isak Baxeena di dada suaminya. Tangannya meraba bahu, dada, dan pipi Alistair untuk memastikan pria itu benar-benar berdiri utuh di hadapannya. "Kabar itu... mereka bilang kau gagal, Alistair. Mereka bilang kau terdesak..."

Alistair memejamkan mata erat-erat, mengecup puncak kepala Baxeena berulang kali. "Aku baik-baik saja, sayang. Aku utuh. Tidak ada satu pun peluru yang berhasil menyentuhku."

Ia melonggarkan pelukannya sedikit, lalu berlutut di hadapan Baxeena. Pandangannya sejajar dengan perut buncit istrinya. Jemari Alistair yang kasar dan penuh kapalan gemetar saat menyentuh kehangatan di sana. Senyum tipis yang amat tulus terukir di wajah tegas sang Pangeran—sebuah pemandangan langka yang hanya bisa disaksikan oleh Baxeena dan Violet.

"Maafkan Ayah baru pulang, Sayang..." bisik Alistair lembut pada perut Baxeena, menyandarkan keningnya di sana sejenak.

"Ayah!"

Violet yang sejak tadi menyaksikan dengan mata berbinar akhirnya berlari menubruk Alistair. Pangeran itu terkekeh pelan, melingkarkan lengan satunya untuk merengkuh putrinya ke dalam dekapan yang sama.

Di dalam kamar yang hening itu, hangatnya reunion keluarga seolah menghempaskan seluruh racun dan konspirasi yang bersarang di dalam dinding-dinding Istana Blackwood.

Setelah menenangkan Violet dan membiarkan putrinya kembali dengan Pelayan di sudut ruangan, Alistair kembali berdiri menatap Baxeena. Raut wajahnya berubah menjadi lebih serius ketika melihat jejak air mata dan lingkaran hitam tipis di bawah mata istrinya.

"Ponselku terputus karena gangguan frekuensi medan," jelas Alistair halus, mengusap sisa air mata di pipi Baxeena dengan ibu jarinya. "Dan kabar kegagalan itu... itu hanyalah umpan."

Baxeena mengerutkan kening, menatap suaminya bingung. "Umpan?"

Alistair mengangguk pelan. "Ibu Ratu membocorkan taktik dan rute logistik pasukanku kepada pihak musuh sejak bulan ketiga. Beliau menginginkan aku terdesak, mengalami kekalahan telak, dan kehilangan legitimasi agar aku terpaksa menurutinya—termasuk melepaskanmu."

Mata Baxeena membelalak kaget. "Ibumu benar-benar melakukannya?"

"Ambisinya telah membutakan nuraninya," jawab Alistair dingin. "Namun aku menyadarinya lebih cepat. Aku sengaja memalsukan manuver mundur dan mengumumkan 'kegagalan' ke istana untuk memancing para pengkhianat di jajaran komando keluar dari tempat persembunyiannya. Sekaligus... memberikan alasan sah bagiku untuk menarik pasukan dan pulang lebih awal padamu."

Alistair menatap lurus ke dalam mata Baxeena, genggaman tangannya menguat. "Aku tidak pernah gagal di garis depan, Baxeena. Dan aku tidak akan pernah membiarkan mereka menyentuhmu atau anak-anak kita lagi."

Baxeena menghela napas panjang. Rasa lega menelusuri dadanya, namun ingatan tentang bentrokan keras di ruang makan beberapa jam lalu kembali mencuat.

"Ibumu baru saja meluapkan kemarahannya di ruang makan," ujar Baxeena pelan, menatap Alistair dengan kebenaran yang tak tertutupi. "Raja membentaknya karena beliau tampak bahagia mendengar kabar kekalahanmu. Dan setelah Ayahmu pergi... dia melampiaskan seluruh caciannya padaku."

Mata Alistair berkilat berbahaya. "Apa yang dia katakan padamu?"

"Dia ingin mengusirku," jawab Baxeena tenang. Suaranya tidak lagi menunjukkan kelemahan. "Dan aku memberitahunya... jika istana ini memang ingin mengusirku, aku tidak takut untuk kembali ke Los Angeles. Tapi aku menegaskan padanya, aku tidak akan pergi sendirian. Putriku... dan S-u-a-m-i-k-u... harus ikut bersamaku."

Alistair tertegun sejenak mendengarkan ucapan istrinya. Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan rasa bangga dan cinta murni. Ia menarik Baxeena mendekat, mengecup bibirnya lembut namun penuh kepemilikan.

"Kau mengejanya di depan wajahnya?" bisik Alistair di depan bibir Baxeena.

"Satu per satu hurufnya," balas Baxeena dengan senyum melankolis yang kini berubah menjadi keteguhan.

"Bagus," tegas Alistair dengan suara berat yang menenangkan. "Karena memang itu kenyataannya. Jika tempat ini tidak bisa menjadi rumah yang aman untukmu dan anak-anak kita, maka takhta dan mahkota ini tak ada harganya bagiku. Kita akan pergi—tetapi sebelum itu, aku akan menyelesaikan permainan yang dimulainya."

1
Mei TResna Rahmatika
nunggu kebenaran tentang violet terkuak
Mei TResna Rahmatika
landon junior high school apakah yg punya landon Desmon kakek nya baxeena ?
Rosdianah 🌷: Huhu author typo itu kak, London (ibu kota inggris) 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
bagussssss
Ainun Mahya
up lagi kakak😍😍😍😍
Mita Paramita
go baxenaa 🔥 tunjukan pesona mu bikin Mak Lampir kesel 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwkw🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
nenek sihir makin panas 🤣
Rosdianah 🌷: Hahah Desmon dilawan 🤭🤣
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
sudah kuduga violet bukan anak alistair
Mei TResna Rahmatika
wahh si lizbet belum tau ntar kalo aj sama braxley tau bisa hancur itu kerajaan 🤣
Mei TResna Rahmatika
🙏ohh ini Lizzie yg dulu di tolong aj ya pas penculikan 🤣
Rosdianah 🌷: Haha iya kaa🤣
total 1 replies
Forta Wahyuni
kau mengirim anak mu ke neraka Zephyr, sblm kau nikahkan knapa tdk cari tau maksud dan tujuan pernikahan itu. suami mu pengusaha sukses, jgn bodoh lah n kau punya koneksi. mudah2 an rahim xeena tdk kering n bisa mengandung.
Mita Paramita
mertua laknat 🤣🤣🤣
untung lawan nya xeena 😝
Rosdianah 🌷: wkwkw🤣
total 1 replies
Forta Wahyuni
jd gk seru, knapa gk dipisahkan aja seenaknya dgn Ali n krg suka klu lakiknya bekas jalang dan ibu mertua mendukung. knapa malah skrg ibunya menikahkan mreka, jls2 dia tau xeena anak mantanya dulu. lagian mommy Zephyr tega membuat anaknya mnikah dgn lelaki duda seperti tdk ada lg lelaki lbh dr Ali. kluarga pengusaha koq n bkn org biasa.
Rosdianah 🌷: Ada kebenaran setelah nya kak, selamat membaca y kaa🫶
total 1 replies
Asriani Rini
Kita liat nanti diapa yg akan menag ratuelizabet atau bezena
Asriani Rini
Prrsng ternuka di mulsi antara ratu lizabet dan bezena siapakah yg nanti menang
pika shu
lanjut thor
Rosdianah 🌷: sebentar ya kak🫶
total 1 replies
Asriani Rini
Demoga biolet bisa membedakan mama yg tulus dan mana yg jahat
Rosdianah 🌷: benar kaa
total 1 replies
nayla tsaqif
Tp ttp aja,, kamu punya ank dr jalang itu pak ali,, jadinya jijik liat kamu bekas jalang,, harusnya baxee janda dulu biar bekas orang jg,, biar impas😩
Rosdianah 🌷: nah iya lagi, harusnya dibikin janda dulu ya🤣🤣🤭
total 1 replies
Adiba Azahra
Haloooo kak izin mengikuti dan nyimak yaaa dari awal hahaha 🙏😁👍 semangat terus pokok nya 😍👍
Rosdianah 🌷: okay ka🫶
total 3 replies
Mia Camelia
ehmm rencana apa sih yg di bikin violet dan katrine 🤔🤔🤔
Mia Camelia
violet baru nonggol udah pingin jitak aja🤣🤣🤣🤣
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!