Update tiap hari dijam 12.00 WIB.
Ji Mo-Xian, pemuda yang terlahir di keluarga berdarah bangsawan. Namun, ia memiliki mata yang unik menurut para tetua klan mata Mo-Xian adalah mata dewa naga air yang masuk ke dalam tubuh Mo-Xian.
Alih-alih dibenci Ji Mo-Xian menjadi buronan para kultivator karena kekuatan matanya yang hebat. Ji Mo-Xian memilih menutup matanya menjadi pendekar buta yang menggunakan kekuatan syair kematian.
Ketika Ji Mo-Xian membuka ikatan matanya, maka musuh akan hancur seketika tanpa sisa. Kekuatan Ji Mo-Xian bukan asalan untuk digunakan.
Apa yang terjadi dengan Ji Mo-Xian? Ikuti kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petir dan Syair di Gang Sempit
Suara petir buatan yang meledak dari amarah Lei Tian-Ba mengguncang seluruh penjuru Kota Naga Tidur. Penduduk dan kultivator rendahan yang tadinya menikmati malam di kedai-kedai segera berhamburan menyelamatkan diri, merasakan tekanan spiritual tingkat tinggi dari alam Nirwana yang dipancarkan oleh sang master agung Sekte Petir Guntur. Di atas atap genteng kayu yang mulai melengkung, Lei Tian-Ba berdiri tegak bagaikan dewa petir yang turun ke bumi. Jubah emasnya berkibar liar, memancarkan sambaran-sambaran listrik biru yang berkerunyut di sekujur tubuhnya.
Di bawahnya, di atas genangan air gang sempit yang berdarah, Ji Mo-Xian berdiri tenang. Jasad Feng Qing-Yang masih terkapar tak bernyawa di samping kakinya, namun Mo-Xian bahkan tidak meliriknya lagi. Perhatiannya kini sepenuhnya beralih kepada ancaman baru yang jauh lebih berbahaya dari sekadar pemimpin aliansi sebelumnya.
"Kau pikir dengan melenyapkan sekumpulan sampah seperti Feng Qing-Yang, kau bisa berdiri sejajar dengan para master puncak di Tiga Benua?" suara Lei Tian-Ba menggelegar, mencemooh dengan nada angkuh yang teramat sangat. Tangannya mengepal, dan tombak bermata dua yang memancarkan arus listrik bertegangan tinggi muncul di genggamannya. "Aku, Lei Tian-Ba, tidak peduli dengan omong kosong tentang syair kematianmu. Di bawah sambaran petirku, bahkan dewa sekalipun akan berubah menjadi abu!"
Ji Mo-Xian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menarik napas perlahan, meresapi aliran energi yang bergejolak di dalam meridiannya. Meskipun luka dari pertarungan sebelumnya belum sepenuhnya pulih, kehadiran Lei Tian-Ba yang mengerahkan kekuatan penuh justru membuat mata dewa naga air di dalam tubuhnya berdenyut semakin liar, menuntut untuk dilepaskan.
"Banyak bicara adalah kebiasaan buruk para orang tua yang takut mati," jawab Ji Mo-Xian dengan suara datar, dingin, dan menusuk langsung ke jantung pertahanan mental sang master sekte.
Wajah Lei Tian-Ba mengeras seketika. Urat-urat di pelipisnya menonjol akibat kemarahan yang meluap-luap. "Keparat sombong! Rasakan ini! Tombak Pemusnah Ribuan Petir!"
CRACK-BOOM!
Lei Tian-Ba menghentakkan kakinya ke atap genteng, melesat turun dengan kecepatan kilat. Tombak di tangannya menusuk udara, membawa arus listrik ribuan volt yang meremukkan batu-batu jalanan di sekitarnya dalam radius sepuluh meter. Serangan dari alam Nirwana tingkat menengah itu dirancang khusus untuk menghanguskan jiwa dan raga targetnya seketika tanpa sisa.
Namun, tepat sebelum ujung tombak yang berderak itu menyentuh dada Ji Mo-Xian, sang pendekar buta membuka mulutnya. Kali ini, bait syair kematian yang ia lantunkan terdengar jauh lebih tajam, membawa getaran sonik yang langsung merobek ruang di sekitarnya:
“Petir menyambar merusak angkasa...”
“Tiada tempat bersembunyi dari kuasa...”
“Guntur runtuh menelan jiwa...”
“Hanyalah abu tersisa di dunia.”
BARRR-KABOOOM!
Gelombang kejut sonik bertekanan ekstrem meledak dari bibir Ji Mo-Xian, berbenturan langsung secara frontal dengan hantaman tombak petir Lei Tian-Ba.
Suara ledakan itu begitu memekakkan telinga hingga membuat separuh bangunan di gang sempit tersebut runtuh seketika menjadi serpihan kayu dan debu. Percikan cahaya biru dan keemasan saling bertabrakan di udara, menciptakan gelombang kejut melingkar yang menyapu bersih segala sesuatu di sekeliling mereka.
Lei Tian-Ba, yang tadinya datang dengan keyakinan penuh akan kemenangannya, mendadak merasakan aliran listrik di tombaknya terpental balik dengan kekuatan sepuluh kali lipat. Matanya melotot lebar, dipenuhi rasa ngeri yang luar biasa saat ia menyadari bahwa gelombang syair maut itu menembus pertahanan Qi miliknya bagaikan pisau panas memotong mentega.
"Tidak... tidak mungkin..." bisik Lei Tian-Ba terbata-bata, darah segar menyembur deras dari mulut dan hidungnya.
CUP!
Tubuh master agung Sekte Petir Guntur itu kaku di udara. Tulang belulang di sekujur tubuhnya remuk berkeping-keping dalam sekejap. Arus listrik di tubuhnya berbalik membakar organ dalamnya sendiri. Sebelum ia sempat mendarat di tanah, tubuh Lei Tian-Ba hancur lebur menjadi kabut debu merah yang langsung tersapu oleh angin malam.
Musuh kedua malam ini tewas dalam waktu kurang dari dua detik.
Kesunyian yang mencekam kembali merajai gang yang kini telah berubah menjadi reruntuhan kawah kosong. Ji Mo-Xian berdiri seorang diri di tengah puing-puing bangunan, merapikan jubah putihnya yang terkena sedikit debu ledakan. Ia menarik napas panjang, merasakan sedikit tetesan darah kebiruan kembali merembes dari balik kain sutra hitam di matanya—tanda bahwa batas penggunaan energi matanya semakin mendekati titik kritis.
Namun, sebelum ia sempat membalikkan badan untuk melangkah pergi, udara di atas reruntuhan kembali bergetar hebat. Kali ini, bukan lagi kilatan petir atau aura angin yang datang, melainkan bau dupa kuno yang sangat pekat dan menyesakkan dada.
Dari balik bayangan awan malam yang bergeser, sesosok wanita tua bungkuk dengan jubah beludru ungu tua melayang turun tanpa suara. Di tangannya, ia memegang tongkat kayu hitam yang di ujungnya tergantung sebuah lonceng perunggu tua berkarat.
Ia adalah Nenek Yin-Sha, tetua agung dari Sekte Jiwa Beracun, seorang monster tua yang telah hidup selama ratusan tahun dan terkenal paling keji di seluruh wilayah tengah.
"Hehehehe..." suara tawa tertahan wanita tua itu terdengar serak dan mengerikan, menggema di antara reruntuhan dinding gang. "Luar biasa, luar biasa... dua pemimpin sekte besar musnah di tangan seorang pemuda buta. Sungguh tontonan yang menarik, Ji Mo-Xian."
Ji Mo-Xian tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Ia memalingkan wajahnya ke arah wanita tua itu, kain hitam di matanya berkibar pelan diterpa angin malam yang membawa aroma racun mematikan.
"Satu per satu datang mengantar nyawa," ucap Ji Mo-Xian dengan suara datar, tenang, namun sarat akan ancaman maut. "Apakah sekte kalian tidak punya pekerjaan lain selain mencari kematian di hadapanku?"
Nenek Yin-Sha tersenyum sinis, memperlihatkan gigi-giginya yang ompong dan kehitaman. Ia mengangkat tongkatnya perlahan, membunyikan lonceng perunggu tua di ujungnya.
KENCENG...
Suara lonceng itu bergetar aneh, memancarkan gelombang racun ungu pekat yang langsung melingkupi seluruh area reruntuhan. "Jangan samakan aku dengan orang-orang bodoh tadi, anak muda," desis Nenek Yin-Sha tajam. "Hari ini, aku akan merenggut jiwamu, memisahkan mata dewa naga air itu dari jasadmu, dan meracuni sisa ragamu agar menjadi boneka abadi di bawah kendaliku!"
Tanpa menunggu balasan, Nenek Yin-Sha mengibaskan tongkatnya, melepaskan ribuan jarum racun ungu yang melesat cepat ke arah Ji Mo-Xian. Mo-Xian menarik napas dalam-dalam, bersiap melantunkan bait syair kematian berikutnya untuk menyambut musuh baru yang datang silih berganti ini.