Indonesia
NovelToon NovelToon
Mr.Possessive

Mr.Possessive

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Biqy fitri S

Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertemuan yang hangat

Begitu tahu kakaknya dirawat, Grey langsung menghubungi Rika dan Ali, juga Jingga.

Tak butuh waktu lama, langkah tergesa-gesa terdengar dari lorong. Rika masuk lebih dulu dengan wajah cemas, diikuti Ali yang tetap berusaha tenang meski jelas terlihat kekhawatiran di matanya. Jingga pun ikut masuk, matanya sudah berkaca-kaca.

“Kakak… bagaimana kondisimu nak?” Rika langsung menghampiri putrinya, menggenggam tangan Mozza dengan erat.

Mozza tersenyum tipis, berusaha menenangkan. “Aku baik-baik saja, Mi. Hanya kecapekan.”

Ali berdiri di sisi ranjang, menatap putri sulungnya dengan tatapan penuh sayang. “Kamu jangan memaksakan diri. Kalau ada yang bisa Papi bantu untuk persiapan pernikahan, bilang saja. Jangan sampai kesehatanmu jadi taruhannya.”

Jingga mendekat, suaranya sedikit bergetar. “Kak… aku kaget banget waktu Grey telepon. Kamu bikin aku panik.” Ia lalu duduk di tepi ranjang, menatap kakaknya lembut. “Jangan bikin aku takut lagi ya.”

Mozza merasa hangat sekaligus bersalah. “Maaf ya semua… aku cuma terlalu fokus sama persiapan. Aku nggak nyangka ternyata tubuhku nggak sekuat itu.”

Rika tersenyum tipis meski masih menyimpan kekhawatiran. Ia membelai rambut Mozza lembut. “Yang penting sekarang kamu istirahat. Semua urusan pernikahan bisa kita atur sama-sama. Jangan pernah merasa kamu harus menanggung semuanya sendirian, sayang.”

Mozza menahan air mata, hatinya terasa penuh oleh kasih sayang keluarganya. “Terima kasih, Mi... Pi...”

Ruangan itu pun penuh kehangatan, meski sebelumnya sempat diwarnai panik dan ketakutan.

Setelah memastikan kondisi Mozza cukup stabil, suasana di ruang rawat perlahan mencair.

Rika masih duduk di sisi ranjang sambil sesekali mengelus tangan putrinya. Ali menatap jam tangannya, lalu berkata, “Kalau kamu memang butuh istirahat penuh, semua persiapan pernikahan bisa Papi yang atur. Dari catering, dekorasi, sampai undangan—”

Mozza buru-buru memotong dengan wajah panik. “Jangan, Pih! Nanti semua jadi penuh nuansa Papa banget.”

Jingga spontan menahan tawa. “Aku bisa bayangin, pelaminannya nanti penuh miniatur mobil antik koleksi Papi.”

Ali langsung berdehem pura-pura serius, “Loh, kenapa tidak? Itu kan elegan.”

Semua langsung tertawa, termasuk Mozza yang meski masih lemah, ikut menutup mulutnya sambil tersenyum.

Grey ikut menimpali, “Kalau gitu, jangan kaget kalau pas acara nanti tamunya malah sibuk foto sama mobil, bukan sama pengantinnya.”

Rika menggelengkan kepala sambil tertawa kecil. “Sudah-sudah, jangan bikin Mozza kebanyakan ketawa. Dia masih butuh istirahat.”

Mozza tersenyum tipis, menatap semua orang di sekelilingnya. “Aku beruntung banget punya keluarga kayak kalian. Dan punya mas Egha yang selalu ada buat aku.”

Egha menoleh sekilas ke Ali dan Rika, lalu berkata dengan nada sungguh-sungguh, “Mulai sekarang, aku yang akan pastikan Mozza selalu aman. Jadi, Papih dan mami nggak perlu terlalu khawatir.”

Ali menatap Egha lama, lalu tersenyum tipis. “Baiklah. Kalau kamu sudah berani janji di depan kami, itu berarti kamu harus benar-benar jaga dia, ya.”

“Siap, Pih,” jawab Egha tegas, tapi tak lama wajahnya malah memerah ketika Mozza menggenggam tangannya di depan keluarga.

Suasana ruang rawat Mozza terasa hangat oleh obrolan keluarga. Ali dan Rika duduk di sisi ranjang, Grey berdiri sambil sesekali mengecek kondisi kakaknya. Jingga pun setia menemani Mozza sambil sesekali bercanda untuk mencairkan suasana.

Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.

Grey yang paling dekat segera bangkit dan membukanya. Sosok Levin muncul, kali ini tidak sendiri. Di sampingnya berdiri sepasang orang tua yang berwibawa: ayah dan bunda Levin.

“Thama…,” ucap Ali, bangkit dengan senyum lebar.

Mereka langsung berpelukan erat, suasana langsung mencair penuh kehangatan.

“Silakan masuk,” kata Grey ramah sambil memberi jalan.

Namun perhatian Levin justru langsung tertuju pada sosok Jingga. Pandangannya hangat, sedikit lega melihat sang kekasih baik-baik saja.

“Sayang…” bisik Jingga pelan, matanya berbinar saat melihat Levin datang.

Levin melangkah mendekat, lalu menyalami Ali dan Rika dengan sopan penuh hormat.

“Assalamu’alaikum, Om, Tante.”

Senyumnya tulus, mencerminkan rasa hormat sekaligus pengakuan bahwa mereka calon mertua yang sangat ia hormati.

Ali menepuk bahunya dengan hangat. “Wa’alaikumsalam, Levin. Senang sekali kamu datang.”

Rika pun tersenyum manis, menyambut dengan lembut.

Sementara itu, Bunda Levin mendekat menghampiri Jingga, meraih tangannya lembut. “Nak, kamu sehat-sehat kan?”

Jingga tersenyum, sedikit gugup tapi bahagia. “Alhamdulillah sehat, Tante.”

“Calon pengantin lekaslah sembuh ya. Kamu harus kembali sehat, karena sebentar lagi hari bahagiamu datang. Jangan terlalu memaksakan diri,” ucapnya Wina penuh kasih.

Ayah Levin menambahkan sambil menepuk bahu Ali pelan, “Mozza itu anak kuat dari dulu, Om yakin dia bisa cepat pulih. Yang penting sekarang dijaga baik-baik, jangan sampai kecapekan lagi.”

Mozza tersenyum haru, matanya sedikit berkaca-kaca.

“Terima kasih, Om, Tante. Doanya sangat berarti buat aku.”

Suasana ruangan jadi penuh kehangatan keluarga besar yang bertemu dan bercampur dengan canda ringan. Mozza yang terbaring pun tersenyum lega, melihat kakak-adiknya mulai bersatu dalam lingkaran keluarga besar yang makin lengkap.

Ali dan Thama (ayah Levin) masih larut dalam obrolan nostalgia.

“Waktu cepat sekali ya, Tam… rasanya baru kemarin kita sama-sama mahasiswa, sekarang anak-anak kita sudah besar, bahkan siap menikah,” ucap Ali sambil tertawa kecil.

Thama menepuk bahu sahabatnya. “Betul, Li. Dan sekarang mereka malah akan menyatukan dua keluarga kita. Rezeki sekaligus takdir indah.”

Mereka pun tertawa bersama, rasa persahabatan lama seperti hidup kembali.

Sementara itu, di sisi lain, Rika dan Bunda Levin sudah tenggelam dalam obrolan hangat khas seorang ibu.

“Jingga itu dari kecil memang agak keras kepala, Win,” kata Rika sambil tersenyum geli. “Tapi hatinya lembut sekali, apalagi kalau sudah menyangkut keluarga.”

Bunda Levin menggenggam tangan Rika, wajahnya terlihat puas. “Itu justru yang aku syukuri, Ka. Anak lelakiku butuh pasangan yang bisa menyeimbangkan dirinya. Aku melihat di Jingga, ada kekuatan sekaligus kelembutan.”

Jingga yang mendengar itu hanya bisa tersipu, sementara Levin diam-diam menatapnya penuh bangga.

Grey ikut nimbrung sambil bercanda, “Wah, kalau begini, aku jadi yakin keluarga kita bakal makin ramai. Tinggal nunggu kapan Kak Mozza juga resmi menikah sama Mas Egha dan aku akan segera memiliki keponakan yang lucu lucu.”

Ucapan itu membuat Mozza yang masih lemah tersipu, sementara Egha di kursi sampingnya salah tingkah.

Tawa pun pecah, membuat suasana ruang rawat penuh kehangatan.

Ali menatap seisi ruangan, lalu berucap lirih namun jelas, “Alhamdulillah… anak-anak kita tidak hanya sehat, tapi juga dipertemukan dengan jodoh yang baik. Ini adalah kebahagiaan terbesar untuk kita sebagai orang tua.”

Semua mengangguk, suasana haru bercampur bahagia. Ruangan itu seolah menjadi saksi pertemuan dua keluarga besar yang perlahan menyatu, bukan hanya karena ikatan cinta Levin dan Jingga, tapi juga karena persahabatan lama yang terikat kembali.

Setelah suasana kunjungan agak reda, satu per satu anggota keluarga mulai pamit untuk pulang agar Mozza bisa beristirahat. Levin ikut berdiri, tapi matanya tak lepas dari Jingga yang sibuk membantu merapikan selimut kakaknya.

Begitu semua orang keluar ruangan, Levin sempat menahan langkah Jingga.

“Sayang, bentar aja…” bisiknya, suaranya terdengar ragu tapi penuh keinginan.

Mereka berhenti di lorong rumah sakit yang agak sepi. Lampu temaram dan suara langkah suster yang sesekali lewat bikin suasana terasa lebih tenang.

Levin menatap Jingga dalam-dalam, seakan ingin memastikan kalau perempuan itu benar-benar ada di depannya.

“Aku kangen banget sama kamu,” ucapnya lirih.

Jingga berkedip, sedikit terkejut, lalu tersenyum hangat.

“Padahal kita ketemu terus, Vin.”

Levin menghela napas panjang, jemarinya meremas tangan Jingga lembut.

“Ketemu sih iya… tapi aku kangen ngobrol berdua kayak gini. Nggak ada gangguan, nggak ada orang lain. Cuma kamu sama aku.”

Jingga menunduk sebentar, jantungnya berdebar mendengar suara Levin yang begitu tulus.

“Aku juga, Vin. Aku kangen… kangen kamu bawel, kangen kamu ngambek nggak jelas, bahkan kangen caramu bikin aku marah tapi akhirnya bikin aku ketawa.”

Levin tersenyum, wajahnya melembut. Ia menarik Jingga pelan hingga jarak mereka semakin dekat.

“Kalau gitu jangan jauh-jauh, ya. Aku maunya kamu selalu ada di sisiku.”

Jingga mendongak, menatap mata Levin yang penuh kerinduan.

“Selama kamu nggak bosan sama aku, aku nggak akan kemana-mana.”

Levin terkekeh kecil, lalu menunduk, mencium punggung tangan Jingga dengan penuh perasaan.

“Aku? Bosan sama kamu? Mustahil, sayang.”

Jingga hanya bisa tersipu, wajahnya merona. Lorong rumah sakit itu mendadak jadi ruang kecil tempat mereka melepas rindu tanpa banyak kata.

1
csgym
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!