`KISAH CINTA YANG BERACUN`
Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.
Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.
Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.
Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.
Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`
Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.
Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.
Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.
Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27_Pertemuan di Ujung Tanduk dan Bayangan yang Mengintai
...BAB 27_Pertemuan di Ujung Tanduk dan Bayangan yang Mengintai...
Jarum jam di dinding penthouse menunjukkan pukul tiga sore. Waktu terus berjalan mundur, mempersempit ruang napas Lea yang kini berdiri di depan cermin besar kamar mandinya.
Hari ini, ia tidak mengenakan seragam sekolah dengan rok lipit abu-abu. Selama menyamar sebagai 'Alia' di sekolah, ia memang tidak pernah mengenakan kacamata tebal—gadis itu berwajah cantik alami, hanya saja ia selalu menyembunyikan pesonanya dengan cara mengikat atau menguncir rambut panjangnya rapi ke belakang agar terlihat sederhana dan tidak mencolok.
Dan sore ini, khusus untuk menemui Ethan, Lea melepas ikatan rambutnya.
Di hadapan cermin, pantulan sosok aslinya terpampang nyata tanpa penyamaran. Lea membiarkan rambut panjangnya tergerai indah membingkai wajahnya yang memesona. Ia mengenakan dress hitam elegan berpotongan slim-fit yang memancarkan aura mahal dan berbahaya, dipadukan dengan outer senada yang menyempurnakan penampilannya—bukan lagi siswi beasiswa yang mengikat rambutnya culun, melainkan wanita licik pemegang kendali penuh.
Ia harus menemui Ethan sore ini. Tidak boleh ada kegagalan, karena jika Ethan sampai membuat keributan di tempat umum atau nekat mendatangi penthouse, Julian akan mengetahui semuanya dan darah akan tumpah.
Di luar kamar mandi, suara langkah kaki berat mendekat. Jantung Lea nyaris copot, namun ia berhasil memasang topeng setenang mungkin saat pintu terbuka dan Julian muncul dengan senyum hangat di wajahnya. Pria bucin itu langsung melangkah mendekat, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lea dari belakang, lalu meletakkan dagunya di bahu gadis itu.
`"Kamu mau ke mana, sweetheart? Cantik sekali,"` bisik Julian lembut, mengecup pelan rahang Lea dengan penuh pemujaan.
Lea menelan ludah, membalikkan badan dan menatap Julian dengan mata berkaca-kaca yang dibuat-buat, mengerahkan seluruh kemampuan akting tingkat dewa yang ia miliki.
`"Julian... aku harus keluar sebentar,"` kata Lea dengan nada memelas, jemarinya menyentuh dada bidang Julian. `"Urusan keluarga... ada sepupuku dari luar kota yang memaksa ingin bertemu di kafe dekat sini. Masalah keluarga yang rumit, aku harus menyelesaikannya sendiri supaya mereka tidak datang ke sini dan mengganggu kita."`
Julian mengerjap sesaat, alis tebalnya berkerut tanda ragu. Insting posesifnya hampir menyala, namun tatapan memohon dan sentuhan lembut di dadanya langsung meluluhkan ketahanan pria itu. Julian mendesah pasrah, mengecup kening Lea lama.
`"Baiklah... tapi jangan lama-lama, ya? Aku akan menunggu di sini,"` ujar Julian akhirnya, sama sekali tidak menaruh curiga.
`Bagus,` batin Lea mendesah lega. `Boneka ini berhasil dikelabui.`
Setengah jam kemudian, sebuah taksi berhenti di depan sebuah kafe bernuansa klasik di sudut kota Jakarta.
Lea melangkah keluar dengan anggun, rambut tergerainya tertiup angin sore. Udara menyambut wajahnya saat ia mendorong pintu kafe dan mengedarkan pandangan ke dalam ruangan yang tidak terlalu ramai. Tak butuh waktu lama bagi matanya untuk menangkap sosok pria dengan rambut pirang acak-acakan yang duduk di sudut ruangan.
`Ethan.`
Pria itu tampak jauh lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu di Melbourne. Kantung mata hitam tercetak jelas di bawah manik matanya yang menyiratkan amarah, kelelahan, dan rasa frustrasi yang mendalam. Di atas meja di hadapannya, cangkir kopi yang sudah dingin dibiarkan utuh.
Dengan langkah mantap namun hati-hati, Lea berjalan mendekat dan langsung duduk di kursi tepat di hadapan Ethan.
Begitu melihat wajah wanita yang selama sebulan ini menghantuinya dalam mimpi buruk dan amarah, mata Ethan membelalak tajam. Napas pria itu mendadak memburu. Ia mencengkeram tepi meja begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
`"Lea..."` desis Ethan tertahan, suaranya bergetar hebat menahan emosi yang meledak-ledak. `"Kamu akhirnya muncul juga. Berani sekali kamu menyuruhku datang ke sini setelah apa yang kamu lakukan?!"`
Kemarahan yang tadinya membakar ubun-ubun Ethan seketika menguap begitu saja saat indra penglihatannya menangkap sosok Lea duduk tepat di hadapannya. Rambut panjang yang tergerai indah itu membingkai wajah cantik tanpa cela yang selama berminggu-minggu menjadi objek obsesi dan siksaan mental baginya.
Tanpa bisa dicegah, tubuh Ethan bergerak lebih cepat daripada logikanya. Dalam satu sentakan cepat, ia bangkit dari kursinya, menyambar tubuh Lea, dan langsung mendekap gadis itu erat-erat ke dalam pelukannya seolah takut bayangan itu akan sirna.
`"Lea..."` bisik Ethan parau, napasnya tersengal di dekat telinga gadis itu.
Namun, detik berikutnya, sisi gelap dan posesif dari diri Ethan kembali mengambil alih. Begitu merasakan tubuh Lea berada dalam rengkuhannya, kilatan amarah dan rasa terhina kembali menghantam ingatannya tentang perselingkuhan gadis itu di Jakarta.
Dengan gerakan kasar, Ethan melepaskan pelukannya, lalu mencengkeram rahang Lea dengan satu tangannya cukup kuat, memaksa gadis itu mendongak menatap matanya yang menyalang merah.
`"Kenapa kamu tega melakukannya?!"` teriak Ethan tertahan, suaranya bergetar hebat menahan rasa sakit yang teramat sangat. `"Kenapa kamu mengkhianati cintaku, Lea? Apa kurangnya aku?!"`
Lea meringis kesakitan. Cengkeraman tangan Ethan di rahangnya terasa begitu nyeri, meninggalkan tekanan panas di kulitnya.
`"Ethan... lepaskan tanganmu..."` rintih Lea dengan suara tertahan, mencoba memasang ekspresi paling menyedihkan yang ia miliki. `"Kamu menyakitiku..."`
Mendengar suara kesakitan dari wanita yang masih sangat ia puja, pertahanan Ethan langsung runtuh seketika. Kilatan amarah di matanya meredup digantikan oleh rasa bersalah yang mendalam. Ia buru-buru mengendurkan cengkeraman tangannya dari rahang Lea, lalu turun meraba sisi leher gadis itu dengan sentuhan yang dilembutkan secara drastis.
Ethan mendekatkan wajahnya, menempelkan keningnya langsung di kening Lea. Pria itu memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam seolah sedang mencari sumber ketenangan satu-satunya di tengah badai kehancuran yang diciptakan oleh gadis di hadapannya.
`"Aku sangat merindukanmu..."` bisik Ethan lirih, nada suaranya berubah drastis menjadi begitu rapuh dan memelas. `"Kenapa kamu sulit sekali dihubungi? Kenapa kamu tega membuatku gila di hotel sendirian?"`
Detik berikutnya, tanpa memberi ruang bagi Lea untuk merespons, Ethan menunduk dan mengecup bibir Lea sekilas, menyalurkan rasa rindu yang sudah menumpuk selama berminggu-minggu.
Ia mendongak kembali, menatap manik mata Lea dengan penuh harap.
`"Ayo kita pulang ke Melbourne, Lea..."` bujuk Ethan dengan suara bergetar penuh permohonan. `"Kalau kamu ikut aku pulang sekarang... aku akan melupakan semuanya. Aku akan memaafkan kamu yang sudah selingkuh di belakangku. Kita mulai semuanya dari awal, ya?"`
Mendengar kalimat itu, alih-alih merasa lega, Lea justru merasakan gelombang penolakan yang besar. Pulang ke Melbourne? Itu sama saja dengan mengubur hidup-hidup seluruh rencana balas dendamnya pada keluarga Ozawa dan menyerahkan kendali atas hidupnya pada Ethan.
Tanpa ragu sedikit pun, Lea mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong tubuh Ethan menjauh hingga pria itu terhuyung kembali ke kursinya.
`"Ethan, aku tidak bisa ikut kamu pulang..."` ucap Lea tegas, menatap tajam mata pria di hadapannya dengan ekspresi dingin yang kembali terpasang sempurna. `"Urusanku belum selesai di sini."`
Namun, di tengah ketegangan perdebatan mereka, saat Lea tengah berusaha keras menolak permintaan Ethan, pandangan matanya tanpa sengaja menangkap sosok yang berdiri di seberang kafe—di balik dinding kaca besar yang menghadap langsung ke jalanan sore.
`Degh!`
Darah Lea seolah berhenti mengalir. Napasnya seketika tercekat di tenggorokan.
Di seberang sana, berdiri seorang pemuda berpostur tinggi tegap dengan seragam sekolah yang setengah terbuka—`Teo Ozawa`.
Sepasang mata tajam Teo menatap lurus ke arah meja mereka melalui dinding kaca kafe. Dan yang membuat seluruh jiwa Lea merosot jatuh ke dasar bumi: manik mata mereka saling bertatapan secara langsung.
`Apa... apa Teo melihat semuanya?` batin Lea menjerit histeris dalam kepanikan yang teramat sangat.
--
...----------------...
Klo suka like koment kasih rating hehe
Klo jelek aku libur nulisnya wkwkkwk
Salam sayang darikuh
#Park ha