Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Keesokan paginya, sinar matahari tipis menerobos celah tirai kamar perawatan.
Sasi perlahan membuka matanya yang terasa berat.
Rasa nyeri di pinggang dan lebam membiru di lehernya seketika menyengat kesadaran, menariknya kembali pada kenyataan pahit.
Hal pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah sosok Adrian.
Pria itu duduk di kursi samping ranjang, menatapnya tanpa kedip dengan raut wajah kuyu, mata memerah, dan lingkaran hitam tebal di bawah matanya.
Memori mencekam tentang sosok pria bermasker yang mencekiknya tadi malam langsung berputar liar di kepala Sasi.
Kilatan ketakutan kembali menyapu manik matanya.
"Apakah kamu kecewa karena aku masih hidup?" tanya Sasi dengan suara parau dan serak, menatap Adrian penuh tuduhan dingin.
Dalam benak Sasi yang hancur, tak ada orang lain yang lebih menginginkan penderitaan atau kematiannya selain Adrian dan Fitria.
Adrian menghela napas panjang, sebuah hembusan napas berat yang sarat akan beban penyesalan dan kepahitan yang teramat sangat.
Pria itu menyandarkan punggungnya yang kaku pada sandaran kursi, lalu menatap Sasi dengan tatapan hampa.
"Sepertinya kita berdua sama-sama seperti badut," ucap Adrian lirih, suara beratnya bergetar menahan gejolak emosi.
Sasi mengerutkan dahinya, mengabaikan rasa perih di tenggorokannya.
Tatapannya menajam, sarat akan kebingungan sekaligus ketakutan yang belum reda.
"Maksud kamu?"
Adrian menatap ceiling kamar rumah sakit sebelum melayangkan pandangannya kembali pada Sasi.
Senyum tipis yang penuh dengan penghinaan pada dirinya sendiri terkembang di bibirnya.
"Selama ini aku berpikir aku adalah penguasa di rumah itu, Sasi," bisik Adrian dengan suara parau.
"Aku merasa menjadi suami yang berkuasa, mengatur hidupmu, membiarkan diriku membuta oleh rasa iba pada Fitria yang mengaku tidak bisa memberiku keturunan."
Adrian memegang tepi brankar dengan jemari yang mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Tapi nyatanya? Aku cuma orang bodoh yang dimanipulasi dengan sangat mudah," lanjut Adrian, matanya memerah menahan air mata yang hendak menetes.
"Fitria, wanita yang kusebut istri pertama itu, dia tidak pernah kehilangan rahimnya. Dia hamil, Sasi. Dan anak yang dikandungnya bukan anakku, melainkan anak Hendrik—pria jahanam yang sudah merenggut hidupmu."
Sasi membeku. Kelopak matanya membelalak sempurna, menatap Adrian dengan napas tercekat.
"Mereka berencana menukar bayi itu dengan anak yang kelak lahir dari rahimmu, agar darah daging Hendrik bisa merebut seluruh kekayaanku," Adrian mendekatkan wajahnya, menatap Sasi dengan kejujuran yang menghancurkan.
"Semalam, pria bermasker yang mencoba mencekikmu itu adalah Hendrik. Fitria yang menyuruhnya untuk membungkammu karena aku mulai mencurigai mereka."
Sasi merasa seluruh lidahnya kelu. Kebenaran yang baru saja dimuntahkan Adrian terasa begitu absurd sekaligus mengerikan.
Musuh yang selama ini membuatnya gemetar ternyata juga sedang menusuk Adrian dari belakang dengan begitu dingin.
"Jadi," Sasi bersuara lirih, tenggorokannya masih terasa menyengat akibat bekas cengkeraman semalam.
"Bukan kamu yang menyuruh orang itu membunuhku?"
"Tidak akan pernah," potong Adrian cepat dengan nada tegas namun sarat penyesalan mendalam.
"Aku memang kejam padamu, Sasi. Aku melukaimu dan berbuat salah besar padamu. Tapi demi Tuhan, aku tidak pernah ingin kamu mati."
Adrian menyusupkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangannya yang bergetar hebat.
Di dalam kamar yang hening itu, untuk pertama kalinya, Sasi menyaksikan seorang Adrian—pria yang selama ini begitu sombong, dingin, dan berkuasa—menangis terisak dalam kehancuran jiwanya sendiri.
"Tolong percaya sama aku, Sasi. Aku juga korban di sini," bisik Adrian dengan nada memohon yang begitu kentara.
Pria itu menatap Sasi dalam-dalam, menyalurkan penyesalan dan kesungguhan yang tak lagi bisa disembunyikan.
Sasi hanya diam, tenggelam dalam pusaran rasa tak percaya yang masih membendung di dadanya.
"Sekarang aku akan meminta Dokter Maya untuk membawamu ke apartemen rahasiaku," lanjut Adrian seraya merapikan selimut Sasi dengan jemari yang masih bergetar.
"Tempat itu aman. Hendrik maupun Fitria tidak tahu keberadaannya. Aku akan melindungimu, Sasi."
Sasi menghela napas panjang, menatap Adrian dengan tatapan redup yang sarat akan kelelahan batin.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya Sasi lirih.
Adrian mengatupkan rahangnya rapat-rapat, kilatan dendam yang dingin memancar dari matanya.
"Aku akan tetap mengikuti permainan Fitria sampai ia berkata jujur. Aku akan berpura-pura tidak tahu apa-apa sampai mereka berdua sendiri yang membongkar perangkap busuk mereka."
Tak lama kemudian, Dokter Maya masuk bersama dua orang perawat tepercaya.
Tanpa membuang waktu, Dokter Maya dan perawat memakaikan masker ke wajah Sasi, lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal rumah sakit untuk menyamarkan identitasnya.
"Kita harus memindahkannya sekarang. Ini untuk sementara sampai ambulans siap di pintu belakang," ujar Dokter Maya dengan suara berbisik namun sigap.
Sasi menganggukkan kepalanya pelan di balik balutan selimut, menyerahkan nasibnya pada proses evakuasi rahasia ini.
Sebelum brankar didorong keluar, Adrian membungkukkan tubuhnya.
Ia menatap wajah Sasi yang tertutup masker, lalu dengan lembut mendaratkan sebuah kecupan hangat yang lama di kening istrinya.
"Aku akan menyusul nanti, istriku," bisik Adrian tepat di telinga Sasi.
Sasi membelalakkan matanya di balik masker. Jantungnya berdesir hebat—sebuah hentakan asing yang merayapi dadanya saat suaminya menciumnya untuk pertama kali dengan penuh kelembutan, dan menyebutnya sebagai "istriku" tanpa ada nada ancaman atau paksaan.
Belum sempat Sasi mencerna gejolak emosi itu, perawat kembali menutup kain hingga menutupi kepalanya.
Brankar didorong dengan cepat namun tenang, membawa Sasi keluar dari kamar perawatan menuju tempat perlindungan yang aman, meninggalkan Adrian yang kini bersiap menghadapi ulu ular di rumahnya sendiri.
Adrian melangkah keluar dari kamar perawatan dengan bahu terguncang dan wajah yang disembunyikan di balik kedua telapak tangannya.
Pria itu sengaja meruntuhkan pertahanannya, berpura-pura menangis histeris seraya meraung pelan di koridor rumah sakit yang dingin.
Aksi sandiwara itu berhasil. Semua orang di sekitar koridor—mulai dari pengunjung hingga para perawat yang melintas—menatapnya dengan tatapan iba.
Tak lama kemudian, dua orang perawat tepercaya Dokter Maya mendorong brankar keluar dari kamar dengan kain putih menutup penuh tubuh "pasien" yang dipindahkan.
Kasak-kusuk menyeruak halus di koridor; semua orang menduga pasien di dalam kamar VIP itu telah meninggal dunia setelah serangan misterius tadi malam.
Melihat skenarionya berjalan sempurna, Adrian segera menyapu air mata palsunya, membalikkan badan, dan berjalan cepat menuju area parkir.
Dengan dada yang dipenuhi amarah terpendam dan niat pembalasan yang amat dingin, ia memacu mobilnya kembali ke rumah—siap memainkan perannya di hadapan Fitria.
Sementara itu, di pintu belakang rumah sakit yang tersembunyi dari jangkauan publik, sebuah ambulans khusus telah bersiap dengan sirine yang dimatikan.
Dokter Maya bersama tim tepercayanya bergerak cepat namun tenang memindahkan Sasi ke dalam bagian belakang mobil ambulans.
Pintu tebal kendaraan itu ditutup rapat. Dalam hitungan detik, ambulans melaju membelah jalanan kota yang lengang, membawa Sasi menuju apartemen rahasia milik Adrian—sebuah benteng perlindungan tempat ia akhirnya bisa bernapas lega dari kejaran Fitria dan Hendrik.