Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.
Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.
Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.
Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.
Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.
Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.
Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12. Pengakuan yang Tidak Sengaja
Naira masih memikirkan pesan Mikael sejak tadi malam.
Pakai sesuatu yang bagus.
Karena aku ingin melihatmu cantik.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Naira bahkan sampai beberapa kali membuka kembali percakapan mereka. Kemudian menutupnya. Membukanya lagi. Lalu menutupnya lagi.
"Kenapa aku jadi aneh begini?"
Ia mengusap wajah. Mikael memang sering menggodanya. Mungkin pesan itu juga hanya salah satu bentuk keusilannya. Naira tidak boleh terlalu memikirkannya.
Pagi itu ia akhirnya memilih mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda. Tidak berlebihan. Tidak terlalu formal. Rambutnya dibiarkan tergerai. Ia menatap dirinya di cermin.
"Sudah cukup." Naira mengangguk pada bayangannya sendiri. "Ini cuma acara pekerjaan."
Ia mengambil tas. "Dan aku tidak berdandan untuk Mikael."
Namun beberapa detik kemudian ia kembali melihat cermin. "Benar-benar tidak berdandan untuk dia."
*********
Acara jamuan berlangsung di sebuah restoran yang sudah dipesan khusus oleh Arsen Group. Beberapa orang dari tim proyek sudah datang. Naira berdiri di dekat Dinda sambil memegang segelas jus. Ia berusaha bersikap biasa.
Sampai akhirnya Mikael masuk.
Pria itu mengenakan jas gelap. Begitu melihat Naira, langkahnya berhenti sebentar. Tatapan Mikael menyapu penampilan Naira. Kemudian senyum kecil muncul di wajahnya.
Naira melihatnya. "Kenapa anda senyum-senyum?"
Mikael berjalan mendekat. "Aku tidak salah menyuruhmu memakai sesuatu yang bagus."
Naira langsung memerah. "Jangan mulai lagi, Pak."
"Aku cuma bilang kamu cantik."
"Sudah.. Cukup..."
Mikael tersenyum. "Baiklah."
Namun matanya masih tertuju pada Naira. Dinda yang melihat mereka hanya tersenyum kecil.
Malam itu sebenarnya berjalan cukup menyenangkan. Orang-orang berbicara tentang proyek. Beberapa membicarakan rencana koleksi. Ada juga yang bercanda. Naira mulai merasa santai.
Sampai seseorang datang menghampiri mereka.
Kirana. Teman lama Naira yang kini juga bekerja sebagai salah satu klien yang bekerja sama dengan Arsen Group.
"Naira!" Kirana langsung memeluknya sebentar. "Aku tadi dari jauh sudah curiga itu kamu."
Naira tersenyum senang. "Kirana! Kamu juga di sini?"
"Tentu saja. Aku ikut proyek ini juga." Kirana kemudian menoleh ke arah Mikael. "Dan Pak Mikael juga ada di sini."
Mikael tersenyum sopan. "Hai, Kirana."
Kirana menatap mereka bergantian. Kemudian senyum menggoda muncul di wajahnya. "Kalian berdua... kenapa berdiri begitu dekat?"
Naira langsung terbatuk kecil. "Kami cuma sedang membicarakan proyek."
Kirana tertawa. "Proyek katanya? Padahal dari tadi aku lihat Pak Mikael matanya tidak pernah lepas dari kamu."
Naira merasa wajahnya mulai panas. "Kirana, jangan aneh-aneh."
"Siapa yang aneh?" Kirana justru semakin mendekat. "Jangan bilang, ada sesuatu yang sedang kamu disembunyikan?"
Mikael diam. Naira semakin gugup.
Naira segera membuka mulut. "Tidak ada Kirana!"
Kirana menatapnya tajam. "Kenapa jawabnya cepat sekali? Kalau tidak ada apa-apa, kenapa panik?"
Naira tersenyum kaku. "Aku cuma..."
Kirana tersenyum lebar. "Atau justru... Hubungan kalian adalah hubungan rahasia?"
Naira membeku. Mikael juga terdiam. Naira merasa wajahnya panas sekali. Ia harus mengatakan sesuatu. Tetapi apa?
Kalau ia mengatakan tidak, Kirana pasti akan terus menggoda dan mulai meledeknya dengan kata jomblo.
Dalam keadaan panik, kalimat itu keluar begitu saja.
"Iya."
Semua orang terdiam. Naira sendiri membeku. Ia baru sadar apa yang baru saja dikatakannya.
Aduh, bicara apa aku barusan? Kirana memaki dirinya dalam hati.
Mikael menatapnya. Kirana membuka mulutnya lebar-lebar. "Serius? Kamu serius, Naira?"
Naira menelan ludah. Ia menatap Kirana. "Iya begitulah Kirana."
Mikael masih diam. Naira tidak berani melihatnya.
Kirana berteriak pelan. "Ya ampun! Aku tidak percaya! Sejak kapan?"
Naira semakin panik. Ia menatap Mikael sekilas. Pria itu masih berdiri tenang. Kemudian entah kenapa... Mikael tersenyum.
"Sudah cukup lama."
Naira langsung menoleh kepadanya. Apa yang kamu lakukan?!
Mikael melanjutkan dengan santai, "Kami hanya tidak ingin mengumumkannya. Terutama kepada teman-temanmu yang pasti akan berlebihan seperti ini."
Kirana tertawa senang. "Berlebihan? Ya tentu saja! Karena ini berita besar. Jadi benar-benar jadian?"
Mikael mengangguk. "Iya tentu saja Kirana."
Naira tersenyum kaku.
Padahal dalam hati ia ingin berteriak.
Kirana menepuk pelan lengan Naira. "Kamu ini, ya! Sudah lama kita berteman dan kamu tidak pernah cerita sama sekali!"
Naira tersenyum canggung. "Maaf... kami cuma ingin..."
"Fokus pada pekerjaan dulu," potong Mikael dengan tenang. Ia menatap Naira sekilas. "Bukan begitu, Sayang?"
Naira hampir tersedak ludahnya sendiri. Ia menatap Mikael lekat-lekat. Rasanya ingin menjambaknya. Pria itu hanya tersenyum biasa dengan gaya santai.
"I... iya." Naira menelan ludah. "Fokus pada pekerjaan dulu."
Kirana tertawa. "Sudah, sudah. Aku mengerti. Tapi kalian harus berjanji, nanti kalau sudah resmi benar-benar, aku yang pertama kali harus tahu!"
Naira mengangguk cepat. "Tentu saja. Aku janji."
*******
Begitu Kirana pergi menyapa tamu lain, Naira langsung menarik lengan Mikael ke sudut ruangan yang lebih sepi.
"Apa yang kamu lakukan?!"
Mikael menatap tangannya yang menggenggam lengannya. Kemudian tersenyum. "Kamu yang bilang kamu menyukaiku."
"Aku tadi panik! Karena Kirana selalu saja mengatakan aku ini jomblo.''
"Aku tahu."
"Tapi kenapa kamu malah ikut bilang iya? Dan... dan pakai panggil aku Sayang!"
Mikael menatapnya lekat-lekat. "Karena kalau aku bilang tidak, kamu akan terlihat seperti berbohong. Dan Kirana pasti akan semakin curiga." Ia menambahkan pelan, "Dan aku tidak mau membuatmu malu di depan temanmu sendiri."
Naira melepaskan tangannya. "Ok. Ok. Terima kasih."
"Sama-sama."jawab Mikael tersenyum jail.
Naira menghela napas. "Tapi kita harus menjelaskan kepada Kirana.''
Mikael menggeleng. "Iya. Tapi Jangan sekarang.
Karena orang-orang sudah percaya. Kalau sekarang kita bilang itu cuma bercanda, mereka akan semakin bertanya-tanya. Apalagi Kirana. Dia pasti tidak akan membiarkannya begitu saja."
Naira menghela napas panjang.
Mikael tersenyum. "Lihat? Kamu sendiri juga tidak siap."
Naira menyipitkan mata. "Kamu sengaja."
"Mungkin sedikit." Mikael mendekat sedikit lagi. "Tapi dengar aku. Kalau kita pura-pura sebentar saja, semua orang akan berhenti bertanya. Proyek kita akan berjalan tenang tanpa gosip yang berlebihan. Dan setelah proyek selesai, kita bisa bilang hubungan kita tidak berhasil. Semua orang akan mengerti."
Naira berpikir. Ada benarnya juga. Proyek mereka akan berlangsung berbulan-bulan. Kalau gosip ini terus berlanjut, setidaknya tidak akan ada yang bertanya-tanya lagi. Tidak akan ada yang mencurigai apa pun.
"Tapi..." Naira menatapnya. "Ingat, ini hanya pura-pura."
"Tentu saja." Mikael tersenyum. "Hanya pura-pura."
"Dan kamu tidak boleh berlebihan. Seperti tadi... panggil aku Sayang."
"Baik." Mikael menahan tawa. "Tapi kalau situasi menuntut..."
"Kalau situasi menuntut juga tidak boleh sembarangan."
Mikael tertawa. "Baik, Naira sayang. Aku janji."
Naira langsung melotot dan Mikael tertawa terbahak-bahak.
**********
Beberapa menit kemudian, mereka kembali bergabung dengan tamu lainnya. Kirana kembali menghampiri mereka sambil membawa dua gelas minuman.
"Ini untuk kalian." Ia meletakkan gelas di meja. "Aku sudah bilang ke beberapa rekan kerja, dan mereka semua senang untuk kalian."
Naira tersenyum kaku. "Terima kasih Kirana."
Mikael justru meletakkan tangannya di belakang punggung kursi Naira. Gerakannya sederhana dan alami. Namun cukup untuk membuat jantung Naira berpacu lebih cepat.
Kirana tersenyum melihat mereka. "Kalian terlihat serasi sekali. Jujur saja, aku tidak pernah menyangka kamu akan bersama seseorang seperti Mikael, Naira."
Naira tersenyum. "Ya... aku juga tidak pernah menyangka."
Mikael menatapnya. "Terkadang hal-hal yang tidak terduga justru yang paling indah."
Kirana bertepuk tangan pelan. "Wah, romantis sekali. Kamu dengar itu, Naira? Kamu beruntung sekali."
Naira hanya bisa tersenyum. Dalam hati ia berteriak. Aku akan membunuhmu, Mikael.
*********
Malam semakin larut. Setelah acara selesai, para tamu mulai meninggalkan restoran. Naira berdiri di depan pintu sambil menunggu kendaraan. Mikael datang menghampirinya.
Naira melipat tangan di dada. "Kamu membuat semuanya semakin rumit. Sekarang bahkan Kirana sudah percaya!"
"Aku hanya membantumu."
"Awalnya iya. Sekarang semua orang mengira kita pacaran!"
Mikael mengangkat bahu. "Bukankah itu yang kamu katakan?"
"Aku tidak sengaja! Aku panik!"
Mikael tertawa. "Baiklah. Tapi seperti yang sudah kukatakan, selama proyek berlangsung, kita pura-pura saja. Setelah itu, kita jelaskan semuanya. Kirana pasti akan mengerti."
Naira menatap jalanan. "Aku harus bagaimana sekarang?"
Mikael berdiri di sampingnya. "Kita lanjutkan saja. Seperti biasa. Hanya saja sekarang ada sedikit tambahan peran."
Naira menoleh. "Peran?"
"Iya. Peran sebagai pasangan." Mikael tersenyum. "Tapi jangan khawatir. Aku akan membantumu. Aku tidak akan membuatmu kesulitan."
Naira terdiam. Ia menatap Mikael. Ada sesuatu dalam cara pria itu menatapnya yang membuatnya merasa aman. Padahal seharusnya dia marah. Seharusnya dia kesal. Tapi entah kenapa, dia justru merasa lega karena Mikael ada di sana.
"Baiklah." Naira akhirnya mengangguk perlahan. "Tapi ingat, hanya pura-pura."
**********
Di dalam mobilnya, Mikael tersenyum sendiri. Ia masih tidak percaya dengan kejadian malam ini. Naira benar-benar mengatakan bahwa ia menyukainya.
Mungkin saja itu karena terpaksa. Mungkin saja karena malu di depan temannya. Tetapi surat yang ia baca beberapa hari lalu seolah menjadi bukti lain. Bahwa di dalam hati Naira, mungkin ada perasaan yang lebih dari sekadar pura-pura.
Mikael menatap jalan di depannya. "Jadi sekarang kita pura-pura." Ia tersenyum. "Baiklah, Naira. Mari kita lihat... seberapa lama kamu bisa menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya."
Sementara di rumah, Naira duduk di tepi tempat tidur sambil menutup wajah. "Kenapa aku bilang begitu?"
Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Sekarang semua orang mengira Mikael adalah kekasihnya.
Naira memejamkan mata. Ia harus menyelesaikan masalah ini suatu hari nanti. Ia harus mengatakan yang sebenarnya.
Tapi untuk saat ini... ia memilih membiarkan kebohongan kecil itu berjalan.
Naira tidak tahu bahwa Mikael justru mulai menikmati peran sebagai pria yang katanya disukai Naira. Dan yang lebih berbahaya lagi... Mikael mulai penasaran apakah perasaan Naira benar-benar hanya pura-pura.
mudah2an cocok 💪