Suara gemericik air hujan yang menabrak kaca jendela kamar menjadi satu-satunya dentang yang memecah keheningan di dalam ruangan bernuansa minimalis itu. Riana duduk di tepi tempat tidur berukuran king size, jemarinya meremas pinggiran sprei satin yang dingin. Di sudut ruangan lain, berdiri seorang pemuda berpostur jangkung yang sedang merapikan kerah kemeja hitamnya di depan cermin besar. Dialah Reza, sosok pria yang sejak dua bulan lalu secara sah menyandang status sebagai suaminya.
Dua bulan bukan waktu yang singkat untuk hidup di bawah satu atap tanpa suara. Dua bulan berjalan seperti rentetan hari tanpa warna, di mana keberadaan satu sama lain dianggap layaknya bayangan yang tak memiliki wujud. Pernikahan ini bukanlah impian yang dianyam oleh cinta, melainkan sebuah simpul paksaan yang dijahit oleh warisan janji masa lalu.
Nenek moyang dari kedua keluarga besar mereka pernah membuat kesepakatan tertulis puluhan tahun lalu, sebuah amanah keluarga yang tak boleh dilanggar oleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lingkaran Tanya Di Meja Makan
"Gak tahu lah, aku capek!" cetus Riana tajam. Tanpa menunggu balasan atau kepastian dari Reza, ia memutar badannya dan mlengos pergi, melangkah cepat menuju lantai bawah menuju area dapur.
Reza hanya bisa berdiri mematung di dekat tangga, menatap punggung Riana yang menghilang di balik dinding foyer. Kata-kata "aku capek" yang dilontarkan istrinya itu bergema berulang kali di kepalanya, membawa sensasi sesak yang makin menghimpit dadanya.
Di dapur, Riana menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya yang tak beraturan. Ia membuka lemari pendingin, mengambil dua lembar roti, mentega, serta segelas susu dingin. Dengan gerakan yang teratur dan cekatan, ia mulai membuat sarapan sederhana untuk dirinya sendiri. Riana sengaja menyibukkan jemarinya agar pikirannya tidak melayang pada kekacauan yang dipicu oleh Reza dan kekasihnya itu.
Tak berapa lama, suara langkah kaki perlahan mendekat. Reza berjalan masuk ke area dapur dengan canggung. Pria semester empat yang biasanya tampak percaya diri dan dingin itu kini terlihat sangat serba salah. Ia berdiri di sisi lain kitchen island, memperhatikan Riana yang mengoleskan mentega di atas roti tanpa berniat menoleh sedikit pun padanya.
Reza berdeham pelan, mencoba memecah keheningan pekat yang membelenggu mereka. "Riana..."
Riana menghentikan usapan pisaunya pada roti, namun matanya tetap tertuju ke piring. "Kalau kamu cuma mau bahas soal Mama dan Papa yang mau datang siang nanti, gak usah. Aku sudah tahu harus bicara apa."
Reza menghela napas panjang. Sikap dingin dan acuh tak acuh dari Riana justru terasa jauh lebih menyiksa daripada tamparan keras yang mendarat di pipinya semalam. Pria itu menyadari bahwa batasan yang semula ia buat untuk membentengi hatinya dari Riana, kini justru menjadi tembok yang mengurungnya dalam rasa bersalah.
"Aku cuma mau minta maaf..." suara Reza terdengar berat dan tulus, sesuatu yang belum pernah Riana dengar selama dua bulan mereka tinggal satu atap. "Soal semalam, aku tahu aku salah. Aku gak seharusnya biarkan dia masuk, apalagi bikin kamu sampai harus sembunyi dan tidur di lantai dingin."
Riana akhirnya menengadah, menatap iris mata Reza secara langsung. Tidak ada amarah yang meledak-ledak di raut wajah cantiknya, hanya ada ketenangan luar biasa yang justru terasa mengintimidasi.
"Maaf kamu gak bisa mengubah kenyataan kalau rumah ini dipantau CCTV, Za,"
Jadi, persiapkan diri kamu sendiri kalau Papa nanti nanya hal-hal detail."
Riana mengambil piring sarapannya dan gelas susunya, melangkah melewati Reza tanpa sedikit pun menyentuh tubuh pria itu, menuju meja makan kecil di sudut ruangan.
Reza berdiri sendirian di tengah dapur, menatap Riana yang mulai menikmati sarapannya dalam diam. Siang nanti, orang tua mereka akan menjejakkan kaki di rumah ini. Dan Reza tahu, sandiwara yang harus mereka mainkan di depan keluarga besar akan jauh lebih berat dari apa yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Reza membuntutinya dari belakang, melangkah cepat menyusuri lantai dapur hingga berhenti tepat di samping meja makan tempat Riana duduk. Sorot matanya dipenuhi kecemasan yang tak lagi bisa disembunyikan di balik topeng dinginnya.
"Kamu yakin mau ngasih tahu orang tua aku kebenarannya?" tanya Reza dengan nada mendesak, suaranya sedikit gemetar.
Riana meletakkan sarapannya ke atas piring dengan dentang pelan yang tegas. Ia mendongak, menatap Reza dengan pandangan lurus tanpa keraguan sedikit pun.
"Kalo iya emang kenapa? Aku capek pura-pura kayak gini terus," ucap Riana dingin, memotong semua keraguan yang ada di udara. "Udah yaaa, jangan ganggu aku. Aku lagi makan."
Reza mematung di tempatnya. Kata-kata itu diucapkan Riana dengan begitu tenang namun menghantam ulu hatinya. Tidak ada nada gertakan, tidak ada emosi yang meledak-ledak—hanya kelelahan mendalam dari seorang wanita yang sudah jenuh dijadikan korban dari kepanikan dan ego pria di depannya.
Reza menarik napas berat, jemarinya mengepal di samping tubuhnya. Ia ingin membalas, ingin mempertahankan egonya seperti biasa, namun bayangan konsekuensi besar jika kebenaran tentang Sela terbongkar di depan kedua orang tua mereka membuat tenggorokannya tercekat. Pria semester empat itu akhirnya mundur beberapa langkah dalam diam, membiarkan Riana menikmati sarapannya tanpa gangguan lagi.