Punya nama Samson Perkasa Putra dan postur gagah setinggi 178 cm ternyata jadi beban berat buat Samson. Dituntut Papi jadi cowok macho penerus bengkel, Samson malah lebih paham urusan skincare dan bakat histeris tiap liat kecoa. Kehidupan Samson makin riweh saat dia harus bertahan di antara harapan keluarga yang manly abis, godaan gosip tetangga, hingga urusan asmara yang serba salah. Bisakah Samson membuktikan kalau pria "otot kawat, tulang lunak" juga punya caranya sendiri buat jadi pahlawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PenaGabut_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minyak Wangi Akihabara
"Kencangnya derum mesin motor di jalanan malam tidak akan pernah bisa menutupi kebutuhan pori-pori akan kelembapan yang seimbang."
"Samson! Lu jangan jalan sendirian di gang Akihabara malam-malam begini! Ini bukan Pasar Subuh, lu kagak tahu seluk-beluk daerah sini!" teriak Bang Jarot seraya berlari kecil menyusul langkah Samson.
Lampu-lampu warna-warni distrik Akihabara berpijar terang menembus gerimis tipis malam kota Tokyo. Udara dingin bertiup cukup kencang, membuat deretan spanduk anime di dinding gedung bergoyang-goyang. Namun, Samson tetap melangkah santai dengan mantel pink pastelnya yang menawan. Di tangannya, ia memegang kantong belanjaan berisi botol-botol kaca laboratorium berukuran kecil yang baru saja dibelinya dari toko peralatan kimia khusus di sudut jalan. "Aduh Bang Jarot sayang... Samson cuma mau beli botol penetes mikro ini biar presisi tetesan serum kita makin sempurna!" sahut Samson riang seraya membetulkan bando pita penahan poninya. "Lagian Tokyo itu kota yang tertib banget kok! Nggak bakal ada yang berani macam-macam sama cowok tegap kayak Samson!"
Bang Jarot menghela napas panjang seraya menyapu keringat dingin di dahinya. "Iya, lu memang berbadan tegap 178 sentimeter, Sam. Tapi kalau ada preman lokal sini yang bawa rombongan, gimana?! Muka mulus lu itu aset berharga Perkasa Putra!"
Namun, belum sempat Samson membalas omongan Bang Jarot, suara raungan knalpot motor yang sangat bising mendadak membelah keheningan malam. Dari ujung gang sempit yang agak gelap, lima sepeda motor gede bermodel klasik dengan pipa knalpot melengkung tinggi menerobos masuk. Cahaya lampu utama motor-motor itu langsung menyorot tajam tepat ke arah wajah Samson dan Bang Jarot, mengurung posisi mereka di antara dua dinding gedung tinggi.
Dari atas motor utama yang paling besar, turun seorang pemuda Jepang berambut merah jabrik. Pria itu mengenakan jaket kulit hitam dipenuhi pin besi, celana longgar khas anggota geng jalanan, dan sepatu boot tebal. Ia adalah Ryuji, ketua geng motor Bosozoku yang sangat disegani di kawasan Akihabara.
"Omae wa dare da?! (Siapa kalian?!)" gertak Ryuji dengan suara berat dan bahasa Jepang yang sangat kasar. Ia melangkah maju seraya menunjuk dada Bang Jarot dengan gagang kayu di tangannya. "Gaijin (orang asing) dilarang berkeliaran di area kami malam-malam begini tanpa izin!"
Bang Jarot yang sama sekali tidak paham bahasa Jepang langsung memasang kuda-kuda tegap. Kedua tangannya diremas kuat hingga berbunyi krek yang cukup nyaring. Kumis tebalnya melengkung ke atas, memancarkan aura garang mantan ketua geng motor jalanan.
"Hei, Kribo Merah! Gue kagak paham lu ngomong apa ya!" seru Bang Jarot lantang. "Tapi kalau lu berniat bikin masalah sama Perkasa Putra, rantai besi di dalam jaket gue siap bertindak!"
Empat anggota Bosozoku lainnya ikut turun dari motor mereka, mengepung posisi Samson dan Bang Jarot dengan raut wajah penuh amarah. Suasana di gang sempit itu berubah menjadi sangat tegang.
Melihat bahaya mengintai, Samson melangkah cepat berdiri tepat di antara Bang Jarot dan Ryuji. Tubuh bidangnya berdiri tegap penuh percaya diri, namun gestur tubuhnya tetap terlihat sangat anggun dan tenang. Samson mengamati wajah Ryuji dari jarak dekat di bawah remang cahaya lampu neon jalanan.
Samson mengedip-ngedipkan matanya centil dan polos, berusaha memasang raut muka paling menggemaskan yang ia miliki. "Aduh Mas Ketua Geng yang ganteng tapi agak kusam..." ujar Samson lembut dengan suara meliuk mewahnya. "Muka kamu memang kelihatan galak banget, tapi itu di sekitar area hidung sama dahi, komedo hitamnya numpuk banget lho! Pasti gara-gara sering naik motor malam-malam kagak pernah cuci muka pakai cleansing oil ya?"
Ryuji mendadak tertegun. Meskipun ia tidak mengerti seluruh kalimat bahasa Indonesia yang diucapkan Samson, kata "komedo" dan gerakan jari lentik Samson yang menunjuk langsung ke arah hidungnya sangat mudah dipahami. Ryuji secara refleks menyentuh hidungnya sendiri, meraba permukaan kulitnya yang kasar dan berminyak akibat paparan polusi asap kendaraan.
"Nani?! (Apa?!)" gumam Ryuji bingung bercampur heran melihat reaksi Samson yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.
Tanpa membuang waktu, Samson dengan sigap merogoh saku dalam mantel pinknya. Ia mengeluarkan botol sampel Toner Purifying Wijayakusuma dan mengambil selembar kapas steril dari kotak kecilnya. Dengan gerakan lembut yang sangat terlatih, Samson menuangkan beberapa tetes cairan toner aromaterapi itu ke atas kapas.
"Nah... diam sebentar ya Mas Ryuji... biarkan cairan alami Perkasa Putra ini membersihkan pori-pori stres kamu..." ujar Samson ramah.
Sebelum Ryuji sempat bereaksi atau menepis, Samson sudah mengusapkan kapas lembap itu ke area hidung dan dahi Ryuji dengan pijatan melingkar yang sangat lembut dan presisi. Aroma wangi bunga mawar dan ekstrak herbal segar langsung menyeruak di tengah gang yang berbau asap knalpot.
Ryuji terpaku mematung. Sensasi dingin dan menyegarkan seketika meresap ke dalam pori-pori wajahnya, menghilangkan rasa lengket dan gatal akibat debu jalanan. Dalam hitungan lima belas detik, Samson menarik kembali kapas tersebut dan memperlihatkannya ke depan mata Ryuji.
Kapas yang tadinya putih bersih kini berubah warna menjadi kehitaman, mengangkat penuh sisa-sisa debu dan polusi minyak dari wajah sang ketua geng motor.
"Lihat tuh! Kotoran polusi jalanan Tokyo terangkat sempurna tanpa sisa!" seru Samson riang seraya tersenyum manis.
Ryuji memegang hidungnya yang mendadak terasa sangat ringan, bersih, halus, dan dingin menyegarkan. Matanya membelalak lebar dalam rasa takjub yang tak terhingga. Empat anggota gengnya yang lain ikut melangkah mendekat, mengamati wajah ketua mereka yang kini tampak jauh lebih segar dan bersih di bawah sorotan lampu jalan.
"Sugoi... (Luar biasa...)" gumam Ryuji terpana. Ia menatap kapas kotor itu, lalu menatap wajah mulus Samson dan tubuh tegap Bang Jarot yang berdiri anggun di belakangnya.
Bang Jarot menyeringai puas seraya meraba pipinya sendiri yang super mulus. "Nah! Makanya jangan sok jagoan dulu, Bro! Mau geng motor lokal atau internasional, kalau urusan kebersihan pori-pori, tetap harus tunduk sama pakar skincare kita dari Bengkel & Auto-Beauty Lounge Perkasa Putra!"
Ryuji langsung menyimpan gagang kayunya, menyatukan kedua tangannya, lalu menundukkan badan dengan hormat yang mendalam kepada Samson. "Aniki! (Guru/Kakak Besar!)" seru Ryuji penuh semangat seraya menunjuk wajah Samson dan botol toner herbal tersebut.
Hanya dalam hitungan menit, situasi berbalik total. Geng motor Bosozoku yang tadinya hendak melakukan pemerasan dan intimidasi, kini justru secara sukarela menjadi pengawal pribadi Samson dan Bang Jarot. Dengan raungan konvoi lima motor gede di depan dan belakang, mereka mengawal perjalanan Samson kembali menuju hotel dengan penuh kehormatan!
Satu jam kemudian, rombongan konvoi motor tersebut berhenti tepat di pelataran parkir depan hotel bintang lima Shinjuku tempat Perkasa Putra menginap. Raungan mesin motor yang nyaring membuat Kenanga dan Papi Joko yang sedang berada di lobi langsung berlari keluar dengan raut wajah panik. "Samson! Bang Jarot!" teriak Kenanga seraya memasang kuda-kuda silatnya. "Kalian dihadang preman?!"
Namun, pemandangan di depan hotel justru membuat Kenanga dan Papi Joko melongo kebingungan. Ryuji bersama empat anggota gengnya tampak membungkuk hormat berkali-kali ke arah Samson, sementara Bang Jarot sibuk membagikan sampel moisturizer sasetan kepada mereka seraya menepuk-nepuk bahu para anggota Bosozoku.
"Arigatou gozaimasu, Aniki!" seru Ryuji seraya memeluk botol sampel dari Samson seperti memegang harta karun berharga.
Samson melambaikan tangannya anggun seraya tersenyum centil. "Sama-sama Mas Ryuji sayang! Jangan lupa cuci muka dua kali sehari ya! Biar pas konvoi motor mukanya tetap glowing!"
Setelah rombongan Bosozoku melaju pergi membawa pesan kebersihan wajah, Papi Joko mendatangi Samson dengan raut terheran-heran. "Sam... kamu apain itu geng motor Jepang sampai jadi nurut begitu?"
Samson merapikan tatanan poninya, membusungkan dada tegap 178 sentimeternya, lalu menyunggingkan senyum paling manis. "Diplomasi kecantikan itu kagak mengenal batas negara, Papi," ujar Samson mantap. "Semua pria berhati garang di dunia ini sebenarnya cuma butuh satu hal: pori-pori wajah yang bersih dan bebas dari komedo!"
Kenanga menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis. "Gue akui, Sam. Karisma centil lu bener-bener senjata paling ampuh di Tokyo."
Dengan tambahan aliansi baru dari geng motor Bosozoku Akihabara yang siap menjaga keamanan mereka, tim Bengkel & Auto-Beauty Lounge Perkasa Putra kini semakin siap dan mantap menghadapi ajang penentuan di panggung dunia besok pagi!