Indonesia
NovelToon NovelToon
Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romansa / Bad Boy
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.

Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.

Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!

IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com

Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skakmat di Meja Altar

Suara langkah kaki stiletto Emily yang berdenting di atas lantai marmer ballroom Hotel Mulia memotong keriuhan udara bagai bilah pisau yang dingin.

Ratusan pasang mata tamu undangan, jajaran menteri, dan kilatan kamera puluhan awak media nasional membeku seketika. Pembawa acara menahan napas di depan pengeras suara, sementara Tuan Besar Anderson menatap gadis bergaun blazer putih gading yang melangkah maju itu dengan pandangan membunuh.

"Siapa kamu?!" bentak Tuan Besar Anderson, suaranya menggema kasar di tengah keheningan panggung. "Pengawal! Kenapa wanita ini bisa masuk?! Usir dia keluar sekarang juga!"

Empat orang pengawal berjas hitam keluarga Anderson bergerak mendekat, namun sebelum jemari mereka sempat menyentuh gaun Emily, sepuluh tim hukum dan pengawal pribadi dari Helios Capital berbaris memagari Emily.

Lukas, asisten pribadi Emily dari Swiss, melangkah maju dan menyodorkan berkas berkop Mahkamah Arbitrase Internasional langsung ke tangan notaris negara yang memegang dokumen pertunangan.

"Harap menahan diri, Tuan Anderson," ujar Lukas dengan nada dingin yang terlatih secara profesional. "Dokumen yang dibawa oleh Senior Vice President kami, Nona Emily Valencia, adalah Putusan Sela Arbitrase Internasional nomor 882/ZUR-2026."

Emily menaiki tangga panggung utama tanpa keraguan sedikit pun. Kacamata berdesain modern yang bertengger di wajah cantiknya membiaskan pendaran lampu kristal ballroom, memancarkan aura dominasi yang anggun namun teramat mematikan.

Ia menghentikan langkahnya tepat dua jengkal di hadapan Valerie Wijaya.

Mata Valerie membelalak sempurna. Gaun pengantin couture miliaran rupiah yang ia kenakan kini terasa kaku dan menyesakkan. Napas cewek itu memburu, bibir mewahnya gemetar hebat saat menatap Emily, gadis kacamata miskin yang empat tahun lalu ia anggap serangga, kini berdiri di hadapannya bagaikan seorang Ratu Finansial yang memegang kendali atas takdirnya.

"Kamu..." bisik Valerie dengan suara melengking yang tertahan. "Kamu harusnya masih menangis di apartemen murahmu di Malaysia..."

Emily menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang membuat darah Valerie terasa membeku.

"Maaf membuatmu kecewa, Valerie," suara Emily mengalun tenang, jernih, dan terdengar jelas melalui mikrofon podium. "Tapi penerbangan dari Kuala Lumpur ke Jakarta pagi ini cukup lancar."

Emily memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah Ayah Sean dan Notaris Negara.

"Empat belas tahun lalu," tegas Emily, setiap kalimatnya bergema ke seluruh penjuru ruangan dan disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi nasional, "almarhumah Ibu dari Sean Anderson merintis 25% saham dasar Anderson Group atas nama pribadinya. Setelah beliau wafat, saham tersebut secara sah diwariskan kepada Sean begitu ia genap berusia 21 tahun."

Emily menyerahkan sertifikat asli berstempel emas ke atas meja mahoni di hadapan notaris.

"Namun, Tuan Besar Anderson secara ilegal mengagunkan 25% saham warisan almarhumah istrinya tanpa persetujuan Sean, demi menyokong utang jatuh tempo keluarga Wijaya," lanjut Emily dengan nada datar yang menyengat. "Dengan terbitnya surat pembekuan dari Arbitrase Internasional pagi ini, kepemilikan saham Tuan Anderson di dewan komisaris secara hukum gugur. Sehingga seluruh perjanjian penggabungan aset dan pertunangan paksa hari ini... batal demi hukum."

BOOM!

Ratusan jurnalis di dalam ballroom seketika riuh histeris. Kilatan lampu kamera menyala tanpa henti bagaikan petir di tengah malam. Para pejabat dan investor yang hadir saling berbisik gempar, menyadari bahwa penggabungan dua raksasa bisnis terbesar di Indonesia itu baru saja dihancurkan secara total di hadapan publik.

Valerie terkulai jatuh di atas lantai panggung. Gaun mewahnya terhampar tak berdaya di atas marmer saat ia menyadari bahwa seluruh impian kekuasaannya telah hancur dalam hitungan detik.

Di tengah kekacauan tersebut, Sean menghempaskan pena emas di tangannya ke atas meja. Tanpa memedulikan teriakan histeris Ayahnya atau jeritan Valerie, Sean melangkah mendekati Emily.

Cowok itu meraih telapak tangan Emily yang halus, menggenggamnya begitu erat di hadapan puluhan kamera berita yang mengabadikan momen tersebut. Senyum paling tulus dan paling bahagia yang tak pernah Sean perlihatkan selama empat tahun akhirnya mengukir bibirnya.

"Terima kasih sudah datang, Princess," bisik Sean lembut tepat di samping telinga Emily.

Emily mendongak, menatap iris mata Sean dari balik kacamatanya, lalu tersendiri manis. "Aku kan sudah janji, aku tidak akan biarkan siapa pun merusak masa depan kita."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Satu jam kemudian. Ruang Istirahat VVIP Hotel Mulia.

Suasana di dalam ruangan berinterior kayu mahoni itu terasa begitu tenang, berbanding terbalik dengan kerusuhan media yang masih terjadi di luar ballroom.

Emily duduk di sofa kulit empuk, menanggalkan blazer double-breasted-nya dan menyampirkannya di lengan sofa. Ia memegang cangkir teh hangat yang baru saja diseduhkan oleh Sean.

Saat aroma teh membumbung ke udara, pandangan Emily menerawang menatap jemarinya sendiri. Di salah satu jarinya, masih tersisa bekas tinta pulpen tipis akibat maraton mengerjakan soal kuis ekonometrika di kampus Sunway dua hari lalu.

Sebuah helaan napas lega yang sangat manusiawi lolos dari bibir Emily.

Di tengah pertarungan finansial bernilai triliunan rupiah dan drama elite panggung Jakarta ini, pikiran Emily justru terbang kembali ke kehidupan sederhananya di Kuala Lumpur.

Bagi Emily, gelar Senior Vice President di Helios Capital dan kekuasaan modal raksasa hanyalah perisai yang harus ia kenakan untuk melindungi cintanya. Namun, jiwa sejatinya tetaplah seorang mahasiswi baru yang merindukan ketenangan.

Ia teringat betapa nikmatnya rasa nasi lemak RM 3 bungkus daun pisang di kedai mamak SS15 yang ia santap bersama Sean saat malam gerimis. Ia merindukan momen saat berjalan kaki menyusuri canopy walk Kampus Sunway bersama Mei Ling, mengeluhkan rumitnya rumus ekonometrika, dan tertawa lepas saat menyeduh mi instan cup di kamar studio sewaannya yang berukuran dua puluh meter persegi.

Kehidupan maba di Malaysia itu sangat realistis dan membumi. Di sana, Emily tidak perlu menjadi Ratu Finansial yang dingin dan ditakuti. Di sana, ia bisa menjadi Emily yang sederhana, gadis kacamata yang berhemat demi bayar sewa apartemen, suka menyeduh iced matcha latte murah di kantin gedung F, dan berjuang keras demi masa depannya sendiri murni karena kerja kerasnya.

Sean duduk di samping Emily, memperhatikan raut wajah gadis itu yang mendadak melunak penuh kerinduan. Sean merengkuh bahu mulus Emily, menariknya pelan ke dalam pelukan hangatnya.

"Lagi mikirin apa, Mil?" tanya Sean lembut seraya mengusap pelan rambut hitam terurai Emily.

Emily menyandarkan kepalanya di dada bidang Sean, menghirup aroma kayu cendana yang amat menenangkan.

"Mikirin kuis ekonometrika besok pagi jam delapan di Sunway," kekeh Emily pelan, tawa kecilnya mengalun begitu renyah. "Aku sudah janji sama Mei Ling buat mengajari dia sebelum kelas dimulai. Kalau aku bolos, aku bisa kena tegur Dosen."

Sean terkekeh hangat, mengecup puncak kepala Emily dengan kelembutan yang amat dalam. "Seorang Ratu Finansial yang baru saja meruntuhkan akuisisi triliunan rupiah... sekarang khawatir kena tegur dosen gara-gara kuis?"

"Tentu saja," ujar Emily seraya mendongak menatap Sean dari balik kacamata tipisnya. "Di Jakarta aku harus bertarung buat membebaskan kamu. Tapi di Sunway... aku cuma mahasiswi biasa yang mau menikmati masa mudaku sama kamu. Itu kan impian kita?"

Dada Sean berdesir hangat. Rasa haru dan cinta yang luar biasa memenuhi jiwanya. Cowok yang dulu mengunci hatinya dari dunia itu kini mengangguk mantap.

"Iya, Mil. Itu impian kita," janji Sean tulus. "Mulai hari ini, aku melepaskan seluruh jabatan CEO di Anderson Group. Aku cuma bakal mengelola modal warisan Ibuku secara remote, dan aku bakal pindah penuh ke Kuala Lumpur sama kamu. Aku bakal antar kamu kuliah tiap pagi di Sunway."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pukul 14.00 siang. Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

Sebuah jet pribadi eksekutif siap melepaskan landasannya di area apron privat.

Emily sudah mengganti gaun blazer mahalnya dengan pakaian mahasiswinya yang biasa: kaus oblong putih berlapis kardigan knit warna krem, celana jins gelap yang nyaman, dan kacamata tipis sederhananya. Di bahunya, tas kain kusam kesayangannya kembali tersampir rapi.

Sean berjalan di sampingnya mengenakan kaus hitam santai dan celana jins, membawa satu koper kecil berisi seluruh kebutuhan pribadinya. Mereka berdua telah meninggalkan seluruh kemewahan palsu dan intrik politik keluarga di Jakarta.

Saat mereka melangkah naik menuju garbarata pesawat, Lukas mendekati Emily dan menyodorkan sebuah tablet.

"Nona Valencia, laporan terbaru dari Jakarta," ujar Lukas profesional. "Wijaya Group secara resmi dinyatakan pailit sore ini setelah Bursa Efek membekukan seluruh saham mereka. Nona Valerie Wijaya dan ayahnya kini sedang menjalani pemeriksaan atas dugaan manipulasi laporan keuangan."

Emily hanya mengangguk pelan tanpa ada niat untuk membalas dendam lebih jauh. Valerie telah menerima konsekuensi dari kesombongan dan kejahatannya sendiri.

"Bagaimana dengan orang tuaku di Jakarta, Lukas?" tanya Emily lirih.

"Tuan dan Nyonya Valencia sudah kembali ke rumah mereka," jawab Lukas. "Seluruh aset perbankan mereka aman, namun mereka tidak lagi memiliki akses ke jaringan keluarga Wijaya. Mereka tidak akan bisa mengusik kehidupan Anda di Malaysia lagi."

Emily menghela napas panjang, menganguk lega. Ia menyerahkan kembali tablet tersebut pada Lukas. "Terima kasih, Lukas. Mulai besok, seluruh operasional Helios cabang Asia Tenggara berjalan sesuai sistem mandiri."

Pesawat jet pribadi melepaskan roda-rodanya dari bumi Jakarta, terbang melintasi awan siang menuju langit Kuala Lumpur.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pukul 18.30 sore. Stasiun LRT Bandar Sunway, Kuala Lumpur.

Aroma hangat kuah laksa, uap panas dari kedai bao, dan riuh suara mahasiswa yang lalu-lalang menyambut kedatangan Emily dan Sean. Udara tropis Malaysia yang lembap terasa begitu akrab dan menenangkan.

Emily merentangkan kedua tangannya pelan, menghirup udara Subang Jaya dengan senyum bahagia yang memancar dari wajah cantiknya.

"Welcome back to Sunway, Sean," ujar Emily riang.

Sean tersenyum manis, memegang erat jemari Emily seraya mereka berjalan menyusuri trotoar menuju apartemen studio Emily di SS15.

Namun, saat mereka tiba di depan pintu apartemen lantai tujuh tempat tinggal Emily, keheningan mendadak menyapa.

Sebuah amplop cokelat tebal berstempel dinas Kepolisian Malaysia (Polis Diraja Malaysia) terselip di celah bawah pintu kamar apartemen Emily.

Emily mengerutkan dahinya, membungkuk dan mengambil amplop cokelat tersebut.

Saat Emily membuka segel amplop tersebut dan membaca lembar surat di dalamnya, wajah tenangnya seketika membeku.

Isi Surat:

[Laporan Resmi Pengaduan Hukum: Saudari Emily Valencia dipanggil untuk hadir di Kantor Kepolisian Pusat Kuala Lumpur besok pagi atas gugatan penelantaran orang tua dan dugaan kepemilikan aset ilegal yang diajukan secara resmi oleh Ibu Kandung Anda, Nyonya Valencia, melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur.]

Ternyata, Ibunya tidak menyerah. Didorong oleh rasa serakah akan uang jutaan dolar yang ia kira dimiliki Emily, Sang Ibu nekat terbang ke Malaysia dan menggunakan jalur diplomatik negara untuk menyeret Emily ke jalur hukum atas tuduhan "Anak Durhaka yang Menelantarkan Orang Tua".

Napas Emily tercekat. Perang dengan keluarga darahnya sendiri di tanah Malaysia baru saja dimulai.

Bersambung......

1
Alia Chans
Hadir atuuu/Smile//Smile/
Bella: haloo kakk, makasihh yaa 🥰 enjoy ceritanyaa 💖
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!