Indonesia
NovelToon NovelToon
Where Your Heart Stays

Where Your Heart Stays

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Kiara L

Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.

Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Suara alarm ponsel yang berdenting nyaring memecah keheningan kamar tidur yang hangat. Ji-eun menggeliat pelan, matanya berkedip-kedip menyesuaikan dengan pendar sinar matahari pagi yang menembus celah gorden. Namun, begitu matanya menatap angka digital di layar ponsel—07.30, seluruh rasa kantuknya mendadak sirna tanpa sisa.

Pukul tujuh tiga puluh pagi! Jam operasional hotel sudah berjalan, dan rapat koordinasi antar-divisi dijadwalkan pukul delapan tepat.

Ji-eun membeku seketika. Kesadarannya belum sepenuhnya penuh. Tapi ia tahu dimana dirinya sekarang. Ia berada di atas kasur luas milik Seo Tae-jun, terbalut selimut tebal yang masih menyimpan aroma maskulin khas pria itu.

Panik luar biasa menyergapnya. Ji-eun menoleh cepat ke samping dan mendapati Tae-jun masih tertidur pulas. Pria itu tampak begitu tenang, wajahnya polos tanpa garis ketegangan yang biasa ia perlihatkan saat mengenakan setelan jas di kantor.

Ji-eun segera menggoyangkan bahu telanjang Tae-jun dengan gencar.

"Hei, hei, Tae-jun-ssi! Bangun! Kita kesiangan!" serunya setengah berbisik, takut suaranya terdengar melintasi dinding apartemen meski ia tahu tempat ini kedap suara.

Ji-eun tidak menunggu tanggapan pria itu. Dengan gerakan panik dan kikuk, ia menyibak selimut, menyambar pakaiannya yang semalam berserakan di lantai dekat tempat tidur, lalu berlari terbirit-birit menuju kamar mandi utama yang berada di dalam kamar tersebut.

Sementara itu, Tae-jun yang nyawanya belum sepenuhnya terkumpul hanya menggeliat pelan. Suara kepanikan Ji-eun dan derap langkah kakinya yang terburu-buru menghamburkan rasa kantuknya secara perlahan. Tae-jun menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, mengusap wajahnya, lalu mengukir senyum tipis yang amat lebar.

Melihat bagaimana Manajer Han yang selalu tenang, anggun, dan perfeksionis mendadak berubah menjadi wanita panik dengan rambut acak-acakan di pagi hari adalah pemandangan paling menggemaskan yang pernah ia saksikan.

"Ji-eun-a, tidak usah terburu-buru. Aku bisa minta rapatnya ditunda setengah jam," panggil Tae-jun setengah berteriak dari atas kasur, suaranya masih serak khas orang baru bangun tidur.

Pintu kamar mandi mendadak terbuka sedikit. Ji-eun mengintip dari balik pintu dengan sikat gigi yang sudah bersiap di tangannya dan mata membelalak lebar.

"Jangan gila!" potong Ji-eun cepat. "Kalau Direktur Utama menunda rapat harian hanya karena 'terlambat bangun', seluruh jajaran manajer akan curiga! Apalagi kalau aku juga datang terlambat di jam yang sama!"

Tae-jun terkekeh renyah. Suara tawanya yang hangat memenuhi ruangan. "Baiklah, baiklah. Aku bangun sekarang."

Tiga puluh menit berikutnya berubah menjadi perlombaan melawan waktu yang penuh dengan kekonyolan manis.

Di dalam kamar mandi, Ji-eun bersiap dengan kecepatan kilat, sementara Tae-jun yang sudah memakai celana kainnya masuk untuk menyikat gigi di samping Ji-eun. Di depan cermin besar kamar mandi, mereka berdiri berdampingan. Ji-eun dengan panik memoles riasan tipis di wajahnya, sedangkan Tae-jun dengan santai mencuci wajahnya sembari sesekali mencuri pandang ke arah Ji-eun lewat pantulan kaca.

"Berhenti menatapku seperti itu, Tae-jun-ssi. Kita benar-benar bisa terlambat," protes Ji-eun seraya merapikan kerah kemejanya.

"Aku cuma kagum," sahut Tae-jun polos sebelum berkumur. "Bagaimana bisa seseorang terlihat tetap cantik padahal sedang panik luar biasa?"

Ji-eun menggigit bibir bawahnya, mencubit pelan pinggang Tae-jun yang tak tertutup atasan. "Kau pintar sekali bicara di saat kritis begini, ya!"

"Aww," ringis Tae-jun pura-pura sakit, tetapi lengannya justru bergerak cepat melingkari pinggang Ji-eun dari belakang, menahan perempuan itu tepat di depan wastafel. Ia menyandarkan dagunya di bahu Ji-eun, menatap pantulan mereka di cermin. "Satu menit saja. Biarkan aku mengisi energi dulu sebelum menjadi 'Direktur Seo' lagi."

Ji-eun yang semula hendak menyemprotnya dengan kekesalan mendadak melunak. Ia menatap pantulan mata Tae-jun di kaca. mata yang memancarkan ketulusan dan kehangatan yang begitu pekat. Ji-eun menghela napas pelan, mengusap lengan Tae-jun yang melingkar di perutnya.

"Satu menit saja," bisik Ji-eun lembut, mengalah pada kehangatan itu.

Tae-jun mengecup leher Ji-eun dengan penuh kelembutan, membiarkan keheningan pagi menyelimuti mereka selama beberapa detik yang berharga, sebelum akhirnya mereka harus kembali memasang topeng profesionalisme di dunia luar.

Pukul 08.10 pagi, suasana lobby utama Hanseong Grand Hotel sudah riuh rendah dengan aktivitas para tamu dan staf.

Ji-eun melangkah keluar dari dalam lift servis lantai dasar dengan penampilan yang kembali sempurna. Sanggul rambutnya rapi tanpa cela, seragam manajernya licin, dan papan jalan di tangannya tergenggam mantap. Tidak ada seorang pun yang akan menyangka bahwa sepuluh menit lalu perempuan ini sedang berlari-lari kecil di area parkir bawah tanah untuk masuk lewat pintu belakang yang sepi.

Ji-eun mengambil napas dalam-dalam, menetralkan detak jantungnya yang masih berpacu, lalu berjalan menuju ruang rapat utama di lantai dua.

Tepat saat ia sampai di depan pintu ruang rapat, pintu lift eksekutif di ujung lorong berdenting halus.

Tae-jun melangkah keluar dari sana. Ia mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap yang sangat pas di badannya. Rambutnya tertata rapi ke belakang, dan matanya memancarkan aura dingin, tegas, persis seperti sosok Direktur Utama yang ditakuti sekaligus disegani seluruh karyawan.

Sekretaris pribadinya melangkah terburu-buru di belakangnya sambil membacakan tumpukan agenda hari itu.

Saat Tae-jun melintas di depan Ji-eun, langkahnya tidak berhenti sedikit pun.

Ji-eun membungkukkan badan sembilan puluh derajat. "Selamat pagi, Direktur Seo. Maafkan keterlambatan saya dalam menyiapakan dokumen operasional pagi ini."

Tae-jun menghentikan langkahnya tepat di samping Ji-eun. Ia menoleh sedikit, menatap Ji-eun dari balik matanya yang datar dan dingin.

"Lain kali persiapkan dirimu lebih cepat, Manajer Han." ujar Tae-jun dengan suara berat dan ketus yang sanggup membuat staf di sekitar mereka menahan napas takut.

"Baik, Direktur. Saya berjanji hal ini tidak akan terulang lagi," jawab Ji-eun lancar, mempertahankan nada suara formal tanpa celah.

"Ikut aku ke dalam. Rapat akan segera dimulai," perintah Tae-jun dingin sebelum kembali melangkah memimpin jalan memasuki ruang rapat.

Staf lain yang melihat kejadian itu berbisik-bisik kasihan pada Manajer Han yang baru saja dimarahi oleh sang Direktur Utama di depan umum.

Namun, tidak ada satu orang pun di lorong itu yang menyadari bahwa tepat saat Tae-jun memunggungi para staf dan melangkah melewati ambang pintu, sebelah tangannya yang tersembunyi di dalam saku celana sempat menyentuh pelan punggung tangan Ji-eun secara tersembunyi, sebuah sentuhan singkat, hangat, dan sarat akan pesan rahasia yang membuat dada Ji-eun bergetar hebat.

Di balik wajah menunduk dan sikap tunduknya sebagai bawahan, Ji-eun menyembunyikan senyuman paling manis yang mengukir bibirnya pagi itu. Kepura-puraan di depan publik ini mungkin memang melelahkan, tetapi fakta bahwa pria tegas berhati dingin itu sepenuhnya adalah miliknya saat pintu dunia luar tertutup, membuat setiap detik sandiwara ini terasa sangat berharga.

...****************...

1
Bintang star_nurul22
Semangat author
Kiara L: terimakasih☺️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!