Indonesia
NovelToon NovelToon
SHADOWS OF THE THRONE

SHADOWS OF THE THRONE

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Iblis / Tamat
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: IΠD

Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prologue

Istana Hikari bermandikan cahaya temaram lilin-lilin pualam berukuran besar yang tergantung di langit-langit kubah marmar. Malam itu, di tengah badai salju yang membekukan perbatasan luar kota Fushi, atmosfer di dalam kamar tidur kerajaan terasa jauh lebih panas dan menyesakkan. Suara derap langkah para tabib istana yang panik bergesekan dengan lantai marmer yang dingin. Di atas ranjang berkanopi sutra merah muda, Permaisuri terengah-engah, peluh bercucuran membasahi helai rambutnya yang basah, sementara tangannya mencengkeram erat seprai beludru.

​Di sudut ruangan, berdiri seorang pria paruh baya dengan mantel bulu tebal dan lencana bangsawan emas di dadanya—Sang Raja, yang wajahnya menyiratkan kecemasan luar biasa bukan atas keselamatan istrinya, melainkan ketakutan akan garis suksesi takhta.

​"Yang Mulia, bersabarlah... dorong sedikit lagi!" seru Tabib Kepala, wajahnya pucat pasi.

​Jeritan tertahan lolos dari bibir sang Permaisuri, disusul oleh tangisan nyaring seorang bayi yang memecah keheningan malam istana.

​"Seorang bayi perempuan!" seru salah seorang pelayan wanita, buru-buru membungkus bayi mungil itu dengan kain sutra putih berenda emas. "Ia adalah Putri Mahkota kita... pewaris sah takhta Kerajaan Hikari!"

​Sang Raja menghela napas panjang, senyum kemenangan tersungging di bibirnya. Namun, sebelum ia sempat mendekat, sang Permaisuri kembali mengerang kesakitan, mencengkeram lengan tabib dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya.

​"Belum... Perutku... masih ada satu lagi..." rintih sang Permaisuri dengan suara tercekat.

​Sang Tabib terbelalak, buru-buru kembali mengambil posisi. "Ya Tuhan... ini anak kembar! Bersiaplah, Yang Mulia!"

​Beberapa menit kemudian, tangisan kedua menggema—lebih lirih, namun tegas. Bayi kedua lahir. Seorang bayi laki-laki, saudara kembar sang Putri.

​Sang Raja melangkah mendekat, wajahnya yang tadinya berbinar kini langsung membeku. Hukum besi Kerajaan Hikari tidak pernah mentolerir kehadiran anak kembar dalam keluarga kerajaan; hal itu dianggap sebagai pertanda kutukan dan perebutan kekuasaan yang akan menghancurkan negeri dari dalam.

​"Tidak... ini bencana," gumam Sang Raja pelan, nyaris berbisik pada dirinya sendiri, matanya menatap tajam ke arah bayi laki-laki yang masih merah di tangan perawat.

​Di ambang pintu kamar yang setengah terbuka, para pengawal istana bersiaga, sementara di luar dinding istana, deru angin malam seolah menjadi saksi bisu atas takdir kejam yang sedang dirancang malam itu.

​"Yang Mulia! Anda tidak bisa berbuat seperti itu!" suara Permaisuri melengking tajam, memecah kesunyian malam beberapa hari setelah kelahiran si kembar. Ia berusaha bangkit dari pembaringannya, meski tubuhnya masih sangat lemah. Wajahnya pucat pasi, air mata menetes deras membasahi pipinya yang cekung.

​Sang Raja berdiri di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke halaman istana. Di luar sana, salju turun dengan lebatnya, menyelimuti taman-taman mawar putih yang membeku. Tanpa menoleh ke arah istrinya, Sang Raja menjawab dengan nada dingin tanpa emosi, suaranya menggema di ruangan kamar yang luas itu.

​"Keputusan telah bulat, Permaisuri," jawab Sang Raja tegas, suaranya sedingin angin musim dingin di luar. "Hukum Hikari mutlak. Kehadiran anak kembar di istana ini hanya akan memicu pertumpahan darah dan perang saudara di masa depan. Rakyat akan terpecah, dan musuh-musuh kita di Kurogane akan menertawakan kelemahan kita."

​"Tapi mereka darah daging kita sendiri!" teriak Permaisuri, suaranya serak sarat akan keputusasaan. Ia mencengkeram selimut sutranya hingga buku-buku jarinya memutih. "Miyura adalah putri kita, dan Aragoto—adiknya—tidak bersalah! Mengapa kau harus membuangnya? Mengapa kau harus merenggut salah satu anakku?"

​Sang Raja akhirnya membalikkan badan. Langkah kakinya bergemerincing pelan di atas lantai marmer saat ia mendekati ranjang permaisuri. Wajahnya keras, menyisakan sisa-sisa ketegasan seorang penguasa tiran.

​"Aku tidak membuangnya ke jalanan untuk mati kelaparan, Permaisuri," ujar Sang Raja dingin sambil menatap tepat ke mata istrinya. "Aku telah mengatur semuanya. Ia akan diserahkan kepada keluarga pelayan tepercaya di sayap barat istana. Ia akan tumbuh besar bukan sebagai pangeran, bukan sebagai pewaris takhta, melainkan sebagai bayangan. Ia akan hidup untuk melayani saudarinya sendiri."

​"Melayani saudarinya?!" Permaisuri menggelengkan kepalanya dengan histeris, napasnya memburu. "Kau sedang menciptakan monster! Kau mengutuk salah satu anakmu untuk menjadi budak dari anakmu yang lain! Tidakkah kau pikir ikatan darah mereka akan tersiksa? Bayangkan saat mereka besar nanti, saat mereka berdiri berdampingan namun dipisahkan oleh dinding kasta yang kejam!"

​Sang Raja mendengus pelan, menampilkan senyum sinis yang mengerikan. "Itulah harga yang harus dibayar untuk menjaga keutuhan takhta Hikari. Miyura akan tumbuh menjadi Ratu yang memegang kekuasaan mutlak, dikelilingi oleh kemewahan dunia, sementara Aragoto akan menjadi perisai tak terlihat yang memastikan keselamatan sang Ratu dari balik kegelapan."

​Sang Raja mendekatkan wajahnya ke telinga Permaisuri, membisikkan kalimat yang membuat darah wanita itu membeku. "Mulai hari ini, di mata dunia, Kerajaan Hikari hanya memiliki satu pewaris tunggal. Dan anak laki-laki itu... sudah mati bagi sejarah."

​Di luar jendela istana, guntur tiba-tiba bergemuruh keras, membelah langit malam yang gelap gulita. Di dalam buaian kamar bayi kerajaan, dua bayi kembar berbaring dalam selimut yang berbeda—yang satu ditakdirkan untuk mengenakan mahkota emas yang mematikan, sementara yang satu lagi dipersiapkan untuk memikul beban takhta di balik bayang-bayang kesunyian. Takdir Kerajaan Hikari resmi dimulai di atas air mata dan rahasia kelam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!