Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Lampu Menara Eiffel
BIP-BIP-BIP!
Suara tombol kode pintu utama yang berbunyi nyaring mendadak memecah keheningan malam di apartemen.
Jungkook yang baru saja berdiri dari posisi berlututnya di samping sofa seketika refleks menoleh. Pintu terdorong terbuka, dan sosok Taehyung muncul dengan rambut sedikit berantakan, mantel tebal yang dibasahi sisa-sisa kepingan salju, serta tas dokumen di genggamannya.
"Aish, rapat gila itu benar-benar menguras nyawaku!" keluh Taehyung seraya melangkah masuk dan melepas sepatunya. Ia mendongak, siap menyapa sahabatnya. "Jungkook-ah, bagaimana ad-..."
"Shh!"
Jungkook menempelkan telunjuknya di depan bibir dengan cepat, memotong kalimat Taehyung seraya menunjuk ke arah sofa ruang tengah.
Taehyung menghentikan langkahnya seketika. Matanya membelalak pelan begitu melihat adik kecilnya, Mira, sedang tertidur lelap di sofa. Sebuah cangkir cokelat hangat yang sudah kosong berada di atas meja kaca, dan tubuh Mira terbungkus rapi oleh mantel tebal milik Jungkook hingga batas dada.
Taehyung melangkah mendekat dengan berjinjit pelan. Rasa lelah di wajahnya seketika luruh berganti menjadi senyum hangat seorang kakak.
"Bocah ini... malah ketiduran di sini," bisik Taehyung pelan seraya membungkuk sedikit di dekat sofa. "Padahal aku sudah membayangkan akan disambut pelukan hangat dari adik kesayanganku."
"Dia lelah sekali, Tae," bisik Jungkook seraya berjalan mendekati Taehyung. Suaranya diatur sepelan mungkin agar tak mengusik tidur Mira. "Penerbangan panjang dari Seoul, tambah lagi kedinginan menunggu di bandara tadi. Begitu minum cokelat hangat, dia langsung tertidur."
Taehyung terkekeh pelan, melipat tangannya di dada seraya menatap sahabatnya. "Gomawo, Jungkook-ah. Maaf ya, hari pertamanya di Paris justru kau yang harus merepotkan diri mengurusnya."
"Tidak merepotkan sama sekali," balas Jungkook cepat, mungkin sedikit terlalu cepat hingga membuat Taehyung mengangkat sebelah alisnya.
Jungkook berdeham pelan, mencoba menetralkan nada suaranya seraya menunjuk ke arah kamar tidur utama. "Oh ya, aku sudah memindahkan koper Mira ke kamarku. Biarkan dia memakai kamar itu selama beberapa hari sebelum tempat barunya selesai diperbaiki."
Taehyung menatap Jungkook dengan raut heran yang kentara. "Lalu kau tidur di mana? Di sofa ini?"
"Aku bisa tidur di kamarmu, atau di sofa ini kalau kau keberatan," jawab Jungkook santai.
Taehyung tertawa kecil tanpa suara seraya mengacak rambutnya sendiri. "Yak, kau ini seperti tidak kenal aku saja. Kamarku kan luas, kasurnya juga king size. Tidur saja bersamaku seperti saat kita awal-awal rintis HexaVerse dulu."
Ia kemudian kembali menatap Mira yang bergerak kecil dalam tidurnya, mengerutkan hidungnya yang sedikit memerah.
"Ayo kita pindahkan dia ke kamar," ujar Taehyung seraya bersiap menyusupkan tangannya di bawah tubuh Mira untuk menggendongnya.
Namun, sebelum jemari Taehyung menyentuh adiknya, tangan Jungkook refleks bergerak cepat menahan bahu Taehyung.
Taehyung membeku, mendongak menatap Jungkook dengan pandangan bertanya-tanya.
"Kenapa?"
Jungkook sempat terpaku sejenak, terkejut dengan refleks tubuhnya sendiri. Ia buru-buru menarik tangannya kembali dan memberikan alasan se-natural mungkin.
"Biarkan dia tidur sebentar lagi," bisik Jungkook seraya menunjuk wajah tenang Mira. "Dia baru saja tertidur pulas beberapa menit lalu. Kalau dipindahkan sekarang, dia bisa terbangun dan malah susah tidur lagi karena jet lag."
Taehyung memperhatikan raut wajah sahabatnya sejenak. Ada sesuatu dalam binar mata Jungkook,.sebuah pijar perlindungan dan perhatian yang berbeda dari biasanya, yang tidak luput dari penglihatan tajam Taehyung. Namun, sebagai sahabat sejak SMA, Taehyung memilih untuk menyimpannya dalam hati lebih dulu.
"Baiklah, terserah kau," bisik Taehyung seraya tersenyum misterius. Ia menepuk bahu tegap Jungkook pelan. "Aku mau mandi air hangat dulu. Rapat tadi benar-benar membuat kepalaku mau pecah."
Taehyung melangkah menuju kamarnya. Namun, tepat di ambang pintu lorong, ia menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah Jungkook yang masih berdiri diam di samping sofa tempat Mira tertidur.
"Jungkook-ah," panggil Taehyung pelan.
Jungkook menoleh. "Eoh?"
"Adikku... sudah tumbuh sangat cantik, kan?" ujar Taehyung seraya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan makna.
Jungkook tersentak pelan. Matanya berganti menatap Taehyung, lalu beralih menatap wajah tidur Mira di bawah pendar lampu remang ruang tengah.
Tanpa bisa menahannya lagi, sebuah senyum tipis yang amat lembut terbit di bibir Jungkook.
"Eoh..." jawab Jungkook jujur dengan suara dalam yang nyaris menyerupai bisikan. "Sangat cantik."
Setelah Taehyung menghilang di balik pintu kamar mandi, Jungkook kembali melangkah ke meja makan. Suara jemarinya yang menari di atas papan ketik kembali memecah keheningan ruang tengah, bersahut-sahutan dengan embusan napas halus Mira yang terlelap di atas sofa.
Sesekali, pandangan Jungkook teralih dari layar monitor, mencuri lirikan hangat ke arah gadis yang tertidur lelap berselimutkan mantel hitamnya.
Dua puluh menit berlalu. Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Taehyung yang sudah mengenakan pakaian santai. Mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil, Taehyung berjalan ke arah kulkas, merogoh dua botol minuman dingin, lalu melangkah menuju meja makan.
Ia mendudukkan diri di hadapan Jungkook, menggeser satu botol ke dekat laptop sahabatnya.
"Minumlah dulu. Jangan kerja terus," ujar Taehyung seraya membuka tutup botolnya sendiri dan menyegarkan tenggorokannya.
Jungkook menekan tombol simpan pada pekerjaannya, lalu menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Ia meraih botol tersebut dan menatap Taehyung yang tampak menatap kosong ke arah jendela besar berembun salju.
"Bagaimana hasil rapat tadi?" tanya Jungkook, membuka percakapan bisnis mereka. "Muka menderita yang kau bawa pulang tadi tidak bisa dibohongi."
Taehyung menghela napas panjang. Garis rahangnya menegang seraya menatap Jungkook lekat-lekat.
"Investor London setuju menyuntikkan dana besar untuk ekspansi HexaVerse," buka Taehyung pelan. "Tapi... mereka mengajukan beberapa syarat mutlak."
Jungkook memiringkan kepalanya, memasang mode serius. "Syarat apa?"
"Mereka ingin HexaVerse resmi membuka cabang regional Asia di Seoul," jawab Taehyung. "Dan mereka meminta salah satu dari kita berdua untuk memimpin langsung operasional studio di sana secara permanen."
Jungkook terdiam sejenak. Matanya menatap Taehyung, menimbang bobot dari kata-kata itu. Membuka cabang di tanah air sendiri adalah impian besar yang dulu sering mereka bicarakan saat masih merintis usaha di apartemen sempit.
Namun, timing situasi saat ini sungguh rumit.
"Tae..." kata Jungkook pelan. "Kau baru saja menjemput Mira dari Seoul. Dia baru mendarat di Paris beberapa jam lalu, rela meninggalkan Korea untuk kuliah di Sorbonne agar bisa dekat denganmu."
Taehyung mengacak rambutnya yang setengah basah dengan kasar. Rasa dilema yang berat terpancar jelas dari manik matanya.
"Itu dia masalahnya, Kook," bisik Taehyung dengan nada frustrasi yang tertahan. "Investor ingin salah satu pendiri studio berada di Seoul dalam waktu satu bulan ke depan. Kalau aku yang pulang ke Seoul... aku baru saja membawa Mira ke sini. Masa aku harus meninggalkannya sendirian di Paris setelah dia berusaha keras mengejar studinya ke kota ini?"
Taehyung mengalihkan pandangannya ke sofa, menatap sosok adik kecilnya yang tertidur pulas tanpa tahu beban yang sedang merundung kakaknya.
"Tapi kalau aku menolak syarat ini," lanjut Taehyung pelan, "kesempatan emas ekspansi global HexaVerse bisa melayang. Aku benar-benar dilema."
Jungkook memegang botol minumannya erat-erat. Pikiran dan hatinya bergejolak hebat mendengar penuturan sahabatnya.
Jurnal perjalanan HexaVerse berada di persimpangan jalan. Jungkook menatap botol di genggamannya sejenak, lalu berpaling menatap raut lelah dan serba salah di wajah sahabat terbaiknya.
Ia paham betul bagaimana perjalanan panjang Taehyung untuk bisa membawa adiknya ke Paris, dan betapa berartinya kehadiran Taehyung bagi Mira yang baru saja menginjakkan kaki di negeri orang.
"Tae," ujar Jungkook dengan nada suara yang tenang namun mantap. "Kalau memang harus ada salah satu pendiri HexaVerse yang memimpin kantor Seoul secara langsung... biarkan aku yang pergi."
Taehyung mendongak seketika, matanya membelalak kaget. Namun, dengan cepat ia menggelengkan kepalanya tegas.
"Tidak, Kook. Aniya," tolak Taehyung tanpa ragu. Ia menatap Jungkook lurus-lurus dengan binar mata yang penuh rasa hormat. "Studio Paris ini dibangun dari fondasi, keringat, dan sistem yang kau ciptakan dari nol selama tiga tahun terakhir. Tempatmu di sini, menjaga jantung HexaVerse."
Taehyung menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi seraya mengepalkan jemarinya di atas meja.
"Izinkan aku yang berjuang membangun HexaVerse Korea," lanjut Taehyung pelan namun sarat tekad. "Ini tanggung jawabku sebagai co-founder. Tapi... tolong jangan katakan apa-apa dulu pada Mira."
Jungkook menaikkan sebelah alisnya, memiringkan kepala. "Kau yakin? Dia berhak tahu, Tae."
"Aku tahu," bisik Taehyung seraya melirik ke arah sofa, menatap sosok adik kecilnya yang tertidur pulas tanpa tahu beban yang sedang merundung kakaknya. "Tapi dia baru saja mendarat. Dia masih kelelahan dan sangat bersemangat memulai kuliahnya di Sorbonne. Kalau aku memberitahunya sekarang, dia pasti akan merasa bersalah atau bahkan membatalkan rencana studinya."
Taehyung menghela napas berat, memijat pelipisnya yang mendadak pening. "Beri aku waktu beberapa hari. Aku akan memikirkan cara terbaik untuk memberitahunya pelan-pelan."
Jungkook menatap sahabatnya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk pelan, menghormati keputusan sulit yang diambil Taehyung. Namun, di balik rasa simpati pada persahabatan mereka, sebuah pikiran tak terelakkan perlahan menyusup ke benak Jungkook.
Jika Taehyung benar-benar kembali ke Seoul untuk waktu yang lama... itu artinya tidak lama lagi, hanya akan ada dirinya yang tersisa di Paris untuk menjaga dan melindungi Kim Mira.