Indonesia
NovelToon NovelToon
KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Teen / Tamat
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JARAK YANG SENGAJA DI CIPTAKAN

Satu bulan berlalu sejak sore di mana Kaito mengantarku pulang dari stasiun. Dalam rentang waktu tiga puluh hari itu, lanskap di sekitarku perlahan berubah. Daun-daun ginkgo yang tadinya hijau mulai menguning sempurna, gugur satu per satu menutupi trotoar jalanan kota yang dingin. Namun, perubahan musim di luar sana tidak sebanding dengan perubahan dingin yang terjadi di dalam lingkar kehidupanku.

Hubunganku dan Haruto berjalan makin hangat di mata orang lain. Haruto adalah sosok kekasih yang hampir tanpa celah. Di tengah padatnya jadwal kuliah dan aktivitas kemahasiswaan, ia selalu menyempatkan diri menungguku di dekat peron stasiun. Ia selalu tepat waktu, tak pernah lupa membawakanku teh hijau hangat dari mesin penjual otomatis (jidouhanbaiki), dan selalu menggenggam jemariku yang dingin setiap kali kami berjalan menyusuri pertokoan. Haruto memperlakukanku seolah-olah aku adalah pusat dari seluruh dunianya.

Namun, tepat di saat hubunganku dengan Haruto tampak kian erat, Kaito mulai berubah.

Secara perlahan, halus, tetapi sangat konsisten, Kaito mulai membentangkan dinding tak kasat mata di antara kami. Ia tidak lagi pernah mengetuk pintu belakang rumahku di malam hari untuk sekadar meminjam buku. Ia tak lagi sering duduk bersila di atas karpet kamarku, menggelar kertas kalkir, dan menunjukkan sketsa-sketsa arsitekturnya padaku hingga larut malam.

Bahkan di kampus, jika kami tak sengaja berpapasan di lorong gedung perkuliahan, Kaito hanya akan menghentikan langkahnya sejenak, menyunggingkan senyum tipis yang amat formal, membungkukkan badan sedikit, lalu memutar arah langkahnya dengan alasan ada urusan lain yang harus diselesaikan.

Kaito sengaja menarik diri. Ia mematikan seluruh akses yang biasa kami lewati bersama, membiarkan diriku berada di luar garis batas baru yang ia ciptakan.

Pagi itu, rasa bersalah dan kerinduan yang menumpuk membuat dadaku terasa begitu sesak. Aku tidak bisa terus-terusan berada dalam situasi serba salah ini. Aku berniat membalas kebaikan Kaito dan mencairkan kekakuan di antara kami. Sejak subuh, aku sudah sibuk di dapur, menyiapkan bento dengan lauk pauk favorit Kaito—tamagoyaki yang sedikit manis dan karaage yang garing.

Aku mendatangi gedung fakultas arsitektur dengan langkah bergegas. Setelah mencari ke beberapa lorong, aku akhirnya menemukan sosok yang kucari. Dari kejauhan, di bawah naungan pohon maple yang daunnya mulai memerah, Kaito tengah duduk sendirian di bangku taman kampus. Laptopnya terbuka di atas pangkuan, sementara kacamata tipisnya bertengger di pangkal hidung. Matanya menatap fokus pada layar, menyorotkan keletihan yang teramat sangat.

Aku menghela napas panjang untuk menetralkan getaran di dadaku, lalu melangkah mendekat. Saat berdiri di samping bangkunya, aku mengulurkan tangan dan mengetuk bahunya pelan.

Kaito tersentak kecil. Ia menoleh perlahan. Saat matanya menangkap sosokku yang berdiri membawa pembungkus kain furoshiki berwarna biru, binar matanya sempat bergetar sekilas. Rasa terkejut dan kilatan kehangatan yang amat kukenal sempat melintas di sana selama satu detik—sebelum akhirnya ia dengan cepat menguasai raut wajahnya kembali menjadi begitu datar dan asing.

Aku menyunggingkan senyum terbaikku, lalu mengangkat kedua tanganku untuk memberi isyarat bahasa tubuh yang lunak:

[Kaito, maaf mengganggu waktumu. Aku membawakan bento untuk makan siangmu. Kamu pasti belum sempat makan, kan?]

Kaito menatap bingkisan kain biru di tanganku untuk beberapa saat. Pandangannya terpaku di sana, seolah-olah sedang bertarung hebat dengan pikirannya sendiri. Namun, alih-alih menyambut bingkisan itu, Kaito justru mengalihkan pandangannya ke arah deretan gedung di seberang taman. Ia merapatkan bibirnya.

Jemarinya perlahan terangkat, membalas isyaratku dengan gerakan yang sangat teratur, tetapi terasa amat dingin dan berjarak:

[Terima kasih banyak, Hana. Tapi aku sudah membeli makan siang tadi di kantin. Sebaiknya kamu simpan bento itu untuk dirimu sendiri. Nanti Haruto bisa salah paham kalau melihatmu sibuk membuatkan makan siang untuk pria lain.]

Gerakan jemariku seketika membeku di udara. Kalimat itu terasa seperti tamparan tak berwujud yang menghantam dadaku secara telak. Pasokan udara di sekitarku rasanya mendadak menguap.

[Haruto tidak akan salah paham, Kaito!] balasku cepat, jemariku mulai bergetar tipis akibat rasa sesak yang membuncah. [Aku sudah menceritakan semuanya pada Haruto. Kita kan berteman sejak kecil, kita tumbuh bersama. Mengapa kamu harus terus-terusan menghindariku seperti ini?]

Kaito tidak langsung membalas. Ia perlahan merapikan laptopnya, menutup layarnya dengan gerakan pelan, lalu memasukannya ke dalam tas ranselnya. Ia kemudian berdiri dari bangku taman. Tinggi tubuhnya yang menyorotkan bayangan di atasku membuat keheningan di antara kami terasa kian mengimpit.

Kaito menatapku. Di balik sorot matanya yang teduh, aku bisa melihat sebuah kepedihan yang amat dalam dan pekat—sebuah kepedihan dari seorang pria yang memilih menyiksa dan membuang perasaannya sendiri demi memastikan aku tidak merasa goyah.

[Justru karena kita sudah dewasa, Hana,] isyarat Kaito pelan. Gerakan jemarinya amat lembut, tetapi makna di baliknya terasa seperti duri tajam yang menancap satu per satu di dadaku.

[Kamu sudah memiliki Haruto di sisimu. Dia pria yang baik dan sangat menyayangimu. Kamu tidak perlu lagi membagi perhatianmu padaku, tidak perlu lagi mencemaskanku, dan tidak perlu membawakan hal-hal seperti ini lagi padaku. Fokuslah pada hubunganmu.]

[Kaito, tapi aku—]

[Aku harus menyerahkan tugas ke ruang dosen sekarang,] potong Kaito lewat isyarat singkat.

Kaito membungkukkan badannya sedikit—sebuah gesture kesopanan yang amat formal yang tak pernah ia lakukan padaku sebelumnya. Tanpa menunggu balasan dariku lagi, Kaito berbalik. Langkah kakinya melangkah mantap menyusuri jalan setapak taman, meninggalkanku yang berdiri mematung sendirian di bawah guguran daun maple.

Aku menatap bingkisan bento di genggamanku. Peganganku melonggar, dan rasanya seluruh tenaga di tubuhku terkuras habis saat melihat punggung Kaito kian menjauh dan akhirnya menghilang di balik pintu kaca gedung fakultas.

Sore harinya, langit di atas kota Tokyo berubah menjadi abu-abu gelap. Gerimis tipis mulai membasahi jalanan saat jam kuliah berakhir.

Haruto sudah berdiri menungguku di depan gerbang utama kampus tepat waktu, seperti biasa. Ia mengenakan mantel cokelat rapi dengan payung lipat terbuka di tangannya. Begitu melihatku berjalan keluar, wajah Haruto seketika berbinar hangat. Ia melangkah cepat mendekatiku, merapikan syal rajut yang melingkar di leherku, lalu mengambil alih tas kuliahku tanpa diminta.

"Hana, maaf ya membuatmu menunggu sebentar," ucap Haruto lembut, suara hangatnya membelah rintik hujan. Ia mengusap pipiku yang dingin dengan punggung tangannya. "Hari ini gerimis makin deras. Bagaimana kalau kita langsung naik taksi ke daerah Shinjuku? Aku sudah memesankan tempat di kedai ramen hangat favoritmu."

Aku menatap wajah Haruto yang bersih dan penuh dengan ketulusan. Pria di hadapanku ini tidak pernah membuat kesalahan sedikit pun. Ia memberikan segala bentuk kasih sayang, perhatian, dan rasa aman yang diimpikan oleh wanita mana pun di dunia ini.

Aku memaksakan sudut bibirku untuk terangkat, mengangguk pelan, lalu mengetik pesan di ponselku:

[Terima kasih, Haruto. Ayo kita pergi ke sana.]

Haruto menyunggingkan senyuman paling manis yang ia miliki. Ia menggenggam jemari tanganku yang dingin dengan erat, menyalurkan rasa hangat dari telapak tangannya saat kami mulai melangkah berdampingan menyusuri trotoar menuju stasiun kereta terdekat.

Namun, tepat saat kami hendak menyeberangi persimpangan jalan yang ramai oleh laluan pejalan kaki berpayung, mataku tak sengaja menangkap sebuah pemandangan di seberang jalan.

Di trotoar sebelah sana, di antara hiruk-pikuk manusia yang berlalu-lalang menembus gerimis, sosok Kaito sedang berjalan sendirian. Ia mengenakan sweter abu-abu tipis, menggenggam sebuah payung hitam polos dengan pandangan mata yang tertuju lurus ke depan—hampa dan tanpa ekspresi. Tidak ada siapapun di sampingnya. Tidak ada suara, tidak ada tawa, hanya keheningan dingin yang membungkus langkah kakinya yang kesepian.

Haruto terus menggenggam jemariku makin erat, menuntunku menyeberangi garis zebra cross dengan perlahan, memastikanku aman dari cipratan air hujan. Ketulusan Haruto terasa begitu nyata menyelimuti diriku.

Namun, langkah kakiku terasa kian berat. Pandanganku sama sekali tidak sanggup beralih dari bayangan Kaito di seberang sana yang perlahan kian mengabur dan menghilang di antara pendar lampu-lampu toko.

Dadaku bergemuruh hebat oleh rasa sakit yang memekakkan. Di balik kenyamanan dan perhatian sempurna yang diberikan Haruto padaku, hatiku meringis pilu menyadari satu kenyataan pahit: bahwa di seberang jalan sana, ada seorang pria yang memilih mengunci rapat seluruh pintunya, berjalan dalam dingin sendirian, dan menelan rasa sakitnya dalam hening—hanya agar aku bisa berpura-pura bahagia di atas lukanya.

1
Prayy
JANGAN LUPA DI LIKE DAN KOMEN YA GUYS AGAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN NGEMBANGIN CERITA CERITA LAIN NYA🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!