Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.
Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.
"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."
"Saya siap."
"Aku ingin kau menghamili istriku."
“….”
Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.
Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03. Kesempatan Emas
DOR!
Suara tembakan memekakkan telinga. Tubuh pria itu roboh seketika, kemudian darah mengalir di lantai beton. Tak ada ekspresi berubah dari wajah Reval seolah ia baru saja membuang sampah.
Sementara itu, berdiri sekitar lima meter dari sana, Dhana memperhatikan semuanya dalam diam. Tubuhnya tetap tegak, tatapannya tetap tenang. Meski dalam hati ia mencatat setiap detail.
Mulai dari cara Reval berbicara, cara para anak buah memandangnya. Siapa saja yang berada di lingkaran dalam, siapa yang paling dipercaya dan siapa yang paling takut. Semua informasi sekecil apa pun memiliki nilai tersendiri untuk rencana Dhana kedepannya. Karena satu kesalahan saja bisa membuat penyamarannya berakhir dengan peluru di kepala.
"Ardhana Vendra." Suara Reval memanggil.
Dhana langsung melangkah maju, sebab nama itu kini menjadi identitasnya. Ardhana Vendra, sang penyelundup senjata sekaligus mantan tentara bayaran. Pria yang dibentuk oleh intelijen negara selama berbulan-bulan hingga memiliki masa lalu yang nyaris sempurna. Itulah identitas Dhana yang sekarang ia gunakan.
"Ya, Tuan."
Reval mengamatinya cukup lama membuat beberapa anggota lain menahan napas. Sudah menjadi rahasia umum, pemimpin Black Gold tidak pernah mempercayai siapa pun bahkan orang-orang terdekatnya sekalipun. Namun anehnya, selama beberapa bulan terakhir, diam-diam perhatian Reval sering tertuju pada Dhana melalui laporan yang disampaikan oleh orang kepercayaannya.
Pria baru yang datang entah dari mana. Pria yang selalu berhasil menyelesaikan pekerjaan mustahil. Pria yang terlalu tenang dalam situasi apa pun. Itulah hasil laporan yang Reval selalu terima dari anak buahnya tentang Ardhana Vendra.
"Kau tahu kenapa aku memanggilmu?" tanya Reval dengan senyum penuh arti.
"Tidak." Dhana pun menjawabnya dengan mantap, tanpa keraguan sedikitpun.
Hal itu sontak berhasil membuat Reval tersenyum. "Aku suka orang jujur."
Kemudian ia berjalan perlahan mengelilingi ruangan. "Tiga hari lagi… Aku akan memilih lima orang."
"Lima orang yang akan berada dalam lingkaran terdekatku." Sambungnya.
Beberapa anak buah langsung saling melirik, sebab posisi itu sangat istimewa. Bukan sekadar pengawal. Mereka yang terpilih akan mengetahui rahasia organisasi, mengakses transaksi besar, ikut menghadiri rapat tertutup dan yang paling penting… mendapat kepercayaan penuh dari Revaldo Arsenalio.
Dan bagi Dhana itu adalah pintu gerbang untuk memulai misinya yang sebenarnya. Kesempatan untuk dirinya segera menyelesaikan misi utama negara, setelah empat tahun lamanya ia hanya dijadikan alat pertarungan.
"Tapi tentu saja..." lanjut Reval. "Kepercayaan harus dibayar dengan nyawa kalian."
Matanya menyapu seluruh ruangan, termasuk Dhana. "Kalian akan menjalani ujian untuk memastikan kemampuan, kesetiaan dan juga tujuan utama kalian bergabung dengan Klan Black Gold."
“Gunakan waktu tiga hari ini untuk kalian…” Reval sengaja menggantung ucapannya, “…menjadi salah satu tanganku.”
Reval melirik sekilas pada Dhana. Hanya seperkian detik sebelum ia berjalan pergi dari gudang itu dan memberikan isyarat kecil untuk menghabisi tawanan yang tersisa.
Sudah biasa dalam sebuah organisasi dengan keberadaan pengkhianat, begitu juga dengan klan mafia yang ia pimpin. Karena itulah, Reval memutuskan untuk menggantikan posisi para pengkhianat itu dengan orang baru yang harus lulus dalam berbagai ujian yang sudah ia persiapkan.
...****************...
Malam itu, udara di markas terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu-lampu gantung memantulkan cahaya kekuningan di sepanjang koridor batu, sementara suara langkah para anggota yang berlalu-lalang terdengar samar dari kejauhan.
Di dalam kamarnya, Dhana duduk di depan meja kayu dengan beberapa lembar catatan terbuka di hadapannya. Tatapannya tertuju pada sebuah flashdisk berisi informasi kecil yang berhasil ia dapatkan selama hampir empat tahun bergabung dengan klan mafia itu. Akan tetapi, pikirannya terus terngiang dengan pengumuman sekaligus fakta yang baru saja ia dapatkan beberapa jam yang lalu.
Tiga hari lagi. Hanya tiga hari sebelum rangkaian ujian dimulai. Ia mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan tubuh ke kursi. Kesempatan itu tidak boleh gagal. Sebab sudah hampir empat tahun sejak misi yang diberikan negaranya terhenti di tengah jalan.
Empat tahun menyamar, menunggu, dan mengumpulkan informasi tanpa bisa menyentuh inti organisasi yang dipimpin Reval. Semua karena ia tidak memiliki akses yang cukup dekat dengan pria itu.
Namun sekarang keadaan berubah. Reval sedang mencari orang-orang baru untuk dijadikan lingkaran kepercayaannya. Dan Dhana tahu, itu adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya.
"Kalau aku berhasil masuk ke lingkaran dalamnya..." gumamnya pelan.
Maka seluruh jalan menuju tujuan yang selama ini tertutup akan terbuka. Dhana segera menarik buku catatan lain dan mulai menuliskan rencana. Mulai dari kemungkinan ujian fisik, ujian strategi dan ujian loyalitas. Kemungkinan besar juga akan ada simulasi lapangan dan evaluasi psikologis.
Ia mencoba mengingat semua informasi yang pernah ia kumpulkan mengenai metode seleksi Reval. Pria itu terkenal tidak mudah percaya pada siapa pun. Bahkan kemampuan bertarung yang hebat tidak akan cukup jika dianggap memiliki niat tersembunyi.
Karena itu Dhana tidak hanya harus terlihat kompeten. Ia juga harus terlihat tulus. Harus tampak seperti seseorang yang pantas dipercaya. Pulpen di tangannya bergerak cepat.
Hari pertama, fokus pada simulasi taktik dan pengambilan keputusan. Hari kedua, memperkuat performa fisik serta latihan tempur jarak dekat. Hari ketiga, mempelajari pola pikir Reval dan kemungkinan skenario ujian loyalitas.
Dhana terus menulis setiap kemungkinan yang akan terjadi. Tidak boleh ada kesalahan. Tidak boleh ada celah yang menimbulkan kecurigaan. Misi negaranya telah tertunda terlalu lama dan ia tidak berniat membiarkan kesempatan ini lolos begitu saja.
...****************...
Di sisi lain markas, jauh di Mansion mewah kediaman Arsenalio yang dijaga ketat, Reval berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya. Kota yang terbentang di kejauhan dipenuhi lautan cahaya malam. Namun pikirannya jauh lebih gelap dibanding pemandangan di hadapannya.
Di atas meja terdapat berkas para kandidat yang akan mengikuti ujian tiga hari lagi. Belasan nama, belasan wajah dan juga belasan kemungkinan pengkhianatan. Reval mengusap pelipisnya, dimana ingatannya tiba-tiba terlempar pada empat tahun lalu ia menerima laporan yang hingga kini masih membekas di benaknya.
Ada seorang agen intelijen yang berhasil menyusup ke organisasinya. Seseorang yang sampai sekarang belum pernah ditemukan. Tidak ada identitas. Tidak ada petunjuk pasti. Seolah orang itu menghilang begitu saja di tengah ribuan anggota dan fakta itu membuatnya semakin sulit mempercayai siapa pun.
"Empat tahun..." gumamnya.
Jika laporan itu benar, maka agen tersebut mungkin masih berada di dalam organisasinya sampai sekarang. Mungkin sedang menunggu, mungkin sedang mengamati atau bahkan mungkin akan ikut dalam seleksi kali ini. Namun, ada kemungkinan besar orang itu sudah mati bersama pengkhianat yang sudah ia bunuh sebelumnya.
“Lebih baik kau memang sudah mati, karena aku tidak akan segan mencabik tubuhmu hidup-hidup jika aku sampai berhasil menemukanmu,” lanjutnya.
Bersambung….