Indonesia
NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26

Metamorfosa

Karina menyimpan kabar kedatangan Cik Anna di kepalanya sambil menekan nomor pada kartu Bu Wanda.

Suara perempuan di seberang terdengar hangat. "Karina? Akhirnya kamu menelepon."

Mereka bertemu dua hari kemudian di sebuah kafe pusat kota. Livia Tanoto tampak hampir sama seperti sembilan tahun lalu, ketika ia pernah mengoreksi tulisan Karina dan berkata bahwa perempuan itu punya sudut pandang yang layak dibaca.

Kini Livia datang bersama seorang anak perempuan berusia enam tahun. Rambut Kiki dikepang dua, tasnya berbentuk kelinci, dan dia langsung menawarkan satu biskuit kepada Karina.

"Mama bilang Tante punya tiga bayi di perut," katanya.

Livia menutup mata. "Kiki, kita sepakat tidak membocorkan informasi dalam lima menit pertama."

Karina tertawa. "Tidak apa-apa. Terima kasih, Kiki."

Anak itu duduk mewarnai di meja sebelah sementara Livia membuka laptop. Di layarnya ada nama Metamorfosa dan rancangan logo menyerupai sayap yang baru terbuka.

"Aku pulang ke Jakarta untuk membangun platform perempuan," kata Livia. "Bukan hanya majalah. Ada konten pertumbuhan, konsultasi karier, jaringan usaha, dan nanti inkubasi bisnis kecil. Bu Wanda bilang kamu baru resign."

"Berita bergerak cepat."

"Kesempatan juga harus begitu." Livia memutar laptop. "Aku butuh orang yang mengerti strategi merek dan bisa menulis tanpa menggurui. Kamu orang pertama yang kuingat."

Karina membaca proposalnya. Selama beberapa bulan pertama, tim akan bekerja kecil dengan sistem proyek. Livia menangani modal awal dan operasional, Karina memimpin konten serta strategi merek, kemudian pembagian saham dibicarakan setelah target pembaca tercapai.

"Aku hamil tiga," Karina mengingatkan. "Jadwalku tidak bisa seperti dulu."

"Aku ibu tunggal yang kadang harus menjemput anak di tengah rapat." Livia menunjuk Kiki yang kini menggambar kupu-kupu ungu. "Kita membangun tempat kerja yang tidak menghukum perempuan karena punya tubuh dan keluarga. Kalau kita sendiri gagal melakukannya, nama Metamorfosa tidak berarti apa-apa."

Kalimat itu menyalakan sesuatu yang sempat padam dalam diri Karina. Ia membayangkan meja kerjanya di Sky Palace bukan sebagai kamar pensiun, melainkan pusat komando kecil.

"Aku mau," katanya. "Tapi semua tanggung jawab dan kepemilikan harus tertulis. Pertemanan tidak menggantikan kontrak."

Livia tersenyum lebar. "Itulah sebabnya aku memilihmu."

Kiki datang membawa gambarnya. Tiga kepompong kecil tergantung di bawah kupu-kupu besar.

"Ini bayi-bayinya Tante," katanya. "Nanti mereka keluar jadi kupu-kupu?"

"Bukan begitu caranya," jawab Livia cepat.

Karina menerima kertas itu dengan hati menghangat. "Tapi mereka memang sedang tumbuh. Tante simpan gambarnya, ya?"

Kiki mengangguk, lalu berbisik seolah menyampaikan rahasia besar. "Kalau Tante rapat dan bayinya capek, Tante boleh tidur. Mama juga kadang tidur setelah kerja."

Livia tampak malu, tetapi Karina justru mengerti bentuk perusahaan yang hendak mereka bangun. Bukan slogan tentang perempuan kuat yang harus sanggup melakukan segalanya, melainkan ruang yang mengakui bahwa kekuatan juga membutuhkan jeda.

Mereka menuliskan pembagian tugas awal di sebuah nota kesepahaman. Karina meminta akses pada data pembaca dan hak persetujuan untuk setiap kampanye yang memakai kisah pribadi perempuan. Livia menambahkan larangan menjual data anggota serta aturan bahwa materi sensitif harus melalui pemeriksaan hukum.

"Kita belum punya kantor," kata Livia.

"Aku punya ruang kerja kosong dan koneksi internet bagus. Tim editorial bisa mulai dari jarak jauh."

"Aku punya dua calon penulis dan satu pengembang situs."

Dalam satu jam, ide yang semula hanya logo berubah menjadi daftar pekerjaan selama tiga bulan. Mereka menentukan sasaran peluncuran, anggaran awal, dan rapat berikutnya. Karina pulang membawa bukan sekadar tawaran, tetapi jadwal pertama dari hidup barunya.

Mereka menelepon Josie melalui video. Sang penata rias berteriak senang ketika mendengar konsepnya.

"Aku urus rubrik gaya, narasumber selebritas, dan jaringan acara," kata Josie. "Tapi jangan paksa aku wawancara Julian. Aku sudah ngefans sama dia sepuluh tahun dan masih ingin menjaga harga diri."

Livia mengangkat alis. "Kamu mengucapkannya terlalu cepat. Mencurigakan."

Josie langsung mematikan kamera dengan alasan sinyal buruk. Karina dan Livia saling pandang, lalu tertawa.

Sepulang dari kafe, Karina menuju kantor kecil milik Nicholas Lim dan Bobby. Nathan mengatakan ada dokumen yang membutuhkan tanda tangannya, tetapi tidak menjelaskan lebih jauh.

Kantor itu menempati dua lantai gedung lama, dipenuhi kabel, layar, dan kotak perangkat. Nick menyambutnya dengan map tebal. Bobby buru-buru mematikan rokok ketika melihat perut Karina.

"Maaf, Ci," katanya sambil membuka jendela.

"Tolong matikan semuanya. Baunya membuatku mual."

Dua pendiri perusahaan itu segera mencari asbak. Nick bahkan menyemprot pengharum sebelum Karina menutup hidung lebih kuat.

"Jangan pakai itu juga," katanya.

Ruangan berubah menjadi operasi darurat. Bobby mengangkut asbak keluar, Nick menyalakan penyaring udara, dan staf lain dilarang merokok satu lantai penuh.

"Nathan benar-benar membuat istrinya manja," gerutu Bobby tanpa niat jahat.

Karina belum sempat menjawab ketika suara Nathan keluar dari speaker ponsel Nick. "Istriku hamil. Aku memang suka memanjakannya. Kenapa?"

Nick menjatuhkan pena. "Istri?"

Bobby berbalik. "Hamil?"

"Kalian lambat sekali," kata Nathan.

Karina merebut ponsel. "Kamu sengaja belum memberi tahu mereka?"

"Aku ingin melihat wajahnya, tapi terpaksa puas dengan suara."

Nick menatap cincin Karina, lalu tertawa keras. "Jadi perempuan rahasia yang membuat Ko Nathan berhenti balapan itu benar-benar istrinya. Selamat, Ci. Kami tadinya kira dia cuma sedang kerasukan tanggung jawab."

"Sekarang jelaskan dokumennya," kata Karina.

Map itu berisi perjanjian investasi. Uang ganti rugi dari pihak Salim setelah insiden balapan akan dimasukkan sebagai modal ke perusahaan teknologi Nick dan Bobby. Sebagai imbalannya, Karina memperoleh sepuluh persen saham atas namanya sendiri.

"Kenapa namaku?" tanyanya kepada Nathan.

"Karena uang itu datang dari mobil yang hampir mencelakaimu juga. Dan perusahaan mereka punya potensi. Aku ingin kamu punya aset yang tumbuh."

"Ini keputusan investasi besar, bukan hadiah ulang tahun."

"Makanya ada valuasi, laporan keuangan, hak informasi, klausul dilusi, dan pengacara. Baca semuanya. Jangan tanda tangan kalau tidak masuk akal."

Karina menghabiskan hampir dua jam memeriksa pasal. Nick menjelaskan penggunaan dana untuk mengembangkan sistem pembayaran dan perlindungan data. Bobby menunjukkan proyeksi pendapatan, kontrak klien, serta risiko arus kas.

Karina menelepon pengacara yang namanya tercantum, memastikan transfer dilakukan dari rekening penampung ganti rugi dan pajaknya tercatat. Setelah satu revisi tentang laporan triwulanan disepakati, barulah ia membubuhkan tanda tangan.

"Mulai hari ini Cik Karina pemegang saham sepuluh persen," kata Nick sambil menjabat tangannya.

Nilainya membuat kepala Karina ringan. Dalam satu pekan, dia berubah dari pegawai yang disingkirkan menjadi calon pendiri platform dan pemilik bagian perusahaan teknologi.

"Kalau rugi, jangan salahkan aku," kata Nathan dari telepon.

"Kalau rugi karena mereka bekerja buruk, aku akan datang ke rapat pemegang saham."

Bobby bersiul. "Ko, istrimu galak."

"Itu salah satu alasan aku menikahinya."

Karina menahan senyum dan memasukkan salinan perjanjian ke tas. Tepat saat ia hendak pulang, pesan dari Mama muncul di layar.

Kami sudah sampai di stasiun Jakarta. Kamu bisa jemput Papa dan Mama sekarang?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!