Roxanna Rasmussen menyerahkan segalanya demi seorang pria yang tak pernah benar-benar mencintainya. Selama tiga tahun ia memainkan peran istri yang setia bagi Alessandro Selenko—konglomerat media dingin yang menikahinya karena keterpaksaan keluarga—sambil menelan setiap penghinaan dengan senyum. Lalu, tepat saat ia mengetahui dirinya mengandung, cinta pertama sang suami kembali... dan Alessandro menyodorkan surat cerai bagai hadiah.
Kali ini, Roxanna tak sudi lagi menjadi perempuan bodoh.
Ia melepas cincin kawinnya, menghilang tanpa jejak, dan memulai hidup baru dari titik nol—hamil, sebatang kara, terdampar di jalanan sebuah kota asing. Di sanalah Chris, pemilik restoran berhati hangat, menemukannya dan menawarkan tempat berlindung yang tak pernah ia dapatkan dalam pernikahannya.
Tapi Roxanna menyimpan satu rahasia yang bahkan tak diketahui pria yang paling ingin menghancurkannya: perempuan yang mereka campakkan ini adalah pewaris sebuah kerajaan bayangan. Dan ketika Sang Imperatrix bangkit dari keterpurukan, semua orang yang pernah meremehkannya akan belajar satu hal—bahwa perempuan yang tak lagi punya apa pun untuk dilindungi adalah lawan yang paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna Brenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alessandro dan Chris
Aurora berada di kediaman mewahnya, berendam dalam bak marmer, dengan segelas wiski di tangannya yang anggun.
Tatapannya kosong menerawang ke dinding, membayangkan wajah Chris di benaknya. Ia mulai merangkai rencana bagaimana caranya membuat mata hijau itu memohon-mohon padanya, memohon perhatian dan cintanya.
Senyum sinis merekah di bibirnya sementara ia berpikir,
"Andai si tolol itu tahu apa yang menantinya. Hahaha. Ah, Chris. Kau akan memohon padaku lagi," pikirnya sembari mengangkat gelas dan menyesap isinya.
Ia menatap bekas luka tipis di perutnya. Rasa jijik menyergapnya, dan pikirannya melayang ke kenangan masa lalu.
Bertahun-tahun sebelumnya
"Dokter, keluarkan benda ini dari dalam tubuhku, cepat!" teriak Aurora, meronta di atas ranjang rumah sakit, sesaat sebelum melahirkan.
Sang dokter, gugup di ruangan yang penuh pria bersenjata, bekerja dengan cekatan untuk mengeluarkan bayi itu.
Ketika bayi laki-laki itu lahir dengan tangisan, masih terbungkus plasenta utuh, dokter melepaskannya dengan hati-hati.
Aurora, yang saat itu jauh lebih muda, menatap bayi itu dan, dengan wajah jijik, berteriak, "Bunuh dia!"
Salah seorang pria bersenjata ragu sesaat, lalu mengangguk dan membawa bayi yang baru lahir itu, mematuhi perintah tanpa bertanya.
Aurora mendengar suara tembakan dan tersenyum, percaya bayi itu telah tewas, tanpa penyesalan atau keraguan sedikit pun atas keputusannya.
Sementara itu, sang dokter, yang masih terguncang oleh kekejaman perempuan itu, menjahit bekas operasi caesar.
Yang tak diketahui Aurora adalah bahwa si pria kekar itu tak membunuh bayinya, melainkan menyerahkannya pada seorang perempuan yang kebetulan melintas, memberinya sejumlah besar uang untuk menghilang bersama bayi itu.
Untuk menutupi perbuatannya, pria itu menemukan bangkai kucing dan melumuri bajunya dengan darah hewan itu, berpura-pura telah membunuh sang bayi.
Ketika ia masuk kembali ke ruangan dan Aurora melihat darah itu, perempuan itu tersenyum, merasa menang.
Bertahun-tahun kemudian, Aurora merasa tak tergoyahkan dalam rencananya mengendalikan Chris dan menghancurkan hidup Roxanna. Ia perempuan yang berkuasa dan manipulatif, terbiasa selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, dan takkan membiarkan Roxanna mengganggu ambisinya menguasai Chris.
* * *
Di kota Redshore, suasana terasa tegang di dalam rumah megah yang dulu pernah menjadi tempat tinggal Roxanna dan Alessandro.
Dekorasinya memancarkan kemewahan, dengan perabot mahal dan karya-karya seni yang menceritakan kisah masa lalu yang gemerlap. Namun, saat itu, atmosfernya sarat intrik dan keputusan-keputusan sulit.
Violet duduk di ruang tamu, dikelilingi nuansa hangat dan menenangkan, tapi tatapannya mantap dan penuh tekad.
Di sisinya, Melissa berbicara dengan intensitas seseorang yang paham betul permainan hati.
"Bagus. Kau harus menekannya," ujar Melissa, suaranya bergaung bagai gema dari keyakinannya pada Violet. "Perempuan tak berguna itu tak pernah pantas untuknya. Tapi kaulah yang punya cintanya. Dia hanya marah karena harga dirinya terluka. Aku tahu dia menyukai perempuan yang bisa menegaskan diri. Kau menggenggamnya di tanganmu, jadi manfaatkan itu. Jangan kecewakan aku."
Violet mendengarkan dengan saksama, tapi sikapnya tak kenal kompromi.
"Tidak. Aku tak akan melakukannya," jawabnya dengan suara tegas dan mantap. "Kalau dia pikir bisa membuangku begitu saja, putramu salah besar. Aku tidak sebodoh Roxanna itu." Kata-katanya bagai maklumat kekuatan dan kepercayaan diri.
Keduanya bersulang dengan gelas jus segar, merayakan tekad Violet sementara matahari mulai terbenam, memancarkan cahaya keemasan lewat jendela.
Namun, di atas mereka, di lantai atas kediaman itu, Heitor, rekan dalam permainan nakal mereka, berada di kamar Violet. Ia telah menjadi kehadiran tetap dalam hidup Violet, terlebih kini setelah Alessandro tak lagi pulang ke rumah.
Kamar itu menjadi tempat pelarian pribadi bagi Violet dan Heitor, yang menikmati rumah itu layaknya sepasang kekasih.
* * *
Hari mulai terang, dan sinar matahari menyusup lewat jendela-jendela apartemen Chris, menciptakan suasana yang hangat dan penuh semangat.
Chris meregangkan tubuhnya perlahan, merasakan energi pagi mengalir ke sekujur tubuhnya. Setelah mandi cepat dan sarapan sederhana, ia mengenakan pakaiannya, simbol dedikasinya pada restoran yang begitu ia cintai.
Dengan senyum tipis di wajah, Chris membuka pintu apartemennya dan menarik napas dalam-dalam, merasakan kesegaran pagi. Ia tak sabar memulai hari kerja baru, penuh harapan dan resep-resep baru untuk dicoba.
Saat menutup pintu di belakangnya, ia tak menyangka dengan apa yang menantinya.
Tepat di hadapannya, di depan pintu apartemen sebelah, berdiri Alessandro. Pria itu tampak berwibawa, dengan kehadiran yang seakan mendominasi ruang di sekelilingnya. Chris ragu sejenak, terkejut menemukan seseorang begitu dekat di jam sepagi ini.
"Baru di gedung ini?" tanya Chris, mencoba memulai percakapan ramah.
Alessandro menatap Chris dengan raut serius dan menjawab,
"Ya. Aku datang menjemput istriku. Dia bersama pria lain."
Kata-kata Alessandro jatuh bagai bom di udara antara mereka. Chris tercekat sejenak, mencerna beratnya pengakuan itu.
"Aku mengerti," akhirnya ia berkata, suaranya diwarnai simpati. "Dia pergi terpaksa atau memang mau ikut pria lain itu?"
"Aku sedang bepergian untuk urusan bisnis, kami tengah merencanakan punya anak, lalu dia meneleponku dan keluar rumah bilang mau ke supermarket," Alessandro menjelaskan, suaranya sarat frustrasi. "Dia tak pernah kembali, padahal pernikahan kami tak punya masalah. Kami saling mencintai sejak kuliah. Ada yang bilang dia berada di kota ini, dan aku langsung bergegas datang."
Chris merasakan gelombang iba pada pria di hadapannya.
"Kalau kau mencintainya, perjuangkan dia," ujarnya lembut. "Kalau dia mencintaimu dan tahu kau berusaha mendapatkannya kembali, pasti dia akan mengerti ke mana hatinya berlabuh."
Alessandro menatap mata Chris untuk waktu yang lama, seolah menimbang apa yang baru didengarnya.
Ia tahu kata-kata Chris ada benarnya. Bedanya, ia tahu Roxanna sudah tak mencintainya lagi, dan itu hanya menambah amarah dalam dirinya.
"Aku tahu itu," jawab Alessandro, dengan nada yang bercampur antara kesombongan dan kemarahan.
Ketegangan menggantung di antara mereka sementara Chris melirik arlojinya dan menyadari sudah waktunya menyudahi percakapan yang pelik ini.
"Baiklah, aku pamit dan semoga berhasil dengan istrimu," ujarnya ramah. "Kau tampak seperti pria berkarakter dan terhormat. Dan atas apa yang kau lakukan untuk istrimu, kau pantas berbahagia."
Sembari melangkah menuju tangga yang mengarah ke lantai bawah gedung, Chris tak menyadari efek yang ditimbulkan kata-katanya pada Alessandro.
Pujian sederhana itu menghantamnya bagai anak panah.
Entah bagaimana, ia merasa gentar oleh ketulusan dan kejujuran pria yang tampak begitu murni dalam kebaikan dan tekadnya itu.
Pada saat krusial itu, Alessandro bergulat melawan perasaannya sendiri, perasaan bahwa dirinya tak cukup baik.
Entah bagaimana, ia merasa Chris jauh lebih baik darinya.
Tapi ia tak mau menerima itu, sebab ia kaya, didambakan, dan pria paling diincar di seluruh negeri.
Ia menatap Chris yang menjauh, dan gelombang murka membuncah dalam dirinya.
Bagaimana mungkin ia kalah dari seseorang yang ia anggap "orang miskin malang", pemilik restoran reyot itu?
Gagasan itu membakarnya sementara ia tetap terpaku di depan pintu apartemennya, dikepung pikiran-pikiran kelam tentang saingannya.
Roxanna harus kehilangan Chris. Hanya dengan begitu, Alessandro akan menjadi satu-satunya orang yang ia miliki dalam hidup.
Chris menuruni tangga tanpa menoleh ke belakang, tenggelam dalam pikirannya sendiri tentang hari yang baru dimulai, tanpa menyadari bahwa kata-katanya telah menanamkan benih persaingan di hati pria berkuasa dan berhati kalut itu.