Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.
Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.
Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.
Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?
"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Malam memeluk kawasan pelabuhan tua di pinggiran ibu kota dengan aura yang mencekam. Angin laut yang membawa uap garam menghembus kasar, mengibarkan mantel hitam tebal yang dikenakan Alvan Samudra. Bau besi berkarat, air laut yang asin, dan kayu lapuk mengendap pekat di udara malam yang dingin.
Di hadapannya, berdiri sebuah gudang tua bernomor 07 dengan atap seng yang sudah terkoyak. Lampu jalan yang remang-remang memancarkan cahaya kekuningan yang bergetar, menciptakan bayangan-bayangan panjang di atas permukaan tanah basah yang tergenang air hujan.
Di belakang Alvan, Bima berdiri siaga dengan tangan kanan yang tak pernah menjauh dari balik jasnya.
TAK! TAK! TAK!
Suara langkah kaki bergelombang memecah kesunyian dermaga. Dari balik kegelapan lorong peti kemas yang bertumpuk, melangkah keluar sosok Reno.
Pria itu mengenakan jaket kulit hitam dengan topi pet melingkar tebal di kepalanya. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah koper kain tebal berwarna hitam, sementara tangan kirinya berada di dalam saku jaket.
Senyuman licik dan sombong terukir jelas di wajah Reno saat ia melihat Alvan berdiri seorang diri di tengah lapang dermaga.
"Punctual seperti biasa, Tuan Alvan," suara Reno mengalun tenang, diiringi tawa kecil yang sarat akan kemenangan semu. "Saya sangat menghargai komitmen Anda untuk menyelamatkan nama baik wanita tercinta Anda."
Alvan tidak bergeming. Matanya yang tajam menyipit bagaikan elang yang sedang menghitung jarak untuk menerkam mangsanya. "Mana barang yang kamu janjikan, Reno?"
Reno menepuk-nepuk koper hitam yang dipegangnya dengan bangga. "Di dalam sini... ada sebuah harddisk eksternal forensik yang berisi rekaman video sudut tajam dari kamera mikro taman luar mansion pada malam 14 November lalu. Rekaman yang secara jelas memperlihatkan Elena keluar dari pintu belakang dengan darah Roy di bajunya, sepuluh menit sebelum Andira tiba."
"Dan dokumen pernyataan resmimu bahwa bukti transfer lima puluh miliar itu adalah rekayasa?" potong Alvan dingin.
Reno terkekeh pelan. "Ada di dalam sini juga. Tapi tentu saja... transaksi ini berprinsip ada uang, ada barang. Mana tiga puluh miliar rupiah secara tunai dan surat pengangkatan saya sebagai Direktur Operasional Samudra Group?"
Bima melangkah satu tindak ke depan, meletakkan dua koper besi berukuran besar di atas permukaan tanah basah. Bima membuka kedua koper tersebut, menampilkan tumpukan pecahan uang ratusan ribu rupiah yang rapi beserta lembar surat keputusan direksi berstempel basah.
Mata Reno berkilat penuh keserakahan saat melihat kilatan tumpukan uang dan lembar kekuasaan itu. Ia melangkah mendekat dua langkah, hendak meraih koper besi tersebut.
"Tunggu," tahan Alvan dengan suara rendah yang mengintimidasi, menghentikan langkah Reno di tempat. "Serahkan harddisk itu terlebih dahulu agar Bima bisa mengonfirmasi keaslian datanya."
Reno menyipitkan matanya. Kewaspadaannya sebagai seorang penjahat yang licik mendadak bergetar. "Jangan mencoba bermain-main denganku, Alvan! Kamu pikir aku bodoh?! Kamu memberikan uangnya dulu, baru barang ini menjadi milikmu!"
"Kamu yang bermain-main dengan saya sejak awal, Reno," bisik Alvan dengan aura membunuh yang begitu pekat.
BZZZZZZT!
Seketika itu juga, lima set lampu tembak berdaya tinggi yang terpasang di atas peti kemas sekeliling dermaga mendadak menyala secara serentak! Cahaya putih menyilaukan membakar kegelapan malam, mengunci posisi Reno tepat di tengah lapang terbuka dermaga tua.
WHIRRRRR!
Deru mesin empat mobil taktis hitam milik tim kepolisian dan Kejaksaan Tinggi meluncur deras dari balik sudut gudang, memblokir seluruh jalur melarikan diri.
Puluhan petugas berseragam lengkap dengan rompi antipeluru dan senjata laras panjang melompat keluar, membidikkan senjata mereka lurus ke arah Reno!
"JANGAN BERGERAK! KEPOLISIAN! ANGKAT TANGANMU, RENO ADHIWIJAYA!" teriak Komandan Polisi dengan pengeras suara yang menggelegar di seluruh penjuru dermaga.
Mata Reno membelalak hebat. Koper kain di tangannya terlepas dan jatuh ke tanah. Wajahnya yang tadinya dipenuhi keangkuhan kini berubah menjadi pucat pasih bagaikan mayat.
"Alvan... kamu... kamu menjebakku?!" jerit Reno histeris, melangkah mundur dalam kepanikan luar biasa.
Detektif Hendra melangkah keluar dari balik mobil taktis utama, memegang sebuah megafon dengan tawa dingin yang memotong angin malam.
"Apartemen SkyLine Tower, Unit 1804, Serpong," kata Detektif Hendra dengan suara mantap. "IP address tempatmu mengunggah bukti transfer palsu Andira sudah kami amankan bersama seluruh peralatan tasmu dua jam yang lalu, Reno! Permainanmu sudah berakhir!"
Reno menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam kuburannya sendiri. Keserakahannya telah memancingnya keluar dari persembunyian langsung ke dalam cengkeraman sang algojo.
Namun, seorang ular yang terpojok tidak akan menyerah tanpa melontarkan bisikan beracun terakhirnya.
Dalam keputusasaan yang membakar, Reno bergerak kilat. Tangan kirinya dari dalam saku jaket menarik sebuah pisau lipat taktis bergerigi yang berkilat tajam di bawah sorot lampu tembak.
Ia berbalik secara mendadak, menerjang salah satu pengawal pribadi Alvan yang berdiri paling dekat di sudut peti kemas, mencengkeram leher pengawal itu dari belakang, dan menempelkan mata pisau yang tajam tepat di kulit leher sang pengawal!
"MUNDUR! MUNDUR SEKALIAN ATAU AKU GOROK LEHER DIA SEKARANG JUGA!" jerit Reno histeris, matanya memerah penuh kegilaan mendalam.
Para petugas polisi menahan tembakan mereka, mengatur jarak aman seraya tetap membidikkan senjata. Suasana di dermaga tua itu mendadak menjadi tegang luar biasa, berada di ambang pertumpahan darah.
"Reno! Lepaskan dia!" bentak Bima memajukan tubuhnya.
"Diam kamu, Bima!" teriak Reno, darah menetes dari pegangan tangannya yang terlalu kencang mencengkeram pisau. "Kalian pikir kalian sudah menang?! Kalian pikir aku bertindak sendirian?!"
Alvan tidak melangkah mundur satu senti pun. Ia melangkah maju dengan tenang, menatap lurus ke dalam mata Reno yang gemetar panik.
"Sebutkan siapa yang membayarmu, Reno," kata Alvan dengan suara yang dingin dan stabil. "Sebutkan nama wanita itu di hadapan petugas polisi sekarang juga."
"Elena!" jerit Reno tanpa ragu, memecah keheningan malam dengan pengakuannya yang meledak-ledak. "Elena Rahardian yang menyuruhku! Dia yang meneleponku dari dalam sel menggunakan ponsel rahasia! Dia menyuruhku meretas server perbankan tua dan membuat rekayasa transfer lima puluh miliar ke rekening lama Andira agar Andira terlihat sebagai komplotannya!"
Para petugas polisi dan jaksa penuntut yang merekam kejadian tersebut mencatat setiap kata dari pengakuan Reno secara langsung. Pengakuan ini adalah martil terakhir yang secara resmi akan memutus harapan Elena di persidangan!
"Kamu sudah mendengar pengakuannya sendiri, Reno," bisik Alvan dengan langkah kaki yang makin mendekat. "Kamu hanyalah alat yang dibuang. Lepaskan pisau itu."
"Tidak! Aku tidak mau membusuk di penjara!" jerit Reno liar.
Reno mengayunkan pisaunya secara mendadak ke arah mata Alvan saat Alvan berada cukup dekat!
SWOOSH!
Alvan refleks memiringkan kepalanya ke kiri, menghindari sabetan mata pisau yang hanya berjarak beberapa milimeter dari pipinya. Dengan kecepatan dan kekuatan fisik yang luar biasa, Alvan mencengkeram pergelangan tangan Reno yang memegang pisau, lalu memutarnya secara mendasar!
CRACK!
"AAAGHHH!" jerit Reno kesakitan saat tulang pergelangan tangannya dipatahkan oleh genggaman besi Alvan. Pisau lipat itu terlepas dan jatuh berkeping-keping ke atas tanah.
Alvan melepaskan pengawal yang disandera, lalu menghantamkan pukulan keras menggunakan siku tangannya tepat ke rahang Reno!
DUGH!
Tubuh Reno terlempar menghantam peti kemas besi sebelum akhirnya tersungkur jatuh ke tanah basah, terbatuk-batuk mengeluarkan darah.
Bima dengan sigap berlari menerjang dan mengambil koper hitam milik Reno yang tergeletak di tanah. Bima menggeledah isinya, lalu mengangkat sebuah harddisk eksternal berwarna perak yang masih utuh.
"Tuan Alvan! Harddisk rekaman CCTV asli ada di sini!" seru Bima dengan napas leganya.
Alvan menerima harddisk tersebut, meremasnya kuat dalam genggamannya. Bukti mahkota malam pembunuhan Roy, bukti yang akan membersihkan nama Andira secara absolut di mata hukum dan dunia, kini akhirnya berada di tangannya!
Dua orang petugas polisi berseragam tegap melangkah maju, menekan tubuh Reno yang lemas ke tanah basah dan memborgol kedua tangannya ke belakang dengan rantai baja yang kuat.
Detektif Hendra melangkah mendekat, menatap Reno yang kini tergeletak tak berdaya dengan darah mengalir dari sudut bibirnya.
"Bawa dia ke tahanan markas besar," perintah Detektif Hendra pada anak buahnya. "Pastikan dia tidak memiliki akses komunikasi apa pun sampai persidangan besok pagi."
Namun, saat para petugas mengangkat tubuh Reno untuk menyeretnya masuk ke dalam mobil tahanan, Reno mendadak tertawa histeris. Tawa sumbang dan memekakkan telinga yang membuat seluruh petugas di dermaga menoleh kaget.
Reno mendongakkan kepalanya, menatap Alvan yang berdiri menjulang di bawah sorot lampu tembak.
"Kamu merasa sudah menang, kan, Alvan?!" teriak Reno dengan suara parau yang menyayat angin malam yang dingin. "Kamu pikir dengan mengambil harddisk itu dan menangkapku, kamu sudah menyelamatkan Andira?!"
Alvan menyipitkan matanya, menghentikan langkah kakinya.
"Dengarkan aku, Alvan Samudra!" jerit Reno dengan mata membelalak penuh teror dan rasa dengki yang mendalam. "Bukan cuma Elena yang membayarku! Elena hanyalah perantara! Ada orang yang lebih tinggi yang menyuruhku menghancurkan Andira sejak awal!"
Udara di dermaga tua itu mendadak terasa membeku seketika.
Alvan melangkah cepat mendekati mobil tahanan, mencengkeram kerah baju tahanan Reno dengan satu tangan. "Siapa orang itu?! Sebutkan namanya, Reno!"
Reno menyunggingkan senyuman miring yang mengerikan dari balik bibirnya yang berdarah, membisikkan kata-kata terakhirnya tepat di hadapan wajah Alvan sebelum pintu mobil tahanan dibanting tutup oleh petugas.
"Orang yang menyuruhku... adalah orang yang sama yang memegang kunci brankas rahasia di bawah lantai mansion utamamu... Orang yang menyuruhku membunuh Roy jika Roy tidak mau menyerahkan dokumen 'S' itu padanya!"
BRAK!
Pintu mobil tahanan tertutup rapat, dan mobil polisi melaju kencang meninggalkan dermaga tua dengan sirine yang meraung-raung membelah kegelapan malam.
Alvan mematung di tengah lapang dermaga. Tangannya yang memegang harddisk CCTV asli gemetar hebat.
Kebenaran yang sesungguhnya kini makin dekat dan makin mematikan. Sosok berinisial 'S', sang dalang utama yang sebenarnya memerintahkan penyingkiran Roy dan pengancaman atas hidup Andira, kini sedang menunggu mereka di dalam rumah mereka sendiri!
...----------------...
To Be Continue ....