BANGKIT TANPA WARISAN.
Pemuda jenius terlahir tanpa dantian. di hina dan di hianati. pada suatu hidup dan mati ia baru menyadari diri nya telah merubah jantung di dada nya hingga menjadi jantung abadi. semua itu karena tekat nya hingga membuat rasa takut yang menghiasi hidup nya menjadi Entitas yang tidak berbentuk. hingga menyatu dengan jantung di dada nya. membuat jantung itu dikenal sebagai jantung dao yang tak terhancurkan,
kini jantung dao yang tak terhancurkan itu menggantikan dantian yang tidak ia miliki, dengan jantung dao yang tak terhancurkan, dia mampu bangkit dengan menginjak lautan darah musuh yang menghalangi jalan menjadi yang tak terkalahkan.
👉👉Tolong baca dulu sampai 10 bab, jika tertarik terimakasih. jika tidak pun terimakasih telah membantu karya ini meski tidak sebaik yang lain 🙏🙏🙏 Saya doakan kalian pada sehat, Amiin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarmadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23, 3800 musuh menyerang yefan yang hanya seorang diri
Melihat Serangan diam-diam itu melesat cepat, mengarah tepat ke hadapan Yefan tanpa memberi waktu sedikit pun bagi diri nya untuk bereaksi atau memblokirnya. Terlebih lagi, kini Yefan telah berstatus sebagai tuan nya—membuat Jiun Yi diliputi murka yang membakar. Bukankah tindakan lancang ini sama saja dengan menampar wajahnya sebagai Tuan Muda Keluarga Ji yang terhormat?
"Kurang ajar! Dasar pengecut! Beraninya kalian menyerang secara diam-diam!" teriak Jiun Yi menggema ke segala penjuru.
"Tuan Muda Jiun Yi, seorang bangsawan terhormat dari Keluarga Ji... aku tidak menyangka Anda sudi menjadi pesuruh seorang pendosa," ucap seorang pria paruh baya yang perlahan melangkah keluar dari udara tipis di atas langit.
Xijing Li... Tetua Keluarga Xi, kultivator Puncak Transenden! gumam Jiun Yi, menggertakkan gigi karena marah.
"Hahaha... ya, ini aku," balas Xijing Li dengan senyum meremehkan.
"Untuk apa kedatangan anda kemari dengan niat memusuhi kami?!" bentak Jiun Yi.
Mendengar bentakan dari pemuda arogan itu, Xijing Li menyipitkan mata. Jelas ia sangat tersinggung oleh kesombongan Jiun Yi, dan sekelebat niat membunuh sempat melintas di pupil matanya yang keruh. Namun, ia lekas menahan diri dan memasang senyum tipis yang di paksakan di wajah tuanya.
"Tentu saja kedatangan ku kemari bukan untuk bermusuhan dengan Tuan Muda Jiun Yi, atau menyinggung Keluarga Ji yang terhormat," ucapnya sambil membungkuk sopan. "Namun, hamba datang demi pria bermarga Ye itu," lanjutnya seraya menatap tajam ke arah Yefan, yang sedari tadi masih fokus mengamati bilah pedang di genggamannya. seolah tidak menganggap serius pihak yang menyerang nya barusan.
"Keparat! Beraninya anda bertindak lancang hendak menyentuh orang yang berada di sisiku!" geram Jiun Yi, sementara niat membunuh yang pekat memancar dari sekujur tubuhnya.
"Haha... sepertinya Tuan Muda Jiun Yi bersikeras hendak melindungi seorang pendosa, bahkan setelah tahu ia adalah buronan nomor satu di Kota Kekaisaran," sahut suara lain.
Seorang paruh baya lainnya perlahan muncul dari celah udara, membawa gelombang tekanan Alam Roh Awal yang mengerikan. Tekanan itu menimpa tubuh Jiun Yi seketika, membuat tungkainya terasa berat dan sedikit bergetar.
Bai Feng, Penjaga Kiri Keluarga Bai! gumam Jiun Yi, terkejut.
Namun, belum cukup sampai di situ. Puluhan aura kuat dari tingkat Awal hingga Puncak Transenden bergegas mendekat dari kejauhan.
Wusss! Wusss! Wusss!
Desiran angin kencang menderu, membuat pedalaman Hutan Belantara Timur yang terkenal berbahaya itu bergetar hebat di bawah tekanan ratusan sosok yang memancarkan niat membunuh ke segala arah.
Wusss! Wusss!
Dalam sekejap, mereka tiba dan berbaris rapi mengelilingi area tempat Yefan berada. Perlengkapan perang mereka seragam: tombak, perisai, serta baju zirah perak yang di penuhi goresan senjata tajam yang menutupi seluruh tubuh mereka. Jelas mereka adalah pasukan elit Keluarga Yujin yang telah menempa diri melalui pertempuran bertahun-tahun lamanya. Di lubuk tulang mereka, tak ada rasa gentar—yang tersisa hanya naluri bertempur dan kesiapan menyambut kematian di medan perang.
Boom!
Tiba-tiba, sebuah aura yang jauh lebih mendominasi melintasi langit secepat kilat, membelah awan tebal hingga membentuk jurang panjang yang tak bertepi.
Semua orang terkejut. Mereka bisa merasakan niat peperangan yang luar biasa pekat; bahkan hanya dari auranya saja, awan hitam yang menghiasi langit robek sedemikian rupa.
Bomm!
Sosok seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun muncul di tengah-tengah ratusan prajurit berzirah perak tanpa ekspresi. Kehadirannya menebarkan hawa dingin yang menusuk tulang, bersumber dari aura pertempuran tak kasat mata yang meruap dari tubuhnya. Orang-orang di sekitar secara tidak sadar melangkah mundur, didorong oleh rasa gentar yang merayap di lubuk jiwa.
"Hormat kami kepada Komandan!" teriak para prajurit serempak dengan antusias begitu melihat sosok yang mereka puja tiba. Gemuruh suara itu mengguncang seisi hutan.
Melihat kedatangan sang komandan beserta delapan ratus prajurit elit di bawah komandonya, nyali Jiun Yi menciut seketika. Sikap sombongnya sebagai Tuan Muda Keluarga Ji lenyap. Lewat indra spiritualnya, ia bisa merasakan puluhan sosok lain masih mengintai dari kejauhan—jumlahnya terus bertambah hingga menyerupai lautan manusia.
Tiga ribu kultivator datang secara bersamaan hanya untuk menangkap Yefan? Apakah Ayah benar-benar tidak akan bertindak? gumam Jiun Yi dalam hati merasa gentar, sambil menatap perahu kertas di telapak tangannya. Lalu, untuk apa Ayah menyuruhku mengikuti perintah Yefan jika pada akhirnya membiarkan pemuda ini berjuang sendirian?
Jika situasinya seperti ini... apakah Yefan sanggup menghadapi tiga ribu kultivator dari berbagai faksi? Meskipun ia memiliki Kuas Bertinta Hitam dan pedang yang baru saja ia tempa... lanjutnya dengan tubuh gemetar.
Tentu saja, Jiun Yi tidak khawatir nyawanya akan terancam meski berdiri di pihak Yefan. Para faksi itu tidak akan berani menyentuhnya kecuali mereka siap menanggung murka dan pembalasan mutlak dari Keluarga Ji.
"Hahaha... Ternyata Komandan Qiong Qi dari Keluarga Yujin yang datang," ucap Bai Feng, Xijing Li, serta puluhan master dari berbagai faksi secara bersamaan. Mereka membungkuk memberi hormat lalu sedikit menarik diri.
Mereka tahu diri klan mereka tidak bisa di bandingkan dengan keluarga yujin.
jadi dengan hormat mereka memberikan muka kepada sosok menakutkan seperti Komandan Qiong Qi agar bergerak lebih dulu untuk berurusan dengan Yefan, meskipun mereka sendiri datang atas perintah patriark masing-masing untuk meringkus buronan itu.
Menanggapi hal tersebut, Komandan Qiong Qi hanya melirik mereka acuh tak acuh.
Yefan sedikit menyipitkan mata. Ia mengamati aura peperangan yang memancar secara alami dari tubuh Komandan Qiong Qi, membuat udara di sekitar pria itu bergelombang seolah takut pada kebuasan yang tak kasat mata tersebut.
Meskipun tingkat kultivasinya sendiri masih berada di Alam Roh Tahap Awal, Yefan bisa langsung merasakan bahwa komandan perang di hadapannya ini bukanlah karakter biasa. Ia tidak pernah menilai kekuatan seseorang hanya dari basis kultivasinya—bukankah dirinya sendiri yang berada di tingkat Transenden Awal mampu menumbangkan kultivator Alam Roh?
"Apakah kau pemuda bermarga Ye itu yang berani mengusik Keluarga Yujin kami?!" bentak Wakil Komandan sambil mengibarkan bendera perang berkarakter Yujin Huo, yang dipenuhi bekas sayatan senjata tajam.
Melihat anggota Keluarga Yujin yang sekadar bawahan berani membentak Yefan di hadapannya—seolah sama sekali tidak menghormatinya—Jiun Yi bernapas dengan cepat, bersiap melontarkan makian. Namun, sebuah lambaian tangan dari Yefan menghentikannya. Bagi Yefan, meladeni anjing pesuruh dengan makian bukanlah gaya nya.
Melihat isyarat tersebut, Jiun Yi tertegun kaku. Wajahnya berganti warna antara merah dan hijau menahan amarah. Di satu sisi ia kesal pada musuh, namun di sisi lain Yefan secara terang-terangan menyuruhnya diam di hadapan para petinggi faksi besar, membuatnya semakin kehilangan muka. Padahal, ia sedang berusaha membela yefan meski tidak secara langsung.
Meski mengetahui hal tersebut, Yefan sama sekali tidak menggubris gejolak emosi Jiun Yi.
Wusss!
Dengan wajah tanpa ekspresi, Yefan melayang ke udara, berdiri sejajar dengan barisan musuh. Ribuan pasang mata kini tertuju padanya. Namun, dengan diri nya yang telah tidak memiliki rasa takut di dalam hidup nya.
yefan sama sekali tidak gentar oleh ribuan musuh yang memiliki niat membunuh pada nya.
yefan hanya tersenyum menatap barisan mereka dengan senyuman penuh makna. Kematian sang ibu dan berbagai kepahitan hidup terukir dalam senyuman tipis yang tampak anggun di mata orang lain. Namun, di balik keanggunan itu, tersimpan niat membunuh yang mematikan.
Melihat Yefan tidak menjawab dan justru bersikap arogan dengan senyuman nya, salah satu prajurit di bawah wakil komandan murka.
"Keparat! Kau berani bersikap sombong di hadapan Wakil Komandan k—!"
Namun, sebelum kalimat itu tuntas...
"Mati," ucap Yefan dingin sambil meletakan satu tangan di belakang.
Bomm!
Seketika, entitas tak berbentuk menyelimuti tubuh prajurit berzirah perak tersebut, lalu meledakkannya menjadi kabut darah. Belum sempat serpihan daging itu terserap oleh energi langit dan bumi untuk bereinkarnasi di kehidupan selanjutnya, entitas tak berbentuk yang diciptakan Yefan—sebuah kekuatan yang menentang segala aturan hukum alam, bahkan langit itu sendiri, secara paksa menghapus eksistensi prajurit tersebut dari muka bumi. Tak akan ada reinkarnasi baginya.
"Hah...?"
Semua orang yang menyaksikan kejadian mengerikan itu terkesiap, termasuk Komandan Qiong Qi. Desas-desus tentang kemampuan aneh buronan Keluarga Yujin ini ternyata bukan sekadar bualan muda-mudi di kedai teh!
Kini, setelah menyaksikannya dengan kepala mata mereka sendiri—di mana seorang prajurit musuh lenyap tanpa sisa dan mustahil bereinkarnasi—punggung mereka mendadak dingin.
Pantas saja Penatua Yanfeng tak berkutik di hadapan pria aneh itu, bahkan setelah mengerahkan esensi langit dan bumi untuk bertahan... gumam Xijing Li, yang langsung disusul anggukan setuju dari para master faksi lain.
Komandan Qiong Qi menyipitkan mata. Berdasarkan laporan intelijen Keluarga Yujin, Yefan seharusnya terluka parah akibat pertempuran sebelumnya melawan Penatua Yanfeng. Itulah mengapa ia sangat yakin bisa meringkus Yefan tanpa harus mengorbankan banyak prajurit.
Tapi... apa ini? Apakah luka separah itu bisa pulih hanya dalam waktu enam belas hari? Mustahil! Luka separah itu setidaknya membutuhkan waktu sebulan penuh untuk pulih total, pikir Qiong Qi. Sungguh akting yang luar biasa. Dia bisa tetap tenang di tengah kepungan ribuan kultivator, bahkan menunjukkan dominasi mutlak lewat satu serangan pembunuhan. Qiong Qi menyimpulkan bahwa Yefan sedang bersiasat untuk meruntuhkan mental pasukannya. dengan begitu para musuh akan mengalihkan perhatian pada tubuh nya yang sedang terluka.
Benar saja, kematian rekan mereka secara mengerikan sempat membuat mental para prajurit berzirah perak goyah. Selama bertempur di medan perang, mereka belum pernah menemui musuh seaneh ini; mereka bahkan tidak tahu cara melawan atau menangkis teknik tak terlihat yang digunakan sang buronan di hadapan mereka.
komandan Qiong qi, tidak menyadari bahwa yefan telah pulih dari luka pertempuran sebelum nya dengan panatua yanfeng.
Melihat barisannya mulai kehilangan mental sedikit demi sedikit, Wakil Komandan yang berada di Alam Roh Awal segera mengibarkan bendera perang sambil berteriak lantang:
"Jangan gentar meski nyawa kita di ujung tanduk! Sekalipun kita mati, nama kita akan abadi di jajaran para pahlawan Keluarga Yujin! Kita mati membawa kehormatan yang akan dikenang oleh Patriark Yujin Huo!" teriaknya membakar semangat.
Mendengar nama Yujin huo yang mereka sembah, akan menghormati balik jika mereka mati di dalam Medan perang membuat moral seluruh pasukan kembali bangkit.
Bagai disuntik darah ayam, semangat para prajurit kembali membara.
"Bunuh! Bunuh! Bunuh!" teriak mereka serempak.
Komandan Qiong Qi tersenyum tipis melihat kelihaian wakilnya dalam membangkitkan mental pasukan hanya dengan beberapa patah kata.
Yefan hanya tersenyum dingin, membiarkan gelombang niat membunuh itu terarah sepenuhnya kepada dirinya.
"Bentuk Tiga Formasi! Serang bersamaan! Jangan pernah remehkan musuh, meski seekor semut musuh kita!" perintah Wakil Komandan menggelegar.
"Baik! Serang! Serang! Serang!"
Wusss! Wusss! Wusss!
Delapan ratus prajurit bergerak serempak, melepaskan gelombang aura pertempuran yang meratakan jajaran pepohonan di bawah mereka.
Melihat dirinya dikepung dari segala arah dalam formasi segitiga yang menutup seluruh jalur pelarian, Yefan tetap berdiri tanpa ekspresi. Perhatiannya tertuju sepenuhnya pada pedang baru di genggamannya.
"Kebetulan sekali... aku sangat ingin menguji ketajaman pedang yang baru saja kutempa ini," gumam Yefan dingin, lalu melirik sekilas ke arah delapan ratus prajurit yang menerjang kearah nya. serta 3000 kultifator yang memiliki niat permusuhan dengan nya yang mengamati dari kejauhan, "Keluarga Yujin, ya? Kalian yang telah menghina ibuku... Yujin... Yujin Huuuoooo.... triak nya menggelegar di penuhi niat membunuh.
Boom!
Aura beringas meledak dari tubuh Yefan. Langit yang tadinya cerah seketika tertutup awan hitam pekat berenergi yin. menebarkan ancaman maut bagi siapa saja yang berani menantangnya. Sontak, orang-orang di kejauhan mundur serempak dengan rasa ngeri yang tampak di wajah mereka.
namun, komandan Qiong qi tetap berdiri di tempatnya, mengamati Yefan dengan kening berkerut. Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh korosi aura yin, yang menyelimuti nya.
Sementara itu, di sisi lain, tatkala Jiun Yi hendak menerjang maju untuk membantu Yefan, sesosok bayangan tua tiba-tiba telah berdiri menghalangi jalannya, berniat menghentikan nya agar tidak memperkeruh jalan nya pertempuran—sekaligus mematuhi perintah patriark klan mereka untuk tidak melukai Tuan Muda Jiun Yi.
"Yufan Xi, enyah kau dari hadapanku!" murka Jiun Yi.
"Hehe... sebagai seorang guru beladiri di klan yujin, hamba sangat tertarik menyaksikan teknik Tombak Penghancur Gunung milik Tuan Muda Jiun Yi. Jika berkenan, mohon izinkan hamba untuk mencobanya," ujar pria tua itu seraya membungkuk formal.
Mendengar itu, amarah Jiun Yi mencapai puncaknya. Ia sangat paham bahwa pria tua ini hanya menggunakan alasan basi untuk menghalanginya bergabung dengan Yefan.
"Kurang ajar! Akan kubunuh kau!"
Bom! Bom!
Kedua sosok itu melesat ke udara, bertarung di tempat yang berbeda. Meski Jiun Yi mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mendesak Yufan xi agar bisa mendekati posisi Yefan, "namun, Yufan xi seakan tahu maksud pihak lain, dengan cepat ia terus menutup setiap celah, membuat usahanya jiun yi selalu menemui jalan buntu.
(Bersambung)
---bagi yang suka cerita ini, ramaikan komentar ya, dan like, agar aku semakin bersemangat dan cerita ini tetap berlanjut sampai tamat.---
aku cuma mau jelasin. ini karya hasil Kranggan ku sendiri kk, dan ga PP kalo KK ga percaya juga. dan terimakasih atas dukungan nya untuk karya ini meski tidak sebaik yang lain. 🙏🙏