Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.
Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Nama yang Penuh Dua Makna
Pagi itu, Farhan datang ke kamar gue lebih awal dari biasanya. Tas di pundak, tapi gak siap berangkat ke kampus. Mukanya serius banget, bibirnya rapat, sepertinya udah nahan sesuatu dari kemarin.
"Lo mau ke mana?" tanya gue sambil kunci pintu.
"Ke kantor administrasi kampus." Dia tarik napas dalam, buang pelan. "Ubah nama di data resmi."
Gue berhenti melangkah. "Serius?"
"Serius." Dia natap lurus ke depan, suaranya mantap tapi tangannya sedikit gemetar di sisi tubuh. "Mulai ijazah, kartu mahasiswa, dokumen apa pun — nama lengkapku Raka Aditya."
"Dan di antara kita?"
Dia menoleh, senyum pelan. "Di antara kita, di rumah, di mulut orang yang sayang sama gue — tetap Farhan. Dua nama, Mir. Satu di dunia, satu di hati. Gak saling ganti. Saling melengkapi."
Jalan ke kampus dia gak banyak bicara. Langkahnya cepat, tapi gak terburu-buru. Kayak orang yang akhirnya mau tandatangani perjanjian damai dengan dirinya sendiri.
Di kantor administrasi, petugas itu cek berkas pelan. "Raka Aditya... ya, sudah tertera di akta kelahiran. Mengapa baru sekarang?"
Farhan duduk tegak di kursi, napasnya dalam. "Dulu saya pikir nama itu milik orang lain. Orang yang saya tidak kenal, yang pergi, yang hilang. Lama sekali saya merasa saya cuma numpang hidup di nama orang lain." Dia diam sebentar, telan ludah. "Ternyata itu nama saya. Bagian dari diri saya yang selama ini saya hindari."
Petugas mengangguk pelan, senyum lembut. "Baiklah. Mulai saat ini, semua dokumen resmi atas nama Raka Aditya. Tapi panggilan tetap boleh sesuka hati."
"Terima kasih."
Saat keluar dari ruangan, Farhan berdiri di koridor luas, natap langit lewat jendela kaca tinggi. Matanya lembap, tapi senyumnya lega banget — kayak beban bertahun-tahun baru saja diturunkan ke tanah.
"Lo oke?" tanya gue pelan.
Dia menoleh, tarik napas panjang banget, seakan menghirup udara pertama sebagai dirinya yang utuh. "Oke. Lebih dari oke. Rasanya... kayak akhirnya gue kenal orang yang selama ini tinggal di dalam diri gue."
Sore itu, kita ke rumah Bu Sari. Beliau sedang menyiram bunga di halaman. Saat Farhan bilang — "Sudah selesai, Bu. Nama Raka sudah resmi." — beliau jatuh berlutut di tanah, menutup wajah dengan kedua tangan, menangis tanpa suara.
Farhan ikut berlutut di depan beliau, pegang tangan beliau. "Maaf ya, Bu. Lama sekali."
Bu Sari peluk anaknya erat, kepala beliau di dada anaknya. "Terima kasih kembali, Nak. Terima kasih sudah menerima bagian dari ayahmu."
"Gue terima semuanya. Namanya, darahnya, masa lalu yang menyakitkan. Karena itu semua bagian dari gue." Dia usap punggung ibunya pelan. "Tapi Farhan tetap ada. Nama yang Bapak dan Ibu kasih, yang dipakai tetangga, yang dipanggil lo setiap pagi — itu gue juga. Itu gue yang tumbuh, yang dibesarkan, yang dicintai sepanjang hidup ini."
Bu Sari angkat muka, senyum lebar di antara air mata. "Dua nama, satu anak. Dua kasih sayang, satu rumah. Ayahmu pasti tersenyum sekarang."
Malamnya, kita telepon ke rumah. Bapak angkat yang angkat telepon.
"Pak... sudah selesai. Nama resmi saya Raka Aditya."
Diam sebentar di seberang sana. Lalu suara Bapak terdengar lembut dan bangga. "Bagus, Nak. Banggalah pada namamu. Tapi ingat — di rumah ini, di hati kami, kamu tetap Farhan. Tidak ada yang berubah. Hanya bertambah."
"Terima kasih, Pak." Farhan suaranya pecah pelan. "Terima kasih tidak pernah minta saya memilih."
"Karena kasih sayang tidak menghitung-hitung, Nak. Ia menampung semua bagianmu."
Setelah telepon ditutup, Farhan duduk di tepi kasur gue, diam lama banget.
"Lo tau gue baru sadar apa?" buka dia pelan. "Selama ini gue pikir gue terbelah. Di sini atau di sana. Nama ini atau nama itu. Ternyata bukan. Gue utuh dari awal. Cuma gue yang belum berani terima."
Dia pegang tangan gue, jari-jarinya menyusuri garis telapak tangan gue.
"Raka itu bagian yang lahir dari kasih sayang dua orang asing. Yang membawa kenangan masa lalu, yang sedih, yang hilang, yang akhirnya ketemu. Farhan itu bagian yang tumbuh di tangan orang-orang baik. Yang dibesarkan, dijaga, dicintai, sampai jadi orang yang sekarang ada di depan lo." Dia natap gue dalam-dalam. "Keduanya gue. Gak ada yang lebih baik. Gak ada yang lebih penting. Gue cuma satu orang. Dua nama, satu hati."
Gue usap pipinya pelan. "Dan dua-duanya lo sayang?"
"Sayang. Karena dua-duanya bikin gue bisa ketemu lo hari ini."
Malam itu gue tulis panjang di buku catatan:
"Hari ini Farhan — Raka — akhirnya utuh. Bukan berubah jadi orang lain. Tapi menerima semua bagian dirinya. Yang lahir dan yang dibesarkan. Yang sedih dan yang bahagia. Yang hilang dan yang ketemu."
"Banyak orang bilang: jadilah dirimu sendiri. Tapi jarang ada yang bilang: terima semua dirimu. Bagian yang bangga, bagian yang malu, bagian yang diwarisi, bagian yang dipelajari. Semua itu kamu. Dan sampai kamu terima semuanya, kamu akan selalu merasa kurang."
"Farhan dan Raka. Dua nama. Satu orang. Dan hari ini... dia akhirnya pulang ke dirinya sendiri."
Tiba-tiba HP bunyi. Pesan dari Dimas, foto bengkelnya dengan tulisan besar di dinding belakang: "Bangkit — Untuk Siapa Saja yang Mau Kembali ke Dirinya Sendiri".
"Dengar kabar baik, Han. Selamat datang kembali, Raka. Selamat tetap di sini, Farhan. Lo lengkap sekarang."
Farhan baca pesan itu, senyum lebar banget sampai matanya menyipit. "Dimas peka banget ya."
"Karena dia juga pernah harus terima dirinya sendiri," kata gue.
"Betul." Dia tarik napas lega, berdiri, ulurkan tangan ke arah gue. "Besok pagi... panggil gue Farhan ya."
"Selalu Farhan."
"Dan kalau di dokumen, panggil Raka."
"Raka." Gue senyum sebut pelan. "Keren juga kedengarannya."
Dia tertawa pelan, tarik gue berdiri, peluk sebentar di ruangan kecil itu. Pelukan yang ringan, lega, penuh damai.
"Terima kasih, Mir. Karena dari awal sampai akhir — lo sayang gue. Bukan nama mana pun. Tapi gue."
"Selalu gue. Selalu lo."
Saat dia pergi ke pintu, berhenti sejenak, nengok terakhir kali.
"Selamat malam, Mir."
"Selamat malam... Farhan."
Dia senyum paling cerah sepanjang perjalanan kita.