Indonesia
NovelToon NovelToon
Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Kepulangan ke Kota Asal

Udara kota ini terasa persis sama seperti lima tahun lalu. Dingin, tajam, dipenuhi bunyi klakson yang saling bersahutan, deru kendaraan yang tak pernah berhenti, dan aroma aspal basah bercampur asap tipis yang tercium di setiap sudut jalan. Bagi orang lain, kota ini mungkin tampak megah, penuh peluang, tempat di mana mimpi bisa menjadi kenyataan. Tapi bagi Su Wan, kota ini bukan sekadar tempat tinggal — kota ini adalah saksi bisu atas segala luka yang pernah ia coba kubur sedalam-dalamnya, di tempat yang sejauh mungkin dari ingatannya.

Dan hari ini, ia kembali. Bukan karena ingin, bukan karena rindu — tapi karena ia harus.

Su Wan melangkah keluar dari gerbang kedatangan stasiun kereta pusat, jari-jarinya yang ramping menggenggam erat gagang koper berwarna cokelat tua yang sudah agak pudar warnanya. Koper itu berisi seluruh kehidupan mereka — pakaian, buku, foto-foto kenangan, dan sedikit barang-barang yang tak berharga secara materi, namun tak bisa digantikan oleh apa pun. Tangan kirinya, yang jauh lebih lembut dan hangat, sedang digenggam erat oleh tangan kecil yang mungil namun penuh kekuatan — tangan putranya, Lin Xiaoqi.

Xiaoqi berdiri di sampingnya, kepala kecilnya mendongak tinggi, sepasang mata besar berwarna cokelat tua berbinar penuh rasa ingin tahu, menatap takjub pada deretan gedung pencakar langit yang menjulang ke langit, berjejer rapi seolah tak ingin kalah satu sama lain. Rambut hitamnya yang sedikit berantakan tertiup angin sore, namun ia tak peduli. Matanya tak berhenti bergerak, menyapu setiap bangunan, setiap papan nama, setiap lampu jalan yang mulai menyala satu per satu seiring matahari perlahan turun ke peraduannya.

"Ibu," suara Xiaoqi terdengar jernih dan ceria, memecah keheningan di antara kebisingan kota, "jadi ini kota tempat Ayah tinggal?"

Su Wan menunduk perlahan, menatap wajah putranya, dan seketika itu juga napasnya terasa tercekat di tenggorokan. Selalu seperti ini — setiap kali ia melihat wajah Xiaoqi, ia seolah melihat bayangan Lin Yicheng berdiri tepat di hadapannya. Wajah anaknya ini terlalu mirip dengan pria itu: rahang tegas yang belum tumbuh sempurna namun sudah terlihat jelas bentuknya, alis yang rapi dan tebal, sepasang mata yang tajam dan cerdas, bahkan cara Xiaoqi memiringkan kepala sedikit ke samping saat bertanya pun persis sama dengan kebiasaan Yicheng dulu.

Hatinya terasa diremas pelan namun menyakitkan. Lima tahun. Selama lima tahun ia berusaha melupakan, berusaha membangun kehidupan baru, berusaha menjadi ibu sekaligus menjadi ayah bagi anak ini. Tapi wajah Xiaoqi adalah pengingat abadi — bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar hilang, hanya tersembunyi, menunggu waktu untuk muncul kembali.

Su Wan mengelus rambut hitam anaknya dengan lembut, jari-jarinya menyisir pelan helai rambut yang berantakan tertiup angin. Ia berusaha menyembunyikan getaran di suaranya, menjaga nada bicaranya tetap tenang dan hangat.

"Ya, Xiaoqi. Ini kota asal Ibu, dan… kota tempat Ayah tinggal," jawabnya pelan, seakan kata-kata itu berat sekali untuk diucapkan. "Tapi kita ke sini bukan untuk mengganggu hidupnya, ya? Kita hanya… hanya ingin kamu tahu siapa dia. Hanya itu."

Xiaoqi mengangguk patuh, tapi matanya tidak berhenti menatap ke arah kejauhan, ke arah sebuah gedung yang menjulang paling tinggi di antara bangunan-bangunan lainnya — gedung berlantai empat puluh, berfasad kaca bening yang berkilau terkena sinar matahari sore, memantulkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata. Ia tahu gedung itu. Ia sudah melihatnya berkali-kali, diam-diam, di ponsel ibunya — tersimpan di dalam sebuah folder yang dikunci dengan kata sandi, tapi Xiaoqi sudah tahu cara membukanya sejak usia empat tahun. Di gedung itulah ayahnya bekerja. Di gedung itulah pria yang selama ini hanya ia lihat di foto, menghabiskan hari-harinya.

"Gedung itu… tempat Ayah bekerja, kan, Bu?" tanya Xiaoqi tiba-tiba, jari telunjuknya menunjuk tepat ke arah bangunan itu.

Su Wan tertegun sejenak, mengikuti arah jari anaknya, dan dadanya terasa sesak. Ia tidak menyangka Xiaoqi akan langsung menebaknya begitu cepat. Ia menelan ludah, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu lebih cepat dari biasanya.

"Siapa yang bilang?" tanyanya lembut, berusaha terdengar santai.

"Lihat dari fotonya," jawab Xiaoqi polos, tapi matanya berbinar cerdas. "Di ponsel Ibu, ada foto gedung itu. Dan di sampingnya, ada foto Ayah. Jadi Ayah pasti ada di sana."

Su Wan terdiam, tak tahu harus berkata apa. Anak ini… benar-benar anak yang luar biasa cerdas. Cepat menangkap hal-hal kecil yang mungkin tidak disadari oleh anak seusianya. Ia menghela napas panjang, lalu berjongkok di hadapan putranya, menatap lurus ke mata anaknya.

"Xiaoqi, dengar Ibu," ucapnya dengan nada serius namun lembut, kedua tangannya memegang bahu kecil anak itu. "Ayahmu… dia orang yang sangat sibuk. Dia punya banyak pekerjaan, banyak tanggung jawab. Ibu tidak ingin kamu berpikir bahwa dia tidak menyayangimu. Hanya saja… keadaan dulu tidak memungkinkan kami untuk bersama. Dan sekarang, Ibu tidak yakin apakah dia siap untuk mengetahui tentang keberadaanmu. Jadi, untuk sementara waktu, tolong jangan terburu-buru mencari Ayah, ya? Biar Ibu yang mengatur semuanya."

Xiaoqi mengerutkan kening sedikit, bibirnya mengerucut sejenak seolah sedang berpikir keras. "Tapi kenapa harus menunggu, Bu? Bukankah Ayah harus tahu kalau aku ada? Bukankah keluarga seharusnya bersama?"

Pertanyaan sederhana itu terasa seperti pukulan telak bagi hati Su Wan. Ia menatap wajah polos anaknya, dan matanya perlahan berkabut oleh air mata yang ditahan. Anak ini tidak meminta harta, tidak meminta kemewahan — ia hanya meminta hal yang paling dasar, yang seharusnya sudah ia miliki sejak lahir: sebuah keluarga yang lengkap.

Su Wan tersenyum sedih, mengusap pipi anaknya dengan lembut. "Iya, Xiaoqi. Keluarga seharusnya bersama. Tapi kadang-kadang, hal-hal yang baik butuh waktu. Kita tidak bisa terburu-buru. Kalau kita terburu-buru, nanti Ayah malah kaget, dan mungkin dia belum siap. Kita beri dia waktu, ya? Sama seperti Ibu butuh waktu untuk siap kembali ke sini."

Xiaoqi terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan, meski matanya masih menyiratkan ketidakpuasan. "Baiklah, Bu. Aku akan sabar. Tapi janji ya? Nanti Ibu akan membawaku bertemu Ayah?"

"Iya, Ibu janji," jawab Su Wan lembut, lalu memeluk putranya erat-erat, mencium ubun-ubunnya yang berbau sabun mandi kesukaannya. "Ibu janji."

Pelukan itu hangat, menenangkan, namun di dalam hati Xiaoqi, si kecil jenius itu sudah menyusun rencana. Ia tidak tahu mengapa ibunya begitu takut, tidak tahu mengapa ayahnya tidak ada di sisinya selama ini. Tapi ia tahu satu hal — keluarga seharusnya terdiri dari Ayah, Ibu, dan Anak. Bukan hanya Ibu dan Anak saja. Dan ia, Lin Xiaoqi, akan menemukan cara untuk menyatukan mereka. Ia tidak akan memaksa, tidak akan membuat Ibu marah — tapi ia tidak akan diam saja. Ia akan mencari ayahnya, dan ia akan membuat ayahnya menyadari bahwa mereka adalah keluarga.

Su Wan melepaskan pelukan, menatap anaknya dengan senyum yang berusaha terlihat tegar, meski hatinya gemetar. Ia berdiri kembali, meraih gagang kopernya, lalu menggenggam kembali tangan kecil Xiaoqi.

"Ayo, kita pergi dulu. Rumah baru kita agak jauh dari sini," ajaknya lembut.

Mereka berjalan beriringan menuju tempat pemberhentian taksi, di antara kerumunan orang yang lalu-lalang, di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur. Su Wan berusaha menenangkan dirinya sendiri, berusaha meyakinkan diri bahwa keputusannya untuk kembali ke sini adalah keputusan yang benar. Ia tidak berniat merebut apa pun dari Yicheng, tidak berniat menuntut tanggung jawab atau meminta nafkah, tidak berniat masuk kembali ke dunia dingin yang penuh persaingan dan kekuasaan itu. Ia hanya ingin Xiaoqi tahu siapa ayahnya — cukup sekali, cukup agar anaknya tidak tumbuh dengan pertanyaan yang tak pernah terjawab. Setelah itu, mereka bisa pergi lagi, hidup tenang seperti sebelumnya. Itu saja. Hanya itu.

Tapi jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Su Wan tahu bahwa ia sedang berbohong pada dirinya sendiri. Kota ini menyimpan terlalu banyak kenangan, terlalu banyak luka, dan satu nama yang selama ini ia coba tolak untuk diingat. Lin Yicheng. Pria yang pernah ia cintai lebih dari apa pun, dan pria yang pernah menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping, tanpa ia sempat memberi tahu bahwa ia sedang mengandung darah dagingnya.

Lima tahun lalu, ia pergi di tengah malam, membawa tas kecil, air mata yang tak berhenti mengalir, dan hati yang hancur. Ia pergi tanpa pamit, tanpa pesan, tanpa alasan yang jelas — karena saat itu Yicheng terjebak di antara ambisinya dan tekanan keluarganya, dan Su Wan tahu bahwa dirinya bukanlah prioritasnya. Ia hanya seorang gadis biasa, tanpa latar belakang kaya, tanpa koneksi berpengaruh — tidak pantas untuk CEO muda yang akan mewarisi kerajaan bisnis terbesar di kota ini. Ia tahu dirinya tidak akan pernah diterima oleh keluarga Yicheng, dan ia tidak ingin menjadi penghalang bagi masa depan pria yang dicintainya. Maka ia memilih pergi — pergi dalam diam, menyimpan rahasia besar di dalam perutnya, bertekad membesarkan anak ini sendirian, tanpa membebani siapa pun.

Dan selama lima tahun, ia berhasil. Ia membuka toko bunga kecil di kota lain, hidup sederhana namun tenang, membesarkan Xiaoqi dengan penuh kasih sayang. Xiaoqi tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, dan ceria — hal yang membuatnya bersyukur setiap hari. Tapi belakangan ini, tubuhnya sering terasa lelah, sering pusing, dan dokter mengatakan bahwa ia harus beristirahat lebih banyak, bahwa kondisinya tidak sekuat dulu. Ia takut. Ia takut jika sesuatu terjadi padanya, Xiaoqi akan tumbuh tanpa tahu siapa ayahnya. Ia takut anaknya akan merasa kurang, merasa berbeda, merasa tidak lengkap. Itulah alasan utama ia kembali ke kota ini — bukan untuk dirinya, tapi untuk Xiaoqi.

Sebuah taksi berwarna kuning akhirnya berhenti di depan mereka, memutus lamunan panjang Su Wan. Sopir taksi menurunkan kaca jendela, tersenyum ramah.

"Ke mana, Nona?" tanyanya.

Su Wan membukakan pintu belakang, membantu Xiaoqi naik terlebih dahulu, lalu memasukkan koper ke bagasi sebelum ikut duduk di samping putranya.

"Ke Jalan Bunga Mawar, Nomor Tujuh," jawab Su Wan, memberikan alamat rumah sewa yang sudah ia pesan sepekan sebelumnya. Rumah itu kecil, sederhana, di kawasan yang tenang — jauh dari pusat kota, jauh dari gedung tinggi tempat Yicheng bekerja, jauh dari segala hal yang mungkin mengingatkannya pada masa lalu. Setidaknya itu yang ia harapkan.

Taksi melaju perlahan membelah jalanan kota yang mulai padat. Sinar matahari sore berubah menjadi jingga keunguan, menyinari jendela-jendela gedung kaca yang berderet, menciptakan pantulan cahaya yang indah namun sekaligus menyedihkan. Xiaoqi duduk di sampingnya, menempelkan pipinya ke kaca jendela, matanya tak berhenti melihat ke luar, memperhatikan setiap bangunan, setiap pohon, setiap orang yang lewat.

"Ibu," tanya Xiaoqi tiba-tiba tanpa menoleh, "Ayah orang seperti apa?"

Su Wan tertegun sejenak, lalu menatap profil samping putranya. Ia berpikir sejenak, mencari kata-kata yang tepat, kata-kata yang tidak terlalu menyakitkan namun juga tidak membohongi anaknya.

"Ayahmu… pria yang sangat cerdas," jawab Su Wan pelan. "Dia bekerja sangat keras, dan dia orang yang bertanggung jawab. Tapi… dia juga orang yang sangat sibuk. Terlalu sibuk, sampai kadang dia lupa untuk beristirahat, lupa menikmati hal-hal sederhana dalam hidup."

"Dia baik?" tanya Xiaoqi lagi, menoleh ke arah ibunya.

"Dia baik," jawab Su Wan yakin. "Dia hanya… terjebak di dunia yang menuntutnya menjadi kuat dan tegas, sehingga dia lupa cara menunjukkan kelembutannya. Tapi di dalam hatinya, Ibu yakin dia orang yang baik."

Xiaoqi tersenyum puas, seakan jawaban itu sudah cukup baginya. "Kalau begitu, aku yakin Ayah pasti akan menyukaiku. Karena aku anak yang baik, kan, Bu?"

Su Wan menahan air mata yang hampir jatuh, tersenyum lembut sambil mengusap kepala anaknya. "Kamu anak yang paling baik, paling cerdas, dan paling menyenangkan di dunia. Ayah pasti akan sangat bangga padamu."

Taksi terus melaju, menjauhi pusat kota, meninggalkan deretan gedung tinggi yang megah. Namun di lantai teratas gedung tertinggi itu, di balik jendela kaca setinggi langit-langit, seorang pria berdiri diam, menatap pemandangan kota yang mulai gelap. Lin Yicheng, berjas hitam yang rapi tanpa satu pun kerutan, rambut hitamnya tertata sempurna, wajahnya datar tanpa ekspresi, matanya dingin dan tajam seolah tak ada satu pun hal di dunia ini yang mampu menarik perhatiannya. Di tangannya ada gelas berisi cairan bening, tapi ia tidak meminumnya — ia hanya memegangnya erat, membiarkan pikirannya melayang ke tempat yang ia coba hindari selama lima tahun terakhir.

Pria ini adalah salah satu orang paling berkuasa di kota ini. CEO termuda yang memimpin Grup Lin, perusahaan raksasa yang bergerak di bidang properti, teknologi, dan perdagangan. Segala sesuatu yang ia sentuh seolah berubah menjadi emas. Orang-orang melihatnya sebagai sosok yang sempurna — kaya, berkuasa, cerdas, tampan. Tapi tidak ada yang tahu bahwa di balik kesuksesan itu, ada kekosongan yang tak pernah bisa diisi oleh harta apa pun.

Lima tahun lalu, wanita yang pernah menjadi satu-satunya orang yang membuatnya merasa hidup, pergi tanpa pesan, tanpa kabar, tanpa jejak. Ia mencarinya ke mana-mana, tapi ia seolah menghilang dari muka bumi. Sejak hari itu, Yicheng berjanji pada dirinya sendiri — ia tidak akan pernah lagi membiarkan dirinya lemah, tidak akan pernah lagi membiarkan perasaan menguasai dirinya. Ia menutup hatinya rapat-rapat, membiarkan dirinya tenggelam dalam pekerjaan, bekerja dua puluh empat jam sehari, seolah-olah dengan bekerja cukup keras, ia bisa melupakan rasa sepi yang menghantui setiap malam.

Tapi hari ini, entah mengapa, hatinya terasa gelisah. Seolah ada sesuatu yang berubah — seolah seseorang yang penting baru saja kembali ke kota yang sama. Yicheng menggelengkan kepala, menepis pikiran konyol itu. Tidak mungkin. Dia sudah pergi, dan dia tidak akan pernah kembali.

Ia berbalik, berjalan menuju meja kerjanya yang luas, meletakkan gelas di atas meja dengan suara pelan, lalu kembali menatap tumpukan dokumen yang menunggu untuk ditandatangani. Pekerjaan. Hanya pekerjaan yang tidak akan meninggalkannya.

Sementara itu, taksi yang membawa Su Wan dan Xiaoqi akhirnya sampai di sebuah kawasan perumahan yang tenang, dihiasi pepohonan hijau dan bunga-bunga yang bermekaran. Su Wan membayar ongkos taksi, lalu turun bersama Xiaoqi, berdiri di depan sebuah rumah kecil berwarna krem dengan pagar kayu putih — rumah baru mereka.

Xiaoqi melangkah keluar, menatap rumah itu dengan mata berbinar, lalu menoleh ke arah ibunya, tersenyum lebar.

"Rumah ini bagus, Bu!" serunya riang.

Su Wan tersenyum lega, menggenggam tangan anaknya, merasakan ketenangan yang perlahan kembali ke hatinya. "Iya, ini rumah kita. Sementara waktu."

Matahari akhirnya terbenam sepenuhnya, dan lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menerangi jalan mereka. Di kota yang sama, di dua dunia yang berbeda, dua orang yang terpisah oleh takdir kini berada di tempat yang sama — dan di antara mereka, ada seorang anak kecil yang menjadi jembatan yang akan menyatukan dua hati yang selama ini terpisah oleh luka dan waktu.

Xiaoqi menatap ke arah langit yang mulai gelap, tersenyum kecil dalam hati. Ia tidak tahu bagaimana caranya, tapi ia tahu — suatu hari nanti, tidak lama lagi, ayahnya akan berdiri di sini, di samping mereka, dan mereka akan menjadi keluarga yang utuh. Dan ia, Lin Xiaoqi, akan memastikan hal itu terjadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!