JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: KETELEMBATAN YANG MAHAL
Lampu indikator di dalam kabin mobil minibus putih yang terparkir di sudut basement apartemen elite itu terus berkedip dengan ritme yang konstan. Rian si Belut Jalanan menatap layar monitor pemindai dengan binar mata yang dipenuhi oleh kepuasan yang luar biasa pekat. Titik koordinat pancaran sinyal dari ponsel darurat Eksan telah terkunci dengan sangat akurat, menunjuk tepat pada unit penthouse paling mewah yang berada di lantai tiga puluh, puncak tertinggi dari gedung pencakar langit tersebut.
"Semua persiapan sudah matang, Ketua. Anak buah kita sudah menyamar sebagai petugas kebersihan gedung dan berhasil mematikan sistem kamera pengawas di jalur lift belakang," lapor seorang pria bertubuh tegap di samping Rian sembari mengokang sebilah senjata tajam berukuran pendek di balik jaketnya.
Rian tersenyum penuh kelicikan, sebuah ekspresi kemenangan yang sangat menyeramkan di tengah kegelapan malam. "Bagus. Eksan saat ini pasti mengira dirinya sangat aman di atas sana. Dia terlalu fokus melindungi jalur ekonominya di pelabuhan bawah hingga melupakan bahwa seekor belut bisa menyelinap melalui celah sekecil apa pun. Bergerak sekarang. Ingat, target utama kita adalah membawa gadis bernama Nasya itu hidup-hidup. Tanpa gadis itu di tangan kita, Eksan tidak akan pernah bisa kita jinakkan."
Lima orang anggota inti faksi utara yang memiliki kemampuan bergerak tanpa suara segera keluar dari mobil minibus, melangkah cepat menuju pintu akses lift barang yang terletak di bagian belakang koridor basement. Mereka bergerak dengan taktik yang sangat rapi, memanfaatkan kelengahan sistem keamanan gedung yang sebagian krunya sedang berganti jam jaga malam.
***
Sementara itu, di kawasan pelabuhan bawah yang berjarak belasan kilometer dari pusat bisnis, situasi justru semakin memanas. Puluhan armada kepolisian sektor barat telah membuat barikade ketat di depan gerbang utama gudang nomor empat. Suara megafon petugas kepolisian yang meminta pembukaan pintu gudang secara sukarela terus bergema, memecah keheningan malam yang sunyi di tepi pantai.
Rangga dan Bara berdiri di balik tumpukan kontainer besi yang tidak jauh dari lokasi penggeledahan. Mereka berdua baru saja selesai memastikan bahwa seluruh dokumen transaksi penting dan barang logistik ilegal milik faksi Black Cobra telah berhasil dinaikkan ke atas kapal cepat melalui jalur air belakang pelabuhan. Tugas mereka untuk mengamankan aset ekonomi organisasi telah selesai tanpa memicu bentrokan fisik dengan pihak berwajib.
Namun, alih-alih merasa lega, Bara mendadak menghentikan langkah kakinya dengan raut wajah yang berubah pias. Ia menatap perangkat tablet pelacak frekuensi yang biasa digunakan oleh tim siber Black Cobra untuk memantau keamanan komunikasi mereka.
"Rangga... lihat ini sekarang juga," kata Bara dengan nada suara yang bergetar hebat karena panik, sebuah intonasi yang sangat jarang keluar dari mulut seorang eksekutor berdarah dingin seperti dirinya.
Rangga menoleh, lalu mendekatkan wajahnya untuk melihat layar tablet yang disodorkan oleh Bara. Titik merah yang menandakan adanya aktivitas pemindaian frekuensi asing berskala militer tampak aktif di sekitar kawasan pusat bisnis kota sejak dua puluh menit yang lalu—tepat pada saat Eksan menerima panggilan telepon darurat dari Rangga.
"Sialan! Frekuensi ini... ini adalah alat pelacak sinyal radio jarak pendek!" kejut Rangga dengan urat leher yang seketika menegang keras. Kesadaran mendadak menghantam kepalanya dengan sangat telak bagaikan pukulan balok kayu. "Jebakan di pelabuhan bawah ini bukan bertujuan untuk menyita barang kita, Bara! Rian si Belut sengaja memancing kita semua ke sini agar Bos Eksan terpaksa menggunakan ponsel daruratnya!"
"Bajingan itu memanfaatkan polisi untuk melacak lokasi penthouse tempat Nasya disembunyikan!" sambung Bara dengan kemarahan yang meluap-luap. "Rangga, sebagian besar pasukan inti kita ada di sini! Penjagaan di sekitar gedung apartemen Bos Eksan kosong!"
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Rangga dan Bara langsung berlari kencang menuju area parkir motor sport mereka di balik dinding pelabuhan. Mereka melompati jok motor, menyalakan mesin berkapasitas besar dengan raungan yang sangat keras, lalu melesat membelah jalanan kota menuju pusat bisnis dengan kecepatan penuh, berpacu dengan waktu demi menyelamatkan pemimpin tertinggi mereka dari serangan licik musuh.
Jauh di atas lantai tiga puluh, suasana di dalam penthouse masih berselimut keheningan yang tenang. Eksan duduk bersandar di sofa ruang tengah, dengan mata elangnya yang sesekali terpejam menahan perih yang semakin menjadi-jadi di perut kirinya. Kain perban yang membungkus lukanya mulai kembali menunjukkan noda merah yang melebar, akibat gerakan fisiknya yang terlalu dipaksakan sejak sore tadi. Rasa lemas yang amat sangat mulai merayap di setiap persendian tubuh tegapnya, efek dari kehilangan terlalu banyak darah selama duel maut melawan ketua White Tiger.
Di dalam kamar utama, Nasya mendadak terbangun dari tidurnya. Jantungnya berdetak kencang akibat sebuah mimpi buruk yang baru saja menghampiri kesadarannya. Ia duduk di atas ranjang, menatap sekeliling kamar mewah yang remang-remang, lalu memutuskan untuk melangkah keluar kamar demi mencari segelas air minum untuk menenangkan tenggorokannya yang terasa kering.
Namun, tepat saat Nasya membuka pintu kayu kamar utama dan melangkah menuju area dapur bersih, sebuah bunyi klik halus yang berasal dari arah pintu masuk lift pribadi penthouse seketika memecah keheningan ruangan.
Eksan yang berada di sofa langsung membuka sepasang mata elangnya dengan kilatan tajam yang sangat waspada. Insting jalan nya yang telah terasah selama bertahun-tahun di dalam gang kota seketika menangkap adanya bahaya besar yang sedang mendekat. Ia mencoba bangkit berdiri dengan cepat, namun rasa sakit yang luar biasa dahsyat di perut kirinya membuat tubuh kekarnya sempat terhuyung dan berlutut di atas lantai marmer dengan napas yang memburu cepat.
Pintu lift pribadi terbuka lebar, dan dalam hitungan detik, lima orang pria berjaket gelap dengan senjata tajam terhunus tegak di tangan masing-masing langsung merangsek masuk ke dalam ruangan penthouse yang luas tersebut. Rian si Belut Jalanan berdiri di barisan paling depan, dengan seulas senyuman penuh kemenangan yang sangat licik terpancar jelas di wajahnya.
"Lama tidak berjumpa, Eksan Prasetya," kata Rian dengan suara rendah yang penuh dengan nada ejekan, menatap musuh bebuyutannya yang kini sedang berlutut menahan sakit di atas lantai. "Tempat yang sangat mewah untuk ukuran seorang berandal jalanan yang sedang sekarat."
"Rian... bajingan kotor!" raung Eksan dengan suara bariton yang berat dan serak. Urat-urat di leher tegapnya menegang keras saat ia memaksakan tubuhnya untuk kembali berdiri tegak, menggunakan tangan kanannya untuk mencengkeram tepi meja kaca sebagai tumpuan. Aura haus darah yang pekat mendadak kembali memancar dari tubuhnya, meskipun kondisi fisiknya sudah berada di titik terendah.
Nasya yang berdiri di dekat dapur bersih seketika menjerit ketakutan saat melihat kedatangan orang-orang asing bersenjata tersebut. Mendengar jeritan histeris dari bibir mungil Nasya, dua orang anak buah Rian langsung bergerak cepat memotong jalur, berlari menghampiri gadis itu dan langsung memegang kedua lengannya dengan paksa untuk mengunci pergerakannya.
"Lepaskan aku! Eksan, tolong aku!!!" teriak Nasya dengan air mata yang kembali menetes deras membasahi pipinya yang pucat sempurna.
Melihat gadis miliknya disentuh oleh tangan kotor musuh, kegilaan posesif dan protektif di dalam dada Eksan seketika meledak hebat, membakar habis seluruh rasa sakit fisik yang mendera tubuh jahitannya. Ia bergerak menerjang maju layaknya seekor monster jalanan yang mengamuk di tengah kegelapan malam. Eksan mengayunkan kepalan tangan kanannya dengan kekuatan gila, menghantam telak rahang salah satu anak buah Rian yang mencoba menghalangi jalannya hingga pria itu tumbang tak sadarkan diri di atas lantai marmer.
Namun, Rian si Belut Jalanan tidak tinggal diam. Memanfaatkan kelengahan Eksan yang seluruh fokusnya tertuju pada keselamatan Nasya, Rian melesatkan satu tendangan keras berkekuatan penuh tepat ke arah perut kiri Eksan titik terlemah dari tubuh sang penguasa jalanan malam itu.
*BUKKK!*
Hantaman kaki Rian mengenai telak luka jahitan Eksan. Rasa perih yang luar biasa dahsyat seolah merobek seluruh dinding perutnya seketika membuat pandangan Eksan berputar hebat. Balutan perban putih di balik kemeja hitamnya langsung berubah warna menjadi merah pekat yang mengerikan akibat pendarahan internal yang pecah kembali total. Tubuh tegap Eksan terhuyung ke belakang, ambruk berlutut di atas lantai marmer dengan darah segar yang menyembur keluar dari sela bibirnya yang terluka.
"Bawa gadis itu pergi dari sini sekarang juga sebelum pasukan inti Black Coba kembali ke pusat kota!" perintah Rian dengan nada suara yang penuh ketergesaan kepada anak buahnya yang tersisa.
"Eksan!!! Jangan biarkan mereka membawaku! Eksan!!!" jerit Nasya histeris, tubuh mungilnya diseret paksa masuk ke dalam lift pribadi oleh anak buah faksi utara. Pandangan terakhir Nasya menangkap sosok Eksan yang sedang berusaha merangkak maju di atas lantai dengan tangan yang dipenuhi lumuran darahnya sendiri, menatapnya dengan kilatan mata posesif dan protektif yang dipenuhi oleh badai kemarahan yang luar biasa pekat namun tak berdaya akibat tubuhnya yang runtuh sepenuhnya.
Pintu lift pribadi akhirnya tertutup rapat dengan dentingan halus yang mewah, membawa pergi kebebasan dan cahaya suci milik sang penguasa jalanan, menyisakan kehancuran total dan genangan darah segar di atas lantai marmer penthouse lantai tiga puluh yang sunyi.