Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Vitamin?
Begitu menyadari bahwa Sarmila benar-benar ada di depannya, Arumi langsung menarik Diva untuk masuk ke dalam rumah, raut wajahnya nampak tak ramah.
"Gimana kamu bisa ketemu sama dia? Dan kenapa pake acara dibawa pulang?" tanya Arumi langsung menodong putrinya dengan pertanyaan.
"Aku liat Kak Sarmila pas di depan gerbang sekolah, kasian Kak Sarmila, Bu, dia lontang-lantung di jalan nggak pake sendal," jawab Diva yang lebih memiliki hati nurani dari pada ibunya. "Katanya dia dicul!k."
"Iya tapi nggak usah dibawa pulang juga, Diva, emangnya kamu mau kasih dia makan?! Bapak kamu aja nganggur," ketus Arumi, memikirkan biaya penampungan Sarmila selama berada di rumahnya.
Sarmila yang masih di depan pintu pun mendengar semua percakapan itu. Entah baiknya bagaimana, yang jelas dia tidak mau pergi dari rumah ini, dia tidak mau bertemu dengan Andre atau teman-temannya.
"Bu," panggil Sarmila yang menyelonong masuk, memergoki Arumi yang sedang memarahi Diva sambil sesekali memukul.
"Heh, ngapain kamu masuk-masuk? Saya nggak kasih izin ya!" teriak Arumi yang menganggap Sarmila adalah beban yang menyusahkan.
"Maaf, Bu, tapi kalau boleh aku mau minta tolong buat telepon Kak Diyah," ujar Sarmila, mengesampingkan semua rasa malunya. Yang terpenting sekarang dia bisa pulang ke kampung. Dan dia yakin yang bisa menolongnya hanyalah sang kakak—Diyah.
Mendengar nama Diyah disebut, otak Arumi langsung tersadarkan akan sesuatu. Dibanding menganggap Sarmila adalah beban, justru wanita ini bisa menghasilkan uang. Ya, dia bisa memeras Diyah untuk kepentingannya.
Arumi menghela napas dan menyunggingkan senyum. Akhirnya dia punya jalan keluar.
"Kamu mau telepon Diyah?" tanya Arumi dan Sarmila langsung mengangguk.
"Boleh, tapi nanti saya yang bicara. Sekarang kamu ikut Diva saja masuk ke kamar," ujar Arumi sambil melirik Diva yang mematung. Gadis yang beranjak remaja itu merasa aneh dengan tingkah ibunya, setelah marah-marah sekarang ibunya malah terlihat sok baik.
'Ibu pasti lagi nyusun rencana.' batin Diva, namun dia tak langsung bicara. Dia justru menarik Sarmila untuk ikut dengannya masuk ke dalam kamar.
***
Masih di sekitar ibu kota, tepatnya di rumah yang ditempati oleh Rani dan Cakra. Wanita hamil itu baru saja masuk ke dalam kamar setelah selesai menjemur pakaian, hal yang jarang sekali dia kerjakan semasa gadis, tetapi setelah punya suami semuanya dia kerjakan.
"Mas!" panggil Rani yang tak melihat keberadaan Cakra. Dia mencari di dalam kamar mandi, tetapi sang suami juga tak ada di sana.
"Ke mana sih dia? Bukannya tadi udah pulang ngojek?" gumam Rani sambil celingukan di jendela. Dari dalam kamarnya dia melihat ke arah kost-kostan ibunya, ada bayangan seseorang dari jendela atas, padahal setahu Rani kamar itu tak berpenghuni.
Deg!
Jantung wanita hamil itu tiba-tiba berdebar.
"Apa yang aku lihat itu hantu ya?" Dia kembali bergumam seraya memalingkan wajah. Rani memang cukup penakut, tetapi kali ini dia memberanikan diri untuk kembali memperhatikan kamar tadi.
Rani mengucek matanya. Bayangan itu nyata, seperti seseorang yang sedang menata barang, dan dia mengenali bayangan itu sebagai Cakra.
"Mas Cakra lagi ngapain di sana?"
Dengan cepat Rani keluar dari kamar untuk naik ke kostan atas. Awalnya dia mengintip untuk memastikan, mata Rani terbelalak karena orang itu benar-benar suaminya.
Ceklek!
"Mas Cakra!" panggilnya memergoki. Cakra yang terkejut langsung menarik tangan Rani dan membekap mulut istrinya.
"Jangan berisik!" ketusnya.
"Iya tapi kamu lagi ngapain, Mas? Kok bisa kamu masuk sini, kuncinya kan ibu yang nyimpen?" cerocos Rani sambil memperhatikan kamar kosong yang masih memiliki beberapa benda berharga seperti AC, TV, lemari dan kasur sebagai fasilitas kostan.
"Halah itu soal gampang. Sekarang lebih baik kamu bantu aku, nanti hasilnya kita bagi dua," kata Cakra yang sudah memiliki rencana.
"Maksudnya?" Kening Rani berkerut dalam.
Cakra hanya menarik sudut bibirnya tanpa menjelaskan, lalu berusaha melepaskan AC yang sudah terpasang dan juga TV. Dia akan menggasak semua itu untuk dijadikan uang. Karena penghasilan sehari-harinya menjadi tukang ojek online tidak cukup.
"Mas, tapi gimana kalo ibu sampe tahu?" tanya Rani dengan cemas. Dia tentunya takut kalau sang ibu marah.
"Tenang, kita bisa kabur ke desa supaya tidak kena marah. Kita tinggal di rumah ibuku, kamu mau 'kan?" ujar Cakra sambil memegang kedua bahu Rani untuk meyakinkan. Rani yang terlalu dibutakan oleh cinta pun hanya bisa iya-iya saja.
****
Beberapa hari ini Diyah banyak bolak-balik ke rumah kedua orang tuanya. Untuk hari ini Biyakta tidak bisa ikut karena masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Di kamar dia mondar-mandir mencari ponsel yang lupa dia letakkan di mana.
"Di mana aku menyimpannya?" gumam Biyakta mencari ke berbagai tempat. Dari mulai meja kerja, lemari hingga laci. Pria itu menarik salah satu benda kotak itu, tepat di meja nakas.
Keningnya berkerut, karena bukannya ponsel yang dia temukan, justru beberapa botol kecil yang bertuliskan vitamin. Dia langsung teringat, vitamin yang waktu itu dibicarakan oleh Diyah.
Awalnya dia tidak penasaran, karena berpikir hanya sebuah vitamin. Namun, tiba-tiba Biyakta mengeluarkan pil-pil yang ada di dalamnya. Lipatan di keningnya makin kentara.
"Vitamin apa ini?" gumam Biyakta seolah tak yakin. Di keheningan itu tiba-tiba suara notifikasi ponsel terdengar nyaring.
Benda pipih itu ada di dekat wastafel. Biyakta segera meraihnya karena ada telepon dari Firman.
"Halo, Den," sapa Firman yang ingin melaporkan urusan pekerjaan. Namun, Biyakta lebih dulu menyela.
"Man, aku butuh bantuanmu," ujarnya.
Sarimi semogah habis ini kamu sadar kalau dyah bukan lah saingan tapi seorang kakak yang benar2 tulus sama adik...drkogah otak mu waras habis ini sarimi