Indonesia
NovelToon NovelToon
Kutukan Mbah Golok Sakti

Kutukan Mbah Golok Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.

Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.

Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!

Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?

Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Sahabat Dari Masa Depan Part 2

"Kamu lagi halusinasi ya? Kebanyakan nonton film fiksi ilmiah sci-fi tentang mesin waktu ya pas liburan kelulusan SD kemarin?"

Reno mengabaikan segala bentuk ejekan itu. Di dalam lubang hatinya yang terdalam, ia sadar betul kalau ini adalah sebuah kesempatan emas yang sengaja diberikan Tuhan untuknya.

Di dimensi masa depan, salah satu penyesalan terbesar dari kelompok geng persahabatan mereka adalah mereka sama sekali tidak sempat mengajak Rayi pergi berkunjung ke sebuah danau impiannya, sebelum ajal menjemput dan merenggut nyawanya untuk selamanya.

"Nggak Ray, gue di sini beneran serius 100%. Gue sekarang mau mengajak lo pergi jalan-jalan ke suatu tempat yang pemandangannya indah banget. Lo dijamin pasti bakal suka seumur hidup," ujar Reno dengan nada suara yang sungguh-sungguh sarat akan penekanan emosi.

"Tapi nama kamu aja dari tadi aku nggak tahu. Aku nggak mau ah pergi sembarangan sama orang asing yang belum dikenal. Entar kalau aku mendadak diculik terus dijual sama kamu gimana?" balas Rayi memasang sikap waspada, sebuah cerminan watak anak rumahan yang terdidik baik oleh orang tuanya.

Reno menyunggingkan senyuman tipis, sementara sepasang mata indahnya mulai tampak berkaca-kaca menahan air mata haru. Ia mengulurkan tangan kanannya ke depan.

"Kenalin, nama gue Reno Alvarez. Masa depan lo dijamin bakal penuh dengan warna-warni konyol gara-gara kehadiran gue. Kalau lo emang takut diculik, kita pergi jalannya pake fasilitas mobil jemputan mewah milik lo aja gimana? Pak supir lo kebetulan udah setia nunggu di depan gerbang sekolah, kan?"

Rayi tampak menimbang-nimbang tawaran tersebut selama beberapa saat. "Oke deh, Reno. Kebetulan hari ini saudara kembar aku, si Rakha, udah pulang duluan ke rumah naik taksi karena dia ngebet mau mampir beli kaset game online baru. Ayo deh kita jalan."

Mereka berdua akhirnya berlari kecil menyusuri sepanjang lorong koridor sekolah yang suasananya sudah mulai sepi, melangkah menuju ke arah pintu gerbang depan.

Di sana, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam memang sudah tampak terparkir rapi.

Pak Amir, sang supir pribadi keluarga Rayi, tampak memasang ekspresi wajah bingung saat melihat tuan mudanya mendadak membawa sesosok 'anak baru' yang struktur gurat wajahnya terlihat sangat dewasa, namun ukuran tubuh badannya masih setara anak SMP.

"Pak Amir, tolong jangan banyak tanya yang aneh-aneh dulu ya! Kita sekarang mau pergi berkunjung ke suatu tempat yang bagus, nanti temen baru aku ini yang bakal tunjukin koordinat jalannya," perintah Rayi dengan nada tegas saat mereka berdua sudah duduk manis di atas kursi penumpang bagian belakang yang terasa sangat empuk.

Mobil mewah itu pun mulai melaju membelah jalanan, meninggalkan hiruk-pikuk polusi kota menuju ke arah wilayah pinggiran yang suasananya terasa jauh lebih asri dan hijau.

Di sepanjang perjalanan panjang tersebut, Reno sama sekali tak henti-hentinya mencuri pandang menatap lekat ke arah wajah Rayi, mencoba memastikan kembali bahwa peristiwa ajaib ini bukan sekadar mimpi belaka.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, mobil akhirnya berhenti di tepi sebuah bukit kecil. Reno dengan penuh semangat menuntun langkah kaki Rayi berjalan melewati sebuah jalan setapak kecil di antara rimbunnya pepohonan hijau.

Begitu langkah kaki mereka berhasil sampai di ujung jalan, sebuah pemandangan alam berupa danau biru yang airnya sangat jernih, lengkap dengan pantulan estetika cahaya matahari sore yang keemasan langsung menyambut kehadiran mereka. Embusan angin sepoi-sepoi tampak lembut memainkan helai rambut mereka berdua.

"Nah, ini dia tempatnya. Bagus dan indah banget, kan, Ray?"

Reno mengajak Rayi untuk mengambil posisi duduk santai di bawah sebuah pohon rindang yang posisinya menghadap langsung ke arah riak air danau yang tenang.

Rayi seketika langsung terpaku mematung. Sepasang mata jernihnya tampak berbinar-binar cerah menatap hamparan air danau yang tenang itu.

"Wah... ini beneran bagus banget tempatnya, Ren. Aku sejujurnya belum pernah berkunjung ke tempat yang suasananya seadem dan senyaman ini sebelumnya. Makasih banyak ya kamu udah bela-belain ngajak aku ke sini."

Reno tersenyum getir menatap sahabatnya, area dadanya mendadak terasa hangat sekaligus menyisakan rasa perih yang teramat dalam.

'Setidaknya, di dalam garis waktu alternatif yang ajaib ini, lo udah berhasil ngerasain langsung keindahan tempat ini sebelum semuanya terlambat, Ray,’ batinnya meratap sedih.

Reno menarik napas beratnya yang terasa sangat sesak, sepasang matanya mulai memanas dan berkaca-kaca menatap riak air danau. Ia mendongakkan kepalanya ke atas langit sore, berusaha sekuat tenaga menahan bendungan air mata di matanya agar tidak jebol di hadapan Rayi yang wujudnya masih sesosok bocah.

"Waktu terakhir kali aku ketemu kamu di

dimensi masa depan, kamu sempat bilang kalau kamu pengen banget pergi berkunjung ke tempat ini. Kamu bahkan bilang kalau akulah orang yang bakal kasih tahu koordinat jalan tempat ini ke kamu," suara Reno mulai bergetar menahan tangis.

"Padahal waktu itu aku beneran nggak tahu apa-apa soal danau ini. Aku barusan tahunya dari cerita Rakha, Adit, sama Rahsya pas kita lagi nyekar... pas kita lagi main bareng mengenang lo. Dan sekarang gue akhirnya baru paham, ternyata alasan gue dikirim datang ke masa lalu ini emang beneran buat nunjukin jalan ke danau ini khusus buat lo, Ray."

Rayi yang tadinya sedang asyik tersenyum cerah, mendadak langsung menarik kembali senyumannya. Ia menolehkan kepalanya menatap ke arah Reno dengan ekspresi wajah ketakutan yang ngeri. Ia bahkan sampai menggeser posisi duduknya menjauh beberapa senti dari Reno.

"Ren, kamu di sini nggak lagi gejala ngigau sakit, kan? Atau jangan-jangan tubuh kecil kamu ini baru aja kerasukan makhluk halus penunggu pohon besar ini?" tanya Rayi cemas setengah mati, sepasang tangannya sudah bersiap mengambil posisi lari kalau-kalau Reno tiba-tiba melakukan gerakan kayang atau berteriak histeris kesurupan.

Reno menatap lekat ke arah sepasang mata Rayi dengan seberkas pandangan mata sendu yang teramat dalam.

"Gue sama sekali nggak lagi kerasukan setan, Ray. Gue di sini cuma mau menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena di masa depan gue udah gagal jadi sosok sahabat yang baik buat lo."

"Minta maaf soal apaan sih, Ren Kita kan beneran baru aja saling kenal satu jam yang lalu di dalam kelas!" seru Rayi makin kebingungan menghadapi drama melodrama dari "teman baru"-nya ini.

"Maaf karena selama ini gue nggak pernah tahu soal penderitaan penyakit jantung parah yang lo idap, Ray. Kenapa lo di masa depan nggak pernah mau cerita jujur sama kita-kita? Kenapa semua rasa sakit itu harus lo simpen sendiri di dalam hati?"

Rayi seketika tersentak kaget. Tubuh kecil bocah SMP itu mendadak menegang kaku. "Kenapa... kok kamu bisa tahu soal rahasia penyakit itu?"

"Gue kan udah bilang dari awal, gue ini adalah sahabat karib lo yang datang dari masa depan. Gue beneran kangen banget sama lo, Ray," isak Reno yang pertahanan mentalnya akhirnya runtuh juga hari itu. Air matanya mengalir deras membasahi pipi.

"Boleh gue peluk lo sebentar nggak, Ray?"

1
Ed Troivan
lanjut thor 💪
Ed Troivan
💪💪💪👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!