Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.
Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.
Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.
Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.
Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.
Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.
Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi Dua Puluh Tahun Yang Lalu
Leon membiarkan Elena berkeliling di markas The Raven, sementara dirinya memilih kembali ke ruang kerja bersama Sean.
Begitu pintu tertutup, Leon berjalan menuju lemari buku. Ia membuka salah satu laci yang jarang ia sentuh, lalu mengeluarkan sebuah berkas tebal yang sudah menguning di bagian tepinya.
Berkas itu berisi catatan mengenai berbagai peristiwa besar yang pernah mengguncang dunia bawah tanah.
Namun, ada satu peristiwa yang sejak tadi terus mengusik pikirannya.
Tragedi dua puluh tahun lalu.
Leon membuka lembar demi lembar. Ia sendiri belum mengetahui apakah tragedi yang Elena alami memiliki hubungan dengan dunia bawah atau tidak. Tetapi, setelah melihat bagaimana wanita itu bereaksi saat salah satu anggotanya tewas tepat di depan matanya, sebuah kesimpulan perlahan terbentuk di kepalanya.
Elena terlalu tenang, seolah-olah kematian bukan sesuatu yang asing baginya.
Leon menyandarkan tubuhnya pada kursi, lalu mengusap dagunya.
"Wanita seperti apa yang bisa bersikap setenang itu setelah melihat seseorang mengorbankan nyawanya di depan mata?" gumam Leon.
"Pasti ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik sikap dinginnya."
Kemudian, Leon teringat pada simbol di bahu belakang Elena.
Simbol mawar yang hampir sama dengan yang ia lihat di dokumen lama satu organisasi dunia bawah.
"Tuan!"
Leon mengangkat pandangannya. "Ada apa?"
"Jika benar ada tato mawar di bahu Elena, bukankah itu berarti dia berasal dari organisasi yang sudah lama menghilang?"
Leon terdiam sesaat. "Ya. Awalnya aku juga berpikir begitu," ujar Leon. "Tapi, setelah aku perhatikan lebih teliti, ukiran mawar milik Elena sedikit berbeda dengan simbol yang ada di dokumen."
Leon lalu membuka berkas lain.
Di halaman pertama, tercetak sebuah nama yang sudah lama dianggap sebagai bagian dari sejarah kelam dunia bawah tanah.
THE BLACK ROSE.
Leon menatap tulisan itu beberapa detik sebelum membalik halaman.
Laporan lama terpampang di hadapannya.
Dua puluh tahun lalu, sebuah pembantaian besar terjadi yang menewaskan semua anggota The Black Rose.
Tidak ada yang mengetahui dengan pasti siapa pelakunya. Markas organisasi dihancurkan, pemimpin dan keluarganya di bunuh secara mengenaskan, dan seluruh jaringan mereka lenyap dalam waktu singkat.
Sejak malam itu, The Black Rose dianggap telah musnah.
Tidak ada satu pun anggota yang pernah muncul kembali.
Leon membaca setiap laporan dengan saksama. Semakin banyak halaman yang ia buka, napasnya semakin berat
Lalu, jari Leon berhenti pada satu halaman. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Tanpa sadar, tangannya mengepal erat.
Entah kenapa, membaca tragedi itu membuat hatinya terasa sakit, seolah-olah setiap kalimat dalam laporan tersebut bukan sekadar catatan sejarah, melainkan sesuatu yang sangat dekat dengannya.
"Ada apa denganku?" batin Leon dengan kening mengernyit. "Kenapa hatiku terasa sakit sekali?"
Sean memperhatikan perubahan ekspresi tuannya.
"Ada apa, Tuan?"
Leon tidak menjawab. Ia kembali membaca halaman terakhir.
Tanggal peristiwa itu tertulis dua puluh tahun yang lalu, sama persis dengan tragedi yang menimpa Elena.
Leon perlahan mengangkat kepalanya. "Jangan-jangan..."
Sean langsung memahami arah pikiran tuannya. "Tuan, jangan-jangan Elena benar-benar salah satu anggota The Black Rose yang selamat."
Ruangan kembali sunyi.
Leon tidak membantah karena ia merasa kemungkinan itu cukup masuk akal.
Tatapan Leon jatuh pada dokumen di tangannya.
Jika Elena benar-benar salah satu orang yang selamat dari pembantaian itu, maka keberadaannya di kediaman Bianchi bukanlah sebuah kebetulan.
Tapi, untuk apa Elena datang ke keluarga Bianchi?
Apakah wanita itu mengira keluarga Bianchi adalah dalang di balik pembantaian The Black Rose?
Apakah ia sengaja menyusup ke kediaman Bianchi untuk membalas dendam?
***
Sementara itu, Elena berjalan menyusuri lorong-lorong markas The Raven dengan langkah perlahan.
Matanya terus mengamati sekeliling.
Setiap pintu, setiap sudut ruangan, bahkan setiap orang yang berpapasan dengannya tidak luput dari perhatiannya.
Ia tahu dirinya sedang diawasi.
Sejak Leon membawanya masuk ke markas ini, beberapa pasang mata terus mengikuti gerak-geriknya. Entah dari bodyguard yang berjaga atau anggota The Raven yang pura-pura sibuk saat Elena melewati mereka.
Elena memasang wajah tenang, seolah tidak ada satu pun hal yang mengganggu pikirannya. Namun, di balik ketenangan itu, pikirannya sedang kacau.
Bayangan anggotanya yang mati di ruang tahanan terus terlintas di kepalanya.
Leon berhasil menangkap satu anggotanya. Tidak menutup kemungkinan, Leon akan memburu anggotanya yang lain.
Lebih buruk lagi, mereka bisa di bantai sebelum sempat untuk balas dendam.
Elena mengepalkan tangannya. Kuku-kukunya hampir menusuk telapak tangan.
Tidak! Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Selama ini, ia hanya membutuhkan bukti, siapa dalang di balik pembantaian keluarganya.
Dan sejauh ini, The Raven adalah organisasi yang paling ia curigai.
Tapi, kecurigaan saja tidak cukup. Ia harus menemukan bukti akurat keterlibatan The Raven. Atau, siapa yang memberikan perintah? Siapa yang terlibat? Siapa yang membantu melancarkan pembantaian itu?
"Aku harus menemukannya," bisiknya nyaris tidak terdengar.
Rahang Elena mengeras. Tapi, kemudian ia menarik napas dalam. Ia tidak boleh terburu-buru dan membiarkan amarah menguasai dirinya.
Jika sampai ketahuan terlalu cepat, semua yang telah direncanakannya selama bertahun-tahun akan sia-sia.
Langkahnya membawa Elena ke sebuah ruangan besar. Di atas pintu tertempel sebuah papan sederhana dengan tulisan TRAINING ROOM.
Elena mengangkat alis tipis, lalu membuka pintu perlahan.
Pandangannya langsung tertuju pada deretan senjata yang tersusun rapi di atas meja panjang
Pistol, senapan laras panjang, Pisau dan berbagai jenis senjata lainnya ada di sana.
Elena melangkah masuk. Tangannya mengusap pelan senjata-senjata itu, sebelum berhenti pada sebuah pistol.
Ia mengambilnya, menimbangnya sebentar di tangannya.
Gerakannya begitu alami, seolah senjata itu bukan sesuatu yang asing baginya.
Elena kemudian berdiri di depan lintasan tembak.
Di kejauhan, sebuah papan target berbentuk manusia berdiri diam.
Ia mengangkat pistol, mengarahkan pada papan target dan—
DOR! DOR! DOR!
Elena menembak dengan presisi sempurna.
Ia menurunkan pistol. Tapi, bukannya berhenti, ia justru menekan sebuah tombol di samping meja.
Papan target bergeser menjauh. Lalu, Elena mengangkat pistolnya kembali dan mulai menembak.
DOR! DOR! DOR!
Setiap peluru melesat tepat sasaran. Tidak ada keraguan, tidak ada jeda. Satu demi satu peluru menembus bagian vital target.
Elena terus menekan pelatuk sampai peluru habis. Ia lalu menatap pistol di tangannya. Napasnya mulai terdengar berat.
Tetapi ia belum puas. Ia meletakkan pistol kosong itu, mengambil senjata lain, lalu memasang magasin baru.
DOR! DOR! DOR!
Tembakan kembali menggema. Seolah setiap peluru yang ia lepaskan adalah luapan amarah yang tidak pernah bisa ia keluarkan dengan kata-kata.
Wajah keluarganya, malam pembantaian, darah, jeritan dan, api.
Semuanya berputar di dalam kepalanya.
Dan kini, wajah anggotanya yang baru saja mengorbankan diri kembali muncul dalam ingatannya.
Dia terus menembak tanpa berniat untuk berhenti.
Tanpa sepengetahuan Elena, Leon berdiri dalam diam di sisi lain ruangan.
Pria itu memperhatikannya dari balik kaca jendela, menatap mata Elena yang menyimpan luka yang jauh lebih dalam.
Ia tahu, wanita itu tidak sedang berlatih, tapi melampiaskan amarahnya yang tertahan.
"Tidak peduli apapun alasan mu, tapi, aku tidak akan tinggal diam jika kamu berani melukai keluarga ku."
💖💖💖
nyogok biar dobel up🤭
huh benalu menyusahkan👊