Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK TERAKHIR DI KOTA DINGIN
Ada batas di mana sebuah dahan yang terus-terusan ditimpa salju tebal akhirnya akan patah. Begitu pula dengan hati manusia.
Bagi Kaito, batas itu telah terlampaui. Menyiksa dirinya sendiri setiap hari—berpura-pura asing di depan Hana, mengabaikan tatapan luka dan bingung dari gadis itu, serta memaksa dadanya menelan rasa cemburu dan kerinduan yang membakar—perlahan-lahan telah meremukkan seluruh pertahanan batinnya. Kaito berada di titik di mana ia tak lagi sanggup bernapas di kota yang sama dengan Hana.
Berada dalam satu kawasan perumahan yang sama, menyusuri jalanan kampus yang sama, namun harus berlaku bagai dua orang asing yang tak pernah saling kenal adalah neraka yang diciptakannya sendiri. Dan satu-satunya cara untuk menghentikan siksaan yang terus menggerogoti jiwanya ini, pikir Kaito, adalah dengan menghilangkan dirinya secara total dari kehidupan Hana.
Sore itu, kamar Kaito dipenuhi keheningan yang amat dingin dan pekat.
Cahaya temaram musim dingin masuk dari celah jendela, memantul di atas tumpukan berkas yang berserakan di atas meja kerjanya. Di sana, di balik deretan dua koper hitam besar yang sudah siap tersusun rapi di sudut ruangan, tergeletak sebuah dokumen resmi berstempel emas: Dokumen Penerimaan Program Pertukaran Akademik dan Magang - Universitas Politeknik Milan, Italia.
Kaito duduk diam di tepi tempat tidurnya, menatap kosong pada paspor biru dan tiket pesawat satu arah (one-way ticket) yang baru saja ia cetak jam dua siang tadi.
Keberangkatannya tinggal menghitung hari.
Ia tidak memberi tahu siapa pun tentang keputusan besar ini, terutama Hana. Kaito sengaja mengurus seluruh proses kepindahannya secara sangat rahasia dan diam-diam. Ia mengundurkan diri dari beberapa mata pelajaran hukum kampus, mengurus berkas administrasi fakultas di jam-jam sepi saat lorong gedung sudah melengang, dan mengemasi seluruh barang kehidupannya sedikit demi sedikit tanpa ada satu orang pun teman yang menyadari.
Jemarinya yang pucat, kurus, dan bergetar tipis meraba lembaran kertas tiket pesawat tersebut. Penerbangan malam, menembus benua menuju daratan Eropa yang jauh dan asing. Sebuah tempat di mana ia tak perlu lagi secara tak sengaja memergoki Hana berjalan di bawah satu payung bersama Haruto. Sebuah tempat di mana ia bisa membiarkan hatinya yang hancur membusuk dalam hening, tanpa perlu mengacaukan atau menjadi beban bagi hidup Hana lagi.
"Ini yang terbaik... ini satu-satunya cara, kan, Hana...?" cicit Kaito pelan pada kehampaan kamarnya yang sunyi.
Suaranya yang serak dan parau meluncur kaku dari tenggorokannya yang menyempit menahan sesak.
Kaito berdiri perlahan dari tepi tempat tidur, melangkah dengan berat menuju jendela kamarnya. Dari jendela lantai dua itu, ia hanya bisa melihat deretan atap rumah warga yang tertutup embun dingin serta persimpangan gang sepi yang mulai diterangi pendar lampu jalan.
Rumah Hana hanya berjarak sekitar lima rumah dari tempatnya berdiri saat ini, tetapi terletak di gang yang berbeda di sebalik deretan tembok perumahan. Jarak yang secara fisik amat dekat—hanya butuh waktu satu menit berjalan kaki—namun terasa membentang seluas samudra yang tak tertembus karena dinding batasan kaku yang sengaja ia bangun berbulan-bulan ini.
Dada Kaito mendadak berdesir hebat. Rasa sakit yang teramat familiar kembali menghantam ulu hatinya tanpa ampun, membuat napasnya tertahan dan tangannya mengepal erat di atas bingkai jendela hingga buku-buku jarinya memutih.
Kerinduan yang selama bertahun-tahun ini ia pasung secara paksa mendadak meletup meluap-luap, menuntut untuk dilepaskan.
Ia ingin sekali berlari keluar dari rumahnya, menyusuri belokan gang dingin yang memisahkan mereka, merobohkan pintu rumah Hana, dan mengetik ribuan kata maaf di layar ponsel gadis itu. Ia ingin memeluk tubuh Hana yang mungil, merasakan aroma tubuhnya yang menenangkan, dan mengatakan dengan jujur betapa ia sangat mencintai gadis itu sejak mereka masih mengenakan seragam sekolah dasar. Ia ingin berteriak di depan wajah Hana bahwa sikap dingin, tatapan tajam, dan pengabaiannya selama ini adalah kebohongan terbesar yang membakar habis jiwanya sendiri.
Namun, Kaito membenturkan dahi tipisnya ke kaca jendela yang membeku. Air mata yang sejak lama ia tahan dengan sekuat tenaga akhirnya menetes satu per satu, membasahi wajahnya yang tirus dan pucat.
Tidak boleh. Kamu tidak boleh merusak kebahagiaannya, Kaito.
Pikiran itu kembali bertindak sebagai algojo yang sangat kejam bagi perasaannya sendiri. Kaito membayangkan Hana yang saat ini (dalam pikiran dan prasangkanya yang salah) sedang hidup tenang, aman, dan bahagia dalam dekapan ketulusan Haruto. Kaito merasa dirinya hanyalah bayang-bayang kelam dan pembawa kesialan dari masa lalu yang bisa merusak hubungan indah Hana jika ia terus membayang di sana. Ia tidak pernah tahu—dan memilih untuk tidak pernah tahu—bahwa Hana sebenarnya telah memutuskan hubungannya dengan Haruto dalam keheningan yang menyakitkan.
Kaito memejamkan matanya rapat-rapt, membiarkan rasa sakit di dadanya membakar habis sisa-sisa keberaniannya untuk bertahan.
"Aku harus pergi..." bisiknya lirih, terengah-engah menahan tangis tanpa suara yang meremukkan dadanya. "Aku harus pergi jauh ke tempat yang tidak bisa kamu jangkau, agar kamu bisa tersenyum tanpa rasa cemas atau bersalah lagi padaku."
Kaito melangkah mundur dari jendela, berbalik memunggungi pendar lampu jalanan gang di luar.
Ia berjalan mendekati meja kerjanya yang sudah bersih dari buku-buku kuliah. Dari dalam laci paling bawah yang terkunci, Kaito mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil berwarna cokelat tua. Di dalamnya tersimpan sebuah gantungan kunci kayu sederhana buatan tangan—hadiah pertama yang diberikan Hana saat mereka masih duduk di sekolah dasar, disampaikan lewat gerakan bahasa isyarat yang polos dan terbata-bata.
Dengan tangan yang bergetar hebat, Kaito mengambil gantungan kunci itu. Ia meremasnya erat-erat di dalam genggaman telapak tangannya yang dingin, lalu memeluk benda kecil itu di dadanya.
Di dalam kamar yang gelap dan kedap itu, pertahanan Kaito runtuh sepenuhnya. Pria yang selalu berpura-pura tegar dan dingin di luar itu akhirnya merosot terduduk di lantai, menangis sesenggukan dalam kesendirian. Bahunya bergetar hebat, meratapi takdir dan cintanya yang tak pernah sempat terucap, meluapkan seluruh rasa hancur yang selama ini ia sembunyikan di balik senyum kaku atau wajah datarnya.
Malam kian larut, tetapi Kaito tidak tidur sedikit pun. Ia menghabiskan sisa jam-jam terakhirnya untuk menyelesaikan seluruh persiapan keberangkatan. Ia memastikan tidak ada satu pun barang peninggalannya yang tertinggal di kampus, menyusun maket-maket hukum nya ke dalam kotak penyimpanan akhir, dan mengunci koper-kopernya rapat-rapt.
Tidak ada surat perpisahan yang ia tulis untuk Hana. Tidak ada pesan singkat terakhir. Tidak ada jejak apa pun yang ingin ia tinggalkan.
Ia telah mantap memutuskan untuk menjadi bayangan yang menguap disapu angin dingin musim ini.
Saat jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi, Kaito berdiri di tengah kamarnya yang kini terasa kosong, hampa, dan asing. Ia melangkah ke depan cermin besar di sudut ruangan. Pria yang memantul di dalam cermin itu terlihat amat hancur, kurus, dan layu, tetapi sorot matanya menyimpan keteguhan yang sudah final—sebuah keteguhan dari seorang pria yang rela mengasingkan dirinya ke belahan dunia lain demi memastikan wanita yang paling dicintainya tetap aman dari bayang-bayang penderitaannya.
Kaito mematikan lampu kamar. Dunianya seketika tenggelam dalam kegelapan total.
Di bawah naungan malam kota Tokyo yang membeku dan sepi, Kaito telah siap menyusun langkah perpisahannya yang paling sunyi sebuah perjalanan jauh menuju benua Eropa yang tak akan pernah diketahui oleh Hana, hingga semuanya sudah benar-benar terlambat untuk diperbaiki.