Indonesia
NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Dibedakan

Kenapa Aku Dibedakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Wanita Karir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: nerissa ningrum

**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**

Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?

Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.

Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.

Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.

Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?

Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?

Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Angkat Tangan

Tak seorang pun berani memotong ucapannya.

Haselyn kembali tertawa pelan.

"Masuk SMA..." bisiknya. "Hidupku bahkan lebih lucu."

"Dulu saat SMP aku hanya membayar biaya sekolah."

"Tapi begitu masuk SMA..."

Ia menarik napas panjang, berusaha menahan sesak yang kembali memenuhi dadanya.

"...aku harus membayar semuanya sendiri."

"Uang sekolah."

"Uang makan."

"Tempat tinggal."

"Hingga kebutuhan sehari-hari."

"Semuanya."

Tidak ada yang tahu berapa kali ia harus menahan lapar.

Tidak ada yang tahu berapa malam ia menghabiskan waktu bekerja demi memastikan esok hari masih bisa berangkat ke sekolah.

Tidak ada pula yang pernah bertanya apakah pundaknya yang masih begitu muda sanggup memikul semua beban itu.

Haselyn menatap keluarganya satu per satu.

"Lucunya..." ucapnya dengan senyum yang begitu pahit.

"Kalian menyebut semua itu sebagai pelajaran agar aku menjadi anak yang mandiri."

Ia menggeleng pelan.

"Padahal yang kurasakan bukan sedang diajari mandiri."

"Melainkan ditinggalkan untuk berjuang sendirian."

Kalimat itu menggantung di udara.

Untuk pertama kalinya, semua orang di ruangan itu benar-benar melihat luka yang selama ini disembunyikan Haselyn.

Luka yang tidak tercipta dalam sehari.

Melainkan terbentuk sedikit demi sedikit sejak ia masih kecil, setiap kali dirinya diminta berjuang sendiri dengan alasan bahwa ia adalah 'anak pembangkang'.

"Aku memang anak yang kurang ajar."

Haselyn mengucapkan kalimat itu dengan senyum tipis yang menyakitkan.

"Anak yang tidak tahu diri."

Tatapannya menyapu satu per satu wajah keluarganya.

"Bahkan ketika aku harus menjalani kehamilan seorang diri... melahirkan... lalu membesarkan anakku sendirian di negeri orang tanpa satu pun keluarga di sisiku..."

Suaranya bergetar. Namun kali ini bukan karena tangis.

Melainkan karena luka yang selama bertahun-tahun ia paksa untuk dipendam.

"Lalu, bodohnya..." Haselyn terkekeh lirih. "Aku tetap memilih menjadi tulang punggung keluarga ini selama lima tahun."

Perlahan ia mengangkat telunjuknya ke arah Faezya.

"Termasuk Kakak."

Sorot mata Faezya langsung berubah.

"Kalau bukan karena aku, rumah yang Kakak tempati sekarang mungkin sudah lama dijual. Bahkan usaha yang Kakak jalankan tidak akan pernah berdiri."

Ucapan itu membuat rahang Faezya mengeras.

Haselyn tidak berhenti.

"Aku yang membantu modal usahamu."

"Aku juga yang mencarikan pekerjaan saat keadaan ekonomi Kakak hancur."

"Aku melakukan semua itu supaya rumah tangga Kakak tetap bertahan."

Faezya mengepalkan kedua tangannya.

"Jangan merasa paling berjasa!" bentaknya. "Jangan lupa, gara-gara kamu Mama jatuh sakit!"

Ruangan kembali dipenuhi ketegangan.

"Karena memikirkanmu, Mama terus menangis sampai kesehatannya menurun!" lanjut Faezya. "Kami harus menghabiskan banyak uang untuk biaya pengobatan beliau. Setelah Mama meninggal, uang kita habis untuk pengobatan mama dan keluarga ini jatuh bangkrut."

Setiap kata itu menghantam Haselyn tanpa ampun.

Ia menutup mata sesaat.

Tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Aku tidak pernah melupakan itu," katanya lirih.

"Tidak pernah sehari pun."

Haselyn membuka matanya kembali.

Tatapannya kosong.

"Justru karena rasa bersalah itulah aku pulang."

"Karena rasa bersalah itulah aku menebus kembali rumah ini setelah berpindah tangan akibat dilelang bank."

Ia menoleh ke sekeliling rumah yang berdiri megah di hadapan mereka.

"Rumah masa kecil kita..."

"Rumah yang hampir hilang."

"Rumah yang bisa kalian tinggali lagi karena aku menghabiskan begitu banyak tenaga, waktu, dan uang untuk mendapatkannya kembali."

Perlahan ia mengalihkan pandangannya kepada Faezya.

"Aku memberimu pekerjaan."

"Aku mengeluarkan modal agar usahamu bisa berjalan."

"Aku memastikan keluargamu tetap memiliki tempat tinggal yang layak."

Tatapannya kemudian beralih kepada Mahendra.

"Ayah pernah meminta sesuatu yang sangat berat dariku."

"Dan aku menuruti semua permintaan Ayah."

"Bukan karena aku tidak punya pilihan..."

"...tetapi karena aku masih menganggap keluarga ini adalah rumahku."

Terakhir, ia memandang Keysha.

"Bahkan perusahaan Paman yang berkali-kali hampir bangkrut tetap aku pertahankan."

"Berapa kali aku harus menutup kerugiannya, Paman tentu lebih tahu daripada siapa pun di ruangan ini."

Tak ada satu pun yang membantah.

Sebab mereka semua mengetahui bahwa setiap ucapan Haselyn adalah kenyataan.

Haselyn menarik napas panjang.

Lalu menatap seluruh anggota keluarganya secara bergantian.

"Setelah semua yang kulakukan..."

"...apa yang kudapat hari ini?"

Ia tertawa lirih.

"Kalian menghakimiku."

"Kalian memojokkanku."

"Hanya karena aku menampar kak Nisrina."

Senyum pahit kembali terukir di bibirnya.

"Padahal..."

Tatapannya berhenti tepat pada Nisrina yang sejak tadi terus menangis sambil menundukkan kepala.

"...tak seorang pun dari kalian bertanya kenapa aku sampai menampar anak kebanggaan yang selama ini selalu kalian bela."

Keheningan menyelimuti ruangan.

Tak lagi dipenuhi amarah.

Melainkan rasa sesak yang perlahan merambat ke hati setiap orang yang berada di sana.

Untuk pertama kalinya, mereka menyadari bahwa di balik kemarahan Haselyn, tersimpan pengorbanan yang selama ini tak pernah benar-benar mereka hargai.

"Seharusnya..." suara Haselyn bergetar menahan amarah. "Kalian bertanya dulu kenapa aku menamparnya."

Tatapannya menyapu satu per satu wajah keluarganya.

"Bukan langsung menghakimiku."

"Bukan langsung memojokkanku."

"Dan bukan terus-menerus mengungkit bahwa aku memiliki anak di usia yang masih sangat muda."

Air matanya kembali jatuh.

"Padahal kalian tahu..."

Haselyn menarik napas panjang.

"Itu bukan pernah menjadi pilihanku."

Ruangan kembali sunyi.

Tak ada seorang pun yang berani menatapnya secara langsung.

Faezya mengepalkan kedua tangannya. Meski di sudut hatinya ia mulai menyadari bahwa Haselyn memiliki alasan, egonya masih terlalu besar untuk mengakuinya.

"Bagaimanapun juga," bentaknya, "kamu tidak berhak mengangkat tangan kepada kakakmu!"

Haselyn mengangguk pelan.

"Baik."

Satu kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya.

"Kalau hanya karena satu tamparan kalian bisa melupakan semua yang telah kulakukan untuk keluarga ini..."

Ia mengangkat kedua tangannya perlahan, seolah menyerahkan semuanya.

"...mulai hari ini aku memilih angkat tangan."

"Aku tidak akan lagi ikut campur dalam urusan keluarga."

Kalimat itu membuat seluruh ruangan seketika gaduh.

"Apa maksudmu?" bentak Faezya spontan.

"Kamu mau lepas tangan begitu saja dari keluarga ini?"

Nada suaranya terdengar keras, tetapi kali ini terselip kepanikan yang gagal ia sembunyikan.

Selama lima tahun terakhir, semua orang di rumah itu tahu siapa yang menopang kehidupan mereka.

Mereka tahu siapa yang membayar utang-utang keluarga.

Siapa yang menghidupkan kembali usaha yang nyaris bangkrut.

Dan siapa yang menjaga agar rumah itu tetap berdiri.

Haselyn menatap Faezya tanpa sedikit pun mengubah ekspresi wajahnya.

"Aku rasa..." katanya pelan.

"Apa yang kulakukan selama ini sudah lebih dari cukup."

Ia tersenyum hambar.

"Sejak SMP aku membayar sekolahku sendiri."

"Sejak SMA aku membiayai hidupku sendiri."

"Aku bekerja ketika teman-teman seusiaku masih meminta uang saku kepada orang tua."

"Aku bertahan sendirian."

"Sementara kalian..."

Haselyn menatap lurus ke arah kakaknya.

"...selalu meminta aku memahami keadaan kalian."

Ia melangkah satu langkah mendekat.

"Lalu sekarang coba jawab padaku, Kak."

"Kalau bukan karena bantuanku..."

"Apakah rumah yang Kakak tempati sekarang masih bisa dipertahankan?"

"Apakah mobil yang setiap hari Kakak gunakan masih ada di halaman rumah?"

Tak ada jawaban.

Faezya hanya mengepalkan rahangnya.

Karena jauh di lubuk hatinya, ia tahu...

Setiap kata yang diucapkan Haselyn bukanlah bualan.

Melainkan kenyataan yang selama ini berusaha mereka abaikan.

1
Novansyah
bagus kk tapi kalau bisa update jangan cuma 1 bab kk kalau bisa sekali update 4 sampai 5 bab
anggita
dukung like👍, iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!