Raya lemes ketika pacar yang sudah menemaninya saat miskin maupun sugih, saat waras maupun lagi nggak eling, saat susah maupun senang, kini hilang tidak ada kabar. Padahal Jaka sempat ajak Raya ke bazar kuliner sebelum menghilang.
Raya dan Jaka adalah pasangan seiya sekata senada dan seirama sejak 3 tahun lalu. Dulu Raya ketemu sama Jack saat lagi razia dagangan yang digelar depan panti jompo.
Raya suka ikut membantu bibinya jualan kembang kuburan dan aksesoris pemakaman, komisinya lumayan buat beli seblak bojrot. Apesnya hari ini sedang ada operasi gabungan sapu bersih dari tim Satpol PP.
" Ya Allah Pak, itu air mawar dan kendi-kendinya jangan dihancurin ya. Saya nggak punya modal lagi buat jualan kembang " mohon Bi Nur
Tiba-tiba ditengah kekacauan itu, muncullah pangeran tampan yang bikin hati Raya geter-geter kayak kena gempa. Lelaki yang baru turun dari truck Satpol PP itu adalah Jaka, ternyata dia adalah anak dari Komandan Pasukan yang bernama Pak Zaki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Baru?
2 minggu berlalu sejak insiden di acara Panen Raya. Kehidupan Raya di Layung Koneng perlahan kembali normal, meski kini seluruh warga desa sudah mengetahui rahasia yang selama ini ia sembunyikan. Alih-alih menjauhinya, warga justru semakin merangkul Raya dengan penuh simpati, bahkan beberapa dari mereka mulai ikut membantu menjaga keamanan di sekitar rumah Bik Tati secara bergiliran setiap malam.
Dan untuk Mbok Darsih, Raya menyerahkan sepenuhnya pada Pak RT. Entah mau di hukum atau tidak, yang jelas wanita tua itu sudah tidak diperkenankan masuk ke desa Layung Koneng lagi.
Kedekatan Raya dan Razka pun semakin erat setelah kejadian itu, lelaki itu semakin sering menunjukkan perhatian yang begitu tulus, seolah tekadnya untuk melindungi Raya semakin menguat setiap harinya.
Kadang Kang Razka ajak Raya jajan, makan siang, atau sekedar jalan-jalan. Pokoknya ada saja alasan Razka untuk pergi bersama Raya, dan Bik Tati tentu tau maksud pemuda berusia 26 tahun itu yang rajin datang ke rumah.
"Neng, hari ini saya cuti kerja. Mau saya temenin ke pasar buat beli kebutuhan dapur? atau mau kulineran lagi? " tawar Razka suatu pagi, motor trailnya sudah terparkir rapi di depan rumah.
"Boleh, Kang. Kebetulan Bik Tati emang lagi butuh bahan buat bikin kue basah." jawab Raya sambil tersenyum, kini ia sudah tak lagi canggung menerima berbagai perhatian kecil dari Razka.
" Yes!" ucap Razka full senyum.
Namun di tengah kebahagiaan sederhana yang mulai tumbuh di antara mereka, sebuah kabar tak terduga datang begitu saja, mengubah suasana yang tadinya begitu hangat menjadi penuh kecanggungan.
Sebuah mobil sedan putih berhenti di depan rumah Bik Tati siang itu, menurunkan seorang perempuan paruh baya berpakaian rapi bersama seorang gadis muda yang begitu cantik, mengenakan kerudung modis yang menunjukkan mereka berasal dari kalangan berada.
"Assalamualaikum, punten. Apa benar Razka ada disini? " tanya perempuan itu sopan begitu Bik Tati keluar menyambut tamu asing tersebut.
"Waalaikumsalam, iya betul. Razka lagi ada di sini kok, ada perlu apa ya, Bu?" tanya Bik Tati ramah, meski matanya menyimpan sedikit kebingungan melihat tamu yang begitu tak terduga itu.
Razka yang kebetulan sedang berada di teras bersama Raya, langsung menoleh kaget begitu mendengar suara familiar itu. Wajahnya seketika berubah pucat, sebuah ekspresi yang begitu jarang terlihat dari lelaki yang biasanya begitu tenang itu.
" Ibu?" gumam Razka tak percaya, suaranya begitu bergetar.
Perempuan itu tersenyum lebar begitu melihat Razka, ia langsung melangkah cepat menghampirinya dengan penuh semangat.
"Razka! Akhirnya Ibu ketemu kamu juga, susah banget dicari, sampe Ibu harus tanya ke kantor kecamatan segala." ucap Bu Retno antusias.
" Ibu tau dari siapa kalau aku disini? "
" Tadi ibu ketemu sama bapak-bapak di kantor kecamatan, katanya dia lihat kamu kunjungan kesini. "
" Oh gitu " jawabnya masih mikir, kira-kira ibunya mau bikin ulah apalagi.
"Ini loh Ibu bawa Hanum, calon istri kamu."
Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong bagi Raya. Gadis itu menoleh cepat ke arah Razka, matanya membelalak tak percaya mendengar pengakuan yang begitu mengejutkan itu.
"Calon istri?" bisik Raya lirih, suaranya begitu bergetar antara syok dan kebingungan.
Razka tampak begitu gelagapan, wajahnya semakin pucat menyadari situasi yang begitu tak terduga ini terjadi tepat di depan Raya.
"Bu, ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah ini." ucap Razka cepat, ia mencoba menahan laju pembicaraan yang sudah begitu jauh melenceng dari yang ia harapkan.
"Loh, kenapa? Kan ini sudah perjanjian sejak Bapak kamu masih hidup, Razka. Perjodohan antara kamu dan Hanum sudah disepakati kedua keluarga sejak kalian masih remaja. " jelas Bu Retno tanpa menyadari kecanggungan yang begitu kentara di wajah putranya itu, " Sekarang kan kamu sudah mapan, sudah waktunya kita bicarakan tanggal pernikahannya."
Hanum, gadis yang berdiri di samping Bu Retno tersenyum manis ke arah Razka, meski matanya sempat melirik curiga pada sosok Raya yang berdiri tak jauh dari mereka dengan wajah yang begitu tegang.
"Kang Razka apa kabar? Sudah lama kita nggak ketemu," sapa Rani sopan, meski ada nada posesif yang tersirat dari cara ia menatap Raya.
Raya berdiri mematung, dadanya terasa sesak menahan berbagai perasaan yang begitu bertumpuk. Segala kehangatan dan harapan kecil yang mulai tumbuh dalam hatinya bersama Razka, kini seketika runtuh oleh sebuah kenyataan yang begitu tak terduga.
"Maaf, sepertinya saya menganggu momen keluarga ini." ucap Raya pelan "saya masuk dulu ya, Kang."
" Neng.... "
Raya bergegas masuk ke dalam rumah tanpa menunggu jawaban siapa pun, meninggalkan Razka yang berdiri kebingungan di antara ibunya, calon istri yang tak pernah ia setujui, dan seorang gadis yang diam-diam telah begitu mengisi hatinya belakangan ini.
"Neng, tunggu!" seru Razka, hendak mengejar Raya, namun tangan Bu Retno keburu menahan lengannya.
"Razka, kamu kenapa? Siapa gadis itu?" tanya Bu Retno curiga, matanya menatap tajam ke arah pintu rumah yang baru saja tertutup rapat.
Razka menghela napas panjang, wajahnya begitu penuh dilema antara menghormati ibunya dan mengejar kejelasan hatinya sendiri yang sudah begitu jelas condong pada satu sosok, yaitu Raya.
"Bu, kita perlu bicara serius soal perjodohan ini. Rasanya perjanjian ini tidak tepat dan perlu di revisi" ucap Razka, suaranya begitu tegas meski hatinya masih dipenuhi kekhawatiran akan reaksi Raya yang begitu terluka melihat kenyataan yang begitu mendadak itu.
" Revisi gimana maksudnya, Razka? "
Di dalam kamar sederhananya, Raya duduk terisak di atas kasur, air matanya mengalir deras tanpa bisa ia bendung lagi. Ternyata, di tengah usahanya menjauh dari satu luka, ia justru dihadapkan pada kemungkinan luka baru yang tak kalah menyakitkan, sebuah kenyataan pahit bahwa mungkin memang belum saatnya bagi hatinya untuk kembali berharap pada cinta yang baru.
Jauh disana, tanpa Raya sadari, Manda yang baru saja kembali dari rumah Ki Bagas dengan jimat hitam di tangannya, tersenyum penuh kepuasan membaca sebuah pesan yang baru saja masuk dari salah satu mata-matanya di Garut, seolah semesta tengah berpihak padanya untuk melancarkan rencana balas dendam yang sudah begitu lama ia rencanakan.
[Mata-mata: Neng, ada kabar baru. Razka ternyata udah dijodohin sama anak orang kaya di kota, namanya Hanum. Kayaknya bakal ada drama besar nih di desa itu.]
Manda menyeringai puas, matanya berkilat penuh perhitungan licik sambil menggenggam erat jimat hitam pemberian Ki Bagas itu.
"Sempurna," desisnya pelan, "kalau begitu, saatnya saya manfaatkan celah ini buat bikin hidup Raya makin berantakan."
Bakar tuh jimatnya, Bu biar anakmu eling..
Mana ada orang pkk begituan bales dg tulus... Itu mah halusinasi gilamu sendiri.. dasar ulet keket /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
.
Lagian orang waras mikir 1000x duwit segitu banyak habis buat hal gak jelas dan pasti cari cara buat usaha sendiri tanpa capek ikut aturan orang lain dg kejar target