Hidup bukan sekadar berjalan mengikuti arus dunia, melainkan tentang bagaimana jiwa menemukan jalan pulang kepada Sang Pencipta.
Fazam Arjuna mengira hari-harinya hanya akan diisi dengan kesederhanaan hidup dan secangkir kopi di rumah bersama keluarga tercinta. Namun, takdir membawanya pada sebuah panggilan batin yang jauh lebih dalam—sebuah perjalanan laku spiritual yang menguji keteguhan hati, kesabaran, dan keikhlasan.
Di tengah sunyinya jalan setapak pencarian hakikat diri, langkah Fazam tidak berjalan sendirian. Ia ditemani oleh rahasia semesta yang terbentang, pengawalan batin dari sosok harimau putih, hingga bimbingan penuh kearifan dari Eyang Semar yang menuntunnya menembus tirai gaib kehidupan.
Bagaimana kisah Fazam dalam menyucikan hati dan menemukan cahaya sejati di tengah liku-liku batinnya?
Ikuti perjalanan penuh hikmah dan misteri batin dalam Perjalanan Laku Spiritual. Temukan jawabannya di setiap lembarnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Hati yang Selalu Berbagi — Jejak Sunan Drajat
Jalan berkelok membelah hamparan sawah yang hijau keemasan, angin berhembus lembut memainkan padi yang mulai menguning. Fazam berjalan kaki perlahan namun mantap, tas kain tersampir di bahu, tasbih kayu selalu di tangan. Hari berganti hari, langkahnya makin ringan meski tubuh lelah — karena ia sadar, perjalanan ini bukan sekadar menapak tanah, tapi menapaki jejak hati para leluhur yang hidupnya sederhana namun penuh makna.
Menjelang siang, Fazam tiba di Lamongan — tempat makam Sunan Drajat berada. Udara di sana terasa sejuk dan tenang. Orang-orang di desa itu saling menyapa dengan ramah, tidak ada yang berjalan dengan wajah masam atau sombong. Fazam bertanya arah kepada seorang petani yang baru selesai bekerja di ladang, dan petani itu langsung tersenyum lebar sambil menunjuk jalan dengan tangan penuh semangat.
"Ikuti jalan setapak itu terus, Le. Nanti kau akan melihat pohon asam yang besar di pinggir jalan — di sanalah tempat makam Sunan Drajat berada. Tempatnya sederhana, persis seperti hidup beliau dulu," ucap petani itu ramah.
"Terima kasih banyak, Pak. Semoga hasil panen Bapak diberkahi berlimpah," jawab Fazam sopan sambil menundukkan kepala.
Sesampainya di kawasan makam, Fazam terdiam sejenak. Tempat itu memang sederhana sekali — tidak ada kemegahan yang menyilaukan, tidak ada hiasan mewah. Hanya ada pohon-pohon besar yang rindang, bangunan masjid dari kayu jati tua yang kokoh namun sederhana, dan makam yang tertutup kain putih bersih. Kesederhanaan ini bukan kekurangan — justru inilah cerminan hidup Sunan Drajat yang sesungguhnya: hidup sederhana, tidak mengumpulkan harta untuk diri sendiri, dan selalu membagi apa yang dimiliki kepada sesama.
Fazam melepas alas kaki, membersihkan debu di pakaiannya, lalu melangkah masuk perlahan dengan hati penuh hormat. Ia duduk bersimpuh di tepi makam, membaca Surat Al-Fatihah perlahan dan khusyuk, lalu mengirimkan pahalanya kepada roh Sunan Drajat — Raden Qasim — yang hidupnya menjadi pelita bagi rakyat kecil, yang mengajarkan bahwa kemuliaan bukan dari harta atau kedudukan, tapi dari hati yang mau berbagi.
"Mbah Sunan Drajat..." ucap Fazam pelan di dalam hati, "Hamba datang belajar dari Bapak — bagaimana hidup sederhana namun kaya hati, bagaimana memiliki sedikit saja tapi tetap merasa cukup dan mau berbagi. Ajarkan hamba bahwa harta yang abadi bukan emas atau perak — melainkan kebaikan yang kita berikan kepada sesama."
Di samping makam, duduk seorang kakek tua yang merawat tempat itu setiap hari. Pakaiannya sederhana, kulitnya cokelat terbakar matahari, namun wajahnya bersinar damai. Ia melihat Fazam duduk termenung lama dengan mata berkaca-kaca, lalu berjalan mendekat perlahan sambil membawa sepotong singkong rebus dan sebilah pisang.
"Makanlah sedikit, Le. Perut yang kenyang membuat hati lebih mudah menerima kebenaran," ucap kakek itu lembut sambil meletakkan pemberiannya di depan Fazam.
Fazam menatap pemberian sederhana itu, lalu menatap wajah kakek tua yang tulus itu. Hatinya terasa hangat. Ia menerima dengan kedua tangan. "Terima kasih banyak, Kek. Pemberian ini sederhana tapi terasa sangat berharga," jawab Fazam dengan penuh rasa syukur.
Kakek itu duduk di atas batu pipih tak jauh dari sana, lalu memandang makam Sunan Drajat dengan senyum penuh kasih sayang. "Kau tahu, Le — Sunan Drajat dulu hidup di sini dengan sangat sederhana. Ia punya ladang, tapi hasilnya sebagian besar dibagikan kepada yang butuh. Ia punya rumah, tapi siapa pun yang lapar dan lelah boleh masuk makan dan istirahat. Beliau pernah berkata: lebih baik sedikit tapi berkat, daripada banyak tapi menumpuk sendirian," ucap kakek itu pelan namun tegas.
"Tapi Kek... kalau kita terus berbagi, nanti kita sendiri tidak punya apa-apa," tanya Fazam dengan jujur mengutarakan apa yang ada di hatinya.
Kakek itu tertawa kecil, tawanya renyah dan meneduhkan. Ia menatap langit biru sebentar, lalu kembali menatap Fazam. "Itu pikiran dunia, Le. Dunia mengajarkan: simpan banyak, takut kurang. Tapi Sunan Drajat mengajarkan sebaliknya — semakin kau berbagi, semakin hatimu kaya. Harta di tangan bisa habis, tapi kebaikan yang kau tanam di hati orang lain itu tidak akan pernah hilang. Itulah harta yang abadi," sahut kakek itu mantap.
"Bagaimana caranya hidup sederhana tapi tetap bahagia? Kadang hamba merasa ingin punya ini dan itu, lalu hati tidak tenang," ucap Fazam jujur.
Kakek itu menunjuk ke arah singkong rebus di tangan Fazam. "Lihatlah singkong ini. Sederhana, murah, bisa didapat di mana saja. Tapi kalau dimakan dengan rasa syukur — rasanya lebih nikmat daripada hidangan mewah yang dimakan dengan hati gelisah. Kunci kebahagiaan bukan di menambah harta — tapi di mengurangi keinginan. Cukup secukupnya, bersyukur atas apa yang ada, dan berbagi sisanya. Itulah cara hidup Sunan Drajat dulu," jawab kakek itu lembut namun dalam.
Fazam mengangguk perlahan, meresapi setiap kata. Ia memakan singkong rebus itu perlahan — rasanya sederhana namun nikmat sekali. Di dalam hatinya tumbuh kesadaran baru: selama ini ia sering merasa kurang bukan karena memang kurang, tapi karena hatinya terlalu banyak menginginkan.
"Kek... kalau hamba hanya punya sedikit saja, bolehkah hamba tetap berbagi?" tanya Fazam lagi.
"Justru itulah yang paling berharga," jawab kakek itu sambil menepuk tanah pelan, "Berbagi saat kau punya banyak itu mudah. Tapi berbagi saat kau punya sedikit — itu lah yang berat dan mulia. Sunan Drajat dulu berkata: sebutir beras yang kau berikan dengan tulus kepada yang lapar nilainya lebih tinggi dari gunung emas. Karena bukan besarnya pemberian — tapi tulusnya hati yang memberi."
Air mata menetes pelan di pipi Fazam. Ia meletakkan sisa singkongnya sebentar, lalu menatap kakek tua itu dengan penuh rasa hormat. "Terima kasih banyak, Kek. Kata-kata ini masuk ke dalam hati hamba dan membuka mata hamba. Hamba belajar hari ini — kemuliaan bukan di atas takhta, tapi di hati yang rendah dan selalu berbagi," ucap Fazam dengan suara bergetar.
Kakek itu tersenyum lembut, matanya berkaca-kaca melihat ketulusan pemuda itu. "Belajarlah seumur hidup, Le. Jangan sampai harta atau dunia menguasai hatimu. Jadilah seperti ladang ini — ditanam, tumbuh, dan memberi hasil kepada siapa saja yang membutuhkan. Tanah tidak menanyakan asal orang yang menanamnya — ia memberi hasil sama kepada siapa pun," sahut kakek itu.
Matahari mulai condong ke barat, udara sore yang sejuk mulai berhembus pelan. Fazam berpamitan dengan sopan, mencium tangan kakek tua itu dengan penuh hormat. Sebelum pergi, ia mengambil sepotong kecil singkong yang tersisa, lalu memandang makam Sunan Drajat sekali lagi.
"Mbah Sunan Drajat... doakan hamba, semoga hati hamba pun sederhana dan luas seperti Bapak. Biarkan hamba hidup secukupnya, dan berbagi sebanyak mungkin," bisik Fazam pelan di dalam hati.
Langkah Fazam meninggalkan kawasan makam itu terasa ringan dan mantap. Tas kain di bahunya mungkin berisi sedikit — tapi hatinya kini penuh. Ia sadar satu hal: hidup sederhana bukan berarti miskin — justru sebaliknya, itu adalah jalan menuju kekayaan hati yang sesungguhnya.
Dan di dalam sanubarinya, di antara langkah kaki yang perlahan menyusuri jalan pulang menuju tempat istirahat, zikir lembut terus mengalir — penuh syukur, rendah hati, dan siap berbagi: