Indonesia
NovelToon NovelToon
Zuraida & Si Kembar

Zuraida & Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.

Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Kemajuan Sean sudah terlihat jelas. Perlahan namun pasti anak itu sudah menunjukkan perubahan yang signifikan. Jauh dari yang sebelumnya.

Yang paling penting Sean sudah bisa mengenal huruf dengan baik dan tentu saja membaca walau sesekali terbata.

"Kalau begini kamu udah bisa sekolah lagi, Se." Usai Zuraida mengirimkan laporan pada wali kelas dan kepala sekolah.

Bukan kali ini saja melainkan sudah sejak awal Sean belajar di rumah. Rutin setiap minggu Zuraida mengirimkan perkembangan Sean yang dari belum bisa apa-apa sampai sekarang ini.

"Aku belum yakin, aku masih takut, Zuraida." Sejujurnya karena kejadian kemarin cukup menghancurkan rasa percaya dirinya. Sean takut menjadi bahan ejekan.

"Yakin, kamu harus yakin sama dirimu sendiri. Saya juga sangat percaya sama kamu."

"Aku tahu, tapi aku takut." Sean belum bisa mengatasi rasa takutnya. Sudah punya bekal untuk sekolah tak menjadikannya pemberani setelah apa yang dialaminya. Semuanya membekas.

"Nggak apa, pelan-pelan aja, Se. Masih banyak waktu ini. Kita terus belajar sampai benar-benar bisa dan kamu yakin pada dirimu sendiri."

Sean mengangguk lirik.

Waktu menunjukkan pukul setengah tiga saat Sena memasuki kamar. Di sana ada Sean yang masih belajar.

"Kamu bete nggak sih di rumah terus?," tanya Sena sembari melepas seragam.

"Nggak, biasa aja." Jawab Sean.

"Kalau bete kamu bisa ikut aku main."

"Bersama teman-temanmu?." Sean tak akan melupakan orang-orang itu.

"Iya, tapi nggak semuanya ikut. Aku main cuma berdua aja. Kalau mau ikut jadi bertiga kita."

Sean terdiam.

"Tenang aja, Arian bukan orang yang ikut mengerjaimu di toilet."

"Kamu tahu?."

"Hmmm."

"Terus kamu masih main sama mereka?."

"Mereka hanya becanda, Se. Zuraida saja yang membesar-besarkan. Kamu juga nggak apa-apa kan?. Sebenarnya mereka itu asyik, Se."

Sean kembali terdiam.

"Jadi ikut nggak?."

"Kamu bener ngajak aku?," Sean memastikan. Bagaimana juga ia mau main. Tapi ia masih ragu.

"Iya, ayo. Kamu siap-siap. Kita main sepuasnya."

Sean mengangguk kegirangan. Sudah lama ia tak main ke mana-mana. Keinginan itu dipendamnya karena ia tak bisa apa-apa selain hanya harus fokus belajar dan belajar di rumah bersama Zuraida.

Kesempatan itu sekarang datang. Tak boleh disia-siakannya.

Sena dan Sean yang berpakaian rapi sudah di teras. Mereka berdiri di sana, sengaja menunggui daddy mereka turun dari mobil.

"Kalian mau ke mana?," tanya daddy saat di hadapan mereka.

"Main di sama teman-teman aku, Dad." Sena yang menjawab.

"Ya udah hati-hati. Pergi diantar supir aja. Nanti pulangnya juga."

"Oke, Dad."

Si kembar berjalan ke arah mobil.

"Mereka mau ke mana, Mas?." Tanya Zuraida yang baru datang.

"Main, sayang."

Zuraida menatap cemas kedua anak tirinya itu yang dibawa pergi oleh mobil. Entah kenapa hatinya merasa resah. Anak-anak itu di luar tanpa adanya pengawasan. Padahal menurutnya si kembar belum bisa dilepas main hanya berdua. Mungkin itu pemikirannya saja.

"Sudah, biarkan mereka belajar mandiri."

Zuraida tersenyum samar, mengikuti suami yang merangkul pinggangnya.

Mobil yang dinaiki Sean dan Sena sudah sampai di rumah temannya Sena. Sudah seperti rumah sendiri saja, Sena langsung masuk mengajak Sean. Mereka terus menuju kamar pemilik rumah.

"Kalian udah datang." Suara si pemilik rumah dari kamar mandi.

"Belum rapi?," Sena langsung mengambil botol miliknya.

Sean menatapnya lekat.

"Aku sat set nggak lama, Sen."

"Oke, Ar."

Pria yang dipanggil Ar itu namanya Arian. Arian ini yang paling mencolok di antara teman-teman Sena yang lain. Bagi Sena suatu kebanggaan bisa menjadi temannya Arian.

"Mau coba nggak?," Sena menawari Sean. Sena tahu mata Sean tak lepas darinya.

"Itu apa Sen?." tanyanya penasaran.

"Minuman biasa, nggak ngaruh apa-apa."

"Udah lama kamu minum itu?."

"Hmmm," sahutnya santai.

Sean terdiam, ragu untuk menerima minuman itu.

"Ini buktinya aku nggak kenapa-kenapa. Aman-aman aja, tetap bisa sekolah. Nggak ada ngaruh apa-apa ke badan, Se." Sena meyakinkan.

Akhirnya Sean menolak minuman tersebut karena Arian sudah selesai berpakaian. Mereka akan pergi lagi.

"Ke mana kita, Sen?." Tanya Sean berbisik saat sudah di mobil.

"Nanti juga tahu," respon Sena.

Arian hanya tersenyum saja.

Mobil sudah berhenti tepat di depan sebuah bangunan biasa saja. Malah kalau dari luar tampak seperti rumah huni.

"Ini rumah temanmu, Sen?." Tanya Sean lagi.

"Bukan," jawabnya tetap santai.

Arian jalan di depan si kembar, akses masuk pun didapatkannya dengan mudah. Setelah di dalam baru Sean tahu kalau itu club. Sean menarik tangan Sena menjauh dari Arian.

"Kita nggak boleh di sini, Sen." Katanya sangat kencang karena suara musik yang memekik.

"Sebentar saja, Se." Bujuk Sena.

"Daddy nggak akan tahu kita di sini." Lanjutnya.

"Tapi tetap saja kita nggak boleh di sini, Sen." Sean tetap tak mau berada di tempat itu.

"Kalau nggak kamu duduk saja di sana, nggak usah ikut aku sama Arian." Menunjuk sofa yang ada di sudut.

Kepala Sean menggeleng.

"Udah jangan bandel, aku nggak lama." Sena berjalan mendekati Arian. Terpaksa Sean mengikuti, daripada hilang di tempat remang itu.

Mereka bertiga duduk di sofa panjang. Ada seorang pria yang menaruh satu botol dan tiga gelas.

"Ini baru lagi?," tanya Sena.

"Iya, Sen, dan ini lebih enak. Coba lah." Lalu menuangkannya untuk Sena.

"Sean sekalian?." Tanya Arian menatap Sean.

Sean langsung menggeleng. Dan Sena langsung meneguk minuman dalam gelasnya. Wajahnya terlihat menyeringai, rasanya sangat tajam.

"Pelan-pelan aja, Sen." Arian tertawa.

"Aman nggak nih buat aku?."

"Tenang aja, sangat aman malahan."

Sena dan Arian tertawa lalu mulai minum lagi.

Lupa waktu, itu yang terjadi pada Sena. Sean sudah mengajak Sena pulang namun Sena masih asyik dengan Arian minum-minum. Sudah habis beberapa botol namun masih kuat minum.

Tepat pukul dua belas malam Sean dan Sena tiba di rumah diantar Arian. Sean memegangi tubuh Sena karena sempoyongan. Tak sanggup berdiri tegak. Ini kali pertama Sena mengalaminya.

Buru-buru Sean membawa Sena ke kamar. Tubuh Sena langsung ambruk telentang di atas tempat tidur. Sean membantu Sena mengganti pakaian supaya Zuraida tak mencium apa pun. Setelah selesai baru ia yang ganti pakaian.

Kemudian Zuraida datang membuka pintu, Sean baru merebahkan tubuhnya.

"Bisa katakan pada saya kalian main apa?. Kenapa sampai pulang larut malam begini?."

"Kami bermain biasa aja, Zuraida. Di rumah teman Sena." Bohong Sean sebab takut dimarahi baik oleh Zuraida atau Sena.

"Orang tua temannya Sena tidak menyuruh kalian pulang?."

"Orang tuanya pulang larut malam juga, Zuraida."

"Iya. Tidurlah, Se."

"Iya, Zuraida." Langsung menutup seluruh tubuh dengan selimut.

Zuraida merapikan pakaian kotor di dalam keranjang. Memeriksa pakaian kedua anaknya. Mencium bau aroma yang menyengat dari pakaian yang dikenakan Sena yang disertai bau rokok dari pakaian keduanya.

Bersambung

1
Mai_mai
cepat lah ketahuan tentang sena kalo bisa pindah sekolah saja
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor cerita bagus bgt .
𝐈𝐬𝐭𝐲
sena udah salah jalan semoga orang tuanya segera menyadarinya... dan Sena masih bisa di selamatkan kalo bisa pindah dari sekolahan itu...
Soraya
q mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!