Roxanna Rasmussen menyerahkan segalanya demi seorang pria yang tak pernah benar-benar mencintainya. Selama tiga tahun ia memainkan peran istri yang setia bagi Alessandro Selenko—konglomerat media dingin yang menikahinya karena keterpaksaan keluarga—sambil menelan setiap penghinaan dengan senyum. Lalu, tepat saat ia mengetahui dirinya mengandung, cinta pertama sang suami kembali... dan Alessandro menyodorkan surat cerai bagai hadiah.
Kali ini, Roxanna tak sudi lagi menjadi perempuan bodoh.
Ia melepas cincin kawinnya, menghilang tanpa jejak, dan memulai hidup baru dari titik nol—hamil, sebatang kara, terdampar di jalanan sebuah kota asing. Di sanalah Chris, pemilik restoran berhati hangat, menemukannya dan menawarkan tempat berlindung yang tak pernah ia dapatkan dalam pernikahannya.
Tapi Roxanna menyimpan satu rahasia yang bahkan tak diketahui pria yang paling ingin menghancurkannya: perempuan yang mereka campakkan ini adalah pewaris sebuah kerajaan bayangan. Dan ketika Sang Imperatrix bangkit dari keterpurukan, semua orang yang pernah meremehkannya akan belajar satu hal—bahwa perempuan yang tak lagi punya apa pun untuk dilindungi adalah lawan yang paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna Brenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ia pun Punya Masalahnya Sendiri
Selagi waktu berlalu perlahan di ruang perawatan, Adie mulai merenungkan keadaannya. Ia bersyukur atas kebaikan Chris dan dukungan tak terduga darinya.
Meski telah memberikan nama palsu, risiko Alessandro atau seseorang yang terkait dengannya menemukan dirinya tetap membayang di atas kepalanya. Ia merasa rapuh, tapi juga bertekad memulai hidup baru, jauh dari kendali suaminya.
Ketika Chris akhirnya kembali ke rumah sakit, ia membawa beberapa potong pakaian dan perlengkapan mandi sederhana. Ia menghampiri Roxanna dengan senyum hangat, seraya bertanya,
"Semua baik-baik saja di sini?"
Roxanna membalas senyumnya dan berterima kasih atas barang-barang itu. Merasa perlu lebih jujur padanya, ia memutuskan mengungkapkan sesuatu tentang keadaannya.
"Aku... aku ingin memberitahumu bahwa aku sebenarnya bukan Adie. Namaku Roxanna. Roxanna Rasmussen." Ia ragu-ragu, mengamati reaksi Chris.
Chris mengangguk tanda mengerti, secercah pemahaman berkilat di matanya.
"Aku mengerti. Kau punya alasan sendiri untuk tidak langsung percaya padaku. Tapi terima kasih sudah membagikan nama aslimu, Roxanna."
Keduanya berbagi keheningan singkat, menghargai ketulusan satu sama lain.
Roxanna merasa lega telah berterus terang pada Chris dan atas keterbukaan pria itu.
Setelah menimbang matang-matang pilihan yang ada, Roxanna memutuskan menerima tawaran Chris untuk bekerja di bar sekaligus restorannya, Aurorabyer. Ia memperhatikan pria itu meletakkan barang-barang di sofa, lalu dengan raut bertekad berkata,
"Aku terima tawaranmu."
Chris berhenti membereskan barang-barangnya dan berbalik menghadapnya, sedikit terkejut dengan keputusan itu.
"Kau menerimanya?"
Roxanna mengangguk dan melanjutkan, menunjukkan bahwa ada syarat di balik penerimaannya,
"Tapi aku ingin kau memotong dari gaji bulananku semua yang sudah kau keluarkan untukku. Itu syaratku, tak bisa ditawar."
Chris tersenyum samar, tampak menyetujui tuntutannya.
"Baiklah, terserah aturanmu." Raut wajahnya menjadi lebih serius saat ia menambahkan, "Tapi aku ingin kau juga menjaga bayimu. Jangan memaksakan diri, dan aku akan memastikan kau tidak bekerja berlebihan. Katanya bulan-bulan pertama paling rawan keguguran."
Roxanna terkejut dengan hal-hal yang tampaknya diketahui Chris soal kehamilan. Ia membayangkan betapa berbedanya keadaan seandainya Alessandro lebih mirip Chris, yang begitu peduli dan paham soal kehamilan. Ia tak bisa menahan diri untuk bertanya,
"Bagaimana kau bisa tahu begitu banyak soal kehamilan? Kau pernah jadi ayah?"
Raut wajah Chris berubah, menjadi lebih tertutup dan berhati-hati.
"Ada hal-hal yang tidak kubicarakan dengan orang asing. Sejujurnya, aku paham kau perlu menyembunyikan siapa dirimu sebenarnya; pasti ada alasannya, dan aku menghormati itu. Kita semua punya rahasia." Matanya menatap lekat matanya, "Tapi dalam kasusku, aku juga belum cukup mengenalmu untuk bercerita tentang diriku. Anggap saja aku bosmu."
Roxanna mencerna jawaban Chris dan memahami bahwa pria itu pun punya rahasia dan alasannya sendiri untuk menjaga jarak secara emosional.
Ia memandang pria itu selagi ia kembali membereskan barang-barangnya di sofa ruang perawatan, berpikir betapa menariknya bekerja bersama seseorang yang begitu berhati-hati sekaligus murah hati.
Saat itu, sang doula masuk ke ruangan dan dengan lembut meminta Chris keluar agar ia bisa berbicara dengan Roxanna tentang rencana perawatannya.
Chris menyetujui dan keluar, meninggalkan keduanya berdua saja.
Sang doula menghampiri Roxanna dan berkomentar dengan senyum penuh kasih,
"Ayah bayi ini pasti sangat mencintaimu. Ia memintaku untuk sangat memperhatikanmu dan bayimu."
Roxanna merasa malu dan ragu sejenak sebelum menjawab,
"Bukan... Dia bukan ayahnya. Dia hanya teman baik."
Sang doula buru-buru meminta maaf, sadar bahwa mungkin ia telah keliru.
"Maaf, sepertinya aku salah bicara," katanya, mencoba memperbaiki keadaan. "Yang penting, aku akan ada di sini untuk membantumu sepanjang kehamilanmu."
Roxanna tersenyum malu-malu dan berterima kasih.
Sang doula duduk di samping ranjang dan mulai menjelaskan perannya selama kehamilan.
"Sebagai doula, aku akan hadir untuk memberikan dukungan emosional maupun praktis untukmu. Aku akan mendampingimu ke konsultasi medis, membantu dengan latihan dan teknik pernapasan untuk persalinan, serta membimbingmu soal proses menyusui."
Roxanna, merasa lebih nyaman, bertanya,
"Boleh aku mengandalkanmu untuk menjawab semua pertanyaanku?"
Sang doula mengiyakan dengan raut penuh keyakinan,
"Tentu saja! Aku di sini justru untuk itu. Aku ingin kau merasa aman dan siap sepanjang perjalananmu hingga bayimu lahir."
Roxanna merasa lega dan berterima kasih atas kehadiran serta dukungan sang doula, berharap bantuannya cukup untuk menghadapi tantangan kehamilan tanpa perlu bergantung pada siapa pun.
Sementara itu, Chris menggenggam ponselnya dengan raut tegang. Ia tengah berada di tengah percakapan dengan Bryan, seorang detektif swasta yang telah ia sewa tujuh tahun lalu, dan suaranya adalah campuran keputusasaan dan tekad.
"Aku tidak peduli berapa banyak tabunganku yang habis kau pakai. Temukan saja dia. Aku sudah mencarinya selama tujuh tahun, Bryan!"
Dari ujung sambungan yang lain, Bryan berusaha menjelaskan,
"Aku tahu, Chris, tapi ini tidak mudah. Bagaimana kita bisa menemukan seseorang yang bahkan kau tak tahu apakah dia..."
Chris memotongnya, tak sabar dengan minimnya hasil, "Lakukan saja tugasmu."
Ia lantas memutus sambungan telepon, berharap kegigihannya memotivasi Bryan untuk melipatgandakan usaha mencari orang yang telah bertahun-tahun ia kejar.
Chris meletakkan ponselnya di meja dan memandangi layarnya, menyaksikan wallpaper muncul. Itu gambar tempat usahanya, Aurorabyer, disinari kilau matahari.
Seperti yang kerap terjadi, ia hanyut dalam kenangan, memikirkan masa lalu, tentang betapa bahagianya ia dulu di sisi orang yang kini ia cari dengan putus asa.
Ia menghela napas panjang dan berbisik pada dirinya sendiri, "Suatu hari aku akan menemukannya. Aku takkan berhenti sampai itu terjadi."
Selagi ia memandangi gambar itu, matahari mulai terbenam, menandai berakhirnya satu hari lagi tanpa jawaban. Chris menyandarkan tubuh ke dinding dingin rumah sakit, menyembunyikan kesedihannya di balik senyum ramah.
Chris memandang koridor rumah sakit, tenggelam dalam pikirannya.
Ia teringat pada perempuan muda yang ia tabrak, Roxanna, dan betapa lemah serta pucat penampilannya saat itu.
Meski bukan kebiasaannya mencampuri urusan orang lain, Chris merasakan dorongan kuat untuk membantunya, sadar bahwa perempuan itu pun butuh dukungan dan bimbingan.
Roxanna muncul dalam hidupnya justru saat ia paling membutuhkan alasan untuk tidak menyerah mencari orang yang telah bertahun-tahun hilang darinya.
Membantu Roxanna membuatnya merasa lebih berguna dan terhubung dengan dunia emosi orang lain, sesuatu yang selama ini ia hindari sepanjang pencariannya yang berlarut-larut.
Ketidakpastian itu menggerogotinya dari dalam, dan pencarian tanpa henti itu telah menjelma menjadi kekosongan yang tak sanggup ia isi.
Melihat Roxanna sendirian, hamil, dan ketakutan, Chris bertanya-tanya apakah ia benar-benar sudah berbuat cukup untuk menemukan orang itu.
Mungkin sudah saatnya ia mengubah pendekatan dan memperluas pencarian, tak peduli berapa besar biaya finansial maupun emosional yang harus ia tanggung.
Selagi pikiran-pikiran itu menyerangnya, Chris berhenti sejenak di tengah koridor, memejamkan mata, dan menarik napas dalam-dalam. Ia tahu ia butuh kekuatan untuk melanjutkan pencarian sekaligus membantu Roxanna.
Dengan tekad itu, Chris menenangkan diri dan kembali memasang senyumnya seperti biasa, meski hati dan pikirannya berkeping-keping.