Mereka menjodohkannya sejak kecil. Lalu mereka menghancurkannya.
Aurora Stefanini dulu percaya pada takdir—percaya bahwa Marco Donati, sang pewaris kerajaan mafia Sisilia, akan menjadi miliknya. Sampai pemuda itu mencampakkannya demi saudari tirinya sendiri, di depan mata, tanpa setetes pun rasa bersalah. Gadis rapuh itu tidak menangis. Ia hanya pergi.
Bertahun-tahun kemudian, Aurora kembali ke Sisilia—bukan sebagai pengantin yang penurut, melainkan sebagai perempuan yang membangun imperiumnya sendiri dari nol: dingin, tak tersentuh, dan mematikan. Ketika perang antarklan memaksa kedua keluarga bersatu kembali, Aurora menerima pernikahan itu dengan satu syarat yang mengguncang seluruh dewan: ia akan menikahi Marco. Dengan kontrak buatannya sendiri. Dua tahun, kamar terpisah, tanpa cinta, tanpa sentuhan—lalu perceraian.
Rencananya sempurna. Balas dendam yang dingin dan terukur.
Yang tidak ia perhitungkan adalah Marco yang kini bukan lagi bocah sombong itu—seorang Don yang tahu persis apa yang dulu ia buang, dan bertekad merebutnya kembali, seklausul demi seklausul. Yang tidak ia perhitungkan adalah rahasia berdarah tentang kematian ibunya, para pengkhianat yang bersembunyi di balik senyum ramah, dan sebuah hasrat yang menolak untuk padam.
Di pulau tempat sebuah janji dimeteraikan dengan darah dan pengkhianatan dibayar dengan nyawa, Aurora akan belajar bahwa kebangkitan sejati bukanlah tentang membalas luka lama—melainkan tentang berani mencintai lagi, tanpa takut hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alessandra Bizarelli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Es dan Baju Zirah
Musim dingin di München kelabu, sunyi, dan tak kenal ampun—kebalikan sempurna dari terik yang riuh di Sisilia. Dari jendela asramaku, kuamati serpihan-serpihan salju turun perlahan menutupi trotoar-trotoar Jerman, menyelimuti dunia dengan warna putih. Pada malam Natal itu, ketika sebagian besar mahasiswi Jerman telah pulang ke keluarga masing-masing, aku tetap di sana, dikelilingi buku-buku ekonomi dan laporan perdagangan internasional. Keheningan kamar dipecahkan oleh dering ponselku yang nyaring.
Kulirik layarnya dan kulihat nama yang berbulan-bulan kucoba jaga jaraknya. Kutarik napas dalam, menelan getir tusukan rindu yang mengancam naik ke dadaku, lalu kuangkat.
"Buon Natale, putriku." Suara ayahku, Paolo Stefanini, bergema dari ujung sambungan, menyimpan kelelahan yang jarang ia tunjukkan di Sisilia. "Papa merindukanmu, Aurora. Rumah ini kosong tanpamu. Kapan kau akan menyingkirkan kekeraskepalaan ini dan naik pesawat untuk menjenguk kami?"
Kurasakan dadaku mengencang, tetapi kujaga suaraku tetap tegar, terukur semilimeter demi milimeter.
"Buon Natale, Papa," jawabku, mempertahankan nada lembut namun tak tergoyahkan. "Aku juga merindukan Papa. Tapi kalau Papa ingin menemuiku, aku lebih suka Papa yang datang ke Jerman. Aku belum berniat kembali ke Italia dalam waktu dekat."
Ada keheningan berat di sambungan. Aku hampir bisa mendengar suara langkah kakinya menyusuri lantai marmer ruang kerja di kediaman kami.
"Kenapa begitu, Aurora?" tanyanya, suaranya beralih ke nada tegas seorang Don yang tak terbiasa dibantah. "Tempatmu ada di sini. Akarmu, masa depanmu... tunanganmu. Klan Donati sudah mulai bertanya-tanya soal jarak yang kauambil."
"Aku akan kembali pada saat yang tepat, Papa," balasku, menatap pantulan wajahku sendiri di kaca jendela yang gelap. "Tapi hanya ketika aku sudah cukup kuat."
"Aurora..."
"Aku menyayangi Papa..."
Kuputus sambungan sesaat kemudian, sebelum ia sempat mendesak atau menuntut kepatuhan yang tak lagi ingin kuberikan.
Hari-hari berikutnya berlalu sebagai rutinitas matematis penuh studi dan fokus. Lewat lingkaran tertutup kalangan atas yang biasa keluargaku hadiri, aku tahu Marco telah masuk kuliah di Jenewa, tetap nyaman dalam gelembung hak istimewa dan ekspektasinya. Aku, sebaliknya, memilih Jerman untuk membangun kembali diriku, jauh dari mata mafia yang mengawasi.
Namun, ada kalanya masa lalu bersikeras menembus benteng yang telah kubangun. Duduk di perpustakaan kampus, aku mendapati diriku mengenang hari-hari ketika kepolosan masih mengizinkanku memimpikan pernikahan yang dijanjikan itu. Kuingat bagaimana aku dan Marco, sejak usia kami baru lima tahun, berlari-lari di kebun zaitun sambil berkata pada semua orang bahwa kami akan menikah. Kuingat sukacita murni yang kami rasakan saat berusia sepuluh tahun, di hari aliansi resmi dimeteraikan antara kedua keluarga kami. Seusai jamuan resmi, ia menarikku ke balik salah satu pilar vila dan mencuri sebuah ciuman polos, memeteraikan janji kanak-kanak bahwa kelak kami akan bahagia.
Ciuman itu, yang bertahun-tahun kusimpan bagai harta, kini terasa hanya seperti lelucon yang keterlaluan.
Semuanya berubah dengan kedatangan Elena dan Giulia. Aku ingat betul bagaimana ibu tiriku beraksi di balik layar. Dengan senyum palsu dan nada suara yang berpura-pura keibuan, ia biasa duduk di sisiku untuk menyuling racunnya yang halus. "Kau tidak dilahirkan untuk menikah, Aurora," katanya, membelai rambutku sambil berusaha membentuk pikiranku. "Kau terlalu cerdas untuk itu. Kau harus menjadi perempuan mandiri dan menyerahkan beban pernikahan dengan keluarga Donati itu pada Giulia. Putriku lebih luwes, dia lebih cocok untuk Marco."
Saat itu aku bodoh. Aku tak memahami permainan politik dan keserakahan di balik kata-kata lembut itu. Tapi waktu dan luka membuka mataku. Masih terasa perih mengingat hari ketika perilaku Marco berubah drastis, menjadi dingin dan kasar padaku, dan lebih perih lagi mengenang pemandangan dia dan Giulia berciuman di taman-taman Swiss. Karena itulah aku memutuskan menjauh dari semuanya. Kukemasi koperku dan kukubur gadis rapuh yang dulu aku.
Kututup buku perdagangan internasional itu dengan keras, bunyi hentakannya bergema di ruang belajar yang kosong. Kupandangi kedua tanganku sendiri dan kuambil keputusan final. Aku tak akan pernah lagi menangis untuk Marco Donati. Aku tak akan pernah lagi menangis untuk lelaki mana pun. Di hari ketika jalan kami kembali bersilangan, merekalah yang akan menangis untukku.
Aku bertekad menjadi perempuan yang kuat, tak terjangkau, dan sepenuhnya mandiri. Cinta, yang dulu adalah mimpi masa kecilku yang terbesar, telah kucoret dari rencanaku. Dalam daftar prioritasku, kini ia menempati urutan paling buncit.
Rutinitas berlanjut, para mahasiswa kembali. Angin dingin München menyayat jalan-jalan kampus, tetapi aku nyaris tak merasakannya. Aku melangkah mantap di samping Joana, sahabat terbaikku sejak tahun terakhir di sekolah asrama. Joana orang Spanyol, pemilik tekad yang kuhormati sedalam-dalamnya, dan baru saja kembali dari perjalanan ke daerah termiskin di Spanyol tempat ia menjenguk keluarganya.
Raut wajahnya, yang biasanya ekspresif dan hangat, kini mendung.
"Ini jadi terlalu berat, Aurora," Joana meluapkan isi hatinya, meringkuk di dalam mantelnya yang usang saat kami melintasi pelataran tengah. "Bertahan di kampus ini makin lama makin memberatkan tiap bulan. Orang tuaku tak sanggup membantuku. Aku akan cuti kuliah di akhir semester ini."
Aku langsung berhenti melangkah, berpaling ke arahnya.
"Cuti kuliah? Joana, kau yang terbaik di angkatan kita untuk logistik internasional. Apa yang terjadi?"
Ia mengembuskan napas panjang, embusan hangatnya membentuk kabut di udara yang membeku.
"Yang membiayai studiku di sekolah elite dulu adalah mantan majikan orang tuaku. Tapi dia baru saja meninggal, dan keluarganya tak mau meneruskan kebaikan itu. Mereka memutus dananya. Tanpa beasiswa tak resmi itu, aku tak mampu membayar uang kuliah di Jerman. Ini akhir jalan bagiku."
Aku tak perlu berpikir dua kali. Kutatap matanya lekat-lekat, tanpa ragu.
"Aku yang akan membayar kuliahmu. Kau tidak akan cuti apa pun."
Joana membelalak, dan seketika sikapnya mengeras oleh harga diri khas orang yang selalu harus berjuang demi tiap sen. Ia menggeleng keras, melangkah mundur.
"Tidak, Aurora. Sama sekali tidak. Aku berterima kasih dari lubuk hatiku, tapi aku tak bisa menerima uangmu. Aku tak mau jadi beban atau objek amalmu."
Kudekati dia, melembutkan raut wajah, tetapi menjaga ketegasan dalam suara. Aku tak bertindak atas dasar kasihan; aku bertindak sebagai perempuan bisnis yang tengah kubentuk dalam diriku.
"Joana, lihat aku. Jangan jadikan ini soal harga diri yang konyol." Kuubah nadaku menjadi pragmatis. "Anggap ini investasi, bukan amal. Aku tidak memberi uang cuma-cuma pada siapa pun. Aku sedang berinvestasi pada otak paling cemerlang yang kukenal di universitas ini. Dan kesetiaan mutlakmu di masa depan akan menjadi imbalanku."
Joana menatapku dalam keheningan yang panjang, mencoba menafsirkan kesungguhan kata-kataku. Ia melihat aku tak sedang bercanda, dan bahwa aku cukup menghargai bakatnya untuk ingin memilikinya di sisiku saat aku membangun imperiumku sendiri. Perlawanan di matanya luruh, digantikan rasa syukur yang dalam dan tekad yang diperbarui.
Ia melangkah maju, menggenggam kedua tanganku erat-erat, dan tatapannya beralih ke keseriusan yang mengingatkanku pada sumpah setia yang biasa diucapkan para pria kepada ayahku di Sisilia.
"Kalau begitu, Aurora... aku terima," ucapnya, suaranya tercekat, tetapi mantap. "Dan aku bersumpah padamu, di sini dan sekarang: aku akan menjadi tangan dan kakimu ke mana pun kau pergi. Pikiran dan hidupku menjadi milik rencana-rencanamu."
Aku tersenyum miring, merasakan kepuasan yang sejati. Di sana, di tengah musim dingin Jerman, aku baru saja merekrut sekutu pertamaku yang paling setia. Aku sedang membangun fondasiku sendiri, bata demi bata. Biarlah Marco Donati terus menjalani fantasi sia-sianya bersama Giulia di Swiss; ketika tiba waktuku pulang untuk menuntut kembali tempatku, aku takkan sendirian.
🌹🌹🌹