Indonesia
NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Bocah di Depan Warung Mbah Surti

"Turun. Tunggu Mbah kamu di sini."

Pintu Mercedes itu belum benar-benar terbuka ketika seorang bocah laki-laki didorong turun bersama ransel kecilnya. Sol sepatunya terpeleset di aspal berdebu. Tangannya sempat mencengkeram ujung gaun perempuan di dalam mobil, tetapi jemari berlapis cincin itu menepisnya.

"Ibu ikut turun, kan?"

"Jangan bikin susah, Rayhan. Ibu sudah terlambat."

Pintu menutup tepat di depan wajahnya.

Mercedes hitam itu mundur dengan susah payah di Gang Mawar yang sempit. Seorang tukang sayur buru-buru menarik gerobaknya. Pengemudi ojek online mengangkat kaki agar sepatunya tidak terserempet. Ban mobil menggilas kubangan kering, menyemburkan debu dan kerikil ke betis Rayhan.

Bocah itu tidak bergerak. Ia hanya menatap lampu belakang mobil yang makin kecil, lalu hilang di tikungan.

Bekasi sedang panas-panasnya. Aspal menyimpan hawa seperti wajan. Keringat membasahi pelipis Rayhan, tetapi kedua tangannya terasa dingin saat memeluk ransel ke dada.

Di depannya, pintu gulung warung Mbah Surti tertutup. Tulisan GORENGAN HANGAT di papan kayu sudah pudar dimakan hujan.

"Itu anaknya Yanti, ya?"

"Yang nikah sama bule itu? Kok ditinggal begitu saja?"

"Mungkin cuma dititipkan."

"Kalau cuma dititipkan, ibunya turun dulu, lah. Masa pintu warung saja nggak diketuk?"

Bisik-bisik para tetangga terdengar jelas. Rayhan mengangkat tangan ke pintu, lalu menurunkannya lagi. Tiga kali buku jarinya hampir menyentuh besi. Tiga kali pula keberaniannya hilang.

Ia takut tidak ada jawaban.

Lebih takut lagi kalau Mbah Surti menjawab dan menyuruhnya kembali kepada ibu yang sudah pergi.

Di seberang warung, seorang remaja berambut cepak duduk di atas motor tanpa jok. Kausnya kebesaran, lutut celananya sobek, dan sebuah kunci inggris menyembul dari saku belakang. Sejak tadi ia memperhatikan sambil menggigit batang rumput kering.

"Kasihan banget," gumam seorang ibu di dekatnya.

Remaja itu melirik. "Kalau kasihan, kasih minum. Jangan cuma ditontonin, Bu."

Ibu itu mendengus lalu masuk rumah.

Remaja itu bernama Laras. Di Gang Mawar, orang lebih sering melihatnya berkutat dengan rantai motor daripada menyisir rambut. Saat anak perempuan lain pulang sekolah dengan bedak tipis dan pita, Laras pulang dengan noda oli di pipi.

Ia turun dari motor, mengambil botol air dari meja bengkel, lalu menyeberang.

"Hei, bocah."

Rayhan mendongak. Matanya merah, tetapi tidak ada suara tangis yang keluar.

Laras menyodorkan botol. "Minum. Mukamu udah kayak kerupuk dijemur."

Rayhan menerima dengan ragu. "Makasih."

"Mbah-mu ke pengajian. Warungnya baru buka habis Magrib kalau nggak capek."

Wajah Rayhan langsung memucat. "Terus aku harus nunggu di sini?"

Laras hendak menjawab ketika bunyi mesin tua terdengar dari ujung gang. Sebuah pikap biru masuk perlahan dengan tulisan BENGKEL PAK DARTO di pintunya. Pengemudinya turun sambil menahan tubuh pada sisi pintu. Langkah kirinya sedikit menyeret.

"Lho, iki sopo?" Pak Darto memandang bocah di depan warung, lalu Mercedes yang sudah tidak tampak. "Anaknya Yanti?"

Rayhan menunduk. Ranselnya kembali dipeluk kuat-kuat.

Pak Darto tidak bertanya mengapa ia ditinggalkan. Tidak menanyakan ayahnya, tidak pula ikut mengomentari Yanti seperti para tetangga. Lelaki itu hanya mengendus pelan, seolah baru menyadari sesuatu.

"Sudah makan, Le?"

Perut Rayhan menjawab lebih dulu. Bunyinya kecil, tetapi cukup membuat telinganya merah.

Pak Darto mengangguk ke rumahnya. "Mangan dulu. Urusan lain belakangan."

Meja makan di rumah Pak Darto kecil dan salah satu kakinya diganjal kardus. Di atasnya ada sepiring nasi hangat, tumis kangkung, tempe goreng, dan telur kecap sisa makan siang. Pak Darto memanaskannya kembali tanpa banyak bicara.

Rayhan duduk di ujung kursi. Ia tidak langsung mengambil sendok.

"Kenapa? Nggak suka?" tanya Laras dari ambang pintu.

Rayhan menggeleng cepat. "Boleh aku makan semuanya?"

Tangan Pak Darto yang sedang menuang teh berhenti sesaat.

"Itu memang buat kamu." Ia menggeser piring lebih dekat. "Kalau kurang, bilang."

Rayhan menunduk lebih dalam. Suapan pertamanya terlalu besar. Ia mengunyah cepat, seperti takut piring itu akan diambil. Pada suapan ketiga, air matanya jatuh ke nasi.

Laras pura-pura tidak melihat. Ia mengambil kunci inggris dari sakunya dan memutar-mutarnya di jari.

Pak Darto juga tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menaruh satu telur lagi di piring Rayhan.

Setelah makan, Rayhan duduk diam di teras. Senja mulai turun, tetapi pintu warung Mbah Surti masih tertutup. Setiap ada suara motor di ujung gang, kepalanya langsung terangkat. Setiap kali bukan Mercedes ibunya yang muncul, bahunya kembali turun.

Pak Darto menyenggol lengan Laras. "Ajak main. Jangan dibiarkan melamun terus."

"Main apa sama anak SD?"

"Kamu juga kelakuannya masih anak SD. Cocok."

"Bapak, nih."

Meski menggerutu, Laras memanggil Rayhan dengan gerakan dagu. "Ayo."

Mereka berjalan ke ujung Gang Mawar, tempat selokan besar mengalir di samping lahan kosong. Sehabis hujan dua hari lalu, pinggirannya masih penuh lumpur. Anak-anak biasa berlomba melempar tutup botol ke arus kecil di sana.

Laras menemukan dua tutup botol dan memberikan satu kepada Rayhan. "Yang sampai jembatan duluan menang."

"Menang apa?"

"Menang, ya menang. Kebanyakan tanya."

Mereka berjongkok. Saat hitungan ketiga, Laras mendorong tutup botolnya dengan ranting. Rayhan ikut melakukannya, awalnya ragu, lalu makin bersemangat ketika tutup botolnya tersangkut batu.

"Curang! Punyamu didorong terus!"

"Namanya juga strategi."

Rayhan mencoba mengambil tutup botolnya. Ujung sandalnya selip. Tubuhnya oleng, tangannya meraih apa saja, dan yang tertangkap justru lengan Laras.

Keduanya jatuh ke lumpur.

Sesaat mereka hanya saling menatap. Kaus Laras terciprat sampai dada. Wajah Rayhan belepotan cokelat dari pipi sampai dagu.

Laras menyeka lumpur dari hidungnya, lalu mengoleskannya ke dahi Rayhan.

"Sekarang sekalian aja."

Rayhan membelalak. Laras sudah bersiap menerima tangis, tetapi bocah itu malah mengambil segenggam lumpur dan membalas.

"Hei! Berani juga, ya!"

Rayhan berlari. Laras mengejar. Tawa bocah itu pecah untuk pertama kali sejak Mercedes pergi, tipis pada awalnya, lalu lepas begitu saja sampai tubuhnya terbungkuk kehabisan napas.

Ketika mereka kembali, azan Magrib terdengar dari musala. Pak Darto berdiri di teras dengan tangan berkacak pinggang.

"Kusuruh ajak main, bukan diajak jadi kerbau!"

Laras menunjuk Rayhan. "Dia duluan, Pak."

"Bohong," protes Rayhan pelan, masih tersenyum.

"Nah, sudah bisa bantah. Berarti sehat."

Pak Darto menyuruh mereka membilas kaki di keran. Rayhan memandangi kausnya yang basah dan ransel kecilnya yang hanya berisi dua potong pakaian. Ia memegang ujung kain itu, bingung.

Laras masuk ke rumah, mengobrak-abrik lemari, lalu kembali dengan sebuah kaus hitam yang sudah pudar keabu-abuan. Ia melemparkannya.

Rayhan menangkap kaus itu dengan kedua tangan.

"Pakai. Daripada masuk angin terus nangis lagi."

"Aku nggak nangis."

"Iya, iya. Matamu tadi kemasukan satu warung."

Rayhan tidak membalas. Jemarinya mengerat pada kaus lama itu. Ia menatap Laras, lalu rumah kecil di belakangnya, seakan sedang menunggu seseorang berkata bahwa ia boleh tinggal.

Tak ada yang mengucapkan kalimat itu.

Namun ketika Laras melihat cara bocah itu memeluk kaus bekasnya, satu pikiran muncul tanpa izin.

Anak ini sepertinya benar-benar akan menetap di sini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!