Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Batas yang Retak

Enam minggu setelah penembakan, dokter mengizinkan Arkana bepergian.

Dia memilih vila kecil di pesisir Anyer, jauh dari kantor, gudang, dan orang-orang yang memanggilnya Bos. Hanya ada kami, dua pengawal di rumah terpisah, dan petugas vila yang datang pada pagi hari.

"Kau menculikku untuk pemulihanmu?" tanyaku ketika mobil berhenti.

"Kau belum kembali kuliah penuh."

"Aku punya tugas."

"Bawa tugasmu."

"Kau selalu punya jawaban."

"Itu sebabnya aku masih hidup."

Aku tidak bisa membantah kalimat tersebut.

Mbak Tania menelepon saat aku membongkar tas. Begitu tahu kami pergi berdua, dia mengeluarkan suara panjang.

"Laras, kamu sudah dewasa, jadi aku tidak akan melarang. Tapi ingat apa yang pernah kubilang. Pilihan harus benar-benar milikmu."

"Kami cuma liburan."

"Kalau begitu kenapa kamu berbisik?"

Aku melihat ke pintu kamar. "Karena dia ada di ruang sebelah."

"Justru itu."

Sebelum menutup telepon, Mbak Tania menyuruhku mengirim lokasi dan menelepon jika ingin pulang. Pesannya sederhana, tetapi memberiku pijakan: aku berada di sana karena memilih ikut, bukan karena pintu dikunci.

***

Sore hari kami berjalan di pantai.

Bekas luka di sisi tubuh membuat langkah Arkana sedikit lebih lambat. Dia menolak tongkat dari dokter, jadi aku menyesuaikan kecepatan tanpa mengatakannya. Ombak menyentuh ujung sandal. Angin membawa bau garam dan jagung bakar dari warung jauh di ujung pantai.

"Pak Suryo bilang kau pernah ingin menjadi polisi," kataku.

Arkana menatap laut. "Dia terlalu banyak bicara."

"Bayu juga bilang begitu."

"Semua orang di sekitarku rupanya terlalu banyak bicara."

"Kecuali kau."

Dia tersenyum tipis. "Apa yang ingin kau tahu?"

"Mengapa polisi?"

Arkana berhenti. Air membasahi ujung celananya.

"Karena ketika kecil, aku percaya orang berseragam selalu datang untuk menyelamatkan orang baik."

"Lalu?"

"Aku tumbuh dan mengetahui seragam tidak menentukan siapa yang baik."

"Tapi kau tetap ingin memakainya."

"Sampai sebuah kesalahan menutup jalan itu. Setelah masuk ke dunia Om Guntur, tidak ada yang benar-benar keluar."

Ada kesedihan yang tidak meminta belas kasihan dalam suaranya. Aku membayangkan Arkana muda dengan cita-cita sederhana, jauh sebelum rokok, pistol, dan orang-orang yang berlutut ketika dia datang.

"Kalau bisa mengulang, kau akan memilih berbeda?"

"Iya."

"Berarti kau menyesal."

"Menyesal tidak menghapus korban."

Angin meniup rambut ke wajahku. Arkana mengangkat tangan, tetapi berhenti di udara. Dia menungguku.

Aku tidak mundur.

Jarinya menyelipkan rambut ke belakang telinga.

"Kalau bisa mengulang," katanya, "ada satu hal yang tetap akan kupilih."

"Apa?"

"Membawamu pulang."

Dadaku berdenyut keras.

Di dekat warung, seorang anak kecil berlari mengejar layang-layang sementara ayahnya memegang gulungan benang. Arkana melihat mereka lebih lama daripada seharusnya.

"Kau pernah menginginkan keluarga biasa?" tanyaku.

"Biasa menurut siapa?"

"Rumah tanpa penjaga. Pekerjaan yang tidak membuat orang menembakmu. Anak-anak yang bebas menyebut hubungan keluarganya di sekolah."

"Pernah."

"Lalu kau malah mengadopsiku."

"Kau menggigit jariku sampai berdarah. Sulit mengabaikan anak sekeras kepala itu."

Aku hampir tersenyum. "Itu alasan yang buruk untuk mengangkat anak."

"Vila terlalu sepi."

Jawabannya membuat langkahku berhenti.

"Kau bisa menikah."

"Dengan siapa?"

"Ada banyak perempuan yang menginginkanmu."

"Aku tidak menginginkan mereka."

"May?"

Arkana menatap ombak. "May menginginkan hidup yang tidak bisa kuberikan."

"Dan aku?"

Tatapannya kembali kepadaku. "Aku belum tahu hidup seperti apa yang kauinginkan."

"Kalau ternyata tanpa dirimu?"

Otot di rahangnya bergerak, tetapi jawabannya tenang. "Aku akan tetap memastikan kau bisa menjalaninya dengan aman."

Dia melanjutkan langkah lebih dulu. Untuk seorang pria yang selalu bicara seolah aku akan menjadi miliknya, jawaban itu terasa seperti bentuk cinta paling tidak egois yang pernah dia tunjukkan.

Aku berjalan lebih dulu agar dia tidak melihat wajahku.

Kami pulang ketika matahari tenggelam. Luka Arkana membuat napasnya berat, sedangkan pasir memicu nyeri lama di pergelangan kakiku. Tanpa membahasnya, kami sama-sama memperlambat langkah. Dua orang keras kepala berjalan berdampingan, masing-masing pura-pura tidak sedang menjaga yang lain.

Tidak satu pun meminta bantuan, tetapi tidak satu pun membiarkan yang lain tertinggal.

***

Malamnya aku duduk di tepi kolam vila dengan kaki menyentuh air. Arkana keluar membawa dua cangkir teh. Lampu bawah air membuat bayangan kami bergoyang pada dinding.

"Kau seharusnya istirahat," kataku.

"Kau juga."

Dia duduk di sampingku. Bahu kami hampir bersentuhan.

"May suka laut?" tanyaku.

"Kenapa membicarakannya sekarang?"

"Karena aku ingin tahu apakah semua tempat yang kaubawa untukku pernah kaukunjungi bersamanya."

Arkana menaruh cangkir. "Tidak."

"Piano, bunga merah, lagu. Semuanya mengingatkanmu kepadanya."

"Kau cemburu kepada orang yang sudah tiada?"

"Jangan konyol."

Aku berdiri, tetapi pergelangan kaki kanan tergelincir di lantai basah. Arkana menangkap pinggangku. Tubuh kami berputar, dan punggungku menyentuh pilar dekat kolam.

Tangannya tetap di pinggang.

"Lepaskan."

"Kalau kulepaskan, kau jatuh."

"Aku bisa berdiri."

"Buktikan."

Aku mencoba bergerak. Pegangannya longgar, memberi kesempatan untuk pergi.

Sekali lagi aku tidak mengambilnya.

"Kau pernah menjadi waliku," bisikku. "Jangan lupa."

"Aku tidak lupa satu pun hari ketika kau belum dewasa."

Arkana mendekat. "Tapi kau sudah dewasa sekarang, Ara."

Aku memalingkan wajah.

Tangannya menyentuh dagu, mengembalikanku perlahan. "Katakan berhenti."

Aku membuka mulut.

Tidak ada suara yang keluar.

Bibir Arkana turun semakin dekat, dan kali ini tidak ada tempat lagi untuk bersembunyi dari pilihanku sendiri selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!