Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.
Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Aroma gurih cilok goreng berbalut bumbu kacang spesial memenuhi ruang tengah rumah panggung. Di atas tikar pandan, mereka berempat duduk melingkar. Suasana terasa begitu hangat, seolah tidak ada bayang-bayang pertumpahan darah yang sedang mengintai di luar sana.
Sarah dengan sigap menyuapkan satu tusuk cilok ke mulut Lingga. "Nih, coba makan dulu! Enak banget tau, buatan Mbak Kinanti beda jauh sama yang dijual di pinggir jalan kota!"
Lingga mengunyah cepat seraya membelalakkan mata dramatis. "Wah, asli! Ini mah bukan cilok biasa, Bos! Kenyalnya pas, gurihnya mantap. Pantas aja Lu betah di sini, Bos."
Kinanti tertawa gembira mendengar pujian itu. Ia melirik Arka yang duduk tegak di sampingnya, lalu menyenggol lengan suaminya pelan. "Tuh kan, Mas. Kataku juga apa, resep rahasia kita pasti disukai banyak orang. Nanti kalau Mbak Sarah sama Mas Lingga main ke sini lagi, aku bikinin adonan yang lebih banyak."
"Rutin main ke sini mah wajib, Mbak!" sahut Sarah cepat sambil melotot ke arah Lingga. "Biar suami aku ini belajar tenang juga, nggak keluyuran naik motor mulu!"
"Aduh, Sayang... kan motornya sayang kalau cuma dipajang di garasi," keluh Lingga pasrah, membuat Kinanti dan Arka tersenyum melihat tingkah sejoli itu.
Namun di tengah keriuhan tawa tersebut, telinga Arka dan Lingga sama-sama menangkap suara asing dari luar.
Kring! Kring!
Suara gemerincing bel sepeda tua terdengar berhenti tepat di halaman depan rumah. Disusul oleh ketukan pintu kayu yang teratur tiga kali.
"Permisi... paket untuk Ibu Kinanti," panggil suara seorang pria paruh baya dari luar, terdengar seperti suara tukang pos atau kurir lokal desa.
Kinanti sedikit terkejut. "Paket? Perasaan aku nggak ada pesan barang online deh, Mas..."
"Biar Mas yang periksa," potong Arka cepat. Ia bangkit berdiri dengan gerakan tenang namun penuh kewaspadaan.
Lingga ikut berdiri, menggeser posisinya secara tidak mencolok untuk berdiri di dekat pintu samping, bersiap mengambil tindakan jika terjadi hal tak terduga. Sarah yang paham situasi langsung mengaitkan jemarinya ke lengan Kinanti, mengalihkan perhatian wanita itu agar tetap berada di ruang tengah.
Arka membuka pintu depan sedikit. Di ambang pintu, berdiri seorang pria mengenakan seragam kurir berwarna hijau pupus dengan topi rendah yang menutupi sebagian dahi. Pria itu tersenyum ramah seraya menyodorkan sebuah kotak kayu berukuran sedang yang diikat pita merah manis.
"Dari kerabat kota untuk Bu Kinanti, Pak. Katanya hadiah olahan buah segar," ujar kurir itu sopan.
Arka tidak langsung menerima kotak tersebut. Tatapan matanya yang tajam meneliti jemari kurir itu halus, tanpa kapalan bekas mengayuh sepeda, dan memiliki bekas luka gesekan senjata di sela ibu jari.
Itu bukan kurir desa. Itu adalah anggota penyamar dari Club Strawberry.
Arka menerima kotak kayu itu seraya menyunggingkan senyum amat tipis yang mendinginkan udara. "Terima kasih. Sampaikan pada 'Cherry'... buahnya pasti akan saya nikmati."
Mata kurir itu membelalak kaget mendengar nama sang atasan diucapkan dengan begitu santai. Sebelum kurir itu sempat mencabut pisau tersembunyi di balik lengan bajunya, Arka sudah lebih dulu meremas pergelangan tangan pria itu dengan satu gerakan kilat yang tak terlihat dari dalam rumah.
Krek!
Suara tulang pergelangan tangan yang bergeser terdengar sangat halus, tertutup oleh deru angin malam yang berembus di pekarangan. Kurir gadungan itu membeku, tak mampu berteriak karena ibu jari Arka sudah menekan titik saraf di bawah rahangnya, mengunci pita suaranya seketika.
Lingga menyelinap keluar lewat pintu samping dengan gerakan secepat bayangan. Pria berambut mullet itu langsung memiting leher kurir tersebut dari belakang, menyeretnya ke balik semak-semak rimbun di samping rumah tanpa menimbulkan kegaduhan sedikit pun.
Arka berdiri bergeming di bawah pendar redup lampu teras, memegang kotak kayu berpita merah itu dengan tenang. Ia menyusul Lingga ke balik semak-semak.
Di atas tanah basah, kurir Club Strawberry itu berlutut gemetar dengan wajah pucat pasi. Lingga menekan bilah pisau lipatnya ke leher pria itu seraya tersenyum miring tanpa rasa humor.
"Gaya main Club Strawberry dari dulu memang nggak kreatif," bisik Lingga dingin. "Pakar penyamaran, tapi jari lu kebunuh sama bekas gesekan pistol. Amatir."
Arka membuka tutup kotak kayu tersebut menggunakan ujung pisaunya. Di dalamnya teratur rapi puluhan buah stroberi segar yang merah merona. Namun, begitu Arka mendekatkan pisaunya ke salah satu buah dan menekannya pelan, cairan bening kental beraroma asam menyengat keluar dari celah daging buah.
"Racun Sianida dosis tinggi ditandem sama ekstrak Aconite," ujar Arka datar, mengenali racun mematikan khusus buatan kelompok musuh itu. "Sekali gigit, organ dalam bakal ancur dalam kurun lima detik."
Kurir di atas tanah itu mendelik ketakutan, menyadari bahwa penyamarannya gagal total di tangan dua mantan pemangsa teratas dunia bawah tanah.
"Di mana lokasi pangkalan 'Cherry' malam ini?" tanya Arka dengan nada suara sangat rendah yang sanggup membekukan darah.
"U-urang teu nyaho, A! Urang cuma dititah nganterkeun kotak ini ka pintu depan!" tangis kurir itu pecah tanpa suara, gemetar hebat karena rahangnya masih terkunci. (G-gua nggak tahu, A! Gua cuma disuruh mengantarin kotak ini ke pintu depan!)
Lingga melirik Arka. "Dia cuma pion suruhan lokal, Bos. Nggak dipasok informasi inti."
Arka mengangguk tipis. Tanpa peringatan, ia melayangkan satu pukulan presisi ke leher bagian belakang kurir itu, membuatnya pingsan seketika.
"Bawa dia ke anak-anak The White Dragon di luar perbatasan desa. Minta mereka kembangkan jejak digital pengirimnya," perintah Arka tegas. "Dan hancurkan kotak racun ini."
"Beres, Bos," jawab Lingga santai seraya menyeret tubuh kurir gadungan tersebut menuju kegelapan kebun teh.
Beberapa menit kemudian.
Arka melangkah masuk kembali ke dalam rumah panggung, menyunggingkan senyum hangatnya seolah tak terjadi apa-apa di luar. Di ruang tengah, Kinanti dan Sarah tampak sedang sibuk mengobrol seraya mengemas sisa adonan cilok.
"Mas Arka... kok lama banget di luar?" tanya Kinanti seraya berjalan mendekati suaminya. "Paket apa dari siapa, Mas?"
Arka mengusap lembut kepala Kinanti, mengecup pelipisnya penuh kasih sayang.
"Salah alamat, Sayang. Katanya buat rumah Bu RT di ujung jalan," sahut Arka mulus tanpa cela. "Mas sudah minta orangnya buat antar ke sana."
Sarah yang melihat Arka kembali seorang diri langsung menangkap situasi sebenarnya lewat isyarat mata. Ia tersenyum tenang, mengalihkan perhatian Kinanti kembali. "Mbak Kinanti, besok kita bikin bumbu kacang porsi besar yuk! Aku mau bawa pulang buat oleh-oleh ke Jakarta!"
"Wah, mau banget, Mbak Sarah!" jawab Kinanti gembira, pikirannya seketika teralih sepenuhnya.
Dari balik jendela depan, Arka menatap pekatnya malam pedesaan Bandung. Club Strawberry telah menyeberangi garis batas dengan mencoba meracuni istrinya.