#history Romantic
by : Saphal_tha
Anna adalah istri yang tidak pernah Xavier inginkan… sekaligus kelemahan yang tak pernah ia sangka.
Kekayaan, kekuasaan, dan kecerdasan. Xavier Romanov memiliki segala sesuatu yang diimpikan banyak orang. Sebagai seorang CEO muda yang disegani, hidupnya nyaris sempurna, kecuali satu hal yang tidak pernah ingin ia miliki, seorang istri.
Pernikahan tidak pernah ada dalam rencana hidup Xavier, sampai sebuah ancaman pemerasan memaksanya bertunangan dengan wanita yang hampir tidak ia kenal.
Annastasia Clifford ahli waris perusahaan perhiasan sekaligus putri dari musuh terbarunya.
Tidak peduli seberapa cantik atau menawannya wanita itu, Xavier akan melakukan segala cara untuk memusnahkan bukti ancaman tersebut dan membatalkan pertunangan mereka.
Namun satu hal yang tidak pernah ia predeksi akan terjadi, sekarang setelah mendapatkan Anna... ia tidak sanggup melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saphal_tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Xavier
“Ayahku menolak untuk mengambil alih perusahaan, jadi akulah yang harus meneruskan tradisi keluarga Romanov,” kataku. “Mengelak bukanlah sebuah pilihan.”
“Ayahmu bisa menolak, tapi kamu tidak bisa? Rasanya tidak adil.”
“Tidak ada yang namanya keadilan di dunia bisnis. Lagipula, ayahku akan jadi CEO yang sangat buruk. Dia tipe pria yang lebih peduli untuk disukai daripada menyelesaikan pekerjaan. Dia bisa saja menghancurkan perusahaan ini dalam hitungan tahun, dan kakekku tahu hal itu. Itulah sebabnya kakek tidak memaksanya untuk mengambil peran eksekutif.”
Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Aku tidak yakin mengapa aku menceritakan tentang keluargaku kepada Annastasia. Satu jam yang lalu, aku lebih baik melompat dari gedung Empire State daripada harus menghabiskan satu menit lagi untuk bersikap manis padanya.
Mungkin ciuman tadi telah membuat otakku konslet, atau mungkin karena ini adalah momen kedamaian semu pertamaku sejak kakekku meninggal.
Beberapa bulan terakhir ini selalu diisi dengan masalah demi masalah yang membuat pusing. Pengurusan pemakaman, pemerasan dari Jarvis, kelakuan konyol Alex, pertunangan ini, perjalanan ke Eropa, serta kewajiban bisnis dan sosial rutin yang harus tetap kujalani.
Rasanya menyenangkan bisa duduk dan bernapas sejenak.
“Omong-omong soal orang tuaku, mereka ingin bertemu denganmu,” kataku. Memperkenalkan Annastasia kepada mereka adalah masalah memusingkan yang tadinya kuharap bisa kuhindari, meskipun aku tahu kesempatan untuk menepis keinginan mereka selama setahun, atau berapa pun waktu yang dibutuhkan sampai pertunangan ini batal, sangatlah tipis. “Kita akan menghabiskan liburan Thanksgiving bersama mereka.”
Menurut laporan Edgard, keluarga Clifford tidak terlalu merayakan Thanksgiving, jadi Annastasia tidak seharusnya terlalu kesal karena melewatkan hari libur itu bersama keluarganya. Bukan berarti aku peduli juga kalau dia memang kesal.
“Oke.” Dia jeda sejenak, jelas-jelas menunggu informasi lebih lanjut. Ketika aku tidak memberikan informasi tambahan, dia bertanya, “Apakah orang tuamu tinggal di New York?”
“Sedikit lebih jauh dari itu.” Aku melempar cangkir kopiku yang sudah kosong ke tempat sampah terdekat. “Bali.”
Untuk saat ini. Orang tuaku tidak pernah menghabiskan waktu lebih dari tiga bulan berturut-turut di satu tempat selama berdekade-dekade.
Mulut Annastasia terbuka. “Kamu mau kita terbang ke Bali untuk bertemu orang tuamu saat Thanksgiving?”
“Kita akan berada di sana selama seminggu. Kita berangkat pada hari Minggu sebelumnya dan kembali pada hari Senin berikutnya.”
“Xavier.” Suaranya terdengar seperti sedang berjuang untuk tetap tenang. “Aku tidak bisa begitu saja pergi ke Bali selama seminggu dengan pemberitahuan kurang dari dua bulan. Aku punya pekerjaan, punya rencana.....”
“Itu kan libur akhir pekan panjang,” kataku tidak sabar. “Memangnya apa rencanamu? Mengikuti parade Macy’s Thanksgiving?”
Dia meremas bungkus bagelnya dengan tangan yang mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Aku harus kembali pada Senin pagi itu untuk rapat dengan klien. Aku bakal capek, kena jet lag....”
“Kalau begitu kita pulang hari Sabtu saja.” Orang tuakulah yang mendesak agar kami tinggal selama seminggu. Pekerjaan Annastasia memberiku alasan yang bagus untuk pulang lebih awal. “Kita akan naik pesawat jetku, dan kita akan menginap di vila orang tuaku. Ini bukan masalah besar. Kita ini mau ke Bali, astaga. Semua orang ingin pergi ke Bali.”
“Bukan itu poinnya. Kita harus saling berkonsultasi untuk hal-hal seperti ini. Kamu itu tunanganku, bukan ataskanku. Kamu tidak bisa begitu saja menyuruhku melompat dan berharap aku langsung menyanggupinya.”
Tuhan, ini sungguh melelahkan. “Mengingat akulah yang membayar sepatu dan bunga-bungamu, aku pikir aku bisa melakukan tepat seperti itu.”
Aku tahu itu adalah hal yang salah untuk diucapkan pada detik pertama kata-kata itu keluar dari mulutku, tetapi sudah terlambat untuk menariknya kembali.
Annastasia berdiri mendadak. Angin mengibaskan rok di sekitar pahanya, dan seorang pria yang sedang lari pagi menatapnya tanpa kedip sampai aku mengusirnya dengan tatapan tajam.
“Puji Tuhan kamu menunjukkan sifat aslimu lagi,” katanya dengan pipi yang memerah. “Aku tadinya mulai berpikir kalau kamu itu manusia.” Dia melempar cangkir dan bungkus makanannya ke tempat sampah. “Terima kasih atas sarapannya. Jangan pernah kita melakukan ini lagi.”
Annastasia berjalan pergi dengan bahu yang menegang. Di balik gerobaknya, Omar menggelengkan kepala dan cemberut padaku.
Aku mengabaikannya. Siapa yang peduli kalau perkataanku tadi terkesan berengsek? Aku sudah menurunkan pertahananku lebih dari yang seharusnya pagi ini.
Annastasia adalah putri dari musuhku, dan sebaiknya aku selalu mengingat hal itu. Aku bertahan di bangku itu sebentar lagi, mencoba menangkap kembali ketenangan dari momen sebelumnya, tetapi kedamaian itu sudah lenyap.
Ketika aku kembali ke rumah, aku menemukan sebuah cek sudah menunggu di atas meja samping tempat tidurku dengan nominal tepat seratus ribu dolar.